One Day In Your Life

One Day In Your Life
Penyangkalan



Sejak kejadian di pagi itu, dihari pertama aku berada di rumah keluarga Jefferson, Frank tak kelihatan lagi.


3 hari terakhir ini, ia seperti menghilang dan tak ada kabar beritanya sama sekali. Mungkinkah karena ia sengaja menghindar karena kehadiranku di rumah ini? atau mungkin karena urusan pekerjaan yang memaksanya pergi ke luar kota.


"Jeanny..." panggil seseorang di belakangku, tampak Kimmy dengan senyuman khas nya menatapku lembut.


"Ya sayang..? sahutku lembut


"Bagaimana keadaan disekolah, baik - baik bukan?" tanyaku perhatian, mencoba menepis lamunanku yang sempat membuatku seperti orang tuli.


Kimmy hanya mengangguk pasti, aku mendesah kecil seraya membungkuk dan mendekatinya.


"Kau adalah gadis kecilku yang paling manis di seluruh dunia, pujiku sungguh - sungguh namun saat itupun aku tersadar Kimmy menatapku penuh arti.


Kutatap bola matanya yang biru indah, "ada apa sayang?" tanyaku cemas.


"Apakah kau tadi melamunkan Frank, Jeanny?" tanyanya seketika.


"Ah..., aku sempat terkejut beberapa saat, gadis kecil ini tahu apa yang kurasakan.


Aku pun mengangguk, "tentu saja sayang..., aku hanya merasa khawatir padanya akhir - akhir ini, jawabku jujur.


Kimmy hanya tersenyum polos, " Tak apa Jeanny, biasanya Frank akan pulang mendadak" ucapnya yakin.


"Apa ia selalu begini, Kimmy?" tanyaku penasaran.


"Iya, kalau tidak beberapa hari Frank akan pulang 1 minggu atau bahkan bulan berikutnya", Kimmy mencoba menjelaskan.


Begitu berat kah pekerjaan Frank sebagai Manager utama? batinku.


Mungkin karena itu Mrs Jefferson begitu sulit meninggalkan Alex dan Kimmy saat tahu pekerjaan Frank yang begitu banyak memakan waktu.


Tak bisa kubayangkan betapa lelahnya Frank kalau pulang nanti.


###


Dalam waktu singkat itu, aku memberikan sedikit perubahan pada dekorasi rumah keluarga Jefferson dari penataan meja, kursi dan lemari sampai letak interior - interior segala bentuk pernak pernik rumah.


Lukisan, foto keluarga sampai membersihkan segala tempat di dalam rumah yang sedikit bergaya victorya itu.


Aku berdiri menatap hasil kerja kerasku kali ini, dengan nafas sepotong - potong aku mencoba menikmati keindahan dari hasil yang aku buat sendiri.


Mataku menari - nari di segala sudut ruangan, mencari - cari kalau ada sesuatu yang terlewatkan atau yang kurang dari hasil kerja kerasku.


Setidaknya aku ingin mengetahui kemampuanku sebagai mantan penata interior untuk beberapa gedung, rumah di San Fransisco dulu.


Aku melakukan semua ini karena aku ingin memberikan sentuhan baru pada rumah keluarga Jefferson, suasana dan situasi yang baru untuk mereka kenal.


Tentunya aku berharap agar kami semua yang ada disini mempunyai nafas baru untuk melanjutkan hidup kami yang baru dan melupakan segala hal dan kenangan yang buruk selama ini.


Terutama untuk Frank..., aku mengucapkan nama itu dengan lirih.


Kuharap kau menyukai perubahan ini, agar segala beban mu selama ini sedikit terobati dan kau akan lebih betah berada di rumah bersama dengan adik - adikmu yang masih membutuhkan kasih sayangmu.


"Aku suka semua ini Jeanny!"


Suara itu tiba - tiba mengejutkanku, "Kimmy?"


Ia berdiri di sampingku dan tersenyum lebar seakan mewakili hari bahagianya.


"Sungguh?" tanyaku memastikan, Kimmy mengangguk pasti.


"Aku pernah bermimpi punya gaya rumah seperti dalam cerita yang sering Mommy bacakan saat aku tidur dan sekarang mimpi itu terwujud Jeanny!" serunya senang.


"Syukurlah.." aku mendesah puas dan membungkuk didepan Kimmy.


"Apakah Frank dan Alex akan menyukainya sepertimu Kimmy?" tanyaku penasaran.


###


Malam itu adalah malam kelima Frank meninggalkan rumah.


Kapan ia pulang? Kuharap ia akan pulang malam ini.


Aku terduduk di tepi ranjang ku sendiri yang dulu adalah kamar milik mendiang Mrs Jefferson dan berpikir mengapa aku begitu merindukan dan menginginkan Frank untuk pulang?


Bukankah dari dulu ia tak pernah menyukaiku bahkan sejak pertama bertemu dulu di San Fransisco bersama dengan Max.


Ku tanggalkan blus putih dan rok kotak - kotak hitam yang ku pakai dan menggantinya dengan gaun tidur yang aku bawa dari lemari di apartemen milikku di San Fransisco, hadiah ulang tahunku dari Max 2 tahun yang lalu.


Namun belum sempat aku melepas semua, samar - samar dari luar ruangan aku mendengar suara ribut yang terdengar nyaring, marah dan kesal.


Mungkinkah Frank..?


Dengan gerakan cepat, segera kulepas kamisol dan bra yang ku kenakan.


"Dimana kau Jeanny?!"


Bersamaan saat itu, pintu kamar yang belum sempat ku kunci membuka lebar dengan kasar.


Detik itu pula aku bagai telanjang bulat di depan umum, warna wajahku seketika itu pula berubah mungkin menjadi seperti udang rebus yang siap disantap kapan saja


"Frank...?" Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan pada saat seperti ini.


Kini di depan mataku, Frank tampak berdiri persis di depan pintu dengan ekspresi wajah yang sama kagetnya denganku.


Susah payah aku menutupi tubuhku yang setengah telanjang dengan gaun tidur yang baru saja akan aku kenakan.


Lama kami saling bertatapan dalam kekosongan yang seakan waktu begitu lambat untuk beralih.


"Kita harus bicara malam ini juga!" perintahnya keras dan kemudian keluar dari kamar seperti tak terjadi apa - apa.


Setelah Frank pergi aku merasa lutut ku lemas, jantungku berdebar begitu kencang dan tubuhku bergetar hebat tak karuan hingga saat itu aku hanya bisa terduduk lemah seperti tanpa tenaga dengan pikiran yang melayang kosong tanpa fokus yang jelas.


###


"Ada yang ingin kau katakan padaku Frank?", tanyaku dengan suara yang mungkin terdengar gemetar.


Setelah aku cukup siap menguasai keadaan yang baru saja terjadi, aku menemui Frank di ruang kerjanya.


Kulihat saat itu wajahnya begitu tegang, serius dan terkesan menjaga jarak sehingga mungkin sulit sekali untuk di sentuh.


Kini ia tampak menatapku, rambutnya yang kini tampak lusuh tidak dapat menutupi sorotan matanya yang begitu tajam menatapku.


"Apa yang kau lakukan di dalam rumahku?!" tanyanya kasar, aku berkedip beberapa saat mencoba melawan perasaan gejolak yang kini memenuhi tubuhku.


"A...ku hanya sedikit merenovasi ulang dekorasi yang ada di rumah ini, maafkan aku Frank" aku memohon gugup.


"Mak...sud ku hanya ingin memberikan warna ba - "


"Cukup!!" ia memotong keras - keras.


"Aku sudah muak dengan segala tingkah laku mu sejak berada di rumahku! Masih beruntung kau tidak ku usir malam ini juga dari rumah ini!" kata - katanya terdengar begitu keras di telingaku hingga ingin ku memejamkan mata melawan semuanya ini.


Frank mendekat ke arahku bukan tatapan seperti biasa yang ia tampilkan di depanku kali ini namun sebuah senyuman dingin yang menusuk hati.


"Ku ingatkan kau miss Anderson, ibuku memintamu untuk tinggal di rumah ini bukan berarti kau bisa sesuka hati menyentuh keluargaku dan mencoba mengatur segala sesuatu yang kau inginkan di rumah ini.


Jika besok pagi aku bangun tak kulihat perubahan di rumah ini seperti keadaan semula, maka dengan senang hati aku akan mengusirmu dengan tanpa hormat dari rumah ini!"


...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...