
New York City, 7 Desember
Hari ini adalah minggu ke dua kepergian Jeanny Anderson, 2 minggu yang bagi Frank Jefferson bagai berbulan - bulan lebih lamanya ia melalui hari - harinya dengan kelelahan dan keletihan yang begitu sangat menyiksanya.
Urusan pekerjaan yang mengharuskannya bekerja mati - matian untuk tetap bisa bertahan di posisinya sebagai Manager utama pemasaran hampir membuatnya kewalahan, semua itu terjadi sejak kegagalannya dalam merekrut perusahaan dari klien bisnisnya yang di motori oleh Garth Gaskins, seorang teman bisnis yang sekarang menjadi musuh terbesarnya setelah ia terang - terangan melawan seorang pebisnis muda yang cukup terkemuka di New York city itu.
Walaupun ia gagal mendapatkan kesempatan untuk menaikkan jabatannya di perusahaan tempat ia bekerja sekarang, namun semua itu tak lebih berarti daripada perusahaan mendepaknya atas kegagalannya tempo hari.
Mr. Richard Stone, Presiden Direktur Wilson Grup's Corporation telah memberikannya kesempatan kedua untuk menebus kegagalannya karena itu kali ini Frank tak ingin menyia - nyiakan kepercayaan atasannya.
Selama hampir satu bulan Frank Jefferson berusaha membuktikannya, bahwa ia layak mendapatkan kesempatan kedua dan ia memang mampu bekerja secara maksimal untuk membuktikan keprofesionalan kerjanya selama ini.
Dalam pekerjaan Frank Jefferson memang mampu mengatasinya namun dalam masalah keluarganya sekarang ia tak mampu mengatasinya secara bersamaan.
Selama 2 minggu terakhir ini ia tak bisa membagi waktunya bersama dengan kedua adiknya, Alex dan Kimmy.
Pekerjaan telah menghabiskan waktunya dan menguras tenaganya akhir - akhir ini, sampai - sampai ia harus menyerahkan segala kebutuhan Alex dan Kimmy selama berhari - hari pada seorang pengurus rumah tangga yang selama ini mengantikan posisi Jeanny Anderson 2 minggu terakhir ini di rumahnya.
Merelakan Alex dan Kimmy tinggal seatap dengan seorang yang masih terasa asing selama ia pergi meninggalkan New York ke Eropa memang terasa begitu berat namun ia tak bisa melakukan apa - apa selain mempercayakan seseorang untuk menjaga kedua adik tirinya.
Frank menghempaskan tubuhnya ke ranjang setelah melepas setelan jas dan kemeja yang di pakainya.
Matanya terpejam kuat, tangan kekarnya menyeka peluh di dahinya, ia berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal.
Ia begitu lelah hari ini namun sekarang ia bisa sedikit bernafas lega, besok adalah hari bebas tugasnya, ia berencana akan menghabiskan waktunya besok untuk beristirahat bersama Kimmy dan Alex.
Arlojinya menunjukkan pukul 2 dini hari, perjalanan pulang dari London yang cukup melelahkan.
Sampai saat inipun ia masih belum mengerti, kenapa hatinya begitu gelisah sejak berada di pesawat saat kepulangannya dari London.
Entah kenapa kadang pikirannya seperti tidak fokus pada pekerjaannya tetapi untung saja sejauh ini ia sanggup mengatasinya sehingga hal itu tidak sampai menganggu rutinitasnya selama ini.
Sesungguhnya ia tahu penolakan kedua adiknya tentang masalah Jeanny Anderson namun ia sengaja tak peduli, ia benci jika mereka menyinggung soal wanita itu.
Frank duduk di tepi ranjang kemudian menghela nafas panjang, kepalanya menunduk seakan berpikir keras tentang sesuatu, kegelisahan semakin nampak di wajahnya sekarang.
"Kenapa..., kenapa aku seperti ini?
Sialan!" makinya kesal seraya mencengkram erat rambut di kepalanya.
"Wanita itu selalu memenuhi kepala dan pikiranku, jika hal ini terus terjadi padaku aku bisa gila karenanya" Frank berseru dalam hati.
..
..
..
Teriakan terdengar jelas di telinganya, ratapan belas kasihan terus bergema.
Wanita itu terus menerus memohon agar ia tidak melakukannya.
Melakukan apa yang menjadi keinginannya.
Ia begitu Kalap, mata hati dan perasaannya tertutup oleh kebencian yang mendalam.
Ia kesal dan marah pada diri sendiri.
Ia benci wanita itu, sangat membencinya namun jauh dalam dirinya ia begitu menginginkannya wanita itu sepenuhnya untuk menjadi miliknya, hanya miliknya.
Tidak ada yang boleh memilikinya selain dirinya sendiri.
Berkali - kali wanita itu memohon namun ia tetap saja tak peduli, keinginannya begitu besar untuk memiliki wanita itu hingga ia lupa diri.
Ia memaksa agar wanita itu mau menuruti keinginannya yang menggebu dari dorongan alam bawah sadarnya hingga ia tak peduli dengan permohonan dan penolakan wanita malang itu.
Tamparan, makian dan sikap kasar ia lakukan pada wanita itu hingga ia tak berdaya.
Jatuh lemah dan pasrah saat dengan leluasanya ia merenggut apa yang wanita itu pertahankan darinya, sesuatu yang berharga.
..
..
"Tidaakk!!!" Frank berseru bangun dari tidurnya, ia terduduk setengah badan dengan peluh di dahi dan lehernya.
Kepalanya tertunduk, berkali - kali ia mengusap peluh dan mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Mimpi..., semua itu hanya mimpi namun kenapa semua itu terasa begitu nyata seakan apa yang kualami tadi benar - benar terjadi" ucapnya dalam hati.
Ia tidak sendiri dalam mimpinya, ada seseorang tepatnya seorang wanita bersamanya.
Wanita?
Siapa wanita itu?
Pikiran itu terbersit dalam ingatannya namun ia tetap saja tak bisa mengingatnya.
Mengingat sosok wanita itu dalam mimpinya.
Semuanya kelihatan samar namun ia yakin, ia pernah mengenal wanita itu tapi entah ada dimana?
"Mungkinkah mimpi itu benar - benar terjadi pada diriku?
Apakah benar, pria dalam mimpiku itu aku?
Lalu siapa wanita malang itu, siapa?"
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
**New York City, 9 Desember**
"Aku minta satu gelas lagi Sean!" perintah Frank pada bartender berpostur tinggi itu.
"Kau sudah minum terlalu banyak Frank.
Apa hari ini kau sedang kesal?" bartender yang bernama Sean itu bertanya.
"Menurutmu bagaimana kawan, apa sekarang aku kelihatan bahagia?" Frank menyahut dingin.
Dengan cekatan Sean menaruh segelas bir yang di pesan Frank tadi.
"Yeah,, kupikir tidak.
Ini minumanmu tapi sebelumnya kusarankan jaga baik - baik dirimu jangan sampai kau mabuk karena aku tak mau keributan ada di sini lagi, seperti yang pernah kau lakukan tempo hari" Sean berkata memperingati.
Frank menjawabnya dengan santai seraya mengangkat gelas yang telah di isi kembali ke hadapan Sean dan kemudian tersenyum simpul.
"Aku tak menyangka kau masih punya nyali berada di tempat ini, si tampan Jefferson" tutur seseorang di belakang Frank.
Mendengar sapaan yang terasa asing itu Frank pun berpaling ke belakang dengan pandangan penuh selidik ia memperhatikan si pemilik suara yang menegur di belakangnya, seorang wanita berpenampilan nyentrik dengan rambut pendek merahnya yang menyala.
Sepasang mata tajamnya kini tampak menyempit memperhatikan sosok wanita yang kini berada di hadapannya.
"Apa aku pernah mengenalmu miss?" tanyanya ragu.
Seakan tak memperdulikan pertanyaan Frank, dengan santai wanita itu duduk di samping yang sejak tadi masih memperhatikannya.
"Apa kau mau ku traktir, honey?" tawar wanita itu dengan gayanya santai seraya berpaling pada Frank di sampingnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku" sahut Frank dingin.
Wanita itupun kini tertawa dan hal itu membuat Frank sedikit sentimen.
"Secara langsung memang tidak tapi secara tak langsung aku mengenalmu" jawab wanita itu kemudian.
"Oh, sorry aku belum memperkenalkan diri padamu.
Aku Holley Scott, kau Jefferson bukan?
Tepatnya Frank Thommas Jefferson, bukankah itu benar?" sambungnya kemudian seraya menyodorkan telapak tangannya pada Frank.
Dengan acuh, Frank tak menanggapinya.
Ucapan wanita itu malah membuat Frank menatapnya curiga.
Menyadari hal itu, wanita bernama Holley itupun kembali angkat bicara.
"Begitu caramu berterima kasih pada orang yang telah menolongmu?
Aku rasa kau benar - benar mabuk berat saat itu sampai - sampai kau tak mengingat apalagi mengenal seseorang.
Perlu kau tahu, tampan jika aku tak menolongmu dari perkelahianmu waktu itu di tempat ini, mungkin saja sekarang kau tak berada disini karena aku berani menjamin Billy Dog tak akan mungkin melepaskanmu begitu saja waktu itu.
Bagaimana sekarang, kau sudah mengingatnya?" tanya Holley kemudian.
"Apa kau juga yang mengantarkan aku pulang waktu itu?" Frank bertanya memastikan.
Holley menanggapi dengan tersenyum.
"Yeah, kau berutang nyawa padaku, Jefferson.
Susah payah aku membawamu pulang saat itu apalagi jika mengingat betapa beratnya tubuhmu saat membawamu dalam keadaan pingsan dan mabuk berat.
Perlu perjuangan yang cukup besar untuk melakukannya" sahut Holley setelah itu ia meneguk minuman yang dipesannya.
"Terima kasih atas pertolonganmu waktu itu Holley dan maafkan aku karena sempat mencurigaimu tadi" ucap Frank tulus.
"Sama - sama teman" sahut Holley santai kemudian setelah meneguk vodkanya kembali, ia pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Satu hal yang tidak kumengerti darimu, bagaimana bisa kau terjebak di tempat ini dengan membiarkan nyawamu sendiri terancam padahal setahuku kau memiliki kehidupan serta keluarga yang menyenangkan.
Apa bagimu itu belum cukup atau memang kau tak sayang pada nyawamu sendiri?" ucap Holley berkomentar.
Frank memalingkan tatapannya pada minumannya yang kini tampak kosong.
"Ada banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupku yang tak mungkin aku ceritakan padamu.
Setiap orang memiliki masalah, kau tahu itu bukan?" sahut Frank dengan nada rendah.
"Yeah, jika kau berpikiran demikian itu hakmu tapi setidaknya aku ingin tahu bagaimana kabar istrimu, wanita cantik bermata indah itu?
Apa kau masih memiliki masalah dengannya?
Karena ku pikir, hanya orang yang bermasalah yang datang kemari terlepas dari mereka yang mereka yang mencari kesenangan di tempat ini" tanya Holley ingin tahu.
Tatapan Frank kembali menyempit, kali ini ia sedikit tak mengerti pertanyaan Holley padanya.
"Istri?
Siapa maksudmu?" tanya Frank tak mengerti.
Melihat respon Frank, seketika itupun Holley tertawa malas.
"Ayolah Frank, jangan katakan kau adalah termasuk tipe pria yang selalu menyangkal dengan statusmu sendiri.
Jika memang wanita berambut pirang emas di rumahmu itu bukankah istrimu, lalu siapa dia?
Tunanganmu atau kekasihmu?" Holley mengakhiri ucapannya untuk meneguk minumannya hingga tak tersisa dan kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya.
"Siapapun dia bagimu Frank Jefferson aku berpendapat dia bukanlah wanita rendahan yang sering aku temui selama ini, bisa di bilang dia memiliki sesuatu yang berbeda dari wanita pada umumnya.
Seperti sesuatu yang istimewa..., karena firasatku mengatakan seperti itu.
Itulah sebabnya sampai saat ini aku tak mengerti bagaimana bisa kau tampak tak bahagia hidup bersama dengan wanita seperti dia?
Yeah, jangan menganggapku sok tahu dengan urusan pribadimu, aku mengatakannya karena aku juga sama - sama wanita walupun pada dasarnya kami berdua hidup dari kehidupan yang berbeda" Holley mengakhiri kalimatnya.
"Aku memang berutang nyawa padamu Holley Scott tapi bukan berarti kau bisa mengkritik ataupun mengkomentari kehidupanku menurut pandanganmu sendiri.
Ada banyak berbagai hal yang tak akan pernah kau mengerti.
Aku menghargaimu dalam menilai kehidupan pribadiku berdasarkan sudut pandangmu sendiri tapi jika saat ini kau selalu menyudutkanku untuk membicarakan hal ini dengan sangat menyesal aku tak bisa menemanimu mengobrol lebih jauh lagi malam ini jadi aku harap kau mau mengerti" tutur Frank kemudian setelah itu ia menaruh beberapa dolar di atas meja bartender lalu beranjak pergi dari tempat duduknya.
Namun baru saja ia berbalik untuk pergi, seseorang bertubuh besar menghalangi langkahnya.
"Kau memang memilik nyali yang besar untuk kembali ke tempat ini namun itu tak berarti aku akan membiarkanmu pergi begitu saja" suara berat itu terdengar mengancam.
Mau tak mau Frank pun harus meladeni pria besar yang kini tepat di hadapannya, tanpa rasa takut ia pun menatap tajam pria besar yang pernah menghajarnya waktu itu.
"Aku tak pernah merasa punya urusan denganmu jadi untuk apa kau selalu mencari masalah denganku dan perlu kau tahu Mr Big, memang kau pernah mengalahkanku waktu itu tetapi perlu kau ingat, kemenangan tidak mutlak berada di tanganmu sebab pria sejati bukanlah pria yang hanya mengandalkan ototnya saja namun juga kemampuan otaknya" sahut Frank tenang dengan nada menantang.
"Brengs\*k sialan!!" pria bernama Billy Dog itu memaki marah, dengan garang ia mendorong tubuh Frank ke belakang namun tanpa di duganya, Frank berhasil mengimbangi serangan mendadak itu.
Frank tetap berdiri tegap di tempatnya semula seperti tak terjadi apa - apa.
"Nyalimu memang besar bung dengan berlagak sok di depanku sekarang.
Kau memang memiliki modal besar untuk pamer dengan memamerkan ketampanan yang kau miliki pada setiap wanita yang ingin kau tiduri tetapi sayang sekali, sebaiknya cepat - cepat kau ucapkan selamat tinggal pada wajah tampanmu itu sekarang karena sebentar lagi kau akan meratapi wajah burukmu karena berani menantangku" pria besar bernama Billy Dog itu tampak tak main - main dengan ucapannya.
Setelah mengucapkan ancaman itu, tanpa berkata apa - apa lagi Billy dog melayangkan tinjunya di wajah Frank yang cukup dekat berada di depannya namun seakan tahu akan mendapatkan serangan itu dengan sigap Frank dapat menghindar dan menepisnya.
"Tunggu!!!" cegah seseorang berseru dengan tiba - tiba diantara ketegangan yang kini ada diantara Frank Jefferson dan Billy Dog.
Billy yang hendak menyerang balik Frank kembali seketika itupun langsung terhenti, mengurungkan niatnya seakan ia mengenali si pemilik suara itu.
"Kau akan berutang banyak padaku Billy jika kau sedikitpun membuat Frank Jefferson lecet!!" ancaman itu terdengar keras diantara kepenatan di dalam bar yang kini tampak karena kekacauan itu.
"Carol...?" nama itu di ucapkan Billy dengan suara seperti di cekik.
Kedatangan Carol Gilmore saat itu sepertinya mengejutkan Billy Dog, dengan langkah menggodanya wanita berambut hitam itu menghampiri mereka berdua, Billy Dog dan Frank Jefferson yang tetap tenang dengan apa yang dihadapinya sekarang.
"Bila kau tetap melakukan niatmu padanya dan membuat kekacauan di tempat ini lagi maka aku tak akan segan membuat perhitungan denganmu Billy, kau akan berurusan denganku!" tukas Carol tajam, kemudian setelah ia mengatakan ancaman itu mata besar hitamnya menatap Frank yang berdiri tanpa ekspresi.
"Dia teman kencanku malam ini jadi jangan coba - coba menggangunya!" tutur Carol kemudian seraya beralih menatap Billy Dog yang kini hanya bisa berdiri termangu.
"Dan kau Holley Scott, jangan coba - coba bermimpi mendekati Frank Jefferson ataupun mencari muka di depannya, ingat itu!" Carol berseru kembali pada Holley Scott yang masih duduk di belakang Frank.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...