
Malam itu juga sesuai yang diucapkan Carol padanya siang tadi, Frank bergegas menemui Carol Gilmore di apartemen miliknya.
Ia ingin memberikan pelajaran pada wanita itu yang dengan berani mengancamnya di perusahaan tempatnya bekerja.
"Tunggu saja kau wanita jal*ng, akan kuberikan pelajaran nanti! dan kau akan memohon ampun padaku!"
Frank berpikir memang ia harus bertindak cepat untuk menyingkirkan Carol dari hidupnya, perempuan itu adalah bencana untuk pernikahannya yang sudah di ujung tanduk dan ia tak mau dipermainkan lagi seperti ini oleh Carol Gilmore.
Karena bagi Frank Jefferson, Carol sudah melebihi batas kesabarannya.
Jika dibiarkan, wanita itu akan semakin mengancam kehidupannya dengan Jeanny, istrinya yang sah.
..
..
..
"Aku tahu, malam ini kau pasti tak akan membuatku kecewa, Frank..." tutur Carol senang saat melihat Frank datang ke apartemennya.
"Aku sudah datang ke sini, apa maumu sekarang?" tanya Frank menantang wanita yang kini ada di depannya yang kini hanya mengenakan lingerie merah yang sangat menantang.
Namun Frank sepertinya tak bergeming sedikitpun melihatnya.
Ia tahu Carol sengaja melakukannya untuk menguji Frank saat ini.
"Sekalipun kau telanj*ang di depanku aku tak peduli, Carol! karena aku tak bernafs* dengan seorang jal*ng!!" Frank berseru mengingatkan.
Seakan tak peduli, Carol semakin berani mendekati Frank kini.
"Ayolah Frank, apa kau tak merasa kasihan padaku, aku hamil anakmu dan kau malah mencaci makiku dan bersikap kasar padaku" rengek Carol.
"Aku tahu, istrimu sedang hamil besar sekarang dan kau pasti merasakan kesepian..., aku bisa membantumu untuk melepas rasa itu, Frank..." pinta Carol dengan suara serak.
Kini ia semakin mendekatkan dirinya pada Frank yang berdiri tegang di depannya dan menatap Carol dengan tatapan jijik.
Carol tak ingin fokus pada ekspresi wajah mengerikan Frank, kini ia hanya ingin menggoda pria dingin yang memikat hatinya itu sejak dulu.
Dengan penuh percaya diri, Carol pun mulai mendekatkan bibirnya yang penuh pada bibir Frank, namun dengan cepat Frank mendorong tubuh Carol dengan kasar.
"Sikapmu itu memang pantas di sebut jal*ng Carol! Bagaimana seorang wanita merendahkan dirinya sendiri seperti yang kau lakukan ini padaku?! aku benar - benar merasa jijik padamu!!"
"Kalau aku tak bisa mendapatkanmu, Frank Jefferson maka wanita yang bernama Jeanny itupun tak berhak mendapatkanmu juga!!" seru Carol marah.
"Kau- tak berhak mengucapkan nama istriku dengan mulut busukmu itu, jal*ng!!" bentak Frank, kini ia mencengkram rahang wanita itu dengan kasar.
"Aaarggghhh...., kau pengecut Frank!!
Kau hanya berani pada wanita lemah saja!!" umpat Carol susah payah karena cengkraman di rahangnya begitu kuat.
"Kau yang selalu memancingku untuk berbuat kasar, Carol Gilmore, ingat itu!!" seru Frank kemudian mendorong kasar tubuh Carol hingga mundur beberapa langkah.
"A-ku hanya wanita yang mencintaimu, Frank... apakah itu salah? dan ingat- , aku hamil anakmu, kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku sekarang!" Carol berseru tegang, kedua tangannya menyentuh rahangnya menahan sakit.
"Persetan!! itu bukanlah anakku!!
Jangan mengancamku lagi dengan omong kosongmu itu, Carol Gilmore karena aku sama sekali tak percaya sedikitpun pada jal*ng sepertimu!!"
Kuperingatkan untuk yang terakhir kali, jangan lagi kau mencoba mengusik kehidupanku lagi, Carol! karena aku bisa berbuat nekad untuk menghancurkanmu!!
Ini peringatan terakhir dan aku tak main - main dengan ucapanku ini!!"
Setelah mengucapkan kalimat ancaman itu, Frank berbalik dan berjalan pergi namun dengan cepat Carol menghalanginya.
"Tunggu, Frank!! aku mohon berikan aku kesempatan!!" pintanya memohon seraya memeluk erat tubuh Frank dari belakang.
"Aku mohon maafkan aku, Frank...
Berikan aku satu kesempatan ya...
Maka detik itu pula, Frank berbalik dan menatap wanita di depannya itu dengan tatapan beribu tanya.
"Apa kau bilang?" tanya Frank memastikan.
"Berikan aku kesempatan sekali lagi Frank, setelah itu aku akan pergi dan tak lagi menganggu hidupmu bersama Jeanny" ucap Carol dengan tatapan memohon.
"Kesempatan apa yang kau maksud?" Frank kembali bertanya, nada suaranya melemah karena ia cukup terkejut dengan perubahan hati Carol.
"Aku minta bermalam lah disini untuk satu malam saja, anggap ini adalah ucapan perpisahan antara kita berdua, Frank..." ucap Carol lirih, dan kedua mata Frank pun membulat saat itu juga.
"Kau benar - benar wanita sinting!!" umpat Frank keras seraya berusaha melepas pelukan Carol di tubuhnya, namun sebelum ia menyadari akan sesuatu, tiba - tiba saja ia merasakan tubuhnya melemah dan hilang keseimbangan.
Pandangannya buyar dan tak jelas seketika, entah apa yang membuatnya begini.
Frank hanya mengingat, ia merasakan sakit nyeri seperti di tusuk jarum di bagian belakang tubuhnya.
Dalam hitungan menit, tubuh tinggi tegap itu pun ambruk seketika di depan Carol yang hanya menatapnya dengan senyum kepuasan.
...*****...
"Aarggrhh....!!!!" suara jeritan itu terdengar jelas di sebuah kamar apartemen mewah.
Tampak seorang pria tanpa busana terbaring dengan posisi telentang dengan seorang wanita yang hanya mengenakan lingerie merah yg mengundang hasr*t.
Ya, dialah Carol Gilmore, yang saat ini bersama Frank Jefferson yang sudah ia taklukan.
Senyuman kepuasan tak lepas di wajah cantiknya yang menggoda.
Ia berhasil memberikan Frank suntikan obat psikedelik, sebuah obat sejenis narkoti** yang dapat membuat seseorang berhalusinasi.
Carol terpaksa melakukannya karena Frank memang benar - benar pria yang sulit di taklukan, dan itulah cara terakhir Carol untuk menaklukan Frank Jefferson.
Kini Frank tampak berteriak tak jelas, dengan tubuh yang sudah tak mengenakan apapun.
Ia merasakan panas hingga peluh membanjir di seluruh tubuhnya yang polos.
Ia merasakan seluruh tubuhnya aneh dan berbeda, sensasi yang baru pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Hingga ia merasakan sesosok tubuh yang ia kenal. Seorang wanita yang begitu amat dicintainya selama ini.
"Jeanny..., sayangku..." bisiknya parau.
Wanita itu tersenyum dan begitu cantik, ingin sekali ia memeluknya.
"Sayang...!!! maafkan aku honey, aku mencintaimu...sungguh!! aku benar - benar mencintaimu! apa kau tak percaya padaku sayang...?" racau nya tak jelas.
Dengan erat ia memeluk wanita itu dalam dekapannya dan wanita itu tak menolaknya, ia justru menyambut hangat pelukan Frank dengan senang hati.
"Aku disini sayang..., peluklah aku sepuas hatimu...aku bersamamu malam ini" sahut sang wanita.
Nafas Frank memburu saat itu juga, ia merasa hilang kontrol dan ingin menuntaskan hasr*tnya yang sudah tak terbendung.
Dengan kasar ia pun melepas lingerie merah menggoda itu dan mulai menindih tubuh polos Carol yang ia kira adalah Jeanny, istrinya itu.
"Honey..., aku mencintaimu..." bisiknya sebelum ciumannya mendarat di bibir penuh Carol yang seakan menantangnya.
Ia mencium tubuh polos itu disetiap incinya, dengan membabi buta seakan ia sudah lama tak melakukannya bersama dengan wanita yang dicintainya.
"A-ku merindukanmu sayang..., sangat" bisiknya serak sebelum ia mulai menyatukan tubuhnya pada tubuh polos Carol yang ada di bawah kungkungannya sekarang.
Percintaan panas yang penuh hasrat dan membara itupun terjadi di dalam kamar.
Penyatuan dua tubuh polos yang bermandi peluh.
Hasrat seakan tiada habis di dalam tubuh mereka yang seakan saling membakar satu sama lain dengan setiap irama gerakan yang seakan tak berkesudahan.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...