One Day In Your Life

One Day In Your Life
JALAN YANG SUDAH BERBEDA



"Benarkah ini kau, Jeanny?" tanya seorang gadis remaja cantik berambut pirang yang kini ada di depanku.


"Kimmy? Gadis kecilku??" ucapku gugup seakan tak percaya pada apa yang kini kulihat di depan mataku. Gadis kecilku Kimmy kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, aku sendiri tak akan mengenalinya jika bertemu dengannya di suatu tempat.


Tanpa mengatakan apapun, Kimmy langsung memelukku erat, seakan meluapkan segala kerinduannya yang ada selama bertahun - tahun lamanya.


"Aku sangat merindukanmu, Jeanny!" ucapnya serak di bahuku.


"Aku juga sayang, bagaimana kabarmu Kimmy?Kau sudah tumbuh menjadi dewasa dan menjadi gadis cantik, sayang." tuturku bahagia.


Kini Kimmy tampak menatapku dengan kedua matanya yang berubah menjadi sendu.


"Aku baik - baik saja, Jeanny. Kau sendiri bagaimana? Kupikir kau sudah benar - benar melupakanku dan Alex." ujar Kimmy sedih.


"Tentu itu tidak akan mungkin, Kim. Kau adalah gadis kecilku dan selamanya adalah Kimmy'ku yang manis." jawabku seraya menyentuh lembut helai rambut pirangnya yang kini dibiarkan panjang.


"Dimana Alex? Bagaimana kabarnya sekarang? Aku yakin dia sekarang sudah tumbuh menjadi remaja pria yang gagah dan tampan" ujarku penuh harap.


"Alex sedang pergi weekend dengan temannya, Jeanny. Kurasa nanti malam ia baru akan pulang, dia pasti akan sangat terkejut dan senang jika melihatmu disini!" sahut Kimmy semangat.


"Aku juga tak sabar untuk bertemu dengannya, tapi sayang aku tak bisa berlama - lama disini, Kimmy. Aku dan putraku, Ian harus kembali pulang ke rumah, aku titip salam untuknya saja ya" tuturku sedih.


"Kenapa, Jeanny? Tak bisakah kau kembali pada kita lagi?" Kimmy bertanya dengan raut wajah sedih dan kecewa.


"Karena aku dan Frank sudah berada di jalan yang berbeda, sayang. Kau tahu, aku dan Frank sudah tak bisa bersama lagi seperti dulu" jawabku lirih dan kini kulihat kedua mata Kimmy mulai berkabut, air mata mulai menetes dari pelupuk matanya.


"Kau tahu, Jeanny? saat aku kehilanganmu dan kau tak lagi menjadi bagian dari keluarga Jefferson lagi, hatiku sakit. Aku sangat sedih saat itu hingga aku sempat marah pada Frank karena dia telah membuatmu pergi" Kimmy bercerita dengan suara serak.


"Sudahlah sayang, itu hanya bagian masa lalu. Sekarang aku berada disini bukan? kita bisa bertemu lagi walaupun kita tak bisa berkumpul lagi bersama seperti dulu" tuturku mencoba membesarkan hati gadis remaja Kimmy.


"Aku mengerti, Jeanny. Kuharap kita akan sering bertemu lagi agar aku juga bermain dengan Ian, keponakan kecilku yang tampan itu" ucap Kimmy penuh semangat, kini senyum kembali menghiasi wajahnya yang cantik.


"Ian pasti senang memiliki bibi dan paman seperti kau dan Alex" ucapku penuh keyakinan.


"Hay, selamat siang. Apa kedatanganku menganggu kalian berdua disini?" sapa seseorang mengejutkanku dan Kimmy yang saat itu duduk bersama di sofa ruang tamu mansion Frank Jefferson.


"Laura??" Kimmy berseru kaget, begitupun sama denganku.



Aku cukup terkejut dengan kedatangan tunangan Frank Jefferson saat ini namun aku berusaha tetap bersikap setenang mungkin di depannya.


"Hallo, Jeanny kita bertemu lagi" sapanya padaku, ini pertama kalinya kami bertatap muka dan berbicara setelah pertemuan kita di Paris waktu itu.


"Apa kau mengenalku?" tanyaku pura - pura bodoh.


"Tentu saja aku mengenalmu, Jeanny atau mungkin bisa dikatakan sebagai mantan istri dari tunanganku, Frank Jefferson." sahutnya angkuh.


"Hay, Laura senang berkenalan denganmu" sahutku seraya membalas jabatan tangannya.


"Sungguh beruntung kita bisa bertemu lagi, Jeanny. Kau datang seorang diri atau bersama dengan kekasihmu Joseph Hayden?" Sindir Laura dengan tatapan angkuhnya padaku.


"Maaf kau salah besar Laura, aku datang dengan putraku, Ian. Aku hanya menemaninya disini karena Ian merindukan ayahnya, jadi kau tak perlu salah paham" sahutku tetap bersikap tenang, dapat kulihat wajah kesal Kimmy pada Laura namun aku berusaha menenangkannya dengan menyentuh tangan Kimmy dengan lembut.


"Benarkah? Wah, aku belum berkenalan dengan Ian putra dari kalian, akan seru sekali jika kapan - kapan aku dan Frank bisa pergi bersama - sama dengan Ian. Kau tidak keberatan kan, Jeanny?"


Entah kenapa ucapan Laura kini begitu menyakitkanku, susah payah aku berusaha menutupinya sekarang.


"Laura, kau jangan kelewatan pada Jeanny! Setidaknya hargai perasaan dia sebagai seorang ibu!" tegur Kimmy memprotes.


"Oh, benarkah?? Maafkan aku Jeanny jika kau tersinggung dengan kata - kataku, tapi aku rasa bukankah itu wajar pada pasangan yang sudah berpisah apalagi kita sudah memiliki pasangan masing - masing."


"Cukup Laura!! Jaga bicaramu!! Untuk apa kau datang kesini, hah??!" seru Frank dari balik ruangan, kulihat Ian berada di sampingnya saat ini.


"Kimmy, tolong kau temani Ian bermain sebentar, aku akan bicara pada pengacau ini!" perintah Frank dan dengan segera Kimmy pun bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Ian yang hanya diam menuruti bibi kecilnya.


"Pengacau?! apa kau bilang aku pengacau, Frank?! Aku tunanganmu, kau harus ingat itu!" seru Laura tak terima.


"Maaf, aku rasa aku harus pergi. Kalian lanjutkan saja urusan kalian disini.


Dan Frank tolong kau antar Ian pulang sebelum petang nanti!" sahutku tegas seraya bangkit dari sofa dan beranjak pergi.


"Jeanny, tunggu kau jangan pergi!" seru Frank seraya berlari menghalangiku pergi.


"Frank?!!!" Panggil Laura kesal saat ia mencoba menyentuh tangan Frank sebelum Frank berlari ke arahku.


"Kau tak perlu pergi, Jeanny. Kumohon padamu..." pinta Frank penuh harap, ia mencoba menyentuh tanganku namun aku segera menepisnya saat itu juga.


"Aku tak mau menjadi saksi dan penyebab pertengkaran kalian, jadi silahkan selesaikan urusan kalian berdua disini, aku tak mau ikut campur, Frank Jefferson" sahutku sinis kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka yang mungkin menatapku dari balik punggungku.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Tuan, saya menemukan sesuatu yang penting" ucap seseorang berpakaian hitam dan berkaca mata itu kepada seseorang di sambungan teleponnya, dari dalam mobil yang terparkir cukup jauh dari Mansion Frank Jefferson.


"Hari ini mansion Frank Jefferson kedatangan seorang tamu ibu dan anak, dan saya bisa menebaknya kalau mereka adalah mantan istri dan anak dari Frank Jefferson."


"Baik, siap tuan! Akan secepatnya saya lakukan. Tuan tenang saja, semua akan saya buat semulus mungkin tanpa ada saksi mata." Ucap orang asing itu mengakhiri sambungan teleponnya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


...Apakah Jeanny dan Ian dalam bahaya??...


...Yukk jangan lupa tinggalkan koment dan like ya❤️❤️🥰...