
Setelah Scully berpamitan pulang dan kini hanya tinggal kami berdua dalam satu ruangan membuat suasana menjadi canggung kembali.
"Apa Alex dan Kimmy tahu kepergianmu kesini?" tanyaku pada Frank setelah beberapa menit Scully pergi.
"Tidak, mereka tidak tahu aku ke San Fransisco untuk menemuimu..." sahutnya pendek.
"Apa kau merindukan mereka?" tanyanya kemudian.
"Tentu saja.., tapi tidak ada yang bisa kulakukan, mereka memiliki kau dan aku tahu kau bisa menjaga mereka dengan baik Frank" sahutku yakin.
"Tidak, aku membutuhkanmu Jeanny...
Alex dan Kimmy membutuhkanmu, mereka tak bisa menerima kepergianmu sampai saat ini" ucap Frank mengejutkanku.
Aku diam tak menjawab ucapan Frank, dalam diam aku berbalik, berpaling dari Frank di sampingku.
"Kau harus pulang Frank, tidak baik laki - laki dan perempuan tinggal satu atap bersama tanpa ada orang lain..." ucapku lirih.
Detik itu pula, Frank menyentuh tangan kananku dan berkata.
"Aku tak akan pergi tanpamu Jeanny..., tak peduli apapun itu aku akan tetap disini sampai kau mau memaafkanku dan ikut bersamaku pulang ke New York."
Aku memejamkan mata dan mendesah pelan.
"Aku sudah memaafkanmu Frank jauh sebelum kau memintanya dariku tapi untuk ikut bersamamu ke New York aku rasa tak bisa kulakukan Frank, maafkan aku...
Aku harap kau bisa mengerti itu..." sahutku tetap dalam pendirianku.
"Kenapa?
Apa karena kau tak lagi mencintaiku?" tanya Frank, ia menatapku sendu dan ekspresi wajahnya tampak memohon.
"Bukan..., bukan seperti itu.
Semua ini masih terasa rumit bagiku Frank, a-ku belum bisa mengambil keputusan" sahutku lemah.
Entah kenapa, kepalaku tiba - tiba terasa pusing dan pandanganku buyar, beberapa detik aku hampir kehilangan keseimbangan.
Mengetahui itu Frank langsung sigap menangkapku kepelukannya, dengan cemas ia mencoba mengendongku dan membawaku ke kamar.
"Maaf..., maafkan aku Jeanny!
Aku terlalu memaksamu sampai kau seperti ini!" seru Frank cemas, ia mencoba membaringkanku ke ranjang dan menatapku panik.
Aku yang masih setengah sadar, dapat melihat kegelisahannya saat ini.
"Tidak, tidak Frank...
A-ku hanya merasa lelah" ucapku lirih, kedua mataku setengah terpejam menahan pusing yang amat sangat dan kurasa hal itu yang terakhir aku ingat sebelum semuanya menjadi gelap.
Melihat Jeanny Anderson tak sadarkan diri membuat Frank Jefferson panik dan ia pun menghubungi Scully lewat ponsel milik Jeanny, agar wanita itu dapat menghubungi dokter yang bisa datang membantu memberikan pertolongan pertama.
Setelah kurang lebih 40 menit berlalu dan dokter datang untuk memeriksa kondisi Jeanny, Scully Madison menyusulnya.
Wanita cantik berambut hitam itu, berjalan cepat menghampiri Frank yang tengah duduk di samping ranjang Jeanny yang masih tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi Frank?
Baru beberapa menit aku meninggalkan kalian berdua, Jeanny sudah seperti ini" tanya Scully cemas, wajahnya kini tampak tegang.
"Kata dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya perlu istirahat dan kelelahan.
Dokter sudah memberikan obat penenang dan beberapa vitamin untuknya tadi..." sahut Frank pelan.
"Syukurlah..., aku pikir terjadi sesuatu padanya.
Aku takut sekali.." Scully mendesah, ia melihat keadaan Jeanny yang kini tampak tertidur dengan wajah pucat cantiknya kemudian pandangan beralih menatap Frank yang kini tampak duduk dengan sorot mata sendu, tangannya tak lepas mengenggam erat jemari tangan Jeanny Anderson.
"Aku pikir mungkin Jeanny masih merasa syok dengan kedatanganmu Frank...dan seperti yang kau tahu wanita hamil di usia kandungan seperti Jeanny masih terlalu rawan dan cepat merasa lelah" ujar Scully.
"Kau tahu, Jeanny hamil?" tanya Frank cukup terkejut dengan ucapan Scully tadi.
"Tentu saja, tidak ada yang bisa ditutupi Jeanny dariku sekalipun ia tak mengatakannya padaku sendiri" sahut Scully.
"Dan apakah kau tahu akulah si pria brengsek yang telah menghamilinya?" Frank bertanya dengan senyum sinisnya pada diri sendiri, ia merasa menjadi pria yang sangat tak berguna karena tak bisa menjaga wanita yang dicintainya.
"Jika kau brengsek kenapa kau datang kemari jauh - jauh hanya untuk menemuinya, Frank?" Scully balik bertanya memastikan.
"Aku ingin meminta maaf dan melamarnya untuk menjadi istriku..." sahut Frank lirih, ia kini tampak begitu putus asa.
"Lalu apakah jawaban Jeanny, Frank?" Scully kembali bertanya.
"Aku sudah mendapatkan maaf itu darinya namun aku belum sempat melamarnya karena aku masih merasa takut kalau dia akan menolakku..." sahut Frank lemah.
"Aku tak tahu apa saja yang terjadi pada kalian, karena Jeanny cukup tertutup segala hal tentangmu namun jika kau ingin meminta saran dariku sebagai wanita sekaligus teman baiknya dengan senang hati aku akan memberikannya padamu Frank Jefferson" ujar Scully.
Dengan tatapan putus asa Frank berpaling menatap Scully yang tak jauh di depannya.
"Apa yang harus kulakukan Scully...?" tanyanya.
"Kepastian Frank Jefferson, wanita hanya membutuhkan kepastian untuk meyakinkannya.
Jika kau memang benar mencintainya yakinkan dia kalau kau memang benar - benar tulus mencintainya bukan karena rasa tanggung jawab saja" tutur Scully menjelaskan.
Frank diam sejenak dan ia menatap lurus sosok wanita yang begitu ia cintai itu.
Dalam diam, ia mengelus lembut wajah Jeanny dengan jemari tangannya.
"Aku begitu mencintainya, akan aku lakukan segalanya untuknya Scully, sekalipun harus menukar nyawaku untuknya nanti..." lirih Frank.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Aku membuka mataku pelan dan ingatanku sedikit demi sedikit mengingat - ingat kembali kejadian terakhir sebelum aku berakhir di tempat tidur.
"Frank...?" ucapku lirih, hanya nama itulah yang pertama kali aku ingat saat ini.
Pandanganku menyapu seluruh isi ruangan kamar milikku dan kulirik jam digital di meja kecil samping ranjang, pukul 8 pagi lebih 13 menit.
"Ya, Tuhan sudah berapa lama aku tertidur dan tak sadarkan diri.
Maka akupun cepat bangun dan beranjak dari tempat tidur.
"Apakah Frank masih disini atau dia sudah pergi?" batinku, sesaat aku merasa ada rasa takut untuk kehilangannya namun jika ia pergipun, bukankah itulah yang kuinginkan semalam? lalu kenapa ada sedikit rasa penyesalan dalam hatiku?
Kubuka pintu kamar dengan nafas tertahan dan dengan langkah pelan namun pasti, aku melangkah ke setiap ruangan mencari keberadaan Frank.
Diruang depan dan di ruang santai tak kutemukan dia, lalu dimanakah dia?
Seketika aku merasa lemas dan sedikit linglung, bukan karena keadaanku yang masih sedikit lemah namun karena aku merasa takut kehilangan Frank.
Apakah seperti ini pada akhirnya?
Kami berpisah begitu saja dan dia benar - benar pergi meninggalkan aku.
Sebuah suara mengejutkan lamunanku, suara di dapur, maka segera kulangkahkan kakiku ke dapur dengan penuh tanda tanya.
"Kau sudah bangun honey...?" sapa Frank dengan senyum manisnya yang menawan.
Aku berdiri melongo dengan mata membulat, sungguh aku tak percaya dengan apa yang kini kulihat di depan mataku sendiri.
Frank berdiri dengan memakai celemek merah, satu tangannya memegang sebuah piring berisikan beef steak yang tampilannya cukup menggiurkan lidah.
Meja makan dihias bunga mawar merah yang cantik dan kue kecil berbentuk love terpampang indah, risotto, 2 gelas minuman jus buah segar berdiri anggun di atas meja membuatku seakan bermimpi saat melihat pemandangan ini.
Tanpa sadar aku menutup mulutku sendiri yang sejak tadi melongo tak percaya.
"Frank...,kau-?" lirihku tak percaya, seribu tanya kini memenuhi otak dan kepalaku.
"Selamat pagi honey..., bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Frank melangkah menghampiriku, seakan tak peduli dengan keterkejutanku saat ini.
Aku menatapnya dan Frank hanya tersenyum menyejukkan.
"Aku harap kau suka dengan kejutan kecil ini" ucapnya, senyuman tak lepas di wajahnya yang tampan.
"Kau menyiapkan ini sendirian Frank...?" tanyaku tak percaya.
Seketika itupun Frank tersenyum malu dan menjawab lirih.
"Aku sudah lama tak menyiapkan sarapanku sendiri sejak 5 tahun yang lalu, kuharap kali ini tidak membuatmu kecewa..."
"Astaga Frank, kau...membuatku terharu..., terima kasih" ucapku tulus, kedua mataku kini berkabut karena merasa bahagia dan merasa bahwa ini sungguh sesuatu yang sulit kupercaya terjadi padaku saat ini.
"Syukurlah kalau kau menyukainya, ini hanya kejutan kecil yang tidak seberapa honey" sahut Frank lirih.
Dengan lembut Frank menggiringku berjalan ke meja makan dan menyiapkan tempat duduk untukku, sungguh perlakuan yang begitu manis.
"Kau juga yang membuat kue cantik ini Frank?" tanyaku tak percaya.
"Kalau untuk kue itu sebuah pengecualian, Scully yang membantuku untuk menyiapkannya untuk kita berdua..." sahutnya malu - malu dan aku hanya tersenyum senang menanggapinya.
"Jadi, kalian berdua bekerja sama untuk mengerjaiku?" sahutku meledek.
"Tentu saja tidak honey, karena kupikir aku tak pandai membuat kue ini.
Kau lihat sendiri bukan, kue ini begitu cantik" jawabnya asal.
Dan kami pun tertawa lepas bersama, sungguh suatu perubahan yang begitu manis dari Frank Jefferson untukku.
Kamipun sarapan bersama - sama, melepaskan ketegangan yang semalam masih tersisa.
"Bagaimana rasanya, apakah enak?" Frank bertanya ingin tahu saat aku memakan satu suapan pertama beef steak buatannya.
"Tidak buruk untuk pria yang 5 tahun pensiun dari dapur" sahutku asal dan Frank tersenyum lebar mendengarnya.
"Syukurlah...." Frank menghembuskan nafas panjang dan kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
"Nah, sekarang kau harus makan yang banyak honey, akan baik untuk kesehatanmu saat kau hamil muda seperti ini" ucap Frank seraya mengiris beef steak itu dan memberikannya padaku.
"Terima kasih Frank, kau tak perlu berlebihan seperti ini" tuturku tak enak hati.
"Tentu saja tidak honey, ini hanya hal kecil yang kulakukan untukmu jadi jangan merasa sungkan, ok?" sahut Frank meyakinkan.
"Apa semalam aku telah merepotkanmu dan membuatku khawatir Frank?
Ma-af, karena aku tak bisa menjaga diriku sendiri..." tuturku lirih.
Detik itu juga Frank mengenggam jemari tanganku dan mengecupnya lembut.
"Aku yang seharusnya meminta maaf Jeanny'ku sayang..., aku terlalu memaksamu hingga membuatku merasa lelah dan tak nyaman.
Maafkan aku sayang..." sahutnya lembut, ucapannya dan perlakuannya begitu menenangkan dan menyejukkan hatiku.
Kemudian entah darimana, Frank menyodorkan sebuah cincin bertahtakan berlian kecil namun indah seakan menyilaukan mata dan penglihatanku saat ini.
"Maukah kau menikah denganku Jeanny Anderson...?" tanyanya padaku yang hanya bisa menatapnya dengan melongo menutup mulutku sendiri, untuk kedua kalinya Frank membuatku terkejut bahkan sangat terkejut dengan semua kejutan pagi ini.
"Frank....?" tak bisa berkata - kata, hanya kata itulah yang bisa kuucapkan saat ini.
Kini aku bagai terbang di alam mimpi, segalanya terlalu indah untuk dikatakan hingga aku berusaha berkedip beberapa kali dan menyadarkan pikiranku sendiri kalau apa yang tengah terjadi padaku kini adalah nyata dan benar - benar terjadi.
"Kaulah satu - satunya wanita yang hanya ada dalam hatiku saat ini dan untuk selamanya, Jeanny Anderson.
Hanya kau lah wanita yang mampu mengubah hidup dan hatiku yang selama ini beku dan tak mengenal cinta, hanya kau..." ucap Frank meyakinkanku.
"Aku hanya berharap, aku tak terlambat mengungkapkannya padamu karena dulu aku masih begitu bodoh dan angkuh untuk mengakui apa arti itu 'Cinta'...
Karena itu aku sekarang memohon padamu Jeanny Anderson, maukah kau menikah denganku dan menerima cintaku yang bodoh ini?" ucapnya sekali lagi dengan sangat jelas dan tatapan penuh keyakinan.
Tak ada lagi yang bisa kuucapkan untuk menjawab semua ucapan Frank padaku, hingga tanpa kusadari air mata mulai merebak di sudut mataku yang kini berkabut.
Hanya anggukan penuh keyakinan yang bisa mewakili perasaan hatiku dan menjawab pertanyaan pria yang begitu kucintai yang kini tepat di depan mataku dan menunggu jawaban dariku.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...