One Day In Your Life

One Day In Your Life
MENGHADIRI PESTA



Waktu berjalan cepat begitu saja, dengan tanpa disadari Frank Jefferson ini sudah hari kelima dia berada di Paris.


Selain dengan tujuan pencarian mantan istrinya, Jeanny Anderson, Frank pun tetap menjalankan keprofesionalan dan tanggung jawabnya sebagai seorang CEO sebuah perusahaan besar.


Selama 5 hari itupun Frank mengadakan pertemuan - pertemuan dengan berbagai relasi bisnisnya dan rekan kerjanya di Paris.


Termasuk menghadiri sebuah pesta undangan seorang relasi bisnisnya yang akan diadakan malam ini, David Aurnalt seorang CEO dari salah satu perusahaan besar fashion di Paris yang akan meluncurkan brand terbaru di perusahaannya.


Ia sudah memutuskan untuk datang malam ini, seorang diri tanpa pasangan itu bukanlah masalah besar untuknya.


Frank sudah biasa hadir di sebuah pesta dengan tanpa seorang pasangan.


Karena ia memang berkomitmen tidak akan menikah lagi dan mencari pengganti Jeanny Anderson selama ia belum menemukan keberadaan mantan istrinya itu.


Walaupun secara status banyak yang sudah tahu jika Frank memiliki seorang tunangan bernama Laura Harris, putri milyader kaya dari New York yang merupakan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaannya, Frank sama sekali tak menganggap wanita itu ada.


Sungguh ironis dan tidak adil bagi Laura, namun selama satu tahun lebih menjalin hubungan dengan Frank Jefferson dan menjadi tunangannya, Laura tak pernah mengeluhkan hal itu.


Bagi Laura, Frank mau menyetujui persyaratan yang diajukan ayahnya agar ia mau bertunangan dengan dirinya sudah sangat membuatnya puas dan bahagia.


Laura tahu, Frank adalah sosok yang dingin dan tak mudah didekati oleh wanita siapapun karena itu ia tahu bagaimana caranya agar Frank mau menerimanya walaupun dengan jalan pintas seperti ini.


Laura Harris hanya berharap, suatu hari nanti Frank Jefferson mau membuka hati untuknya.


Karena itu, kini ia memberanikan diri menyusul Frank Jefferson ke Paris walaupun tunangannya itu tidak memberikannya izin.


Bagi Laura sekarang, image sebagai seorang tunangan dari salah satu CEO sebuah perusahaan besar adalah penting.


Ia tak peduli dengan penolakan Frank nantinya, karena ia yakin kali ini Frank tak punya alasan untuk bisa menolaknya lagi, karena itu dengan tekad yang bulat Laura datang menyusul Frank ke Paris.


Malam itu Laura sudah berdandan semaksimal mungkin dengan penampilan terbaiknya, berharap Frank akan memberikan pujian padanya atau setidaknya ia akan mendapatkan perhatian dari sang tunangan.


"Aku sudah siap, Frank dan kali ini kau tak bisa menolakku karena itu akan berpengaruh besar pada image mu nanti di pesta itu jika kau hadir seorang diri" tutur Laura percaya diri dengan menggunakan gaun panjang warna hijau botolnya yang membalut ketat tubuh indah yang terawat itu.



Rambutnya coklat gelap ia sanggul keatas dengan model keriting dibagian poninya.


Cantik dan anggun.



Ia dengan penuh percaya diri berdiri di lobi hotel saat Frank hendak bersiap berangkat menuju tempat lokasi dengan memakai tuxedo hitam yang membuat wajahnya semakin tampan dan maskulin.


Frank hanya menatapnya dingin dengan wajah enggan. Ekspresi itulah yang selalu Frank tampilkan jika bersama dengan sang tunangan.


"Kenapa kau sangat keras kepala dan selalu berbuat semaumu!? bukankah aku sudah bilang kau tak perlu menyusulku ke Paris ataupun ikut bersamaku ke pesta itu!" Frank menyahut kesal.


"Kau boleh menolakku Frank, tapi aku akan tetap ikut datang ke pesta itu sekarang karena aku juga memiliki undangan untuk hadir di pesta itu, kau tahu akibatnya jika aku datang seorang diri disana sekarang?


Aku tak akan menjelaskan secara rinci padamu, karena kau pasti tahu apa yang akan dikatakan para kolega bisnismu nanti" ucap Laura penuh percaya diri.


"Terserah!!" jawab Frank acuh seraya berjalan meninggalkan Laura, senyum kepuasan mengembang di wajah cantik eksotis Laura karena kali ini Frank memang tak bisa menolak kehadirannya.


✨✨✨✨✨✨


"Kau sangat cantik, Jeanny...


Sungguh beruntung Ian memiliki mommy yang cantik dan anggun sepertimu" puji Joseph padaku malam itu saat ia datang menjemputku untuk menjadi pasangannya di sebuah pesta peluncuran sebuah brand baru perusahaan kolega bisnisnya.


Aku yang saat itu baru saja turun dari tangga berjalan agak kikuk karena baru pertama kali ini memakai gaun pesta di depan Joseph.



"Mommyku sangat cantik seperti dewi bukankah itu benar uncle Joseph?!" seru Ian girang dengan ekspresi polosnya.


"Uncle sangat iri padamu, Ian..." sahut Joseph meledek.


"Haaa, tentu saja banyak pria yang akan mengantri menjadi Daddyku nanti!" seloroh Ian polos dengan tawanya renyah.


"Astaga, Ian! apa yang kau katakan, sayang?!" sahutku malu dan canggung, kucubit pipinya yang putih dengan gemas.


"Ian memang benar, Jeanny.


Banyak pria yang akan iri padaku nanti di pesta karena kecantikanmu itu" Joseph menyahut santai, senyumnya kali ini tampak bangga.


"Terima kasih, Jeanny karena kau mau datang untuk menjadi pasanganku di pesta ini, aku sangat bangga bisa menjadi pasanganmu" tambahnya senang, ucapannya tampak tulus kudengar.


"Ini hanyalah hal kecil, Joseph.


Kau sudah banyak membantuku sudah sepantasnya aku membalasnya, dan lagipula jika aku hadir dalam pesta ini mungkin itu akan berpengaruh baik untuk usahaku di bidang fashion, bukankah kau sendiri yang mengatakannya kemarin padaku?" ujarku yakin.


"Kau benar, Jeanny...


Kalau begitu ayo kita berangkat!


Maaf ya Ian, uncle pinjam mommy'mu sebentar untuk malam ini, kau jangan marah ya" Joseph berkata dengan tersenyum lebar.


"Okay, jaga baik - baik mom, uncle! aku tak mau mommy lelah dan sakit lagi seperti kemarin" sahut Ian perhatian.


"Tentu saja, pasti jagoan!" Joseph menjawab dengan jempolnya yang mengacung yakin.


"Mom, pergi dulu ya nak...


Kau baik - baik ya dirumah bersama Suzy" ucapku seraya mengelus lembut rambut hitamnya yang lembut.


"Suzy, aku titip Ian ya...


Kau boleh pulang ke rumah nanti setelah aku pulang dari pesta nanti" perintahku pada Suzy yang sejak tadi berdiri di belakang Ian.


"Baik nyonya..., anda tidak perlu khawatir" gadis berambut hitam itu menjawab yakin.


Kemudian aku dan Joseph pun berangkat malam itu ke lokasi pesta.


Entah kenapa aku merasa grogi dan cemas karena memang ini untuk pertama kalinya aku datang ke sebuah pesta besar di Paris.


Akan banyak para pembisnis kaya dan sukses disana, bahkan mungkin orang - orang terkenal nanti di pesta itu.


Semoga saja, penampilanku ini tidak membuat malu Joseph Hayden, karena aku tak mau membuat imagenya menjadi buruk karena aku yang tak terbiasa bersosialisasi dengan para pengusaha terkenal dan para milyader ataupun pesohor di sana.


Seakan tahu kekhawatiranku, Joseph menyentuh lembut jemari tanganku yang mungkin kini menjadi dingin.


"Kau tak perlu cemas, Jeanny...


Aku akan selalu ada di sampingmu, jadi kau tak perlu takut ya..." ucapnya lembut membuatku tenang dan aku hanya mengangguk tersenyum hangat.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


...Duuhh mule panas nih...😅💃...


...Apakah Jeanny dan Frank akan bertemu nanti??...


...Yuuk tinggalkan like dan komen kalian, juga hadiah ya😄😄🥰🥰...