
"Frank..." hanya nama itu yang dapat kuucapkan saat ini.
Setelah apa yang baru saja terjadi padaku membuatku ingin membersihkan diri di bawah pancuran air yang mengalir deras di atasku.
Kehormatanku telah direnggut secara paksa, yang lebih menyakitkan adalah Frank lah yang melakukannya padaku, pria yang kucintai setulus hatiku dan ia melakukannya bukan atas dasar cinta tapi justru kebenciannya yang begitu mendalam padaku.
Seakan kehilangan tenaga, aku duduk bersimpuh dan menangis sejadi - jadinya diantara guyuran air yang membasahiku.
Aku mencintainya, mencintai seorang Frank Jefferson...
Dialah pria yang selama ini membuat hati dan perasaanku gelisah bila berada di dekatnya.
Itulah jawaban dari pertanyaan yang selama ini memenuhi kepala dan pikiranku.
Namun jawaban yang kudapat darinya adalah kebencian.
Frank membenciku, tak ada rasa cinta sedikitpun di hatinya.
Hal itulah yang menyakitkan dan menghancurkan perasaanku.
Entah apa yang terjadi jika Frank mengetahui hal ini, ia memperkos* ku dan karena mabuk ia melakukannya.
Ia akan semakin membenciku dan membenci dirinya sendiri jika tahu kebenaran ini.
Frank tak akan memaafkan dirinya sendiri, itu yang pernah ia ucapkan padaku tempo hari.
Hingga sebuah keputusan telah aku ambil, akan kuterima segala konsekuensinya.
Frank tak akan tahu kebenaran ini, ia tak akan pernah tahu tentang semua yang terjadi malam ini.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Ini dimana?" pertanyaan itulah yang pertama kali keluar di pikiran Frank sekarang.
Ia menggeleng - gelengkan kepalanya yang terasa pusing dan berputar - putar seakan apa yang ada dan tampak di depannya sekarang ingin menelannya hidup - hidup.
Susah payah ia berusaha memperjelas penglihatannya, di bukanya lebar - lebar kedua matanya yang terasa berat.
Ia membalikkan posisi tubuhnya yang telungkup di atas ranjang, kepalanya miring di atas bantal yang tersusun cukup tinggi membuatnya nyaman dari tidurnya dan kini ia sadar kalau ia berada di rumahnya sendiri tepatnya di kamar miliknya yang terletak di lantai dua.
Kesadarannya Frank bertambah saat ia mulai menyadari kalau sekarang ia tak mengenakan apapun di tubuhnya kecuali hanya sebuah selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
Sadar akan hal itu, ia merasa malu dengan ketelanj*ngannya sendiri.
Berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya sekarang.
Bagaimana ia sampai di rumahnya sendiri dan apa yang terjadi pada dirinya semalam?
Tak ada yang ia ingat sebelum ini semalam, seingatnya ia terakhir berada di Bar dan berkelahi melawan pria - pria besar yang mengganggunya saat ia tenggelam dengan perasaan emosinya sendiri, di bawah pengaruh berbotol - botol alkohol yang diminumnya.
Ia mabuk berat semalam, hanya itu yang ia tahu dan di ingatnya malam itu.
"Menyebalkan sekali bukan?" Ungkapnya sendiri dalam hati.
Tapi yang satu yang menjadi pertanyaannya sekarang, siapa yang menolong dan membawanya pulang?
Apakah orang yang sama?
Kenapa ia tidur dengan tel*nj*ng?
Siapa yang melakukannya?
Ia tak pernah tidur tanpa mengenakan apapun selama ini, itu bukanlah kebiasaanya.
Frank yakin terjadi sesuatu tadi malam, ia sangat yakin itu.
Hanya satu orang yang patut dicurigai, hanya satu di rumah ini.
Ia yakin orang itulah yang tahu jawabannya, hanya satu nama, Jeanny Anderson.
Ku tatap diriku sendiri lekat - lekat di meja kaca, di samping ranjangku.
Kupandangi diriku terus tanpa berkedip dengan pandangan samar.
"Benarkah ini aku, Jeanny Anderson sebelum 3 bulan sampai di tempat ini?"
Pagi ini aku merasa seperti bukanlah seperti diriku sendiri, aku merasa seperti orang asing.
Orang asing dengan wujud yang sama, Jeanny Anderson.
Semalam aku terus terjaga, bayangan kejadian malam itu seakan terus menghantui dan mengikutiku.
Ucapan kasar Frank masih jelas kuingat dengan jelas di pikiranku, pengakuan kebenciannya padaku.
Pagi ini setelah Kimmy dan Alex kuantarkan ke sekolahnya, aku merasa ada yang hilang dalam diriku.
Terlalu banyak kah yang hilang dariku?
Braakkkkk!!!!
Suara pintu di buka dengan kasar, hingga membuat lamunanku buyar.
Aku terkejut dan kemudian menoleh kebelakang, seseorang yang selama ini ada dan nyata selalu membayangiku, mimpi terburukku semalam.
Sosok itu berdiri tegap dengan ekspresi yang sama seperti malam itu, ekspresi menakutkan yang selalu ia tampilkan jika amarah serta emosinya tersulut padaku.
Tatapan matanya tak lepas dariku ketika ia berjalan dengan langkah panjangnya yang mantap saat menghampiriku.
Penampilannya tampak liar dengan hanya mengenakan celana pendek khaki warna hitam, dada bidangnya yang telanjang dengan bekas luka lebam yang masih kelihatan nampak membuat hatiku seakan menciut saat melihatnya.
Secara reflek akupun bangkit dari tempat duduk dan mundur menjauh darinya.
Namun seakan dapat membaca semua gerakan tubuhku, Frank merentangkan lengannya ke arahku kemudian menarikku dan menjatuhkanku ke ranjang dengan kasar, seperti semalam.
"Katakan padaku apa yang terjadi semalam?
Apa yang kau lakukan padaku semalam, wanita brengs\*k?!" tanyanya kasar, gerakan tubuhnya kaku menunjukkan emosinya yang meluap - luap di dadanya.
"Tidak!!" aku menggeleng cepat.
"Apa maksudmu Frank, kenapa kau bicara seperti itu padaku?" suaraku terdengar serak, teringat kembali dengan kejadian semalam membuatku tak bisa menahan air mata yang mulai merebak di sudut mataku.
"Jangan berusaha membohongiku, kau pikir aku bodoh?!
Aku tahu kau menutupi sesuatu dariku saat ini jadi jangan mencoba mempermainkanku karena aku tak main - main dengan ucapanku kali ini!" sahutnya garang.
"Tidak, aku benar - benar tak mengerti, tak ada yang terjadi Frank.
Semua baik - baik saja, semalam kau mabuk berat dan aku hanya membantu membawamu ke kamar agar kau bisa istirahat, itu saja tidak lebih" aku menjawab gugup, dengan menahan gejolak yang ada di dadaku membuatku tak bisa menahan air mata yang menetes di pipiku.
Frank tersenyum sinis, matanya menyiratkan rasa jijik yang mungkin sengaja ia tujukan padaku.
"Jika tak terjadi apa - apa, lantas kenapa kau menangis?!
Ingat miss Anderson, aku tahu di balik sikap anggun dan sok polosmu itu tersimpan jati diri seorang Anderson yang sesungguhnya.
Wanita picik yang bersembunyi di balik topeng keanggunan dan kepolosan seorang wanita.
Kau boleh merasa bangga dengan membohongi semua orang tapi aku ingatkan kau tak bisa membohongiku miss..,kau dengar itu?!!
Kau tak bisa menyembunyikan apapun dariku!!"
Ucapnya begitu jelas di telingaku.
"Kenapa...kenapa kau selalu mengucapkan kalimat kasar itu Frank?
Tak adakah rasa belas kasihanmu padaku?" kalimat itu meluncur begitu saja di bibirku yang masih terasa bergetar menahan tangis.
"Jangan kau pikir air mata dapat mengoyahkan pendirianku miss Anderson..." ucapnya seraya tersenyum sinis.
"Sudah berulang kali kukatakan, aku sudah sangat muak dengan sikap sok baikmu di depanku dan kedua adik tiriku.
Camkan ucapanku ini, cepat atau lambat aku akan mengetahui kebenarannya, kebusukkan yang kau simpan padaku dan jika terbukti telah terjadi sesuatu tadi malam, aku tak akan memaafkan diriku sendiri dan tidak juga untuk kau!!"
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...