One Day In Your Life

One Day In Your Life
KUNJUNGAN YANG TAK TERDUGA



Ini sudah hari keempat setelah kiriman buket bunga waktu itu dan ke 4 kali ini juga, aku mendapatkan sebuah buket bunga setiap pagi.


Tak ada pesan apapun di dalamnya, hanya sebuah buket bunga cantik yang membuatku sedikit tersentuh namun juga sedikit takut karena buket bunga itu di kirim oleh orang asing yang aku tak tahu asal usulnya.


Apa maksudnya dan apa tujuannya, aku tak tahu?


Pernah sekali aku menolaknya dan mengirimkan kembali lewat kurir, namun kurir berpesan kalau bunga ini tidak bisa di kembalikan karena sang pengirim memesannya lewat online dan tidak diketahui identitasnya.


Bukankah itu hal yang aneh dan disengaja?


Tapi selama hal itu tidak merugikan sebenarnya tak jadi masalah bagiku hanya saja aku takut kalau ini akan jadi masalah untukku dan Frank nanti, mengingat reaksi Frank yang bagiku berlebihan saat tahu aku mendapatkan sebuah kiriman buket bunga beberapa hari yang lalu.


Karena itulah sejak itupun, aku memberikan buket bunga yang tiap hari di kirim lewat kurir kepada Miss. Helen agar ia menyimpannya di dalam kamar miliknya, karena aku tahu tempat itulah yang teraman yang tak mungkin di jangkau oleh Frank, suamiku.


"Nyonya, sepertinya nyonya memiliki seorang fans misterius.., karena jelas terbukti buket bunga ini bukanlah hanya keisengan seseorang" tutur Miss. Helen berkomentar.


Aku yang saat itu tengah sibuk di dapur, tersenyum singkat mendengar ucapan miss Helen.


"Aku bukanlah seorang idol, Miss jadi mana mungkin aku mempunyai fans ataupun penggemar seperti yang kau bilang tadi, itu jelas sangat konyol" sahutku.


"Tapi saya pikir nyonya sangat pantas jika memiliki fans karena memang kenyataannya nyonya itu cantik dan anggun" ujar miss Helen memuji.


"Walaupun sekarang dalam keadaan hamil tapi sama sekali tidak mengurangi kecantikan yang nyonya miliki, justru aura itu semakin terlihat jelas" Miss. Helen mencoba meyakinkanku.


"Astaga Miss. Helen, kau terlalu berlebihan memuji! aku tidak sebaik itu" sahutku tertawa pendek.


"Tapi terima kasih atas pujianmu Miss. Helen, aku senang karena rasanya sudah lama aku tak merasa gembira apalagi tertawa seperti ini" tambahku sungguh - sungguh.


Kini Miss. Helen menatapku teduh, ia tahu akhir - akhir ini keadaanku yang tidak baik namun ia berusaha tetap bekerja profesional di rumah ini tanpa terlalu ikut campur dengan keadaan rumah tanggaku bersama dengan Frank yang sedang dalam masa yang buruk.


"Sama - sama nyonya, saya pun merasa senang jika tuan dan nyonya bahagia selalu..." sahutnya tulus, aku hanya tersenyum mencoba untuk tegar.


"Baiklah Miss, hari ini aku akan ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutinku, kau lanjutkan memasak ya.


Aku pergi dulu..." tuturku mengalihkan perhatian.


"Hati - hati nyonya, tapi apakah nyonya tidak menunggu tuan pulang dulu saja nanti malam karena terlalu beresiko jika nyonya pergi seorang diri" sahut Miss. Helen cemas.


"Tidak apa Miss, suamiku akan pulang larut dan aku rasa, aku tak bisa menunda lagi terlalu lama" aku bersikeras.




Siang itu di kantor Frank Jefferson, cukup dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita cantik yang bersikeras ingin menemuinya.



"Maaf, Mr. Jefferson seorang wanita memaksa ingin menemui anda saat ini, saya sudah mengatakan kalau saat ini anda sedang sibuk dan tak bisa di ganggu tapi beliau tetap bersikeras menemui anda" seorang sekretaris muda wanita mencoba memberitahu pada Frank saat itu di dalam ruang kerjanya.



"Wanita? siapa ?" tanya Frank memicingkan mata.



"Carol Gilmore, beliau mengatakan ada hal penting yang harus disampaikan" jawab sang sekretaris itu dengan ekspresi wajah serius.



"*A**staga, drama apa lagi yang akan wanita itu mainkan di dalam kantorku...", pikir Frank kesal*.



Tak mau mengambil resiko, dengan berat hati Frank pun memerintahkan sekretarisnya agar Carol masuk.


Karena sejauh yang ia tahu, Carol Gilmore adalah wanita nekad yang tak tahu malu maka jika Frank terang - terangan menolaknya jelas itu akan beresiko pada Frank di kantor ini.



Sepertinya Carol Gilmore memang benar - benar cerdik sehingga ia bisa tahu, jika ia menemui Frank di kantornya besar kemungkinan untuk Frank tak menolak kehadirannya.



"Untuk apa kau datang kemari? katakan!" tegur Frank saat itu juga sesaat Carol baru masuk ke ruangannya dan menutup pintu.



"Apa harus dengan cara seperti ini agar aku bisa menemuimu Frank Jefferson...?" Carol bertanya acuh seraya berjalan mendekati Frank yang tengah duduk di meja kerjanya dengan wajah tegang.




Seperti tak peduli dengan penolakan Frank, Carol hanya tersenyum penuh arti.


Kini ia berdiri tepat di depan Frank yang menatapnya dingin dan tajam.



"Rileks lah Frank, apa seperti itu sikapmu pada wanita yang hamil anakmu? sungguh kejam..." sindir Carol dengan suara nakalnya, jemari lentiknya mulai menyentuh setelan jas kerja yang dipakai Frank dan mulai memainkan dengan gerakan menggoda di beberapa kancing kemeja yang ada di sana.



"Aku merindukanmu sayang, apa kau tahu itu?" bisik Carol dengan suara yang terkesan dibuat - buat.



"Singkirkan tanganmu dari tubuhku!" Frank dengan kasar menepis jemari nakal Carol di tubuhnya namun Carol tetap tak bergeming, ia hanya tersenyum licik dan penuh arti, ia justru semakin mendekatkan tubuhnya pada Frank yang menatapnya tajam.



Jarak mereka hanya beberapa senti sekarang, seperti tak peduli dengan tatapan menusuk dan wajah mengerikan Frank di depannya, Carol tetap menjalankan aksinya dengan leluasa.



"Aku tahu kau tak akan menolakku jika aku menemuimu di tempat ini, Frank Jefferson karena tentu saja jika kau melukaiku citramu akan buruk di perusahaan besar ini..." ucapnya berbisik di telinga Frank dengan gerakan sensual.



Frank menggertakkan giginya, rahangnya kaku menahan emosi, entah kenapa ia memang merasa lemah saat ini.


Tak ada yang bisa ia lakukan, ia tak bisa menolak Carol karena wanita itu tahu kelemahannya.



"Katakan Carol, apa tujuanmu menemuiku sekarang sebelum kesabaranku habis?!" ucap Frank menahan emosi yang meluap di dadanya.



"Sudah aku bilang aku merindukanmu, Frank...


Apa kau tak ingin menghabiskan malam lagi bersamaku, honey?" sahutnya dengan suara bisikan, bibir merahnya yang sensual menyentuh bibir Frank dengan gerakan menggoda.



"Kau-, benar - benar sinting!!"


Pergi dari tempat ini, Carol sebelum aku berbuat nekad mengusirmu sekarang!


Kau tahu, aku aku bisa menuntutmu karena tuduhan pelecehan!!" desis Frank dan Carol tertawa saat itu juga.



"Kau ini konyol, Frank Jefferson...


Jika kau melakukannya kau sama saja menggali kuburmu sendiri!


Karena yang lebih pantas di hukum itu adalah kau yang melakukan pelecahan padaku hingga aku ha-mil..., kau tahu itu sayang" sahut Carol penuh penekanan.



"Jal\*ng sialan, jika kau bukan wanita akan kuhabisi kau dengan tanganku sendiri saat ini juga!" Frank berseru hilang kontrol.



"Ckckck..., astaga Frank tak perlu berteriak seperti itu.


Aku bisa lebih nekad darimu, sayang... kau tahu itu" sahut Carol seraya tersenyum licik.



"Jika kau menolakku malam ini, saat ini juga aku akan berteriak dan mengatakan pada semua orang di tempat ini kalau kau sudah melakukan pelecehan padaku hingga aku hamil! kau dengar itu, Frank Jefferson?



"Kutunggu kau nanti malam di apartemenku, kita bisa membicarakan semua ini dengan baik - baik, sayang.., karena aku hanya merindukanmu... tak ada yang lain..."



...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...