
Frank melepas setelan jas yang dipakainya, dan melemparkannya di tepi ranjang.
Malam ini ia pulang lebih awal dari biasanya, karena beberapa hari ke depan ia akan mengambil cuti Natal.
Guyuran air hangat membasahi tubuhnya yang terasa penat dan lelah, seakan beban hari ini lepas terbawa arus air yang mengalir.
Matanya terpejam, mengingat ucapan pria asing di bar waktu itu.
Ucapannya bagai sebuah jawaban dan pencerahan atas semua yang terjadi dan dialami olehnya selama ini.
Entah kebetulan atau tidak, pria asing di bar itu seperti sengaja di kirim oleh Tuhan untuk membuka mata dan hatinya, semua ucapannya telah mengetuk hati nuraninya yang selama ini tertutup oleh rasa benci yang tak beralasan.
Perasaan benci pada seseorang, yang entah sejak kapan memenuhi hatinya selama ini.
Apapun itu ia ingin berubah, ia ingin membuka hati dan merubah sikapnya agar lebih baik dan tak arogan seperti sebelumnya.
..
..
..
Ketika ia hendak berbaring dan memejamkan mata, sebuah ketukan mengejutkan Frank.
Dengan langkah pelan namun pasti, ia membuka pintu itu dan kini tampak Miss Helen, pengurus rumah yang dipercaya Frank untuk menjaga Alex dan Kimmy.
"Maaf tuan menganggu waktu istirahat anda.." tuturnya canggung.
"Ada apa?" sahut Frank datar.
"Saya ingin memberikan ini pada anda.." ucapnya Miss Helen seraya menunjukkan sebuah benda kecil berkilau pada Frank, sebuah anting.
"Apa ini?" tanya Frank tak mengerti.
"Maaf sebelumnya tuan, saya menemukan anting ini tadi pagi saat membersihkan ranjang anda. Karena kelihatannya barang ini berharga jadi saya pikir ini mungkin milik anda" sahut Miss Helen yakin.
"Oh.." Frank masih tampak berpikir dan belum mengerti.
Namun tanpa ragu ia menerima anting yang diberikan miss Helen padanya.
"Trima kasih miss, kau adalah wanita yang jujur, aku tak salah mempercayakan Alex dan Kimmy padamu" ucap Frank pada wanita paruh baya di didepannya itu.
Miss Helen tersenyum menanggapi,
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai pengurus rumah di sini tuan.
Kalau begitu saya permisi, tuan.
Selamat beristirahat...." tutur miss Helen pada Frank yang masih berdiri termangu di depan pintu kamarnya.
Dipandanginya anting itu dengan seksama, "anting mutiara milik siapa?
Kenapa ada di ranjangku?" pikirnya dalam hati.
"Mungkinkah....?" sebuah nama ia sebutkan tanpa ia sadari.
Nama yang selalu memenuhi pikiran dan hatinya selama ini, Jeanny Anderson.
Tapi bagaimana bisa?
Frank pun kembali mengingat berbagai kejadian saat Jeanny berada di kamar miliknya.
Kejadian yang sebenarnya tak ingin ia ingat lagi dalam pikirannya namun kenyataan telah memaksanya untuk membuka lagi memori itu, untuk menemukan sebuah jawaban.
Dan mimpi itu kembali mengingatkannya kembali, mimpi tentang wanita itu.
Penyiksaan dan sikap kasar yang ia lakukan pada wanita malang dalam mimpinya itu.
Membuat hati Frank dengan tiba - tiba merasa sesak, ia merasa tak mengerti kalau ia bisa bersikap setega itu pada seorang wanita yang lemah dan rapuh, sungguh tak manusiawi.
Dengan frustasi ia meremas rambutnya dan kedua matanya memejam erat.
Semoga Tuhan mengampuni dosa - dosanya selama ini dan wanita itu, Jeanny Anderson akankah masih ada ruang untuknya untuk meminta maaf.
Entahlah..
Perasaannya sekarang sungguhlah rumit, rasa bencinya pada Jeanny Anderson bertambah setelah ia tahu kenyataan bahwa wanita itu hamil, hamil oleh seseorang dan dengan keras kepala Jeanny Anderson menutupinya dari dirinya.
Ia cemburu dan merasa murka, karena sikap Jeanny yang tertutup dan keras kepala.
Cemburu?
Kenapa ia harus cemburu?
"Jeanny Anderson...., mungkinkah aku mencintainya?" tanyanya dalam hati.
Ia harus memastikan itu, memastikan perasaan nya sendiri sekarang sebelum semuanya terlambat.
Ya, ia harus menemui seseorang untuk memastikan perasaannya sekali lagi.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
New York City, 21 Desember
"Ku mohon Nat ,katakan padamu dimana Jeanny?" Frank memohon penuh harap.
Malam itu sepulang dari kantor ia sengaja mendatangi apartemen Natasya Perrone untuk menanyakan perihal tentang Jeanny.
Ia ingin tahu dimana Jeanny kini, dan ia sangat yakin Natasya tahu keberadaan sahabatnya sendiri.
"Apa pedulimu?" balik Nat dengan nada ketus.
"Bukankah kau sendiri yang menginginkan kepergiannya dan sekarang dengan memasang tampang memelas kau ingin tahu keberadaan Jeanny.
Apa aku tidak salah dengar Mr Jefferson?" sindir Natasya tajam.
"Aku tahu aku salah, aku tahu akulah penyebab kekacauan ini.
Tapi mulai saat ini aku ingin memperbaikinya, aku ingin mencoba menebus semua kesalahanku padanya" suara Frank terdengar rendah dengan nada penuh penyesalan.
Natasya menatap Frank di depannya dengan tatapan ragu, ia hanya diam menunggu memastikan apakah apa yang baru saja ia dengar benar - benar diucapkan oleh Frank Jefferson, yang menurutnya adalah pribadi yang dingin dan keras.
Mengetahui Natasya yang tanpa reaksi, Frank mencoba menyakinkan wanita yang tampak dingin di depannya sekarang.
"Kau meragukan aku Nat, aku tahu itu..." tutur Frank datar, suaranya kini mengandung nada keputus - asaan.
Dengan langkah gontai, bagai seseorang yang sedang dilanda keputus - asaan, Frank duduk di sofa yang tak jauh di sampingnya.
"Harus bagaimana lagi agar membuatmu yakin dengan kesungguhanku Nat.
Aku yang memulainya dulu dan kini aku ingin mengakhiri dengan tanpa penyesalan" tutur Frank serius, kedua telapak tangannya menutupi dahinya.
Ia kini menatap lurus pada Natasya di depannya dengan ekspresi memohon.
"Penyesalan?
Kau bilang penyesalan?!" ulang Natasya dengan nada yang cukup tinggi, dengan ekspresi kesal ia mendekati Frank di depannya.
"Semudah itu kau mengatakannya Frank?!
Setelah apa yang kau lakukan pada Jeanny, kau menyakiti perasaannya, Frank!
"Setelah sekian lama apa yang Jeanny lakukan pada keluargamu dan dengan rendahnya kau lempar dan tendang dia di tempat yang ia sendiri tidak mengerti.
Tak sepantasnya kau perlakukan Jeanny sekeji itu!!" suara Natasya meninggi.
Frank berdiri, "aku pantas mendapatkan makian itu" lirihnya.
"Tapi katakanlah Nat apakah aku salah jika ingin mencoba memperbaiki kesalahanku sendiri?!" tanya Frank putus asa.
Melihat sikap diam Nat, Frank tidak ingin mencoba melanjutkan ucapannya.
Bukan mendekati namun ia berbalik menuju pintu luar dengan wajah putus asa, ia tahu sia - sia saja.
Semua yang ia katakan tak akan mengubah apa yang telah ia lakukan.
"Tunggu!!" cegat Natasya tiba - tiba.
Katakanlah padaku apa kau mencintainya?" suara Natasya terdengar begitu rendah namun terdengar jelas.
Mendengar pertanyaan memojokkan itu, Frank pun langsung menghentikan langkahnya.
Ia berbalik dan berkata.
"Apakah pernyataan cinta harus selalu di ucapkan dengan kata - kata?"
"Aku hanya ingin memastikan kau menemuinya bukan karena kasihan ataupun penyesalan tapi karena dorongan dari hati kecilmu bahwa kau mencintai Jeanny Anderson sama seperti ia mencintai Frank Jefferson, pria brengs*k yang telah menghamilinya."
Bagai di sengat aliran listrik, Frank seperti tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar dari bibir Natasya Perrone.
Dengan wajah terkejut dan tak percaya, ia berusaha merangkai kalimatnya yang terdengar tak begitu jelas.
"A-pa maksud ucapanmu Nat?
A-ku tak mengerti" ucapnya gagap.
"Apa harus ku ulangi lagi ucapanku kalau Jeanny begitu mencintaimu, karena begitu besar rasa cintanya padamu, ia menutupi perbuatan yang telah kau lakukan padanya di luar kesadaranmu sendiri" Nat mengucapkannya dengan jelas dan lantang.
Seperti mimpi saat mendengar kenyataan itu, kenyataan yang baru saja Natasya ungkapan padanya sekarang.
"Jeanny...hamil karena a-ku?"
A-ku lah ayah dari anak yang ada dalam rahimnya itu?!" Frank berseru tak percaya.
Natasya tersenyum kecut.
"Aku sama sekali tak mengerti seorang Frank Jefferson begitu buta dengan dendam dan kebencian yang sama sekali tak beralasan pada Jeanny Anderson, hingga ia sama sekali tak menyadari kalau wanita yang selalu ada di depan matanya sangat menderita karena cintanya pada pria yang selalu memandangnya dengan sebelah mata.
Dalam perjalanan Frank tak henti - hentinya memaki dirinya di sendiri.
Ia gila dan hampir tak bisa bernafas dengan kegilaannya sendiri.
Begitu kejamnya dia pada seorang wanita lemah yang selama ini ia benci.
Dalam kemarahannya itu, Frank menambah kecepatan mobilnya, menerjang mobil - mobil lain yang melaju cepat di depannya.
Pikirannya tidak pada tempat ini, perjalanan ini namun berbagai kejadian bodoh yang kini begitu menyesakkan dadanya, hingga ia begitu ingin menjerit.
Makian kasar, sikap dingin dan arogan serta tuduhan- tuduhan tolol yang memang sama sekali tak beralasan.
Ia ingat betul ucapan Natasya padanya tadi, rasanya ia ingin mati saja saat itu.
"Ya, Tuhan ampunilah aku!!!" serunya histeris.
"Kenapa selama ini aku begitu buta mata dan hati?
Kenapa aku begitu tega menghancurkan masa depan wanita yang kini ku cintai?
Begitu bodohnya aku, menyia - nyia kan kesempatan yang seharusnya ada di depan mataku saat itu!" makinya dalam hati.
"Kesempatan yang dapat mengubah jalan hidup dan kebahagian yang sejak dulu ia impikan, bersama dengan wanita yang mencintai dan dicintainya, Jeanny Anderson.
Ya, Jeanny Anderson..., nama itu, nama wanita yang kucintai...
Semua ini belum terlambat, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku.
Ya, aku yakin itu..." ucap Frank dalam hati.
Inilah jawaban dari mimpi yang terus menghantuinya akhir - akhir ini.
Mimpi itulah yang menuntunnya untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Kebenaran yang selama ini tak pernah ia tahu, bahwa ialah ayah dari bayi yang di kandung Jeanny Anderson.
Frank sendirilah yang menghamilinya, walaupun semua itu terjadi di luar kesadarannya sendiri namun mimpi itulah yang membuktikan semuanya, kebenaran yang selama ini Jeanny sembunyikan darinya dan kini ia tahu kenapa wanita itu menutupi kejadian malam itu darinya.
Semua ucapan yang pernah Natasya katakan padanya memanglah benar.
Kebenciannya selama ini pada Jeanny anderson telah menutupi akal sehatnya, bahwa selama ini ia salah menilai Jeanny Anderson.
Kini ia baru menyadari perasaannya sendiri, kalau yang ia rasakan selama ini adalah *cinta* bukanlah benci, namun ego'nya menutupi perasaan itu.
Ia mencintai wanita itu, mencintai Jeanny Anderson itulah kenyataan yang sebenarnya selama ini.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...