
Saat aku terasa lama menghitung waktu yang seakan lambat berjalan, suara pintu dibuka didepanku pun menyentakkanku.
"Hallo, Jeanny." Pria yang menyebut dirinya devil itu menyeringai padaku.
"Bagaimana apakah kau sudah menikmati waktu sendirimu?" Tanyanya seolah mengejek.
"Empphmm...!!" Jawabku keras dengan menatap memohon pria bertubuh kekar di depanku, berharap ia mau membuka sumpalan di mulutku yang amat menyiksa.
"Kenapa? Kau mau aku membukakan lakban itu?" Tanyanya pura - pura bodoh dan aku hanya mengangguk cepat.
"Aku akan membukanya asalkan kau mau menuruti keinginanku, bagaimana? Apa kau setuju? Aku tidak suka bernegosiasi tapi kali ini kuberi kau pengecualian karena aku menyukaimu, Jeanny. Dan aku tak suka mengulangi ucapanku untuk kedua kalinya." Ucapnya mengancam.
Tanpa berpikir panjang akupun mengangguk dengan cepat. Karena hanya ini caranya agar aku bisa mengulur waktu dengannya sekarang.
"Bagus! Aku suka wanita yang berprinsip!" Sahutnya tersenyum licik, kemudian dengan cepat pria itupun membuka lakban yang menutupi mulutku hingga aku sempat menjerit karena sakit dan perih disekitar mulutku.
"Kumohon Vince tolonglah lepaskan aku! kumohon!" Pintaku serak, merasa lega akhirnya aku bisa mengeluarkan suara kembali.
"Ups! Tidak semudah itu sayang, bukankah kau tadi sudah berjanji untuk mau melakukan apapun yang aku minta?" Seringainya kembali seraya menyentuh dagu dan bibirku dengan tangan kasarnya.
Akupun menatapnya dengan penuh ketakutan namun aku berusaha berpikir dingin agar aku bisa mengulur waktu kembali.
"Bagaimana aku akan menuruti keinginanmu jika aku terikat seperti ini, Vince?" Bujukku kembali dengan tatapan mengiba.
"Hahahha, kau cerdas sekali Jeanny! Aku tak menyangka kau juga wanita yang menarik selain berwajah cantik!" Sahut Devil tertawa.
"Tenang sayang, tidak perlu terburu - buru. Masih banyak waktu, kita bisa melakukan pemanasan dulu bukan?" Ucapnya kembali seraya menempelkan wajahnya padaku dengan begitu dekat hingga dapat kurasakan nafasnya yang kasar di wajahku, susah payah aku menahan diriku agar tetap terlihat tenang di depannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku lirih.
"Bercinta, sebelum aku melakukan ritual untuk menyingkirkanmu, apa salahnya kalau kita bersenang senang dulu bukan?" Ucapnya dengan suara berat, mendengarnya tentu saja membuatku bergidik ngeri seketika.
"Layani aku dulu Jeanny, jika aku merasa puas dengan permainanmu, aku mungkin akan berubah pikiran dan akan berbaik hati padamu."
"A-pa... yang harus kulakukan, Vince?" Tanyaku gemetar dengan menahan ketakutan yang melingkupiku sekarang.
"Cium bibirku dengan keahlian yang kau miliki, jika aku merasa senang aku akan berbaik hati melepaskan ikatan di tangan dan kakimu!"
Deg!
"Astaga, Ya Tuhan! Apakah aku harus bersikap rendah sekarang agar aku bisa lepas dari pria brengsek dan menakutkan ini?!"
Dalam diam aku berpikir jika aku tak menuruti keinginannya mungkin kesempatanku untuk bisa lepas akan hilang, mengingat tak ada cara lain lagi dan aku juga tak bisa melawannya karena jelas sekali pria ini bukanlah orang biasa. Jika dengan kekuatan tak bisa melawan maka hanya dengan strategi cara lain untuk bisa bebas.
Awalnya aku ragu untuk mencium pria asing ini namun dengan menutup kedua mataku, maka akupun mulai mencium bibirnya.
Geli dan jijik rasanya! Bagaimana membayangkan aku bisa mencium pria asing dengan agresif tentu saja membuatku ingin muntah!? Tapi aku berusaha melakukan yang terbaik karena kali ini nyawaku adalah taruhannya.
Ciumanku lembut dan perlahan, seolah berusaha membayangkan aku melakukannya dengan orang yang kucintai. Dan entah kenapa bayangan Frank Jefferson adalah yang pertama kali muncul dalam pikiranku saat ini.
"Aaahh sweety, kau manis sekali." Desahnya serak saat aku melepas cumbuanku mencoba menghirup oksigen.
"Kau pintar juga membuat hasr*tku bangkit." Godanya dengan tatapan yang kini berkabut karena dilingkupi gairah.
"Puaskan aku sweety maka aku akan melepas ikatanmu, cepatlah!" Perintahnya.
Kembali aku mencumbunya hingga Devil merasa kewalahan mengimbangi permainanku, kemudian entah bagaimana aku merasakan dia mulai membuka ikatan di tanganku dengan sebuah pisau lipat yang mungkin di ambil dari saku celananya.
Aku merasa senang dalam hati, satu langkah lagi aku akan berhasil dan bisa lepas dari ikatan di kakiku.
"Stop, baby! Kau akan membuatku meledak nanti sebelum aku benar - benar menyentuhmu!" Serunya dengan nafas terengah - engah karena terbakar hasr*t.
"Cih, jangan harap!!!" Umpatku dalam hati merasa jijik.
Kini pria yang sudah dilingkupi nafs* setan itu mendorong tubuhku dengan kasar hingga aku jatuh terbaring di lantai yang dingin, kakiku yang masih terikat tali dengan kencangpun membatasi ruang gerakku saat ini, hanya tangan yang sudah bisa bergerak bebas, namun Devil kini memegang kuat kedua tanganku di atas kepalaku kemudian ******* bibirku dengan brutal.
Kali ini dia bertindak agresif hingga membuatku tersentak tak bisa bernafas karena cumbuannya begitu intens masuk kedalam bibirku dan melum*tnya habis tanpa jeda.
"Emmphh...! Emmphm!!" Aku mencoba berontak karena merasa sesak.
Dapat kurasakan salah satu tangan Devil yang lain menyentuh kasar seluruh tubuhku, dari leher hingga turun ke dada dan kemudian meremasnya dengan kasar hingga aku memekik. Pinggulnya mulai bergerak naik turun dengan cepat seolah sedang benar - benar menyatukan tubuhnya, dapat kurasakan tonjolan keras di pusat tubuhnya sekarang. Namun aku masih bersyukur kali ini karena pakaian kami masih lengkap.
Aku berusaha kuat melepaskan tanganku dari cengkraman tangannya dan aku bersorak girang dalam hati karena akhirnya aku bisa melakukannya. Masih dilingkupi gair*h hingga pria bernama Devil itu tak menyadari kalau salah satu tanganku yang bebas berusaha mencari pisau lipat yang sempat kulihat tadi tergeletak di lantai tak jauh ada diantara kami.
Aku merabanya berusaha mencarinya dan akhirnya kutemukan, tanpa pikir panjang lagi-
JLEBB!!!
"Aakhh!! Dasar wanita brengs*k jal*ng!!!!" Umpat Devil berteriak saat aku menancapkan pisau itu di bahunya yang kekar.
Kemudian dengan cepat kusikut dengan tumit kakiku sekuat tenaga pusat kehidupannya yang berada di bagian tengah pahanya itu.
Pria itupun semakin menjerit dan berteriak keras mengucapkan sumpah serapah padaku diantara rasa sakit yang ia rasakan kini.
Saat aku berhasil lepas dari tubuh Devil, dengan pisau lipat yang masih berada ditanganku, aku bergerak cepat memotong tali yang mengikat kedua pergelangan kakiku kemudian berlari keluar berusaha berlindung dari pria menakutkan yang masih tampak merintih kesakitan.
Aku berlari tak tentu arah dengan panik, dan kini aku baru menyadari kalau aku berada di sebuah bangunan tua yang besar dengan banyak tumpukan peti yang tersusun tinggi.
Mataku dengan cepat bergerak mencari sesuatu yang bisa di jadikan bantuan dan akupun bersyukur karena aku menemukan sebuah ponsel di atas sebuah meja tua yang terletak disudut ruangan bangunan itu. Sepertinya ponsel milik si pria mesum Vince.
Tanpa berpikir panjang kuambil ponsel itu dengan cepat dan berlari kembali berusaha menemukan jalan keluar.
Aku harus lari sejauh mungkin sebelum pria itu bisa menyusulku dan membunuhku!
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...