One Day In Your Life

One Day In Your Life
APAKAH AKU BERMIMPI?



"Kau baik - baik saja, Jeanny? Apakah ada masalah? katakan padaku" Tanya Joseph perhatian saat mengunjungi flatku malam itu.


"Tidak, Joseph. Aku tak apa - apa, hanya saja suasana hatiku sedang buruk saat ini" jawabku mencoba beralasan.


"Apapun itu, Jeanny. Aku mohon, jangan kau pendam sendiri, ada aku disini yang siap membantumu kapan saja" tutur Joseph menghiburku.


"Apa ini tentang Frank, apa tadi ia menyakitimu?" tanya Joseph menerka.


"Aku hanya bertemu dengan tunangannya yang bernama Laura Harris. Dia menyinggungku dan aku tak suka itu." Ucapku dongkol masih terasa kesal.


"Jadi kau kesal karena Laura Harris? Perasaan wanita memang lebih sensitif dan itu mungkin yang membuat dia cemburu padamu hingga mengatakan kalimat dan hal buruk pada wanita yang dianggap menjadi saingannya." Ujar Joseph seraya tersenyum tipis, ia menggenggam jemari tanganku kemudian mengecupnya lembut.


"Aku mencintaimu, Jeanny Anderson. Dan aku akan melakukan apa saja agar kau bahagia. Sedikit saja kau merasa terluka, itu akan menjadi luka untukku juga. Jadi aku mohon tersenyum lah, katakan apa yang harus aku lakukan agar kau selalu bahagia?" Tutur Joseph lembut, tatapannya kini hangat dan seolah penuh dengan cinta.


Entah kenapa aku begitu tersanjung setiap mendengar kata - kata dari bibir manisnya, seakan semua itu bagai obat mujarab yang bagiku begitu menyejukkan di kala aku merasa sedih dan gersang.


Tak ada kata yang bisa kuucapkan untuknya saat ini, entah kenapa aku hanya bisa diam dan menatapnya tanpa sepatah kata.


Dan entah siapa yang memulainya, kini bibir kami sudah bertemu satu sama lain. Saling mencumbu seakan memiliki satu sama lain.


Aku pasrahkan kendali pada dirinya, hingga tanpa kusadari aku mengalungkan kedua tanganku di pundak Joseph kini.


"Aah..., Joseph..." lirihku saat ciuman itu turun ke tengkuk dan leherku. Tubuhku bagai tersengat listrik hingga membuatku bergetar dan entah kenapa menginginkan lebih.


Pikiran bawah sadarku ingin berusaha menolaknya namun entah kenapa tubuh ini justru berharap sebaliknya.


Apakah karena aku terlalu lama tidak di sentuh pria? Hingga aku menjadi seperti ini?


Entahlah aku tak tahu, yang pasti saat ini aku hanya ingin menikmatinya bersama dengan Joseph.


Kini sentuhan Joseph berhenti di dadaku,tatapan kami bertemu saat itu. Tatapan Joseph mengatakan seolah ia meminta izin padaku dan aku hanya bisa diam dengan wajah yang mungkin menjadi memerah karena dilingkupi gairah.


Seolah hanya dengan bahasa tubuh, Joseph tahu akan hal itu. Karena itu ia kini mulai berani menyentuh dadaku yang masih terbungkus pakaian lengkap dan berhenti di sana.


Ia menempelkan seluruh wajahnya ke dadaku dan menghirup aroma di sana.


"Joseph..." des*hku seraya meremas dan mengelus lembut rambutnya yang berwarna coklat gelap.


Dapat kurasakan tubuhnya kini berubah menjadi panas, apakah yang juga merasakan apa yang aku rasakan? Kurasa kini kami sama - sama dilingkupi gair*h hingga membuat tubuh ini terasa panas.


"Aku ingin memilikimu, Jeanny. Tapi aku tak bisa melakukannya jika kau sendiri tak menginginkannya." Bisiknya dapat kudengar dengan jelas di dadaku.


"Menikahlah denganku, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan Ian." Ucapnya kembali mengejutkanku, kini ia beralih menatapku.


Hening.


Hingga entah bagaimana aku mengangguk seraya tersenyum membalasnya.


Joseph mengerjapkan kedua matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun aku berusaha meyakinkan lagi kalau aku kini menerima hati dan perasaannya.


"Ya, aku mau Joseph..." Ucapku lirih penuh dengan keyakinan.


"Jeanny?? Benarkah sayang..?" Tanyanya sekali lagi dengan mata berbinar dan aku hanya mengangguk penuh dengan keyakinan.


"Ya, Tuhan! Terima kasih!


Aku senang sekali mendengarnya!" Joseph berseru seraya memeluk erat diriku hingga aku tertawa tertahan melihat reaksinya kini.


"Terima kasih Jeanny, astaga aku sangat bahagia sekali!


Maafkan aku sayang, karena melamarmu dengan cara seperti ini. Tidak ada cincin atau bahkan..."


"Joseph, tak apa - apa. Aku tak butuh semua itu karena hanya kau selalu berada di sisiku itu lebih dari cukup dari segala hal." Selaku seraya tersenyum lembut.


Joseph pun tersenyum lebar, ia kembali menciumku namun kini ia melakukannya dengan singkat dan lembut.


"Terima kasih, Jeanny. Bagiku kau adalah hadiah terindah yang dikirim Tuhan untukku." Tuturnya seraya mengecup telapak tanganku kembali.


"Aku berjanji, akan memberikan lamaran dan pernikahan yang lebih berkesan dari pada ini. Astaga, aku masih belum percaya kau mau menerimaku sayang..." Joseph berkata dengan kedua mata yang berbinar dan senyum di wajahnya yang cerah.


"Katakan Jeanny, kalau aku saat ini tak sedang bermimpi."


"Ini nyata, Joseph. Kau sudah bangun dari mimpimu." Sahutku tersenyum hangat dan kami berdua pun kini berpelukan tanpa kata.


Saling memberikan kehangatan satu sama lain hanya dengan sebuah pelukan yang berkesan dan penuh dengan cinta.


Ya, aku tahu kalau kini aku sudah memilih Joseph sebagai pengganti Frank Jefferson yang sampai saat ini masih ada ruang sedikit di hatiku. Namun aku tak bisa selamanya hidup dalam bayang - bayangnya bukan?


Frank Jefferson adalah masa laluku. Kini kami memiliki kehidupan yang berbeda satu sama lain dan memiliki pasangan masing - masing.


Aku hanya berharap pilihan dan keputusanku ini tepat. Joseph adalah pria yang tepat untukku. Dia pria yang baik sebagai calon ayah bagi Ian, aku yakin itu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


...Udah bisa nebak gimana endingnya??🀭...


...Ini belum berakhir yaπŸ˜…πŸ€­...


...Tinggal beberapa bab lagi tamat ya teman - teman. Ikuti ceritanya ya dan tinggalkan jempol dan komen kalian kalau bisa hadiah jugaπŸ˜‚ karena itu amunisi buat author biar trs SMNGT update😁...