One Day In Your Life

One Day In Your Life
Kabar mengejutkan



Sebenarnya ia tak ingin peduli tapi ia harus peduli, kata hati dan rasa tanggung jawab yang mendorongnya Frank Jefferson untuk melakukannya.


Ia sendiri masih belum mengerti mengapa Jeanny Anderson bisa mengalami hal seperti itu?


Pingsan.., kenapa?


Apakah selama ini ia terlalu keras pada Jeanny Anderson atau wanita itu terlalu lelah dengan beban dari pekerjaan berat yang selama ini menjadi rutinitasnya selama ia tinggal di rumah Jefferson?


Mungkin saja, tapi ia tak dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi sebelum Frank Jefferson mendengar sendiri hasil diagnosa dokter yang menangani Jeanny Anderson, wanita yang amat ia benci.


"Maaf, apa anda Mr Jefferson?" Teguran itu mengejutkan Frank dari lamunannya hingga ia sempat tersentak kaget saat menyadari dokter Smith kini berada di hadapannya, yang sejak dari tadi menunggu di ruang kerja dokter yang berusia hampir setengah baya itu.


"Ya, benar.." jawab Frank sedikit gugup.


"Maaf, kalau boleh saya tahu wanita yang baru saja anda bawa untuk saya periksa tadi itu siapa?" Dokter Smith memulai setelah ia duduk di kursi tempat kerjanya dengan suaranya yang berwibawa.


Wajah lembut dokter itu seakan membuat Frank tak bisa berkata apa - apa.


"Ah..? Dia Jeanny Jefferson, istri saya dok...


Apakah ada masalah?" sahut Frank kembali dengan sedikit gugup.


Ia sendiri tak habis pikir, kenapa setiap kali seseorang menanyakan identitas dari Jeanny Anderson, ia selalu bingung dan jawaban istri ataupun tunangannya adalah sebagai jawaban terakhirnya.


Tentu saja Frank membenarkan keputusannya, ia tak mau berbagai pertanyaan atau tudingan ia dapatkan setiap kali jika ia harus memperkenalkan seorang Jeanny Anderson sebagai mantan kekasih dari sahabatnya yang mati bunuh diri, yang kini sudah hampir 4 bulan lamanya tinggal satu atap bersama dengannya, di dalam rumah Jefferson.


Dokter Smith tersenyum kebapakan mendengar jawaban Frank yang baginya tampak ragu itu.


"Tentu saja tidak ada masalah Mr Jefferson...,


Saya hanya melakukan tugas saya sebagai dokter di sini dan pertanyaan itu akan selalu saya tanyakan pada semua keluarga pasien saya.


Itu semua di lakukan semata - mata untuk kebaikan dan kepentingan para pasien saya" dokter Smith memulai.


"Saya minta maaf kalau anda sedikit merasa tersinggung, namun saya harap kabar baik yang akan saya sampaikan akan membawa angin segar untuk kebahagiaan keluarga anda Mr Jefferson..." tutur dokter Smith menambahkan seraya tersenyum lembut.


Mendengarnya Frank sedikit terkejut, ia berkedip beberapa saat mencerna maksud ucapan dokter paruh baya itu di depannya.


"Maksud anda dok?" Frank bertanya memastikan.


Kini senyuman lembut dokter Smith mulai melebar, deretan gigi putihnya masih terlihat terawat itu tampak.


"Selamat Mr Jefferson, sebentar lagi anda akan menjadi suami yang sempurna tepatnya sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah dari calon bayi anda."


Mendengar ucapan dokter Smith, Frank merasa kini bumi dan segala isinya telah menelannya hidup - hidup dan melemparnya ke suatu tempat yang begitu asing yang ada di depannya sekarang.


Ia benar - benar tak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya, seperti mimpi rasanya.


Saat ini keinginannya adalah segera bangun dari mimpi terburuknya kali ini namun ia sadar ini bukanlah mimpi.


"A...pa?!


Hamil..? Dia hamil dok, apa saya tidak salah dengar?" tanpa ia sadari kursi yang ia duduki terdorong kasar ke belakang ketika dengan gerakan spontan Frank berdiri tiba - tiba dari tempat duduknya.


"Ayolah dok, anda bisa saya tuntut jika anda melakukan kesalahan dalam praktek anda dan hal itu akan berakibat fatal untuk kelangsungan karier anda dokter Smith" ancam Frank lepas kendali.


Melihat reaksi Frank Jefferson yang baginya tak biasa, dokter Smith pun berusaha menenangkan.


"Tanpa mengurangi rasa hormat saya Mr Jefferson, sebaiknya anda duduk tenang agar kita bisa bicara dengan kepala dingin.


Saya tahu mungkin ini mengejutkan bagi anda, tapi bukankan ini seharusnya menjadi kabar yang luar biasa untuk pasangan suami istri seperti anda?" sahut dokter Smith merespon santai.


Maka detik itupun Frank tersadar, ia merasa reaksinya terlalu berlebihan karena merasa syok, dan itu tak baik untuk image nya sendiri saat ini di depan dokter Smith yang tak tahu menahu tentang hubungan rumit yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Jeanny Anderson.


"Ma..af dok, saya hanya merasa ini... mengejutkan saya" ucap Frank sedikit canggung dan kini ia kembali duduk dengan perasaan emosi yang mencoba untuk di tahan.


"Well, tak masalah Mr Jefferson, itu wajar bagi keluarga yang mungkin mempunyai kenangan pahit dan masalah kesehatan lain sebelumnya, saya bisa mengerti itu..." sahut dokter Smith ramah.


Hanya saja untuk tri semester awal kehamilan, Mrs Jefferson akan lebih baik jika tak perlu melakukan pekerjaan berlebihan untuk saat ini karena itu tak baik untuk kesehatan janin dalam kandungannya.


Untuk sejauh ini, Mrs Jefferson hanya kelelahan dan stres.


Saya harap ke depannya anda bisa menjaga istri anda dengan baik Mr Jefferson..."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Argghh..., aku kenapa?"


Aku mulai membuka mata ini yang masih terasa berat, kuberkedip beberapa saat memperjelas penglihatanku masih terlihat samar.


Atap langit yang asing, bau dengan aroma yang begitu khas namun terasa lain dengan rumah milik keluarga Jefferson membuatku semakin yakin kalau aku kini terbaring dengan selang infus yang menempel di urat nadiku kini.


Aku tahu sekarang aku tengah ada dimana, sebuah rumah sakit tapi kenapa?


Lamunanku buyar saat suara pintu dibuka mengejutkanku.


"Hay, Jeanny...!" sapa sebuah suara yang tak asing lagi ku dengar.


Pandanganku beralih menatap pintu di depanku yang kini terbuka.


"Hay..." jawabku lemah namun dengan senyum senang melihat kedatangan teman - teman kecilku, Alex dan Kimmy.


" Kau sudah siuman?" tanya Kimmy lugu, dengan langkah riang gadis kecil itu menghampiriku yang masih terbaring di ranjang.


Alex menyusul Kimmy di belakangnya.


"Bagaimana keadaanmu Jeanny, sudah baikan kan?" tanya Alex simpatik.


"Tentu saja sayang..., terima kasih" jawabku lirih seraya tersenyum, dengan pelan namun pasti aku mencoba mengangkat kepala dan tubuhku untuk berbaring setengah badan.


"Aku senang kau sudah baikan Jeanny, kau tahu aku begitu mencemaskanmu.." tutur Kimmy mengejutkanku.


"Ohh, Kimmy....


Terima kasih kalian begitu memperhatikanku tapi tak seharusnya kau begitu mencemaskanku.


Aku baik - baik saja kalian lihat sendiri bukan?" jawabku seraya menyentuh jemari Kimmy yang mungil.


" Kau pingsan Jeanny, sudah 2 hari kau tak sadarkan diri" tutur Alex kemudian.


"Ahh..., benarkah?" tanyaku tak percaya.


"Kau akan pulang hari ini jadi sebaiknya persiapkan dirimu sekarang juga!" kalimat bernada memaksa itu tiba - tiba mengejutkan kami.


Suara yang begitu ku kenal, Frank.


Seperti biasa tatapannya yang begitu dingin seakan menusuk tubuhku hingga ke tulang, ia berdiri tegap tepat persis di depan pintu.


"Benarkah itu Frank?!


Jeanny akan pulang hari ini juga?!" seru Kimmy bersemangat.


"Kau dengar itu Jeanny? Kau sudah benar - benar sehat!" ulang Kimmy polos dan aku hanya menanggapi dengan senyuman kaku yang tak beralasan.


"Aku ingin tahu sebenarnya, apa sakit Jeanny, Frank?" tanya Alex penasaran.


Hening.


Tak ada jawaban detik itu juga, aku tak bisa menebak arti tatapan Frank padaku kali ini, begitu berbeda dan menyesakkan dadaku.


"Anemia..., dia hanya kelelahan itu saja" Frank menjawab kaku namun aku ragu itu bukanlah jawaban yang sesungguhnya.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...