One Day In Your Life

One Day In Your Life
satu



hay hay semua. Maaf ya kalau masih banyak typo. tetep kasih masukan dan saran. Jangan lupa tinggalkan komentar dan vote nya.


Terimakasih udah mau jadiin ini sebagai bacaan kalian. i loveyouuuu


................


Tin ... Tin ... Tin


Suara riuh klakson mobil di jalan kala pagi itu terasa sangat mengganggu. Orang-orang yang akan berangkat bekerja atau menjalani aktivitas pagi lainnya sedikit menggila. Pasalnya pagi ini kemacetan ibu kota sangat membuat sesak didada, apalagi cuaca seperti ini. Gerimis membuat semua pengendara roda 2 serasa jengah.


Hari ini ibu kota sedikit sendu tidak seperti biasanya. Atau memang sudah memasuki musim hujan.


Seorang wanita yang tengah berdiri di dalam bus terlihat mengibas-ngibaskan tangan di depan dada. Diliriknya jam dipergelangan tangan kanan. Sudah menunjukan pukul 7.50 dan bus hanya berjalan sebentar dan berhenti lagi. Jika seperti ini mungkin ia akan terlambat.


Namanya Kalanta embun, atau biasa disapa Embun sosok wanita cantik dengan tinggi 160 cm. Memiliki badan yang tidak gemuk atau kurus. Tapi pas atau biasa disebut ideal. Berkulit putih dengan rambut panjangnya, serta hidung bangir dan alis tebal. Bukan dari kalangan orang berduit. Tapi dia selalu merawat diri dan menjaga penampilan alhasil dia selalu tampil cantik dengan atau tanpa riasan bedak.


Sesaat merasa jengah. Embun buru-buru membayar ongkos bus dan segera turun dari sana. Karena berdiam diri disana atau pun berjalan kaki sama saja tetap terlambat. Tapi yang ia perkirakan, naik bus akan membuat ia sangat terlambat. Untung saja gerimis sudah reda, namun matahari tetap masih tertutup awan hitam. Dilangkahkan kan kaki itu menuju ke seberang jalan. Sedikit berlari dengan menggunakan high heel ber hak tahu, untung saja dia tidak menggunakan heels berujung runcing. Bisa bisa berjalan dengan sedikit berlari akan membuatnya terkilir


Sekitar 15 menit ia berjalan, Embun tiba di depan kantornya. Rasa lelah dan pegal di tumit nya terabaikan kala ponsel didalam totebagnya bergetar.


Terlihat nama yang tertera dilayar ponsel.


"Hallo"


"Lu dimana ? Dicariin bu Andin, ada rapat keuangan 10 menit yang lalu" ucap seseorang di seberang sana.


"******"


Embun segera melangkahkan kaki dan masuk ke gedung perusahaan. Segera masuk kedalam lift dan menekan angka 17. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Mulut nya juga tak henti meramalkan doa dan umpatan di waktu bersamaan..


Tringg...


Lift terbuka. Embun berlari menuju ruang meeting sesegera mungkin. Sampai didepan pintu, tak lupa ia berdoa dan mengelap sedikit keringat di dahinya.


Tok. Tok


Pintu dihadapannya terbuka. Dengan perasaan was was Embun masuk kedalam ruangan itu. Semua pasang mata yang mulanya fokus pada berkas di meja kini beralih menatap nanar sosok wanita yang baru saja masuk.


Seorang pria dengan setelan jas hitam dan terlihat berwibawa yang tadinya duduk di ujung tengah meja panjang itu lalu berdiri, dia adalah CEO dikantornya. Embun tak berani mendongakan kepala. Hanya menunduk dan berdoa.


Embun segera duduk disamping bu Andin yang memang kepala staff keuangan. Ia segera mengeluarkan berkas rekapitulasi keuangan bulan ini, dan mengikuti rapat sebaik mungkin tanpa melakukan kesalahan.


35 menit berselang, seorang manager ADM umum & keuangan menyudahi ocehannya dan segera menutup rapat. Semua staff adm umum & keuangan terlihat merapihkan berkas mereka.


"Anda, wanita yang terlambat tadi setelah ini keruangan saya" ucap CEO itu


Semua orang yang ada disana berkasak-kusuk ria sambil menatap Embun tajam seolah mengatakan bahwa ia adalah seorang pengacau. Embun yang sadar diri segera mengemasi berkas dan pamit kepada bu Andin, dijawab anggukan olehnya. Buru-buru ia masuk ke dalam lift dan menekan angka 27. Setelah sesaat pintu lift terbuka.


Embun segera melangkah menuju ruangan CEO.


Sampai didepan ruangan itu, seorang wanita dengan dress diatas lutut dan terlihat elegan sedang menatap layar komputer. Sampai fokus nya teralihkan kepada Embun.


"Kamu sudah ditunggu pak Elang, Segera masuk. Kulihat muka nya tadi seperti menahan marah. Siapkan mental dan jiwamu. Haha" kata wanita yang Embun yakini sebagai sekretaris.


Tok. Tok.


Perlahan embun memasuki neraka dunianya hari ini. Aura gelap dan terkesan singup amat sangat terasa. Dengan kepala yang sedari tadi menunduk, tanpa ia sadari, ia telah berada di depan meja kebesaran direktur itu. Tangan yang sedari tadi tremor kecil di imbangi dengan darah di bagian leher belakang yang berdesir hebat. Sungguh ia amat takut hari ini.


"Tahu kan kesalahanmu ?" Tanya Elang


"Ma..maaf pak, saya terlambat tadi macet parah" Jawab embun. Entah kenapa kalimat itu yang berhasil lolos dari mulutnya.


"Kau bodoh atau ***** ? Sejak kapan Jakarta tidak macet ? Jakarta dan macet itu teman sejati. Lantas kau bilang hari ini macet parah ? " Ucapnya sembari membolak balikan berkas.


"Kalanta embun, karyawan yang baru bekerja selama 2 bulan dan sudah berani-beraninya terlambat padahal ada rapat penting pagi ini. Kau menyepelekan tanggung jawabmu" Ucap Elang yang kini tengah menatap tajam Embun. Tapi yang di tatap tetap menundukkan kepala


"Sekali la...lagi saya minta maaf, sa.. saya tidak akan mengulanginya lagi" Kata embun dengan sedikit mendongakan kepala.


"Kau kuberikan SP 1. Jika saja kau terlambat bukan pada hari sepenting ini. Saya masih memberikan keringanan. Tapi ini sangat fatal, ini SP 1 untukmu, langsung dariku. Dan sekarang KELUARRRRRRRR " Kata Elang seraya melemparkan amplop.


BLAAMMMM...


Pintu tertutup dengan sedikit agak keras. Embun segera pergi dari tempat terkutuk itu dengan mulut yang masih komat kamit tanda mengumpat.


"Yatuhan sial banget sih aku hari ini, udah gerimis, macet parah, kudu jalan kaki, kaki udah gempor, telat 10 menit aja kena SP. Dasar bos sialan semena-mena banget sih sama kaum rendahan. ****" guman Embun


**Bersambung**