
"Ucapkan keinginan dan mimpimu Kimmy", perintahku lembut.
Maka dengan kedua mata terpejam dan penuh harap si kecil Kimmy berdoa meminta permohonan dalam hati.
Kemudian dengan tiupan kecil ia meniup lilin dengan bentuk angka 10 yang terpasang di kue krim ulang tahunnya kali ini.
Setelah lilin itu berhasil di tiup aku dan Alex serta beberapa teman - teman Kimmy tepuk tangan memeriahkan suasana.
Ku peluk dan ku kecup pipinya lembut dan penuh sayang.
"Selamat ya sayang..., sekarang kau adalah gadis kecil yang menginjak remaja" tuturku seraya tersenyum penuh sayang.
Kimmy menatapku lembut kemudian mengangguk penuh semangat.
"Katakan apa keinginanmu Kimmy?" Alex bertanya penasaran.
"Mommy berkata jika ingin permintaan kita terkabul hanya boleh kita sendiri yang tahu keinginan itu" Kimmy menjawab polos.
Aku tersenyum kemudian mengelus rambut pirang Alex.
"Yang pasti keinginan Kimmy tulus untuk kebahagian kita bersama, iya kan sayang?" sahutku bijaksana dan Kimmy mengangguk yakin.
Hari ini adalah malam milik Kimberley Jefferson dengan usianya yang kini genap 10 tahun, pada tanggal 17 September tepat di hari ini dan tahun ini.
Tepat hampir 1 bulan setelah ulang tahun Frank Jefferson yang ke 30 di bulan Agustus lalu.
Seperti biasa dan hari sebelumnya Frank tidak hadir di tengah - tengah kami.
Ia masih sibuk dengan urusan pekerjaan serta bisnisnya dengan Garth Gaskins.
Di hari inipun sudah hari ke empat kepergian Frank.
Aku tak tahu dimana ia berada dan memang ia sengaja tak pernah membicarakannya denganku ataupun dengan Alex dan Kimmy tentang kepergiannya, dimana ia berada sekarang tak ada yang tahu.
Aku sendiri tak tahu apakah Frank mengingat hari ulang tahun adiknya atau tidak.
Atas permintaan Kimmy, tahun ini ia hanya ingin merayakannya dengan beberapa teman dekatnya saja di sekolah dan terutama ia ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarga Jefferson, Frank, Alex dan juga aku sendiri.
Namun sepertinya mimpi Kimmy tak terkabul dengan tanpa kehadiran seseorang yang paling ia harapkan, Frank Jefferson.
Sedangkan foto mendiang ayah dan ibunya, Mr dan Mrs Jefferson di letakkan dengan anggun di samping kue ulang tahun miliknya.
Tepukan bahagia, nyanyian selamat serta ucapan selamat dari beberapa teman sekolah Kimmy yang hadir memeriahkannya.
Hiasan sederhana berupa balon warna warni, pita berukuran besar dan tak ketinggalan pula makanan penyaji berupa kue - kue kering,puding coklat, minuman cola, jus segar dan berbagai makanan kecil penutup lainnya tertata apik di meja besar di tengah ruangan.
Semua pesta kecil namun meriah ini adalah hasil kerja keras kami bertiga selama hampir 2 hari penuh Alex dan Kimmy selalu ambil bagian untuk membantuku menyusun segala sesuatunya.
Mereka berdua adalah anak - anak termanis yang pernah kutemui sehingga membuatku takut untuk meninggalkan dan kehilangan mereka berdua.
Tak bisa kubayangkan saat aku harus rela meninggalkan mereka berdua, mungkin suatu saat nanti.
Kami bertiga membuka kado - kado milik Kimmy.
Senyum bahagia tak lepas dari wajah gadis kecil yang hampir beranjak remaja itu.
Ia tertawa senang saat membuka bagian kado dariku, sebuah boneka salju mungil di dalam kristal bulat cekung.
"Wah, cantik sekali Jeanny!!" serunya semangat.
"Kau suka sayang?" tanyaku memastikan.
"Suka!! sangat suka!!!" sahutnya riang.
"Ini hadiah untuk menyambut hari Natal Jeanny?" tanya Alex ingin tahu.
"Boleh saja, tapi jika Natal tiba aku akan memberikan hadiah yang lebih istimewa untuk kalian berdua nanti!" jawabku sunguh - sunguh.
Ku lihat Kimmy begitu asyik memperhatikan pemandangan indah di dalam kristal itu.
Guyuran hujan salju ikut menghiasi warna yang indah di dalamnya.
Tatapan Kimmy beralih padaku di depannya.
"Jika Natal tiba aku selalu memimpikan kita bersama - sama merayakannya bersama Mommy dan Dad serta Frank" tuturnya penuh harap.
Hatiku trenyuh saat mendengar permohonan dari gadis polos di depanku, kutatap matanya dengan pandangan sendu.
Ku usap - usap pipinya yang bersemu merah dengan penuh rasa sayang.
"Jauh di sana Kimmy, Mom dan Dad akan selalu tersenyum dan bahagia melihat kalian bahagia walaupun mereka tak ada di samping kalian untuk mendampingi" tuturku.
Wajah polos itu kini menguraikan air mata.
"Aku merindukan mereka..., Jeanny" ucapnya tertahan seraya memelukku erat.
"Aku tahu sayang..., aku tahu itu" sahutku pelan sambil kubelai rambut pirangnya dengan lembut.
Di saat itu juga di dalam kamar indah Kimmy, kami bertiga sama - sama berpelukan erat seakan tak ingin saling melepas.
"Aku juga ingin Frank selalu tak melupakan kami, Jeanny" bisik Alex pelan di bahuku.
Seketika itupula kedua tanganku memeluk lebih erat mereka berdua dan kuciumi mereka satu persatu.
"Frank tak pernah melupakan kalian berdua, ia menyayangi kalian seperti kalian juga menyayanginya" tuturku membenarkan.
Alex dan Kimmy sama - sama memandangiku dengan mata berkaca - kaca.
Dengan penuh perhatian ku hapus air mata di pipi Kimmy.
"Hanya saja Frank tak punya waktu untuk bersama - sama dengan kalian, dia bekerja siang dan malam demi kebahagian keluarga Jefferson, untuk kalian berdua. Kalian tahu itu?"
tuturku kembali.
"Tapi ia selalu tak punya waktu untuk kami seakan dia sudah melupakan adik - adiknya" bantah Alex.
"Sssstttt.....," kutempelkan telunjuk di bibir mungil Alex.
"Dia menyayangi kau dan Kimmy, melebihi dirinya sendiri hanya saja ia melakukannya dengan caranya sendiri tanpa kalian ketahui" sahutku mencoba untuk bijak.
Jauh di mata Alex dan Kimmy, di belakang punggung anak - anak yang haus kasih sayang itu sepasang mata tampak mengawasi kami bertiga, tepat di pintu kamar Kimmy yang terbuka lebar.
Aku bertanya dalam hati, sejak kapan ia berada di sana? mengawasi kami.
Namun bayangan itu kini lenyap di sebrang ruangan, dapat ku lihat sebersit duka mendalam dalam tatapan hampa dan kosong itu.
Ia tak mengucapkan apapun saat aku tahu kehadirannya di depan kami, tanpa sepengetahuan Alex dan juga Kimmy.
Kupeluk sekali lagi mereka berdua, kali ini lebih erat.
Kupejamkan mata dan mendesah pelan, isakan tangis tertahan Kimmy terdengar seperti bisikan di dadaku.
"Frank...., aku tahu kau menyayangi mereka berdua" bisikku dalam hati.
Di dalam ruang gelap itu, Frank duduk terpaku di samping ranjangnya.
Kepalanya tertunduk ke bawah dengan tatapan kosong menerawang, salah satu tangannya terkepal erat dan kokoh sedangkan satu tangannya lagi mencengkeram erat pahanya sendiri tanpa henti.
Setelan jas masih melekat di tubuhnya malam itu.
Suasana hening dan sunyinya malam seakan ikut menghanyutkan perasaan hatinya sekarang.
Dalam hati ia tak henti - hentinya memaki - maki dirinya sendiri, ia benci dan merasa bodoh.
Bukan kemenangan yang di dapat dari sikapnya selama ini terhadap Jeanny Anderson tetapi justru kekalahan.
Ia merasa kalah sekarang, kalah merebut perhatian kedua adiknya.
Kalah membagi cinta serta kasih sayangnya pada Alex dan Kimmy.
Lebih ironisnya lagi ia gagal menjadi seorang kakak yang baik dan bertanggung jawab.
Kakak dari kedua adik tirinya yang merupakan bagian dari keluarga serta hidupnya.
Saat mendapati rumahnya baru diadakan pesta kecil, perayaan hari ulang tahun Kimberley Jefferson, gadis kecil yang begitu di sayanginya ia merasa terpukul.
Seharusnya ia hadir di tengah - tengah mereka, memberikan cintanya untuk Kimmy maupun Alex tapi hari itu ia justru lebih mementingkan pekerjaan klien bisnisnya, Garth Gaskins.
Menikmati kesenangan duniawi yang Garth suguhkan pada dirinya saat itu, di Las Vegas selama 2 hari terakhir ini.
Bukan untuk urusan pekerjaan yang seperti biasa ia lakukan tetapi ia justru bersenang - senang dengan wanita - wanita cantik di sana.
Berjudi mati - matian demi mendapatkan kepuasan yang selama ini tak ia dapatkan dalam hidupnya.
Sekarang ia menyesal, bukan kebahagiaan yang ia rasakan saat itu tetapi kekosongan dalam hidupnya.
Ia merasa malam - malam itu bukankah dirinya yang sesungguhnya, dirinya sebagai Frank Jefferson yang lebih mencintai keluarganya sendiri.
Tanpa ia sadari bulir - bulir air mata membasahi celananya, air mata penyesalan dan kekalahan.
Matanya terpejam mencoba menghapus duka dalam dirinya.
Suara - suara di hati kecilnya itu mulai terdengar bahwa semua ini belum terlambat.
Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya kembali.
Hingga saat itu suara - suara hati itu semakin kuat di rasakan membuat dirinya bangkit dan melakukan sesuatu, sesuatu yang dapat menjadi penawar atas perasaan bersalahnya pada kedua adiknya, terutama untuk Kimberley Jefferson.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...