
"Silakan masuk, aku akan menyiapkan minuman hangat untukmu.." ucapku setelah masuk ke apartemenku.
Siang itu setelah pertemuan kami di Golden Gate Park, tak ada pilihan lain selain mengajak Frank ke apartemenku.
Hari ini aku merasa lelah dan masih terlalu kaget dengan situasi yang belum aku pahami, karena memang apartemen baru tempatku tinggal tak jauh dari Golden Gate Park dan kantor Real - Estate tempatku bekerja.
Sengaja aku memilih apartemen ini ia karena melihat kondisiku yang tengah hamil muda dan untuk menghilangkan jejakku setelah kepulanganku dari New York beberapa minggu yang lalu.
Namun semua tak seperti yang kuduga, Frank datang mencariku dengan mengunjungi kantorku di San Fransisco dan sekarang justru berakhir di sini bersamaku, sungguh sesuatu yang tak bisa kuprediksi sebelumnya.
"Hanya ada coklat hangat Frank, aku harap kau suka..., karena tak banyak pilihan yang bisa kusediakan untukmu" tuturku seraya memberikan secangkir minuman coklat hangat pada Frank yang kini duduk di sofa faforite Scully.
"Tak apa, trima kasih.
Maaf sudah merepotkanmu Jeanny..." sahutnya agak canggung kemudian menerima minuman coklat yang kuberikan padanya dan mulai menyesapnya pelan.
Suasana kaku tiba - tiba meliputi ruangan, perubahan sikap Frank membuatku masih belum paham dengan apa yang sudah terjadi padanya sepeninggalku dari New York.
"Kau disini sendirian...?" tanya Frank lirih memecah keheningan.
"Ya, seperti yang kau tahu aku tak memiliki siapapun lagi di dunia ini selain teman - temanku..." aku menjawab lirih dengan suara rendah.
"A-pa Natasya yang memberitahukannya Frank..., tentang kehamilan ini?" aku bertanya dengan ragu namun rasa penasaran ini telah membuatku berani untuk menanyakan langsung pada Frank yang kini duduk tak jauh di depanku.
Detik itu juga, Frank menatapku dengan mata coklatnya yang tajam, tatapannya lemah dan sendu.
"Aku yang memaksanya untuk mengatakan tentangmu Jeanny, jadi jangan salahkan dia.
Maafkan aku..., sejak kau pergi aku tak bisa berhenti untuk memikirkanmu.
Hal itulah yang membuatku yakin akan sesuatu hingga akhirnya aku menemukan sebuah jawaban" sahut Frank kemudian dia berdiri menghampiriku dan bersimpuh di depanku, kedua tangannya meraih jemari tanganku dan menggenggamnya lembut.
"Maafkan aku yang bodoh ini Jeanny, hanya itu yang kuminta darimu.
Aku mencintaimu..., sungguh" ucapnya dengan penuh keyakinan.
Aku menatapnya lemah dan berpaling.
"Tanpa kau minta pun aku sudah memaafkanmu Frank..., namun aku tak mau kehamilanku ini menjadi sebuah alasan kau merasa kasihan padaku dan menganggapnya sebagai cinta.." sahutku lirih.
"Aku sudah siap menerimanya dengan tanpa beban, jadi kau tak perlu merasa bersalah ataupun khawatir padaku..." tambahku penuh keyakinan.
Saat itu juga aku berdiri dan menjauh dari Frank yang menatapku lemah.
"Demi Tuhan Jeanny, bukan perasaan itu yang aku rasakan padamu.. semua ini memang murni karena cinta bukan rasa kasihan seperti yang kau ucapkan tadi!" sahut Frank mencoba meyakinkanku dan menarikku kepelukannya.
Tatap mataku, Jeanny!
Dan rasakan detak jantung ini dengan tanganmu sendiri!" perintah Frank seraya menuntun telapak tanganku ke dadanya yang bidang.
Tubuhku gemetar saat pelukan Frank semakin erat di tubuhku, dapat kurasakan suara degup jantungnya di telapak tanganku yang mungkin berubah menjadi dingin.
Kami saling bertatapan saat ini, susah payah aku mengontrol perasaan bergejolak yang memenuhi tubuhku sekarang.
Saat Frank mendekatkan bibirnya ke bibirku, ia menciumku kembali.
Ciumannya hangat dan dalam, hingga membuat tubuhku yang tadi gemetar kini dalam waktu singkat menjadi hangat dan nyaman.
Sungguh apakah yang dikatakannya benar?
Kalau ia memang mencintaiku dengan tulus bukan karena rasa bersalah?
"Astaga, diluar dingin sekali!
Kau harus menyiapkan coklat hangat untukku Jeanny sayang dan menceritakan pertemuanmu dengan si tam -..."
"Ohh..., kurasa aku datang di waktu yang tidak tepat..."
Suara itu mengejutkan aku dan Frank, hingga membuatku secara reflek mendorong pelan tubuh Frank, mencoba melepaskan ciumannya yang sejenak membuatku mabuk.
"Scully..?" aku mengucapkan nama itu dengan gugup dan wajahku yang kini mungkin menjadi merah merona menahan malu.
"Aku akan pergi, lanjutkan kesenangan kalian!
Aku dengan cepat mencegatnya dan berkata,
"Tunggu Scully, kau jangan pergi!"
"Well, aku tidak melihat kok! sungguh!" sahutnya dengan wajah dan senyum nakalnya padaku.
"Uuhhmm....., maksudku aku perkenalkan ini Frank Jefferson, seorang 'teman'ku dari New York" tuturku dengan nada agak gugup.
"Frank, ini Scully Madison teman baikku sekaligus pemilik kantor Real - Estate tempat dimana aku bekerja..." sambungku.
"Well, sungguhkah? senang berkenalan dengan mu Frank.." ini kedua kalinya kita bertemu dan kuharap kau tidak melupakan aku tuan tam-pan..." sahut Scully dengan nada penuh penekanan dan dengan gayanya yang santai dan cuek.
Frank yang sejak tadi tampak tenang menyambut hangat sapaan Scully padanya.
"Tentu saja tidak miss Madison, aku berhutang padamu..." ucapnya dengan menampilkan senyuman manisnya pada Scully.
Aku sempat sedikit takjub melihat senyumannya yang baru pernah kulihat selama aku mengenalnya selama ini.
Sedetik kemudian Scully tertawa renyah mendengar jawaban Frank padanya.
"Apakah semua pria tampan memang seperti itu jika berkenalan dengan seorang wanita?" sahutnya meledek.
..
..
..
Kami bertiga berbincang bersama di ruang santai , atau mungkin lebih tepatnya Scully dan Frank lah lebih mendominasi perbincangan kami saat ini.
Dalam waktu singkat mereka berdua tampak akrab, dan memang tak bisa dipungkiri sikap Frank benar - benar berbeda 180 derajat dari Frank yang dulu kukenal adalah sosok yang tertutup dan dingin.
Pribadi Scully yang ceria dan humble juga dapat membuat perbincangan kami menjadi nyaman dan tidak kaku.
Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu, aku yang saat itu tengah menyiapkan untuk makan malam kami bertiga, diganggu oleh ledekan Scully yang tiba - tiba menghampiriku di dapur.
"Kau berhutang penjelasan padaku Jeanny'ku sayang..." ucapnya seraya memamerkan senyuman nakalnya padaku yang kini hanya bisa tersenyum malu dan dipaksakan.
"Aku rasa dia bukan sekedar 'teman' seperti yang kau perkenalkan tadi padaku..." tambahnya yakin.
"Kau ini bicara apa?
Frank hanya temanku Scully, kami tak memiliki hubungan apapun..." sahutku gugup.
"Semakin kau mengelak semakin aku tahu, ada tempat spesial Frank Jefferson dihatimu, Jenny'ku sayang..." tutur Scully penuh keyakinan.
Seperti biasa tak ada yang bisa lepas dari pengawasan Scully Madison, dia lah teman terbaikku setelah Natasya Perrone.
Maka saat itupula aku pun bertekad membuat pengakuan padanya.
"Dia ayah dari anak dalam kandunganku Scully..., hubungan kami masih terlalu rumit dikatakan" tuturku lirih dengan nafas tertahan.
Mendengarnya Scully hanya tersenyum simpul dan menepuk lembut punggung tanganku.
"Tak perlu kau jelaskan, aku sudah bisa menebaknya tadi.." ucapnya penuh percaya diri.
"Aku hanya ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri kalau dia lah pria misterius dari New York" tambahnya yakin.
"Dia pria yang baik dan bertanggung jawab dan tentu saja sangat tampan..., aku berharap kau tak membuatnya kecewa dengan kedatangannya kesini menemuimu dengan sebuah tujuan" tutur Scully lirih dan aku tahu apa maksud ucapannya itu padaku.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Hay,, apa kabar para readersku yang setia dan baik hati🤗🤗🥰...
...Gk krasa sdh smpe di bab ini, semoga kalian terhibur ya.....
...Minta like dan suport dari kalian ya.., biar author makin smngat buat up terus cerita ini ya,,...
...makasihh...
...🥰🥰🤗🤗...