One Day In Your Life

One Day In Your Life
AKU RELA MELEPASMU 2



"Mom, apa kita sekarang akan pulang ke Paris lagi?" Ian bertanya padaku yang saat itu tengah mengepak barang - barang.


"Iya, sayang. Kita akan ke pulang ke Paris lagi bersama dengan uncle Joseph? Kenapa, apa kau tidak suka, hmm?" Tanyaku lembut seraya menyentuh pipinya.


Ian diam sejenak, dapat kulihat keraguan diwajahnya sekarang.


"Bagaimana dengan Dad? Apa aku tak bisa bertemu dengan Daddy lagi jika kita kembali ke Paris, Mom?" Tanyanya kemudian.


Aku mendesah selama beberapa saat mencoba untuk merilekskan tubuh dan pikiran ini karena aku tahu Ian pasti tak setuju dengan keputusanku untuk kembali ke Paris, tapi mau bagaimana lagi? Aku tak bisa menetap terus di New York karena memang aku dan Frank sudah berpisah. Dan mengenai hak asuh Ian, ada sepenuhnya padaku karena Frank sudah mengizinkannya terlepas dari usahaku dan Joseph selama ini lewat pengacara yang ditunjuk Joseph untuk mengurus segala sesuatunya di pengadilan.


"Kau masih bisa bertemu dengan Daddy mu, Ian sayang. Jika kau rindu pada Dad, kita bisa datang ke New York lagi atau jika tidak, Dad yang datang ke Paris menemui kita, sayang. Kau mengerti kan?" Ucapku hati - hati.


"Itu tidak perlu, Jeanny. Kalian akan tetap di New York dan biarkan Ian bertemu dengan ayahnya selama yang ia inginkan." Joseph menyahut tiba - tiba, kedatangannya cukup mengejutkan karena aku tak tahu sejak kapan ia datang?


"Joseph?? Apa maksud ucapanmu?" Tanyaku bingung.


Kini ia menatapku dan Ian dengan senyuman lembutnya menjadi ciri khasnya jika bersama dengan kami berdua. Kemudian dengan penuh sayang, Joseph membungkuk dan menyentuh lembut bahu Ian yang kini ada di depannya.


"Kau tak perlu khawatir, Ian. Kau tak akan kehilangan Daddy'mu karena itu kau dan Mom akan tetap di New York dan kau akan bisa bertemu dengan Daddy'mu setiap hari." Ucapnya lembut pada Ian.


"Sungguh uncle?!" Ian berseru girang dan Joseph hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya.


"Joseph?? Apa maksud ucapanmu itu?!" Tegurku tak mengerti dengan apa maksud ucapan Joseph pada Ian tadi.


"Sekarang uncle minta, Ian bermain sebentar di depan tv ya? Uncle Joseph ingin bicara berdua sebentar dengan mommy'mu." Perintah Joseph lembut dan dengan menurut Ian pun mengiyakan kemudian berjalan keluar ,senyum sumringah tak lepas di wajah polosnya sekarang.


"Joseph, bisa kau jelaskan padaku apa maksud ucapanmu itu tadi?" Tanyaku sekali lagi saat kini hanya ada kami berdua.


"Maafkan aku Jeanny, jika kedatanganku sempat mengejutkanmu tadi. Tapi apa yang kukatakan memang sudah seharusnya, kalian berdua akan tetap di sini, di New York sedangkan aku akan pulang kembali ke Paris."


Mendengar jawaban Joseph tentu saja membuatku terkejut bukan main dan aku semakin tak mengerti dengan jalan pikirannya sekarang.


"Bukankah aku bilang kemarin sudah memutuskannya, kalau aku akan ikut bersamamu pulang ke Paris, Joseph? Apa kau masih meragukanku?" Tanyaku ingin tahu.


"Tentu saja tidak Jeanny, aku tahu kalau kau ingin pulang ke Paris bersamaku tapi jika hatimu masih tertinggal di sini untuk apa kau kembali ke Paris?"


"A-pa maksudmu Joseph??" Tanyaku bingung dengan suara sedikit gugup.


"Jujurlah padaku, Jeanny. Kau masih mencintai Frank bukan? Karena itu aku tak mau kau memaksakan hatimu untuk menerimaku apalagi untuk mencintaiku." Ucap Joseph lirih padaku.


"Kenapa kau tiba - tiba bicara seperti itu, Joseph? Apa kau memang masih meragukanku? Bukankah aku sudah memutuskan kalau aku menerimamu untuk menjadi pendampingku?" Tanyaku mencoba menyangkal.


"Saat penculikkan yang terjadi padamu kemarin telah membuka mataku, Jeanny. Kalau kau dan Frank memang masih saling mencintai dan tak terpisahkan hanya saja ada kesalah pahaman yang membuat kalian berdua harus berpisah. Dan karena itu aku tak mau menjadi penghalang kalian berdua untuk bisa bersama lagi, Jeanny sayang."


"Aa-ku tak mengerti, Joseph...?" Sahutku menggeleng gugup.


"Aku tak mau bersikap egois dengan ada diantara hubungan kalian berdua, terlebih Ian memang membutuhkan figur ayah yang sebenarnya selama ini. Jadi aku hanya ingin kau dan Ian bisa menjadi keluarga utuh yang sebenarnya bersama dengan Frank, pria yang kau cintai."


"Kau ini bicara apa, Joseph? Bukankah kau sudah tahu jika Frank sudah memiliki Laura?!" Sahutku dengan nada cukup keras.


"Mereka sudah membatalkan pertunangan, Jeanny. Dan juga kau harus tahu, dalang dari penculikanmu waktu itu adalah Nickollas Harris, ayah dari Laura sendiri." Tutur Joseph.


"Apa??! Bagaimana bisa?!!" Seruku tak percaya seraya menutup bibirku secara reflek.


"Tentu saja karena Nickollas Harris sakit hati karena Frank berniat membatalkan pertunangan dengan putri satu - satunya itu." Joseph menjawab.


"Karena itu sekarang aku minta padamu Jeanny. Jujurlah pada hatimu sendiri kalau kau memang masih mencintai Frank sama seperti dulu saat kalian masih bersama. Aku, Joseph Hayden hanya ingin wanita yang kucintai hidup bahagia dengan tanpa penyesalan, Jeanny sayang."


Aku tercekat dengan semua yang Joseph ucapkan padaku hingga aku tak bisa berkata apa - apa lagi, dan entah kenapa kedua mataku justru berkabut kini.


Tahu reaksiku, tanpa kusangka Joseph kini membawa tubuhku kepelukannya hingga kemudian tangisku menjadi pecah karena perasaan emosi yang meluap di dadaku sekarang.


"Ini tidak akan adil untukmu, Joseph. Tidak adil..., huhuhu...!" Ucapku serak diantara tangis yang pecah.


"Aku memang mencintaimu, Jeanny Anderson tapi aku tak mau jika kau tak bahagia hidup bersama denganku nanti. Aku tak mau egois, karena cinta memang tak harus memiliki. Bukankah seperti itu, Jeanny sayang?" Ucap Joseph lembut dan menenangkanku seraya mengelus belakang rambutku dengan penuh sayang dalam pelukannya.


"Sekarang, aku hanya berharap kau bisa menata hidupmu kembali bersama dengan Frank Jefferson dan juga Ian, putra kalian. Berbahagia lah Jeanny, doaku selalu bersamamu..."


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


...Jgn lupa tinggalkan Jempol dan komen kalian, teman - teman 🥰🙏🏽...