One Day In Your Life

One Day In Your Life
AKU YAKIN ITU KAU



Joseph menyambutku turun dari mobil mewahnya dengan uluran tangannya, sesampainya kami di lokasi pesta.


"Ayo, Jeanny tetap berjalan di sampingku..


Kau jangan tegang dan harus percaya diri karena malam ini kau begitu cantik" tutur Joseph memberikan dorongan, ia menuntun tangan kananku agar aku tetap berjalan bergandengan tangan di sampingnya.


"Terima kasih, Joseph.." sahutku lirih kemudian menghembuskan nafas pelan melepas ketegangan.


Saat ini aku begitu takjub dengan pemandangan yang ada di depan mataku.


Sebuah pesta yang mewah. Brand louncing prodak merk terkenal fashion di kota Paris yang penuh gemerlap.


Seperti yang kuduga sebelumnya, banyak artis dan aktor yang hadir dalam acara ini.


Ada beberapa dari mereka yang aku kenal dan kuketahui, aktor dan artis itu.


Sungguh acara pesta yang meriah dan mewah.


Aku sangat beruntung bisa hadir di tempat ini dan itu membuatku semakin yakin kalau Joseph Hayden memang bukanlah orang biasa.


Dia adalah orang besar dan berpengaruh di kota ini, namun selama aku mengenalnya tak pernah sedikitpun ia menunjukan kemewahan ataupun kebanggaannya padaku.


Joseph Hayden sangat berbeda dengan pria kaya yang selama ini aku kenal.


Itu yang membuat aku menyukainya dan merasa nyaman dengannya.


Selama dalam pesta itu Joseph menyapa dan berbincang dengan beberapa orang yang ditemuinya di dalam pesta, aku tak banyak bicara dan berbicara jika memang harus bicara.


Hanya senyum sebaik mungkin yang tak pernah lepas di wajahku sekarang.


Hingga seorang pria bertubuh besar dan gagah mendekati kami berdua.


"Mr. Hayden, senang sekali bisa berjumpa denganmu disini!" tegurnya dengan wajah berseri.


"Mr. Curtis, bagaimana kabar anda?" balas Joseph menyapa.


"Seperti yang anda lihat, aku sangat baik - baik saja!" jawab Mr. Curtis sumringah.


Pria yang bernama Mr. Curtis itupun semakin mengembangkan senyumnya setelah melihatku.


"Wah, anda membawa teman cantikmu malam ini, Mr. Hayden, sungguh aku sangat beruntung bisa melihatnya" ucap Mr. Curtis menyanjung.


"Terima kasih..." aku menjawab sopan dengan sedikit menundukkan kepala.


"Anda adalah teman wanita pertama Mr. Hayden, yang pernah saya lihat sejak saya mengenal Mr. Hayden, Miss." ucapnya menggoda.


"Saya rasa itu berlebihan Mr. Curtis" Joseph menyahut canggung.


Mr. Curtis tertawa renyah.


"Baiklah kita akan lanjutkan nanti, saya akan menyapa beberapa rekan di depan sana" tutur Mr. Curtis meninggalkan kami.


"Apakah itu benar, Joseph?" tanyaku penasaran.


"Benar, Jeanny...


Kau adalah wanita pertama yang menjadi pasanganku selama ini" Joseph menjawab yakin.


"Astaga, aku sangat tersanjung jika seperti itu" sahutku tersenyum lebar dan kamipun sama - sama tersenyum saling tersipu.


"Jika kau lelah, kau bisa beristirahat di sana, Jeanny.


Minum dan makanlah yang engkau suka, aku akan menyusulmu nanti setelah menyapa mereka sebentar" tutur Joseph seraya menunjuk beberapa pria berpakaian tuxedo yang tak jauh di depannya dan aku hanya mengangguk mengiyakan.


Tanpa ragu aku berjalan ke sebuah meja besar di tengah ruangan dan mengambil gelas sampanye yang tersedia disana.


Saat menikmati tegukan pertama pandanganku tak sengaja menangkap pasangan yang begitu menonjol, dimana salah satu dari mereka sangat aku kenal.


Pria yang selama ini kuhindari selama bertahun tahun, hingga membuatku harus lari dan menetap di Paris.


"Frank...??!!" seruku tak percaya.


"Ba-gai-ma-na bisa??!" aku mendelik selama beberapa saat, seperti belum percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.


Mencoba mengatur nafasku agar kembali normal dan menguasai jantungku yang entah kenapa tiba - tiba berdebar sangat kencang saat melihat penampakan yang tak jauh di depanku sekarang.


Ya, aku sangat yakin itu Frank dan... dia bersama dengan seorang wanita bergaun hijau botol.


Mereka tampak berbincang bersama dengan seseorang, tersenyum dan tertawa lebar seakan kedua pasangan itu memang diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Begitu serasi dan menarik mata siapapun yang melihatnya.


Saat tatapanku tak lepas melihat pemandangan yang mencolok mata itu di depanku, saat itupun aku menyadari kalau kedua mata tajam yang telah lama sangat kukenal itu mengalihkan tatapannya padaku dan dengan cepat aku membalikkan badanku dengan spontan menghindari tatapan matanya padaku.


"Astaga, ya Tuhan! apa Frank melihatku??!" aku berseru dalam hati merasa panik dan takut.


Kedua tanganku gemetar seketika, dan tanpa pikir panjang lagi aku melangkah cepat berjalan sejauh mungkin dari tempat ini.


Aku berjalan tak tentu arah melewati beberapa orang yang sibuk berbincang dan mungkin menatapku dengan aneh dan penuh tanya.


"Jangan..., jangan sampai, Frank melihatku ataupun mengetahui keberadaanku disini!" seruku dalam hati.


Hingga tanpa sadar aku berjalan cepat dan tak sengaja menabrak seseorang di depanku,


Garth Gaskins?!


Dia hadir bersama dengan seorang wanita yang sangat kukenal, seorang artis cantik papan atas bernama Adellia Kent.


Dapat kulihat tatapan Adellia yang merendahkan saat melihatku.


Kurasa ia tampak kesal karena aku menabrak pasangan pestanya dengan tak sengaja.


"Jeanny..?!"


"Apa yang kau lakukan disini? dan kenapa kau panik seperti itu?!" Garth bertanya terkejut, kurasa ia sama - sama terkejut ketika melihatku.


"Garth...Garth...., Frank..., Frank ada disini!


Kumohon bawa aku pergi sebentar dari tempat ini! kumohon...!" pintaku memohon dengan wajah memelas.


"Frank?!!


Bagaimana bisa?!" sahut Garth masih tak percaya.


"Honey, maaf aku tinggal sebentar ya.


Nanti aku akan kembali bersamamu disini" ucap Garth pada Adellia disampingnya seraya mengecup lembut bibir artis cantik sensasional itu.


Tanpa menunggu jawaban pasangan pestanya yang seakan ingin menjawab dengan wajah memprotes, Garth mengandeng tanganku dan berjalan cepat keluar ruangan.


Dengan langkah pasti namun tak terburu, Garth membawaku ke jalan pintas yang ada di gedung besar itu.


Kemudian menelepon seseorang yang untuk menjemputnya lewat jalur belakang.


"Jeanny, kau tenang saja ya.


Aku yakin kau akan aman, orangku akan mengantarkanmu pulang ke rumah dengan selamat" ucap Garth menyentuh lembut bahuku.


Aku yang masih dalam keadaan panik hanya bisa menatap Garth dengan tatapan nanar.


Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan kami.


Garth membuka pintunya dan menyuruhku masuk.


"Pastikan kau mengantar Jeanny dengan selamat sampai kerumahnya, Sean!" perintah Garth pada pengemudi di dalam mobil.


"Kau sudah aman, Jeanny.


Sekarang masuklah, maaf aku tak bisa menemanimu karena aku masih akan membereskan masalah di tempat ini" ucap Garth meyakinkanku seraya mengecup lembut keningku.


"Terima kasih, Garth..." sahutku lirih.


..


..


..


"Kau kenapa, Frank??


Kau seperti baru saja melihat hantu saja!" tegur Laura kesal.


Pandangan Frank tampak tak fokus beberapa saat, ia merasa seperti tadi melihat seseorang.


Seseorang yang amat ia kenal dan yang ia cari selama ini.


Walaupun sekilas namun ia merasa yakin kalau ia melihatnya tadi.


Sosok itu, wanita bergaun hitam yang berdiri beberapa meter dari tempatnya tadi.


Sayang sekali, sosok itu menghilang diantara kerumunan banyak orang yang ada di pesta ini.


"Mungkinkah itu dia? Jeannyku..., mungkinkah itu kau...?" batin Frank.


Dalam kebimbangan itulah Frank kembali sadar pada saat ia melihat sosok Joseph Hayden yang tampak mengobrol dengan seseorang tak jauh di depannya.


Frank berjalan mendekat dan bermaksud menyapa pria yang merupakan rekan dekatnya itu.


Laura mengikuti Frank dari belakang, ia sudah terbiasa dengan sikap cuek sang tunangan, walaupun kesal namun bagaimana lagi, ia sudah terbiasa dengan itu semua.


Benar - benar Laura Harris yang dibutakan oleh cinta.


"Mr. Hayden..., kita bertemu lagi disini" sapa Frank dengan senyuman lebarnya yang memikat.


"Astaga, Mr. Jefferson sungguh suatu kebetulan yang baik!" sahut Joseph.


"Hallo, Mr. Hayden...


Senang berjumpa dengan anda" Laura menyapa ramah dengan senyuman cantiknya.


"Hallo, Miss. Harris sungguh suatu kejutan kita bisa bertemu lagi" tutur Joseph membalas.


"Kalian berdua memang pasangan serasi, cantik dan tampan!" puji Joseph sumringah.


"Terima kasih, Mr. Hayden.


Kalau boleh saya tahu, apakah anda datang seorang diri?" tanya Laura mencoba basa basi.


"Ah, tidak kebetulan saya datang dengan seseorang tapi kami terpisah sebentar tadi" jawab Joseph jujur.


Disaat yang sama itu pula, ponsel Joseph bergetar, ia meminta izin sejenak untuk mengangkatnya setelah melihat siapa penelepon itu.


"Ya, Jeanny kau ada dimana sekarang?


Aku tak menemukanmu di tempat itu tadi, apakah kau baik - baik saja sekarang?"


Mendengar nama yang tidak asing itupun, Frank cukup terkejut.


Dengan nalurinya yang tajam iapun berusaha memperjelas pendengarannya saat ini.


"Baik, baik lah...., tak apa - apa.


Kau istirahatlah dengan baik ya, nanti aku akan menyusulmu di rumah" tutur Joseph mengakhiri panggilannya.


"Maaf membuat kalian menunggu" kata Joseph tak enak hati.


"Tidak masalah Mr. Hayden, maaf kalau lancang, kalau boleh tahu siapa yang menelepon tadi? sepertinya orang yang sangat penting" Frank bertanya mencoba memastikan.


"Oh, maaf tadi adalah pasangan pesta saya yang tadi datang bersama tapi karena ada suatu hal ia harus pulang terlebih dahulu" Joseph menjawab.


"Jeanny??" Frank bertanya kembali, dan Laura seketika itupun berpaling menatap tajam tunangannya itu dengan tatapan penuh arti.


"Benar, Jeanny Anderson..." Joseph menyahut yakin dengan senyuman keyakinan sejuta arti.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


...Tau gak gaes..., author ikut ngos - ngosan dan megap megap saat nulis adegan di part ini, terutama yang adegan saat Jeanny lari karena ketemu FrankπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...


...Astaga halunya tingkat dewaπŸ˜‚πŸ€­...


...Udah berasa kaya beneran ketemu ama mantan🀣🀣🀣...


...Yuuk jgn lupa tinggalkan like dan koment kalian ya biar author gak ngos - ngosan lagiπŸ˜‚πŸ˜‚...