
Sudah seminggu setelah kunjunganku di rumah sakit menemui Frank waktu itu, kini kudengar ia sudah kembali pulang dan kondisinya sudah hampir pulih sepenuhnya.
Frank dan aku pun tak berkomunikasi lagi sejak terakhir pertemuan kami waktu itu di rumah sakit. Aku tahu dia merasa sangat kecewa dengan keputusan dan pilihanku, dapat kulihat dengan jelas di ekspresi wajahnya saat itu. Hingga membuat perasaanku sesak, namun mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi keputusanku, aku tak mau hidupku selalu dibayang - bayangi masa laluku bersama dengan Frank Jefferson. Dia hanyalah masa laluku, walaupun kuakui masih ada rasa cinta yang tersisa di hatiku untuknya. Namun sekarang sudah waktunya aku harus bisa iklas melepas sepenuhnya karena kita berdua memang sudah tak bisa bersama lagi seperti dulu.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku siang itu. Dan aku cukup terkejut saat tahu siapa yang datang kali ini saat membuka pintu.
"Garth?! Suatu kejutan kau datang kesini! Kenapa kau tak mengabari aku kalau kau akan datang?" Seruku kaget dengan kehadiran Garth Gaskins yang tak biasa. Seperti biasa senyum khas nya tak lepas di wajahnya yang tampan dan segar.
"Apa aku menganggu waktumu, Jeanny?" Tanyanya dengan senyum cerah yang tak lepas.
"Tidak, aku hanya sedang sibuk beberes. Ayo masuk Garth!" Sahutku seraya memberi jalan untuknya agar masuk kedalam rumah.
"Ian dimana? Kenapa rumah sepi sekali?" Tanya Garth kembali dengan pandangan menyapu ruangan.
"Ian sedang berada di mansion Frank, tadi pagi Kimmy yang menjemputnya karena Frank ingin bertemu dengan Ian sebelum aku pulang ke Paris lagi." Aku menjawab.
"Kau akan pulang ke Paris? Bersama dengan Joseph Hayden?" Tanyanya dengan ekspresi wajah terkejut.
"Ya Garth, aku sudah memutuskannya kalau aku akan kembali ke Paris bersama dengan Joseph." Sahutku lirih.
"Apakah itu berarti kau sudah yakin telah memilih Joseph dan bersama dengannya?" Tanya Garth kembali dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Bagaimana dengan Frank, Jeanny? Kudengar Frank terluka dan sempat kritis saat menolongmu dalam penculikan beberapa hari yang lalu."
"Frank dan aku tak bisa bersama lagi, Garth. Dia sudah memiliki tunangan, begitu juga denganku sekarang. Kami memang tak bisa bersama lagi." Jawabku yakin.
"Dengar Jeanny, aku datang kesini selain untuk mengetahui kabarmu kalau kau baik - baik saja, aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting padamu. Sebuah kebenaran yang telah kututupi selama hampir 7 tahun." Ucap Garth dengan ekspresi wajah yang berubah serius. Kedua tangannya menyentuh bahuku dan kini ia menatapku penuh arti.
"Apa maksudmu, Garth? Jangan membuatmu bingung!" Sahutku tak mengerti.
"Sebelumnya aku minta maaf padamu, Jeanny. Mungkin setelah kau mengetahui kenyataan ini kau akan membenciku lagi. Tapi jika kau membenciku pun kurasa aku memang pantas mendapatkannya."
"Kau bicara apa, Garth?! Mana mungkin aku akan membencimu lagi? Kau jangan bicara yang aneh - aneh!" Sahutku tak suka.
"Video Frank dan Carol yang pernah kau lihat dulu, itu semua adalah rencanaku, Jeanny."
"Apa??!!"
"Ya, semua itu aku yang telah merencanakannya, Frank tak pernah mengkhianatimu selama ini. Semua itu hanya konspirasi yang aku lakukan dengan Carol agar kau membenci Frank Jefferson." Jelas Garth.
Bagai petir di siang hari saat aku mendengar ucapan yang Garth katakan padaku tadi.
"Maafkan aku Jeanny, semua kulakukan karena aku mencintaimu. Dan saat itu yang aku pikirkan adalah bagaimana membuat kau dan Frank berpisah karena itu aku dan Carol membuat kesepakatan agar kau berpisah dengan Frank Jefferson."
"Tidak! Kau bohong padaku kan Garth kalau kau yang melakukan itu semua?" Tanyaku masih tak percaya.
"Aku serius, Jeanny. Sekali maafkan aku. Kau pantas untuk membenciku. Aku akan menerimanya karena aku memang pantas mendapatkannya."
Kini aku hanya bisa terduduk lemah di sofa milikku dengan pandangan kosong karena masih merasa syok dan tak percaya dengan apa yang baru saja Garth ungkapkan padaku.
"Lalu sekarang kenapa kau mengatakan kebenaran ini setelah bertahun - tahun lamanya, Garth?" Tanyaku lirih masih dengan tatapan kosong.
Garth bersimpuh di depanku dan tangannya mengenggam lembut jemari tanganku.
"Selama ini aku selalu dihantui rasa bersalah karena telah membohongimu dan Frank. Aku memang membenci Frank karena aku mencintaimu, Jeanny tapi aku tak mau egois lagi karena sekarang aku tahu cinta memang tak harus memiliki. Dulu aku berpikir uang adalah segalanya, dengan uang aku bisa membeli apapun sekalipun itu adalah wanita tapi tidak untuk dengan CINTA. Kau yang telah membuka mata dan hatiku Jeanny... Mengenalmu membuatku tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya dan untuk menebus semuanya aku hanya ingin kau dan Frank tahu kebenaran ini. Aku sangat menyesal Jeanny, maafkan aku."
Hening.
Aku tak bisa berkata - kata saat ini. Entahlah, aku tak tahu harus senang atau sedih setelah tahu kalau selama ini Frank memang tak pernah mengkhianatiku. Semua yang terjadi dulu hanyalah kesalah pahaman, namun untuk sekarang apa artinya? Kami berdua sudah terlanjur berpisah untuk waktu yang cukup lama dan yang jelas kehidupanku dan Frank kini sudah berbeda jalan.
Mengetahui sikap diamku, Garth hanya mendesah kemudian ia bangkit dan berdiri.
"Aku pamit Jeanny, aku tak akan memintamu memaafkan aku karena itu adalah hakmu. Sekarang aku hanya ingin kau bisa hidup bahagia bersama dengan orang yang kau cintai, siapapun pria yang kau pilih nanti aku yakin dia lah yang terbaik dan pantas mendapatkan cinta darimu."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Garth melangkah mantap menuju mobilnya yang ia parkir di depan gedung flat yang Jeanny tinggali. Pria flamboyan itu duduk dan bersandar di dalam mobil dan mendesah pelan. Hatinya merasa lega sekarang. Ia mengambil ponsel miliknya dan menelepon seseorang.
"Hallo, ini aku, Frank. Aku sudah melakukan apa yang seharusnya kulakukan, untuk hasil akhirnya hanya Jeanny dan Tuhan lah yang menentukan."
"Hey, kau bicara apa Garth?! Apa kau mabuk?!!" Frank menyahut tak mengerti.
"Sekarang kita sudah impas, aku tak berhutang lagi padamu. Kuharap kau bisa bahagia, Frank Jefferson." Ucap Garth sebelum ia menutup sambungan teleponnya.
Senyum tipis terbit di wajah tampan pria berwajah baby face itu kini, kemudian dengan mantap ia melajukan mobil sport mewah miliknya menembus jalanan kota New York yang padat.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
...Ritual like, komen dan hadiah jgn lupa teman - teman semua❤️🥰...