
Disuatu malam di musim hujan, didalam sebuah gedung bertingkat. Embun masih memilah milah beberapa berkas. Malam ini dia lembur karena partner nya sedang cuti. Jadilah dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya saat itu juga. Karena besuk adalah hari libur.
Tanpa sadar, jam sudah menujukan pukul 19.30 yang artinya dia sudah lembur lebih dari 3 jam. Pekerjaan didepan matanya sudah selesai. Tinggal memberikan ke bu Andin hari senin.
Segera ia mengemasi barang-barang yang berserakan di atas meja kerjanya. Segera meng shut-down komputer, memasukan berkas kedalam tas dan segera beranjak dari sana.
Sayup sayup terdengar suara tangisan yang merintih, seketika itu tubuhnya mendadak menegang dan aliran darahnya terhenti seketika. Embun menajamkan pendengaran nya. Dan ia ketahui sumber suara tangisan itu ada di depan pintu lorong tangga darurat.
Berjalan keluar divisi dengan pelan sambil memperhatikan sekeliling. Hingga terlihat sesosok anak kecil yang tengah meringkuk di bawah pintu.
Embun segera mendekatinya. Di pegang pundak anak itu guna meyakinkan diri bahwa memang itu manusia.
Embun segera duduk disebelahnya, sambil memberikan air mineral yang ada di totebagnya.
"Dek, adek kenapa ?
Anak itu tidak menjawab, hanya diam, menunduk dan memeluk lututnya. Menyembunyikan wajahnya kedalam sela sela kaki, kemudian embun sedikit menggoyang- goyangkan pundak anak itu. Terdengar isak tangis yang memilukan. Anak laki-laki itu semakin menangis.
Embun seketika menjadi panik, takut jika ada orang lewat, dan dikira telah memarai anak ini.
"Adek jangan nangis lagi ya, kakak punya kit-kat" kata Embun sedikit merayu.
Anak yang sedari tadi menunduk dan menangis itu perlahan lahan mengangkat wajahnya dari sela sela kaki. Menatap embun dengan mata merah dan sembabnya.
"Kak, tadi kaland nyari papa. Tapi malah kesasar kesini"
Lagi lagi anak itu menangis, lagi. Embun yang kewalahan akhirnya menggendong anak itu menuju ke sofa diruangan divisi. Diberikannya kit-kat dan air mineral.
"Nih Kit-katnya, rasanya enak banget lho"
Anak itu sedikit ragu untuk menerima, namun akhirnya dengan sedikit bujuk rayu dan memberikan senyum manis andalannya akhirnya anak itu luluh juga, diraih kit-kat yang sedari tadi Embun pegang.
"Bukain ya kak" katanya dengan wajah yang amat sangat menggemaskan.
Ah Embun baru sadar jika bocah kecil di depannya ini adalah bibit unggul. Terlihat masih kecil saja dia sudah tampan sekali. Sungguh jika dia dewasa nanti akan banyak yang mengejar. Embun saja yang sudah gede merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
Lima belas menit berlalu, kit-kat yang ada ditangan Kaland pun tinggal setengah. Saat Embun ingin memberikan minum pada Kaland terdengar suara gaduh dari luar. Ingin melihat siapa dan ada apa, tapi dia urungan. Dia tidak bisa meninggalkan Kaland sendiri.
___
Ditempat yang berbeda lantai, tapi masih dengan waktu yang bersamaan. Elang terlihat sangat panik. Pasalnya baru setengah jam dia keluar kantor untuk menghadiri sebuah meeting di kafe depan kantornya. Bena menghubungi nya dan memberi kabar jika Kaland tidak ada diruangnya.
Dengan wajah pias panik, Elang segera menuju ke lantai 27. Bayangan tentang kejadian 1 tahun silam mendadak menyesap dipikirannya. Seketika tubuhnya ambruk saat sepenggal kejadian itu merasuki pikiran Elang.
Bena yang melihat Elang tumbang pun ikut panik, pasal nya tak pernah sekalipun ia melihat Elang ambruk seperti itu. Elang kalut, pikirannya hentah sangat jauh kemana mana. Bena segera mengubungi pihak keamanan kantor dan pihak cctv.
30 menit berlalu, didalam cctv terlihat anak kecil turun kelantai 15 menggunakan tangga darurat. Dan di percaya itu adalah Kaland. Anak sekecil itu turun dari lantai 37 ke lantai 15 menggunakan tangga darurar. Kepanikan Elang meroket lagi.
Dengan segera dilangkahkan kaki nya menuju ke lantai 15 lantai divisi keuangan.
Setelah sampai disana, ia segera menanyakan perihal itu kepada keamanan. Dengan sedikit berteriak dan membuat kegaduhan.
"Saya melihat, dia dibawa seorang karyawan divisi keuangan kedalam ruangan nya pak. Disana"
Ditunjukannya sebuah ruangan dengan sekat kaca, segera Elang menuju kearah yang ditunjuk. Dilihatnya seorang anak lelaki yang sangat dia kenal sedang duduk bersama wanita yang pernah ia lihat. Mereka tengah bergurau kelihatnya. terlihatnya senyum merekah dari bibir Kaland yang sangat jarang Elang lihat.
Pelahan Elang mendekati mereka, demgan tatapan tajam nya. Dia sudah tidak bisa membendung perasaan marah, takut dan kawatir itu.
"Kaland, ayo pulang" Ucap Elang saat sudah berada di depan mereka.
Embun yang mendengar suara itu seketika mengangkat kepalanya. Lalu segera ia menunduk lagi. Dia merutuki dirinya sendiri, ternyata anak ini adalah anak CEOnya.
"Dan kamu" tunjuknya menggunakan dagu.
Elang sudah tidak tau harus marah kepada siapa, jika harus melampiaskan kemarahannya kepada Kaland sungguh tidak mungkin. Makanya amarah itu langsung keluar saat melihat siapa yang sedang bersama Kaland.
Embun yang mendengar suara bariton itu segera menegakkan badan dan mengangkat kepalanya. Menatap Elang dengan tatapan sengitnya.
"Jangan berikan tatapan menjijikan itu kepada atasmu"
Ucap Elang dengan tatapan mengintimidasi.
"Seharusnya yang keluar dari mulut bapak itu ucapan terimakasih, tapi saya tau sangat sulit anda mengucap kalimat itu"
Masih sama sama bertatapan dengan kilatan petir dimara mereka. Tidak ada yang ingin memutus pandangan itu. Mereka sama sama tidak ingin mengalah.
"Kalau saja saya bodo amat dengan anak bapak, hentah apa yang akan terjadi. Bisa bisa semalaman penuh anak ada meringkuk kedingan di bawah lorong gelap dan disana sama sekali ngga ada cctv. Bisa dipastikan apa yang akan terjadi"
Rahang Elang seketika mengeras, dan akan segera memberi umpatan kasar kepada Embun. Lantas dengan sangat beraninya Embun menyerobot panggung untuk Elang melampiaskan amarahnya.
"Adek, kakak pulang dulu ya, lain kali kalau kemana mana harus dengan pengawasan orang dewasa. Biar papanya ngga asal nuduh orang. Oke"
Ucap Embun sembari memberikan belaian dipunggung Kaland yang sedari tadi menunduk. Terlihat Kaland sedang mati-matian menahan tangisnya. Diangkat kepala itu dan segera membelai wajah cantik Embun.
"Kakak cantik makasih ya, eum hiks.. hikss.. maafin papa Kaland"
Lantas Embun segera memberikan pelukan dan ucapan lembut untuk Kaland. Elang yang melihat adegan itu hanya bisa dia dan mengalihkan pandangan keluar jendela kaca.
Embun segera beranjak dari sana setelah menenangkan kaland. Diliriknya Elang yang tengah menatapnya sinis dengan senyum smirk menjijikan itu.
"Ah ****** lu Mbun, tau gitu biarin aja tuh bocah menggigil kedingan disana. Lain kali jadi orang jangan baik baik deh mbun. Udah niat nolong malah ditodong. Ngga tau apa kalau aja aku ngga nolong udah di gondol wewe gombel tuh bocah. Ah sialan" gumam embun
___
Elang yang sudah berada di dalam rumannya lantas segera menuju ke dalam kamar. Diabaikannya Kaland yang sedari tadi terisak. Ia tidak tega jika harus mengeluarkan amarah untuk anaknya. Tapi diam juga bukan opsi yang baik.
Bi Anna yang melihat hal itu segera mendekati Kaland. Kaland bukan anak yang suka menangis apa lagi di depan orang yang tidak dekat dekannya. Di depan bi Anna pum seburuk apapun suasan hatinya, Kaland tidak akan menangis. Tapi malam ini berbeda.
Bi Anna melihat tuan nya seperti tidak peduli dengan putranya. dan putranya yang menangis terisak di ruang tengah.
"Den Kaland sini sama bi Anna ya. Tidur ya sekarang sudah malam.
Kaland pun terlihat menurut dengan bi Anna.
Mereka berjalan menuju lantai 2 tepat dimana kamar Kaland berada.
Elang yang ada di dalam kamarnya pun terlihat kacau. Ditangan kirinya telihat sebotol cocktail yang sisa setengah. Rambut awut-awutan, kemeja yang sudah compang camping. Sepatu yang ia lempar kesembarang arah.
Selalu saja seperti ini jika sepenggal kejadian itu tiba tiba hadir di ingatnya. Membuatnya kacau. Saat seperti ini dia tidak berani mendekati Kaland ataupun menyentuhnya. Sekeras apapun itu ia harus bertahan. Karena jika ia menyentuh Kaland ia akan menyakiti anak itu.
Ponsel yang ada di saku celananya berbunyi nyaring. Diabaikan berkali kali, dan berkali kali pula berbunyi lagi.
Jengah dengan dering ponselnya, diambil dan dilirik siapa yang sedari tadi menelfon. Tertera nama Bena.
"Lu ngga papa kan ? tadi pas gue balik keruangan lu udah ngga ada. Anak anak bilang lu ke lantai bawah. Anak lu ngga papa ? men gue kawatir shit"
"engga"
Hanya kalimat itu yang di ucapkan Elang. Lalu ponsel itu ia matikan. Meneguk lagi minumpan yang ada di tangan kirinya. Hingga rasa pusing tak tertahan membuat tubuh itu tumbah di atas lantai dingin.
Didalam kamar yang amat luas, tanpa penerangan. Hanya sebuah cahaya malam yamg masuk melalui jendela balkon yang belum tertutup gorden. seorang lelaki yang terlihat sangat kuat dan gagah, kini tumbang, siapapun yang melihat tidak akan percaya. Tapi tidak akan ada yang melihat.
Dia manusia yang selalu ingin terlihat sempurna dan tanpa celah, tidak ingin terlihat rapuh. Tidak ada yang tau beban apa yang tersunggi di pundaknya. Kedua orang tuannya pun hanya tau anak lelaki tampannya itu baik baik saja.
...bersambung...