
"Kau jahat Frank! Mengapa kau biarkan Jeanny mengembalikan perabotan ke tempat semula?!"
Si kecil Kimmy tiba - tiba menghampiri kamar Frank, dimana pagi itu dia masih terjaga.
"Aku yang memintanya" sahutnya singkat tanpa ekspresi.
Kimmy mengeluh kesal.
"Kenapa kau melakukannya?!
Aku suka dengan gaya yang Jeanny buat di rumah ini, Frank.
Kumohon Frank, katakan padanya jangan mengembalikannya lagi" Kimmy merengek memohon.
Namun seperti biasa jika diminta sesuatu tentang Jeanny, Frank tak mau ambil bagian.
Ia benci dengan perempuan itu, sangat membencinya.
"Keluar kau Kimmy! Kuperingatkan kau untuk tak perlu bersikap manis padanya jika kau masih uang jajan. Kau dengar itu?!" Frank berseru marah.
Tak banyak yang di lakukan Kimmy dengan menahan kecewa yang amat sangat ia pun menuruti ucapan kakaknya, walaupun dalam hati ia tak suka jika Frank bersikap kasar pada Jeanny.
Tapi apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil seusia Kimmy?
Tak ada.
Semakin wanita itu membuat kedua adiknya simpatik, semakin ia membenci Jeanny Anderson.
Sampai saat ini pun, ia tak mengerti kenapa dirinya seperti orang tolol yang haus akan wanita.
Saat dirinya menangkap basah Jeanny Anderson malam itu dengan keadaan setengah telanjang.
Amarahnya mereda untuk sesaat, bahkan ia sendiri lupa pada apa yang akan dilakukannya malam itu saat tahu keadaan rumahnya berubah drastis.
Seandainya saja keadaannya tidak seperti ini dan Jeanny Anderson bukan wanita yang di bencinya mungkin saja ia akan memeluk wanita itu dan tak ingin melepaskannya begitu saja.
Tapi kenyataannya lain dengan yang ia inginkan, ia membenci Jeanny Anderson melebihi siapapun dan ia menginginkan wanita itu pergi dari kehidupannya untuk selamanya.
"Sial !!!" Frank mengumpat kesal dan melemparkan vas kecil yang terbuat dari plastik di samping ranjang miliknya.
Kenapa ia harus menemui wanita seperti Jeanny Anderson dalam hidupnya?
Kenapa ia harus mengenalnya?
Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika suatu saat nanti wanita itu berhasil membuatnya bertekuk lutut.
###
Rasanya aku ingin menangis jika mengingatnya, ucapan Frank dan setiap kalimat pedasnya yang begitu menyakitkan hati.
Ingin aku pergi dari rumah ini dan melupakan segala kenangan pahit di rumah ini.
Namun aku ingat dengan janjiku sendiri saat itu.
Saat aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di rumah ini setelah kepulanganku di San Fransisco tempo hari.
Aku akan menerima segala konsekuensinya, resiko dan akibat ini semua ketika aku menjadi bagian dari mereka, keluarga Jefferson.
Alex dan Kimmy adalah tujuan utama aku berada di rumah ini, alasanku untuk bertahan.
Aku tak mau mereka terlantarkan begitu saja tanpa mendapatkan kasih sayang dari pengganti ibu mereka.
Sejak pagi itu, Frank tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
Aku tak tahu apakah ia sengaja ataukah ia ingin beristirahat total setelah beberapa hari menghabiskan segala waktunya untuk pekerjaan.
Pintu depan terbuka lebar, saat aku tengah membersihkan perabotan.
"Ya ampun Alex..! Apa yang terjadi?!"
Aku berseru panik saat melihat keadaan Alex yang tak karuan.
Tubuhnya yang gendut tampak lebam di sana sini, baju dan celananya lusuh dan kotor, banyak debu atau mungkin lumpur yang menempel di dahi dan pipinya.
"Jeanny aku baru saja mengalahkan ketua preman di sekolahku" ia menyahut santai.
"Kau tahu? mereka semua memanggilku dengan sebutan Jagoan baru, saat Mark gembel itu berhasil aku pukul sekali telak!" ceritanya bangga.
Aku bersimpuh di depannya dan menggeleng pelan.
"Kau menang Alex..., tapi apa yang kau dapat sekarang?" tanyaku seraya menunjuk ke arah pakaiannya.
Ia menundukkan kepalanya ke bawah dan berbisik pelan, "aku tahu..."
"Jika kau tahu, kenapa kau melakukannya? tanyaku kembali membandingkan.
Ia menatapku seakan hendak memprotes,
"Kau tak tahu Jeanny, Mark yang memukulku terlebih dulu dan - "
"Sudahlah..., nanti saja ceritanya.
Sekarang gantilah pakaianmu dulu dan bersihkan dirimu, setelah itu kembali lah kesini! Kita perlu bicara Alex..., tentang perkelahian itu" perintahku sengaja memotong sebelum Alex melanjutkan ceritanya.
Alex mengangguk dan berjalan dengan gaya anak sekolahan.
Aku hanya bisa menggeleng memperhatikannya menuju kamar miliknya di sudut ruangan.
"Sekarang ceritakan bagaimana awal kejadiannya?" tanyaku
"Apa aku harus menceritakannya padamu Jeanny?" sahutnya ragu.
Jika kau tak menceritakannya padaku, aku tak akan tahu mana yang benar dan yang salah."
Wajah Alex yang masih kelihatan lebam akibat kena pukulan mulai berubah masam.
"Ceritakan sejujur - jujurnya jika tidak, aku tak akan tahu kau berada di pihak yang mana, ok?!" tambahku.
"Pulang sekolah aku melihat Mark mencoba menganggu Debbie" Alex memulai ceritanya.
Aku mencoba mendengarkannya seserius mungkin.
"Aku tak suka jika Mark memaksa Debbie untuk mengikuti aturannya" ucap Alex menambahkan.
Alisku langsung berkerut,
"aturan?" tanyaku
"Yeah,, dia selalu memaksa anak perempuan lain untuk mengikuti kemauannya untuk merokok, mengisap obat dan menggesek - gesekkan tubuhnya ke tubuh anak perempuan" ceritanya serius.
Kutatap kedua matanya, berjaga - jaga jika ia berbohong namun yang kulihat di matanya adalah kejujuran dan kepolosan.
"Debbie anak perempuan di kelasmu?" aku bertanya mencoba memastikan.
Alex mengangguk yakin kemudian mendesah pelan dan melanjutkan ceritanya kembali.
"Saat aku tahu dia melakukannya, langsung saja kupukul sekali telak! dan hebatnya dia langsung KO!" serunya semangat.
Aku memicingkan mata,
"Kau yakin itu Alex? Jika langsung KO kenapa keadaanmu seperti tadi?"
Setelah mendengarnya ku lihat, ia langsung menunduk seperti kehilangan semangat.
"Teman - teman Mark yang mengeroyoki ku, saat tahu pemimpin geng mereka kupukul mereka tidak tinggal diam" ucapnya lirih.
"Ya ampun, Alex...!" kubelai - belai rambutnya yang masih basah kena air.
"Pihak sekolah tahu hal ini?" tanyaku kembali memastikan, ia menggeleng pelan.
"Mrs Hansen justru memarahiku, ia menuduhku bersalah karena obat - obatan milik Mark berada di tanganku saat itu."
"Dan menganggap mu sebagai penyebab utama kekacauan itu?" tukasku tajam.
"Demi Tuhan Alex, kenapa kau terlibat dalam masalah besar ini?"
Kau tahu sayang..., apa hukuman dari pihak sekolah jika mereka tahu kau tetap bersalah?" ucapku cemas.
"Aku tahu Jeanny.., karena itu Mrs Hansen menyuruhku agar wali dariku menemuinya besok di sekolah" sahutnya.
Kuambil nafas panjang dan berkata,
"Ini tidak bisa dibiarkan terjadi Alex, kau bisa saja dikeluarkan dari sekolah karena masalah ini" ucapku masih dalam keadaan cemas.
Ku pegang kedua bahu Alex dan ku tatap ia dengan penuh rasa sayang.
"Dengarkan aku Alex! kau tak perlu cemas, serahkan semua ini padaku.
Besok akan kutemui Mrs Hansen, kepala sekolahmu itu dan menceritakan kejadian yang sebenarnya" ucapku mencoba menenangkan.
"Akan kucoba bicara dengan Frank, karena bagaimanapun juga dia adalah kakakmu.., walimu yang sebenarnya" sambungku.
Alex hanya menatapku ragu dan wajahnya tampak cemas.
"Tak apa sayang..., jika Frank menyalahkanmu aku adalah orang pertama yang akan selalu membelamu selama kau masih bersikap baik di sekolah" tuturku lagi menenangkan.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...