
Ini untuk kedua kalinya Frank Jefferson menumpahkan kekesalannya di Bar yang sama kemarin.
Namun kali ini masalahnya sangat serius, kariernya adalah taruhannya.
Atasannya Mr Stone berkali - kali memperingati bahwa klien bisnisnya, Garth Gaskins mengaku kecewa dengan keprofesionalan kerja Frank Jefferson dan hal itu dapat berakibat fatal pada kariernya, ia dapat di pecat sewaktu - waktu.
Ia tahu semua ini, cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Frank telah melawan dengan terang - terangan Garth Gaskins yang saat ini masih menjadi klien bisnisnya.
Klien bisnis yang sangat berpengaruh besar dengan perkembangan kariernya di Wilson Group's Corporation, perusahaan di mana ia mengabdikan dirinya selama 5 tahun lebih lamanya.
Jika ia berhasil dengan proyeknya kali ini maka peluang untuk menjadi wakil presdir ada di depan mata namun ternyata semua yang telah ia rencanakan gagal karena satu wanita, Jeanny Anderson.
Nama itu yang selama ini terus menghantui mata dan pikirannya dan ia tak yakin apakah ia mampu menahan gejolak nafsu yang dapat datang sewaktu - waktu pada Jeanny Anderson.
Ia memang mengakuinya kalau ia begitu menginginkan Jeanny Anderson seutuhnya namun sampai saat ini ia masih belum terlalu yakin apakah ia hanya sekedar menginginkan wanita itu hanya untuk satu malam bersamanya atau memiliki seutuhnya untuk waktu yang cukup lama.
"Jeanny Anderson..." ia menyebutkan nama itu dengan nada dingin.
Sekali lagi ia meneguk vodka itu kemudian menghempaskan kepalanya sendiri di atas meja dengan kasar dan tawa lirih terdengar samar.
"Dasar wanita sial!!!" ia mengumpat keras seraya memukul berkali - kali meja sehingga gelas dan beberapa botol bir bergetar.
Kalau saja ia tak menolong wanita itu dari tangan Garth waktu itu dan membiarkan Garth menidurinya sepuas hati mungkin semua ini tak akan terjadi.
Ini kariernya, masa depannya dan diam - diam ia menyesal melakukannya waktu itu.
Ia tak habis pikir, kenapa ia menolong wanita itu? dan jawaban itu masih belum ia dapatkan sampai saat ini.
Garth Gaskins sekarang menjadi musuhnya, ia tahu itu.
Tentu saja pria kaya itu tak terima dengan perlakuan Frank padanya waktu itu.
Garth merencanakan balas dendam untuk menghancurkan kariernya, ia sangat yakin dengan hal itu dan tentu saja Garth Gaskins punya handil besar untuk menghancurkannya sewaktu - waktu.
Pria itu dapat melakukan apa saja untuk balas dendam pada dirinya, dengan menghalalkan segala cara.
"Brengs*kkk!!!!" serunya keras diantara musik slowrock yang mengalun keras bersamaan dengan hiruk pikuknya orang - orang di dalam bar yang terasa pengap itu.
Seakan ingin segera lepas dari beban yang di rasakannya, Frank menuangkan botol bir yang hampir habis itu di gelas one shot miliknya.
Namun belum sempat ia meneguk minumannya, ia merasa seseorang mengusiknya.
"Hei bung! kau sudah cukup membuat masalah berada di tempat ini, sebaiknya kau cepat pergi atau jika tidak kupastikan ini yang terakhir kalinya kau berada di sini!" ancaman itu terdengar cukup keras dan bergema di telinga Frank.
Seakan tak peduli dengan apa yang mengancam dirinya, Frank mengangkat wajahnya dengan enggan untuk melihat si pemilik suara yang terdengar berkuasa itu.
Pria tinggi besar dengan tato naga merah menyala di kedua lengannya yang besar dan berotot, bentuk tubuhnya lebih mirip seorang pegulat.
Tak merasa bergeming dengan apa yang mengancam jiwanya Frank hanya tersenyum kecut menanggapinya.
"Aku tak merasa punya urusan ataupun masalah denganmu Mr Big!
Jadi urusi saja badut - badut tololmu yang selalu mengikutimu kemanapun kau pergi seperti segerombolan anak badak yang hanya berlindung di perut besar induknya" ucap Frank sengit tak gentar dengan apa yang mengancam dirinya di sekelilingnya.
Pria berotot itu tampak berang dengan ucapan Frank yang baginya sangat menyinggungnya.
Beberapa pria dengan penampilan yang tak jauh berbeda dengan pria yang disebut Mr Big itu oleh Frank, mengikutinya dari belakang.
"Dia mencoba mencari mati, bos.
Apa sebaiknya kita bunuh saja agar pria sok tahu itu mampus ditangan kita?" ucap salah satu dari mereka.
"Terlalu gampang, penyiksaan adalah yang paling tepat untuknya.
Sebuah kematian yang pelan - pelan" desis Mr Big.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Aku tersentak kaget dan langsung beranjak bangun dari tidur, saat kudengar seseorang mengetuk pintu depan.
Sudah larut malam, siapa yang datang?
Mungkinkah Frank, tapi kenapa malam - malam begini lagipula ia punya kunci cadangan jadi kenapa ia harus repot - repot minta dibukakan pintu? pikirku penasaran.
Kuurungkan niat untuk tak memperdulikannya sebab aku takut kalau itu adalah Garth, aku takut ia datang lagi.
Ia sudah terlalu cukup menyakitiku.
Tapi mungkinkah itu Garth?
Jika itu orang lain atau Frank bagaimana?
Apa yang harus kulakukan?
Tak ada cara lain lagi selain bangkit dan kuputuskan membuka pintu yang tak henti - hentinya diketuk.
Semoga saja suara ribut itu tak membuat tidur Kimmy dan Alex terganggu, mereka masih terlalu kecil untuk berada di situasi seperti saat ini, harapku berdoa dalam hati.
"Frank...?!" seruku spontan namun aku segera sadar dan menutup mulutku sendiri.
Keterkejutanku bertambah saat kulihat Frank tak sendirian, ia bersama seseorang.
Ya, seorang wanita cantik berpenampilan nyentrik merangkul sebelah tangan Frank ke bahunya yang bidang, seperti bahu lelaki.
Wanita itu menatapku dengan kedua matanya yang menggunakan eyeshadow hitam dan tebal.
"Apakah ini benar rumah keluarga Jefferson?" tanya wanita itu lantang.
Tanpa bisa berkata apa - apa, aku hanya bisa mengangguk memberi jawaban.
"Ke..na..pa?" tanyaku lirih sedikit terguncang.
"Syukurlah..., jadi aku tak perlu repot - repot lagi membawa si biang masalah ini ke kantor polisi" ucap wanita berambut pendek itu seakan tak memperdulikan keterkejutanku.
Aku ragu apakah rambut merah menyala perpotongan bak penyanyi rock itu asli atau bukan.
"Anda siapa?" tanyaku memberanikan diri, lututku seakan terasa lemas menahan berat tubuhku yang kini terasa berat.
"Holley Scott" jawabnya singkat.
"Jika kau memang istrinya atau semacamnya, apakah kau tidak berpikir membawa masuk cepat - cepat si tampan brengs*k ini kedalam karena tubuhku hampir pegal - pegal karenanya" Holley melanjutkan dengan suara lantang.
"Oh!" pekikku
Maafkan aku, aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi sehingga aku tak sempat mempersilakanmu masuk" sahutku dengan nada menyesal.
"Tidak, terima kasih.
Pria ini sudah membuatku repot aku tak mau dibuat terlalu repot lagi karenanya, dengan menjadi tamu kalian ataupun well...mengenal kalian, Jefferson...terlalu jauh.
Itu akan menjadi masalah besar bagiku jika Billy dog mengetahuinya" sahutnya dengan gayanya yang cold.
Kemudian Holley memindah tangankan Frank padaku yang kini masih dalam keadaan setengah tak sadarkan diri.
Pakaian yang dikenakannya sekarang begitu tak karuan, hampir semua kancing kemejanya lepas memperlihatkan dada bidangnya yang kini tampak lebam besar hampir di sekelilingnya.
"Bekas pukulan?" pikirku dalam hati.
Frank merintih kesakitan saat lengan kanannya kuulurkan di sepanjang bahuku.
Sekuat tenaga aku berusaha agar bisa berdiri tegak, menyeimbangkan diri dengan berat badan Frank yang lumayan berat untuk seorang lelaki.
Holley membantuku saat aku hampir goyah menahan berat tubuh Frank dibahuku.
"Terima kasih, kau sudah sangat cukup membantu" ucapku tertahan seraya tersenyum tipis.
"Sama - sama...,
Ini kunci mobil milik si tampan Jefferson
Tadi akulah yang menyetir, aku tahu alamat ini dari KTP di dalam dompetnya.
Tenang saja, tidak ada yang hilang disana, aku menolongnya dengan cuma - cuma jadi jangan berpikiran yang tidak - tidak karena kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya."
"Well..., aku harus pergi, tak ada alasan aku berlama - lama disini" tambah Holley seraya mengangkat kedua bahunya kemudian berbalik memunggungi.
"Oh ya, satu hal lagi!" ucapnya tiba - tiba.
Sebaiknya kau jaga baik - baik suamimu ataupun siapapun dia, karena dia sudah terlalu membuat masalah dengan Billy Dogg.
Aku sendiri tak yakin, apakah Billy akan membiarkan dia hidup jika ia membuat masalah lagi.
Selamat miss kau mempunyai suami yang tangguh dan tentu saja tampan karena menurut pengamatanku kurasa hanya dialah yang satu - satunya pria yang sanggup bertahan melawan Billy Dogg dan anak buahnya dalam keadaan mabuk.
Dia mabuk berat, kau tahu itu..."
Setelah mengucapkan itu Holley berlalu pergi ia tak memberikan aku kesempatan untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengucapkan terima kasih padanya.
..
..
Kukerahkan seluruh tenagaku untuk membawa Frank ke kamar miliknya melewati tangga.
Bagiku ini adalah perjalanan yang melelahkan, susah payah aku menahan tubuhku sendiri agar sampai tak terjatuh ketika melewati anak tangga yang bagiku seakan tak terhitung dan tak ada habisnya.
Frank memang benar - benar mabuk berat, bau alkohol yang tajam dan menusuk dapat kucium dari setiap nafasnya yang berat.
Matanya setengah terpejam seakan seperti lebih tepatnya menahan rasa sakit di sebagian tubuhnya yang memar, terutama di bagian dadanya.
Tak dapat kubayangkan penyiksaan apa yang baru saja di alami oleh Frank.
Akankah ia dikeroyok atau dipukuli habis - habisan tanpa sama sekali perlawanan?
Tapi kenapa, apa yang membuat ia sampai terlibat masalah yang tidak bisa dikatakan sepele ini?
Nyawanya sendiri adalah taruhannya dan hal itulah yang membuatku takut...
Takut untuk kehilangannya.
Aku berharap Alex dan Kimmy tak melihatnya, keadaan Frank seperti sekarang ini, mabuk berat dan babak belur.
Semoga saja luka ini dapat segera sembuh dan ditutupi, aku tak mau mereka berdua melihat Frank yang kacau seperti ini.
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...