
Mengetahui Frank Jefferson berada di pesta yang sama dengannya, Garth Gaskins pun berusaha menemui sang rival.
Di akhir acara pesta, mereka berdua bertemu secara langsung di suatu tempat, setelah sekian lama tak bertemu satu sama lain.
"Aku tahu kau memerintah seseorang untuk mematai - mataiku selama ini, Frank Jefferson dan aku tahu apa tujuan utamamu datang ke Paris" ucap Garth dengan wajah datar.
"Bagus kalau begitu, aku tak perlu susah payah mengatakannya padamu" Frank menyahut dingin.
"Aku tak akan kalah kali ini, Garth Gaskins.
Kita lihat sampai sejauh mana kau bisa menyembunyikan Jeanny dariku" tambah Frank sedikit mengancam.
"Perlu kau tahu aku tak pernah menyembunyikan Jeanny selama ini, namun Jeanny sendiri lah yang memintanya padaku untuk jauh darimu" ujar Garth penuh percaya diri.
"Aku tak peduli! Kupastikan, Garth kau tak bisa memisahkan aku dan Jeanny lagi kali ini!" Frank menyahut dengan nada cukup keras.
Mendengarnya, Garth Gaskins hanya tersenyum tenang.
"Itu tergantung usahamu sendiri, kawan.
Kau sendiri lah yang harus berjuang untuk mendapatkan cintanya lagi" ucap Garth.
Dengan tatapan tajamnya yang bagai elang, Frank mendekatkan wajahnya pada Garth yang ada didepannya sekarang.
"Kita lihat, siapa pemenangnya kali ini, Garth Gaskins...
Kau sudah banyak ikut campur dengan kehidupan pribadiku selama ini, jangan kau berpikir aku akan tinggal diam dan tak membalas apa yang telah kau lakukan padaku!" ucap Frank tajam, kali ini ia seperti tak main- main dengan ucapannya.
Seperti tak gentar dengan ancaman sang rival, Garth hanya tersenyum miring menanggapinya.
"Aku akan selalu menantikannya, Frank Jefferson. Oh, ya. Aku lupa dengan satu hal! Aku ingin mengucapkan selamat atas pertunanganmu dengan putri milyader, Nichollas Harris dan kupastikan kau harus siapkan dirimu untuk menghadapi rival barumu yang jauh lebih berkuasa daripada aku dan kau disini" Garth mengucapkan kalimat itu dengan senyum penuh arti.
Seperti sengaja menyulut emosi sang rival, Frank pun mengenggam erat dan meremas setelan jas yang Garth kenakan.
"Ratusan atau bahkan ribuan pria aku tak peduli! siapapun itu yang berusaha menghalangiku untuk bersama dengan Jeanny, dia harus siap menjadi musuhku!" ucap Frank lantang.
"Bagus kalau kau masih punya tekad itu, Frank.
Joseph Hayden selangkah lebih maju dari kau dan aku, kupastikan kau harus siap - siap mendapatkan kemungkinan terburuk nanti" sahut Garth tenang, ekspresinya tampak datar dan tak berubah.
Sepertinya Garth memang sengaja untuk memperingati Frank Jefferson kalau lawannya kali ini bukanlah orang biasa.
Joseph Hayden punya latar belakang yang kuat dibalik sikapnya yang tenang dan Garth sendiri lah yang sudah mengetahui segala hal tentang siapa itu Joseph Hayden.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Kau baik - baik saja, Jeanny?" tanya Joseph cemas saat baru saja ia datang di rumahku.
"Aku baik - baik saja, Joseph. Aku mohon maafkan aku, karena aku membuatmu kecewa" ucapku lirih dengan mata berkaca - kaca berusaha menahan tangis.
"Astaga, ya Tuhan. Apa yang kau katakan, Jeanny?! Kau sama sekali tak mengecewakanku, bagiku keadaanmu jauh lebih penting dari segala hal, kau harus tahu itu" ujar Joseph seraya menyentuh lembut kedua bahuku yang kini tampak bergetar.
Kuakui pertemuanku dengan Frank tadi di pesta membuatku syok dan takut.
Entahlah, perasaanku campur aduk kini.
Aku belum bisa menerima kehadiran Frank lagi dalam hidupku, bukan karena aku membencinya tapi aku takut dengan perasaanku sendiri jika aku bertemu dengannya lagi, aku takut perasaanku akan goyah.
Seperti mengetahui ada yang tidak beres, Joseph pun menatapku dengan tatapan beribu tanya dan penuh arti.
"Katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya, Jeanny? apa yang tak ku ketahui, sehingga sampai membuatmu takut seperti ini, kumohon katakan padaku!" tanya Joseph, ekspresi wajahnya kali ini begitu serius seakan menunggu jawaban dariku.
Dengan tubuh lemah dan masih bergetar karena menahan emosi dan perasaanku kini aku hanya terduduk lemas seperti tanpa tenaga di sofa dekat perapian.
"Tolonglah Jeanny, aku mohon. Jika kau percaya padaku, katakan padaku apa yang menjadi bebanmu sekarang. Jangan menyimpannya seorang diri seperti ini.
Katakanlah mungkin aku bisa membantumu" tutur Joseph lembut.
"Apa kau bertemu dengan seseorang tadi di pesta?" Joseph bertanya memastikan, seketika itu juga aku menatapnya tak percaya.
"Ba-gaimana kau bisa tahu, Joseph?" tanyaku dengan suara gemetar.
Joseph mendesah pelan dan menyentuh lembut jemari tanganku.
"Aku hanya menebaknya, Jeanny. Karena kupikir kau tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkan pesta dengan tanpa alasan" jawab Joseph yakin.
"Apa dia datang dari masa lalumu?" tanya Joseph kemudian.
"Ayah Ian..., aku bertemu dengan ayah dari Ian, Joseph. Dia lah alasan aku berada di Paris dan meninggalkan New York, a-ku belum siap untuk bertemu dengannya lagi" selaku lirih.
"Lalu apa yang kau lakukan jika ia datang dan menemukanmu, Jeanny? kau tak mungkin selamanya menghindar bukan?"
Pertanyaan Joseph seakan membuatku sadar dengan kenyataan, apa yang ia katakan memanglah benar.
Aku tak mungkin selamanya menghindar dari Frank Jefferson, itu terlalu pengecut!
Tapi aku harus bagaimana?? aku masih terlalu rapuh jika mengenai segala hal tentang Frank Jefferson.
"Aku tak tahu, Joseph. Aku tak tahu" jawabku menggeleng lemah.
"Aku bisa menjadi tamengmu, Jeanny.
Aku tak keberatan untuk itu" tawar Joseph yakin.
Seperti melihat keraguanku, Joseph semakin mempererat genggaman tangannya padaku.
"Bukalah hatimu untukku..., jika kau ingin melupakan dia dan mengobati lukamu, kau harus membuka hatimu untuk orang lain, Jeanny" ucapnya yakin.
"Hah..?" aku hanya bisa melongo menatap pria di depanku sekarang, ia begitu percaya diri saat mengucapkannya seolah tanpa ragu dan begitu yakin.
"Aku tahu kau ragu padaku Jeanny, aku tak akan memaksakan hatimu untuk mencintaiku tapi setidaknya izinkan aku untuk tetap bersamamu, aku yakin itulah yang terbaik untuk saat ini" ujar Joseph sungguh - sungguh.
"Ta-pi itu tidak akan adil untukmu, Joseph...
Aku tak mau menjadi wanita egois yang tak tahu diri!
Aku tak mau menyakiti hati pria - pria baik seperti kau dan Garth, aku tak mau itu..." sahutku lirih.
"Aku yang memintanya bukan kau, Jeanny!
Aku yang menawarkan diri padamu, karena aku mencintaimu.., kau adalah wanita spesial dalam hidupku. Tapi jika kau menolaknya, aku tak bisa memaksa karena saat ini aku hanya memiliki keyakinan kalau apa yang aku lakukan ini adalah benar" ucapnya yakin, wajah lembutnya kini tampak berubah serius.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...