
Segera aku bergegas berlari ke pintu depan yang sejak tadi tak ada berhenti di ketuk.
"Ya, ya..., sebentar!" seruku di pintu sebrang.
"Si-apa... ?" mulutku ternganga secara reflek saat melihat dengan pandangan tak percaya orang yang sejak tadi mengetuk pintu dengan tak sabaran dan kini ia tepat berdiri di depanku, yang seketika itu merasa ingin lari namun entah kenapa aku hanya berdiri terpaku menatapnya seperti orang linglung.
"Garth...?!
Mau apa lagi dia datang ke sini?" batinku.
Tanpa berpikir lagi, segera mungkin aku menutup pintu itu namun Garth berhasil menggagalkannya.
"Tunggu Jeanny! aku datang dengan maksud baik!" serunya mencoba menjelaskan, tubuh dan lengan kanannya mencoba menahan daun pintu yang menutup sebagian.
"Apa maumu?!" sahutku masih panik.
"Biarkan aku bicara Jeanny, aku datang bukan untuk niat jahat ataupun berbuat macam - macam padamu.
Aku mohon, berikan aku kesempatan!" ia tetap memohon penuh harap.
"Frank tak ada di sini, Garth.
Ia belum pulang sejak 2 hari ini dan aku tak merasa punya urusan denganmu jadi aku mohon pergilah!!" sahutku tetap bersikeras.
"Justru aku datang karena Frank, aku datang dengan niat baik Jeanny, walaupun membawa kabar buruk" sahutnya dengan suara cukup keras.
Detik itu pula aku langsung melemah.
Tak mau dilanda penasaran akupun mencoba membuka daun pintu itu lebih lebar.
"Apa maksudmu...?" tanyaku penasaran.
"Maafkan aku Jeanny...
Kabar buruk ini mengenai Frank" Garth berkata dengan nada penuh penyesalan.
Aku menatapnya dengan pandangan semakin tak mengerti, susah payah aku berusaha menutupi rasa keterkejutan ku saat mendengar ucapan Garth tentang Frank di depanku.
"Aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan kabar buruk tentang Frank?
Oh..., Ya Tuhan!!
Tidak terjadi sesuatu padanya kan?!" tiba - tiba saja pikiran buruk terlintas begitu saja.
"Frank baru saja mengalami kecelakaan mobil, Jeanny.
Kini ia berada di rumah sakit dalam keadaan koma, aku bermaksud membawamu ke sana itu kalau kau mau dan bersedia."
Garth menghentikan ucapannya dan menatapku dengan pandangan menyesal saat melihat reaksiku.
"Aku turut priatin Jeanny dengan apa yang menimpa Frank..." lanjutnya lirih.
"Kau bohong kan Garth!
Itu semua hanya karanganmu saja kan?!
Frank baik - baik saja, ia tak apa - apa.
Tidak terjadi apa - apa padanya, aku yakin itu walaupun 2 hari ini ia belum pulang sejak kejadian itu, penamparan itu..." sahutku tak karuan.
Garth memeluk dan menenangkan ku yang saat itu masih nyerocos tak karuan dengan tubuh yang mungkin menjadi gemetar dan lemas.
"Tenanglah Jeanny, aku mohon kau tak perlu panik seperti ini...
Kita harus secepatnya ke rumah sakit sebelum terlambat, sebelum terjadi sesuatu pada Frank".
"Tidak!!" tukasku tajam dengan mendorong, mencoba melepaskan pelukan Garth di tubuhku.
"Frank tidak akan mati!" seruku kembali.
"Ya..,ya.., maafkan aku Jeanny
Aku tak bermaksud demikian" sahutnya lirih.
Maka saat itupun aku segera menyiapkan diri, berpakaian secepat mungkin, mengambil tas dan berlari kembali menuju ke pintu depan.
Namun saat itu aku di kejutkan oleh panggilan Alex dan Kimmy yang sejak tadi tanpa kusadari memperhatikanku dengan pandangan tak mengerti.
"Ada apa Jeanny, apa yang terjadi?" tanya mereka berdua sedikit bingung melihat kegugupanku yang tiba - tiba.
Aku sadar dan terhenti pada saat itu juga,berbalik dan menatap mereka dengan mata sembab, menahan tangis.
Namun aku berusaha setenang mungkin di depan mereka, berjalan pelan dan membungkuk di depan mereka berdua.
Kutatap mereka cukup lama, berpikir bagaimana menjelaskannya pada Alex dan Kimmy yang tampak memandangku menunggu jawaban dariku.
"Jeanny..?" tanya Kimmy lirih.
"Aku dan Garth akan ke rumah sakit menjenguk Frank, terjadi sesuatu padanya di jalan tadi dan aku harus segera ke sana untuk mengetahui keadaannya sekarang.
Kalian tetap di rumah, akan lebih baik kalian tetap di sini.
Tak perlu berpikiran buruk, Frank tak akan apa - apa mungkin hanya luka kecil" aku mencoba menjelaskan sehati - hati mungkin takut membuat mereka panik.
Namun aku sendiri tidak yakin.
Apakah aku sendiri yakin dengan ucapanku tadi?
"Frank kecelakaan...?" kata - kata itu meluncur tak beraturan di bibir mungil Kimmy yang kini menatapku dengan mata birunya yang kini berkabut.
"Kimmy..." ku peluk gadis kecil itu erat kemudian Alex yang sejak tadi hanya diam, tanpa mengatakan apapun.
"Kalian tak perlu cemas, semua akan baik - baik saja.
Tunggulah di sini, jangan kemana - mana aku akan segera kembali, percayalah..." tuturku kemudian menatap bergantian mereka berdua.
"Jeanny...?"
Tiba - tiba saja Garth menyusul ke dalam, memberikan isyarat agar aku cepat.
"Baiklah..., aku pergi dulu.
Kalian baik - baik saja di rumah, nanti aku telepon setiba ku di sana."
Pandanganku beralih pada Alex yang sejak tadi tanpa reaksi.
"Alex jagalah adikmu...
Ingat kata - kataku ok?!" ucapku padanya seraya menunjukkan jempol untuk meyakinkan dan aku tersenyum lega saat Alex mengangguk yakin.
Dalam perjalanan, Garth berusaha bersikap ramah padaku.
Seperti yang dilakukannya awal pertemuan kami waktu itu di Richmond's Restoran.
Ia bersikap seolah tak pernah terjadi sesuatu diantara kami dan paling membuatku risih, Garth berkali - kali mengalihkan pandangannya padaku bukan berkonsentrasi untuk mengemudi.
Tak ada perasaan apa - apa yang kurasakan saat itu namun hanya kecemasan dan kekhawatiran.
Takut kalau terjadi sesuatu pada Frank nanti.
Hingga aku ingin cepat sampai tujuan, untuk mengetahui bagaimana keadaan Frank sekarang.
"Aku mohon Garth, bisakah lebih cepat lagi?
Bukankah kau sendiri yang mengatakan, kalau kita terburu waktu?" suaraku mungkin terdengar aneh di telinga Garth, hal itu dapat ku sadari saat Garth menatapku dengan penuh tanya.
Tapi kenapa?
"Kau benar - benar mengkhawatirkannya Jeanny?
Begitu istimewakah Frank di matamu?"
Garth bertanya tiba - tiba.
"Kau ini kenapa?!
Tentu saja aku mencemaskannya, Alex dan Kimmy sedang menung - "
Aku tak sempat melanjutkan kalimatku karena di saat yang sama itu pula Garth menepikan mobil Lamborghini mewah miliknya dengan mengeremnya secara mendadak di tepi trotoar.
"Apa yang kau lakukan Garth?!" seruku kaget bukan main, aku benar - benar tak habis pikir apa maksud Garth menghentikan mobilnya dengan tiba - tiba.
"Ok!! Aku sudah muak dengan semua ini!!" Garth berseru, kedua tangannya memukul kasar stir mobil.
"Haruskan aku melakukan kebohongan ini agar kau bisa keluar dari rumah sialan itu?!" Garth menatap tajam padaku kini, tatapannya kali ini menjadi mengerikan.
"Ke...bohongan...?
Apa yang kau maksud dengan kebohongan Garth?
Oh,, tidak kau... " pikiran itu dengan cepat terlintas saat Garth menatapku dengan cara seperti itu, matanya penuh dengan kebohongan.
"Keluarkan aku dari sini!!" aku berteriak histeris dengan menggedor - gedor pintu mobil yang mungkin sudah terkunci.
"Kau memang brengs\*k Garth!
Kau mengarang cerita tentang Frank, itu semua adalah kebohonganmu!
Kau pembohong sialan!!
Keluarkan aku dari sini!!"
Aku berusaha membuka pintu mobil sekuat tenaga, berharap aku bisa keluar dan lari.
Aku takut apa yang aku takutkan selama ini terjadi.
Aku berharap seseorang atau siapapun mendengar teriakkanku, namun aku salah.
Sepanjang trotoar tampak sepi, kalaupun ada mereka mungkin hanya memperhatikan kami sambil berlalu pergi.
Garth memang merencanakan semuanya ini dengan matang.
Ia bukan pria biasa, ia adalah pemangsa.
Pemangsa liar yang tak mudah menyerah begitu saja.
"Dengar Jeanny!!" Garth mencengkram erat bahuku dengan kedua tangannya, berusaha membalikkan tubuhku ke hadapannya.
"Kenapa kau berteriak histeris seperti itu?
Apa yang kau takutkan dariku!?"
Pertanyaannya sama sekali tak masuk akal bagiku, ku tatap Garth dengan kedua mataku yang kini berair, aku kacau dan panik.
"Kau brengs\*k Garth!
Untuk apa kau melakukan kebohongan itu padaku?
Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!" teriakku kemudian mencoba mendorong dada Garth kuat - kuat.
"Dengar Jeanny! Aku mencintaimu!
Semua yang kulakukan karena aku mencintaimu!!" Sahut Garth keras seraya mencengkeram kedua bahuku erat dan kasar.
Ku tatap Garth dengan pandangan tak percaya.
"Cinta? Kau katakan itu cinta Garth?
Kau tidak mencintaiku Garth Gaskins, kau hanya bernafsu padaku!" aku menyahut keras.
Namun Garth hanya mendengus dan tersenyum jahat.
"Terserah apa katamu.
Sekarang kenyataannya kau ada disini dan kau tak bisa lari kemana - mana.
Sudah pernah kukatakan, tak ada yang bisa lari dari Garth Gaskins.
Apalagi wanita sepertimu yang begitu mudah kubodohi dengan kebohongan tentang Frank sialan itu!!
Selama kau belum menjadi milikku, aku akan tetap terus mengejarmu kalau perlu sampai ke ujung duniapun aku sanggupi!"
Kalimat itu meluncur dengan lancar dan lantang di depanku yang hanya bisa menatapnya dengan panik, hingga saat itu kusadari sebelah tangan Garth mengambil sesuatu di balik saku celana hitam yang dikenakannya kemudian dengan cepat ia menempelkannya tepat di hidungku.
Tak sempat melawan dan tak sempat berpikir itu apa?
Mungkin dalam hitungan detik, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku.
Yang begitu cepat kurasakan di seluruh indera - inderaku, aku mengantuk dan merasa lemah tanpa tenaga.
Mata ini terasa begitu berat untuk dibuka, kenapa?
Ku coba untuk melawan rasa kantuk yang amat sangat.
Susah payah aku berusaha memperjelas penglihatanku, masih sempat kulihat wajah Garth Gaskins yang tersenyum samar melihatku.
Wajahnya semakin samar dan memudar.
Aku mengantuk, sangat mengantuk dan ingin tidur.
Ya,, tidur.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...