
Siang itu juga Frank mengantarkanku pulang dari rumah sakit.
Bagiku ini adalah perjalanan yang begitu melelahkan.
Tak hanya lelah dengan kondisi tubuhku yang masih tak stabil namun lelah dengan keheningan suasana di dalam mobil, tak ada percakapan ataupun gurauan Alex dan Kimmy, semua terasa kaku atau lebih tepatnya panas.
Sepertinya tak hanya aku yang merasakan kegalauan perasaan Frank saat ini, namun Alex dan Kimmy pun ikut merasakannya.
Ekspresinya yang begitu kaku seperti menahan emosi yang begitu dalam, itu yang aku rasakan dari sikap dinginnya padaku kini.
"Alex, Kimmy aku minta kalian bermain di taman luar ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Jeanny sekarang!" perintah Frank tiba - tiba sesampainya di muka halaman.
Seketika itu kami bertiga pun terkejut, kulihat Alex dan Kimmy saling berpandangan.
"Ta...pi - " belum sempat melanjutkan ucapannya, Frank dengan cepat memotong bantahan yang ingin di ucapkan oleh Alex.
"Aku bilang sekarang! tidak ada alasan apapun untuk berkata tidak!"
Maka saat itu pula dengan berat hati mereka berdua pun turun dari mobil dengan memasang wajah kesal.
Setelah Alex dan Kimmy berlalu pergi, Frank melemparkan tatapan sinisnya padaku, kontan saja hatiku langsung menciut, dengan terburu ia menginjak pedal gas dan membelokkan mobilnya menuju garasi samping rumah bergaya victoria itu.
Kemudian setelah itu ia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar hingga suaranya seperti memecahkan gendang telingaku.
Jantungku semakin berdetak kencang saat dengan jelas kulihat Frank memutari mobil menuju pintu mobil yang aku duduki dan berseru lantang.
"Turun!!!!" perintahnya keras mengejutkanku.
Ketakutan dengan cepat melingkupiku saat itu, ketika dengan kasarnya ia menarikku untuk masuk ke dalam rumah.
Dengan tertatih - tatih aku berusaha mengikuti langkah kaki Frank yang begitu terburu, cengkraman tangannya begitu kasar di pergelangan tangan kananku.
"Frank, aku mohon...." rintihku kesakitan.
Aku menjerit keras saat dengan kasarnya Frank melemparkanku dengan tiba - tiba ke lantai saat sampai di dalam rumah.
"Kenapa kau perlakukan aku begini, Frank?" tanyaku tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa? kau tanya kenapa wanita brengs*k?!!
Sudah terlalu banyak kau membuat masalah di rumah ini dan sekarang dengan tanpa dosa kau bertanya kenapa?!" Frank berseru seakan kehilangan kendali diri.
Tak mampu menahan gejolak emosi di dadaku hingga tanpa terasa air mata menetes di pelepuk mataku kini.
"Ta...pi kenapa Frank, kesalahan apa lagi yang membuatmu begitu membenciku?" suaraku kini terdengar serak.
Tanpa aku duga dengan cepat Frank mendongakkan daguku hingga aku tersentak, dengan matanya yang tajam dan menusuk Frank menatapku garang.
Posisiku yang terjepit membuatku semakin sulit untuk bernafas.
"Kebohongan telah terungkap Jeanny Anderson..
Penampilanmu memang bisa menipu tapi tidak untukku!
Jadi, apapun penyangkalan yang kau coba tak akan dapat menutupi kemunafikan yang ada dalam dirimu karena sudah cukup banyak bukti yang membuktikan bahwa sejatinya kau hanya lah seorang perempuan jal*ng yang murahan!!" Ucapan Frank seperti bergema di telingaku saat dengan jelasnya ia ucapkan kalimat menyakitkan itu di depan wajahku dengan kasar.
Kupejamkan kedua mataku kuat - kuat saat tangan kasar Frank semakin eratnya menyentuh rahangku.
"Frank aku mohon..." hanya kata itu yang keluar dari bibirku saat ini karena aku memang tak bisa mengerti dengan keadaan ini.
"Sekarang cepat katakan padaku, siapa yang menghamilimu?!
Katakan siapa ayah dari calon bayi dalam rahimmu itu?!!" kalimat itulah yang membuka mataku.
"A...pa, a..ku hamil...?" pertanyaan itu keluar dari bibirku yang kini terasa bergetar.
"Jangan pura - pura lagi di depanku brengs*k!!
Sudah cukup aku menahan emosiku hingga kini jadi jangan coba - coba mempermainkanku lagi karena kali ini aku tak akan segan - segan mengotori tanganku ini!" ancam Frank serius.
Tak ada yang dapat ku ucapkan, aku hanya bisa menggelengkan kepala menepis semuanya ini.
Pernyataan Frank yang begitu mengejutkanku, berbagai peristiwa yang terjadi dari awal kedatanganku di rumah keluarga Jefferson hingga sampai saat ini seakan berkelebat cepat di benakku sekarang, memoriku bersama dengan Frank Jefferson yang membenciku...
Tak ada cinta di hatinya, hanya kebencian...
"Jawab pertanyaanku perempuan brengs*k!!
Siapa yang menghamilimu?!!" Frank berseru kembali.
"Tidak!!
Sampai kapanpun aku tak akan mengatakannya Frank..., jadi jangan paksa aku untuk mengatakannya padamu" jawabku tegas.
Dapat kulihat kemarahan di matanya, otot - otot lehernya menonjol, wajahnya tampak begitu garang dan mengerikan, jemari kuatnya mengepal erat seakan ia telah siap dengan apa yang akan ia lakukan sekarang padaku.
Aku tahu ia akan memukulku, aku tahu ia akan melontarkan kalimat pedas dan menusuk yang sengaja ia tujukan padaku namun aku tetap tak peduli.
Aku siap menerima segala konsekuensinya apapun itu, itu yang pernah aku ucapkan tempo hari.
"Aku tak peduli kau akan memukulku ataupun membunuhku Frank...
Kau boleh memperlakukanku apa saja sekehendak hatimu untuk menuntaskan emosimu padaku tapi aku tetap pada pendirianku.
Aku tak akan mengatakan siapa ayah dari anakku ini padamu, Frank Jefferson..sampai kapanpun."
"Brengs*k!!" Frank berseru keras kemudian melempar kasar beberapa perabotan di rak yang tak jauh berada di belakangnya.
Perasaan bergejolak semakin cepat melingkupiku saat dengan garangnya ia memukul dan menendang beberapa kali rak yang terlihat kokoh itu sebagai pelampiasan kekesalannya hingga memaksaku ingin menutup mata dan telingaku melihat sosok Frank yang menakutkan seperti sekarang ini.
"Perlu kau tahu Jeanny Anderson! aku sama sekali tak peduli siapa nama pria yang telah menghamilimu ataupun berapa banyak pria yang telah menidurimu namun aku peduli dengan kehormatan Jefferson yang telah kau nodai dengan aib memalukan yang telah kau perbuat di rumahku!!
Dan sekarang di depanku kau bersikap sok suci sebagai wanita bermartabat yang seolah begitu mempertahankan harga dirimu sebagai seorang wanita.
Aku rasa kau memang benar - benar wanita yang tak tahu malu Jeanny Anderson!"
Setelah mengatakannya, sekali lagi Frank mencengkeram kembali rahangku dengan kasar hingga aku mengerang menahan rasa sakit dengan perlakuan kasar Frank padaku.
"Untuk kali ini tak akan ada lagi rasa toleransi ataupun rasa belas kasihan padamu, perempuan sok suci! karena aku memang sudah benar - benar merasa muak dan jijik melihatmu berada di rumahku jadi jika memang kau masih menyisakan sedikit harga dirimu di depanku, cepat - cepat kau angkat kaki dari rumah ini dan jangan mencoba muncul kembali dalam keluarga Jefferson serta kehidupanku lagi, jal*ng!!!"
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...