
Setelah 3 hari sejak kejadian penembakkan Frank, Frank berhasil melewati masa kritisnya. Dokter berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tubuh bagian punggungnya, beruntung peluru itu tidak menembus hingga ke dada dan mengenai jantung Frank. Aku sangat bersyukur akan hal itu.
Kini setelah Frank melewati masa kritisnya, ia pun kembali sadar untuk yang pertama kali.
Dan selama masa kritis itu, Joseph mengizinkan aku untuk menjaga Frank. Namun sejak kehadiran Laura, aku mengurungkan niat itu. Karena selama itu pula Laura yang berinisiatif menjaga dan merawat Frank selama dalam rumah sakit. Tentu saja Laura yang lebih berhak karena dia memang adalah tunangan Frank Jefferson.
Dan siang itu di flat milikku, saat aku tengah bersama dengan Ian dan Joseph suara panggilan telepon dari nomer asing pun mengejutkanku.
Dengan reflek pun aku menatap Joseph yang berada di depanku.
"Dari siapa?" Tanyanya.
"Entahlah, nomer tak dikenal." Sahutku ragu.
"Angkat saja, siapa tahu itu nomer penting." Ujar Joseph membujukku yang tampak ragu.
"Baiklah."
"Hallo."
"Jeanny?" Sahut suara si penelepon, ternyata seorang wanita dan aku rasa aku mengenal suara itu.
"Ini aku Laura Harris. Bisa kau kerumah sakit sekarang?" Tanyanya.
"Rumah sakit? Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Frank?!" Sahutku dengan suara cemas.
"Dia ingin bertemu denganmu, berkali - kali ia menyebut namamu dalam tidurnya, membuatku tidak tega karena kondisinya belum pulih benar. Karena itu maukah kau kesini dan menemuinya?" Pinta Laura dengan suara lirih.
"Aku?" Tanyaku ragu.
"Ya, kali ini aku memohon secara pribadi padamu, Jeanny. Anggap saja ini adalah permintaan dariku." Ujar Laura.
Netraku menatap Joseph yang tepat berada di depanku seolah ingin melihat reaksinya, seperti tahu Joseph hanya tersenyum lembut seolah memberikan izin.
"Baiklah, aku akan datang nanti." Aku menyahut kemudian.
"Terima kasih, Jeanny. Kami menunggu kedatanganmu disini." Ucap Laura sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
"Bagaimana keadaan Frank?" Joseph bertanya.
"Dia sudah sadar dan Laura memintaku untuk menemui Frank karena Frank ingin bertemu denganku." Jawabku jujur.
"Tak apa Jeanny, kau datangplah kesana. Ian aman bersamaku, karena tak baik bukan anak seumuran Ian berada di rumah sakit?" Ucap Joseph pengertian.
"Ta-pi?" Tanyaku ragu.
"Kau jangan khawatir, aku tak apa - apa. Temuilah Frank, karena bagaimanapun juga Frank yang telah menyelamatkanmu, Jeanny. Kalau saja dia yang tak memberitahu padaku, bahwa kau diculik waktu itu, aku juga tak bisa bertindak cepat saat itu. Kini saat dia membutuhkanmu, mana mungkin aku akan melarangmu untuk menemuinya? Joseph menyahut dengan bijaksana.
"Baiklah terima kasih, Joseph. Aku bahagia karena memilikimu menjadi pendampingku." Ucapku tulus seraya memeluknya sebagai ucapan terima kasih.
"Sama - sama, Jeanny. Tolong sampaikan permintaan maafku untuk Frank nanti padanya. Katakan aku menyesal karena tak sengaja melukainya."
..
..
Presbiterian Hospital, New York.
"Aku senang kau mau datang, Jeanny." Tutur Laura padaku saat aku baru sampai di rumah sakit dimana tempat Frank dirawat dan menjalani masa pemulihannya.
"Bagaimana keadaan Frank sekarang?" Tanyaku cemas.
"Kondisinya sudah lebih baik, dokter bilang hanya tinggal menyembuhkan luka dalamnya saja. Dia sudah sadar sejak semalam, dan berkali - kali menyebutkan namamu dalam tidurnya." Sahut Laura menjelaskan.
Kutatap wajah cantik eksotik itu dalam - dalam. Tak ada kecemburuan atau kemarahan yang tercermin diwajahnya sekarang. Sungguh berbeda dari saat pertemuan kami waktu itu saat berada di mansion Frank. Tapi kenapa?
Namun sebelum Laura melangkah pergi, aku cepat - cepat mencegahnya.
"Kenapa kau berubah baik padaku, Laura? Bukankah kau tidak menyukaiku karena aku adalah mantan istri dari Frank, tunanganmu?" Tanyaku penasaran.
Wanita itu hanya tersenyum simpul dan berkata.
"Walaupun aku adalah tunangan Frank Jefferson tapi hanya ada namamu dihatinya selama ini. Aku sebagai wanita yang mencintainya tidak bisa menutup mata untuk itu, Jeanny Anderson." Sahutnya lirih kemudian dia berlalu pergi meninggalkanku begitu saja.
Cukup lama aku berpikir dalam diam, mencoba untuk memahami apa yang diucapkan Laura padaku. Hingga akhirnya akupun membuka pintu ruangan dan masuk kedalam sebelum menghembuskan nafas dalam - dalam.
"Jeanny...??" Panggil Frank lirih saat melihat kehadiranku. Senyum terbit diwajahnya kini saat tatapan kami saling bertemu.
"Hallo, Frank. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanyaku mendekatinya. Melihat keadaan Frank sekarang membuat hatiku perih namun bahagia karena Frank berhasil selamat dari maut. Kini tubuhnya tampak terbaring lemah dengan infus yang masih menempel diurat nadinya. Bekas operasi di bagian punggungnya terlihat di perban.
"Aku baik - baik saja. Bagaimana keadaanmu Jeanny? Apakah kau terluka karena bajing*n itu? Apakah dia melukaimu?" Frank bertanya dengan kening melipat.
"Aku sekarang baik - baik saja, Frank, kau tak perlu mencemaskanku. Sekarang pulihkan saja dirimu agar kau bisa sembuh karena Ian berkali - kali menanyakanmu." Sahutku.
"Sungguh? Apa anak kita tahu aku berada disini, Jeanny?" Tanyanya kembali.
"Ya, aku hanya mengatakan padanya kau terluka karena mencoba menolongku namun aku tak mengatakan kau sempat kritis karena tertembak." Aku menjawab lirih.
Tanpa aku duga, Frank meraih jemari tanganku dan menggenggamnya lembut, kini ia menatapku dengan tatapan lemah.
"Maafkan aku, Jeanny. Karena aku terlambat menyelamatkanmu hingga kau harus mengalami kejadian buruk seperti itu. Sekali lagi maafkan aku..." Ucapnya sungguh - sungguh.
"Kau ini bicara apa? Bukankah kau dan Joseph yang datang menyelamatkanku, hingga sampai kau terluka seperti ini?!" Jawabku dengan suara tegas.
"Dan Joseph, dia juga meminta maaf padamu karena dia, kau terluka seperti ini." Tambahku.
"Joseph? Kenapa dia harus meminta maaf? Aku sendirilah yang memintanya untuk menembak waktu itu. Jadi aku seperti ini bukanlah kesalahannya." Frank menjawab, dan jawabannya itu cukup mengejutkanku.
"Bagaimanapun dia tetap merasa bersalah karena tak sengaja melukaimu hingga kau terluka dan hampir kehilangan nyawa." Tuturku kembali.
"Joseph Hayden pria yang baik. Aku telah salah menilainya sebagai rivalku selama ini. Apa kau mencintainya, Jeanny?" Frank bertanya tiba - tiba.
"Kenapa kau menanyakan hal itu? Itu bukanlah urusanmu, Frank. Dimana hatiku berlabuh hanya aku sendiri yang berhak tau." Aku menjawab dingin.
Frank semakin mempererat genggaman tangannya padaku.
"Kumohon, Jangan tinggalkan aku, Jeanny. Aku mencintaimu sejak dulu sampai sekarang. Dan rasa cinta ini tak pernah berubah sedikitpun sampai saat ini. Karena itu kumohon kembalilah padaku, sayang. Hanya kau satu - satunya wanita yang kucintai selama hidupku."
Tutur Frank dengan tatapan memohon.
Melihatnya seperti itu, tentu saja membuat hatiku sempat tersentuh namun dengan logikaku aku mencoba untuk berpikir logis. Dengan pelan namun pasti aku melepas genggaman tangannya padaku.
"Maaf Frank, aku tidak bisa kembali padamu. Kita sudah berpisah cukup lama dan tak mungkin bisa kembali lagi seperti dulu."
"Kenapa, Jeanny??" Tanya Frank menatapku sendu.
"Aku akan menikah dengan Joseph Hayden dan akan kembali ke Paris. Kuharap kau bisa mengerti Frank, ini sudah menjadi keputusanku. Aku sudah memilih Joseph sebagai pelabuhan terakhirku, jadi tolong mengertilah..." Ucapku dengan suara tertahan, sesak kurasakan di dadaku saat mencoba mengatakannya di depan Frank. Tapi kenapa?
Hening.
Frank diam tanpa sepatah kata, namun beberapa saat aku melihat di kedua matanya kini mulai berkabut karena mencoba menahan air mata.
"Apa kau benar - benar akan meninggalkanku, Jeanny? Itulah keputusanmu?" Tanyanya serak.
"Maafkan aku, Frank. Itu sudah menjadi keputusanku. Kuharap kau juga bisa berbahagia hidup bersama dengan Laura. Dia wanita yang baik dan mencintaimu tulus, aku yakin kau bisa mencintainya."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...