One Day In Your Life

One Day In Your Life
HATI YANG MULAI BERUBAH



"Nona...nona..., anda sudah siuman..?"


Samar - samar aku mendengar suara seseorang di telingaku, aku yang masih setengah sadar mulai membuka kelopak mata ini yang masih terasa berat.


Aku mengerjapkan kedua mata ini beberapa saat, menyesuaikan keadaan dan menatap langit - langit di atasku.


Semua terasa asing, aku dimana?


"Nona...., syukurlah anda sudah sadar! tuan pasti akan sangat senang sekali!" suara itu kembali terdengar.


"Ah...., siapa....?" lirihku bertanya.


Kulihat dengan pandangan yang masih samar, seorang gadis yang memakai pakaian maid tersenyum manis padaku.


"Jangan terlalu memaksakan diri nona, anda masih belum pulih benar" ucap gadis berpakaian maid itu.


"Anakku....! apakah anakku baik - baik saja?!" tiba - tiba aku merasa panik dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.


"Tidak, nona jangan bangun dari tempat tidur!


Kandungan anda baik - baik saja sekarang, anda tak perlu merasa khawatir", ujar gadis maid itu.


"Ahh...., sakit....!" seketika aku merasakan nyeri di leherku dan saat itupun aku tersadar kalau kini leherku tampak di perban.


"Mari saya bantu anda bangun, nona" tawar maid itu kemudian membantuku mengangkat tubuhku kemudian bersandar duduk di ranjang king size tempat aku berbaring.


"A-ku dimana...?" tanyaku lirih, tanganku menyentuh lembut perutku yang masih tampak membuncit.


"Syukurlah anakku baik - baik saja..." lirihku dalam hati.


"Anda berada dalam mansion Mr. Gaskins, nona" jawab si maid itu dengan senyuman ramahnya.


"Mansion? Garth?!


Astaga, ya Tuhan...., Garth!!?


Bagaimana keadaannya?!!" tanyaku panik, mengingat kejadian sebelum ini, Garth berusaha menyelamatkanku dan terluka.


"Keadaan tuan sekarang baik - baik saja sekarang, beliau sudah melewati masa kritisnya dan sekarang masih dalam pemulihan" jawab maid itu menjelaskan.


"Benarkah??


Syukurlah kalau begitu..." aku bernafas lega mendengarnya.


"Bisakah, kau mengantarkan aku untuk menemuinya..? tolonglah...!


Aku ingin sekali mengetahui keadaan Garth..." ucapku memohon dengan menyentuh lembut tangan gadis maid itu.


"Maaf, nona saya belum sempat memperkenalkan diri tadi, saya Liza..., maid yang ditugaskan untuk menjaga anda selama anda ada di mansion ini.


Dan saya juga yang akan bertanggung jawab penuh untuk segala keperluan dan kesehatan anda..." ucap maid itu memperkenalkan diri dengan sedikit membungkukkan setengah badannya padaku.


"Liza? maukah kau mengantarkan aku untuk menemui tuanmu itu?" tanyaku kembali dengan tatapan memohon.


"Maaf nona..., sebaiknya anda menunggu luka anda membaik dulu dan lagipula tuan belum bisa ditemui oleh siapapun saat ini kecuali dokter dan tenaga medis yang menanganinya selama dalam masa pemulihan" sahut Liza menolak.


"Ah..., apa dia terluka parah..?" tanyaku cemas, teringat kembali saat Garth mencoba menyelamatkanku membuatku merasa sangat bersalah.


"Keadaan tuan sekarang baik - baik saja, karena luka tusukan tidak mengenai tulang belakang jadi saya pastikan tuan akan pulih dengan cepat..." sahut Liza meyakinkanku seraya tersenyum manis, seperti seolah mengatakan kalau Garth baik - baik saja.


"Syukurlah kalau begitu.., ta-pi aku tetap saja khawatir Liza, jika aku belum melihat sendiri keadaannya aku belum merasa tenang..." ucapku dengan tatapan memohon.


Seperti ikut merasakan kekhawatiranku, Liza pun mengerutkan keningnya seakan berpikir.


"Baiklah kalau begitu nona, saya akan meminta izin pada tuan terlebih dahulu dan menanyakannya nanti.." tutur Liza kemudian.


Akupun mengenggam lembut kedua tangannya dan berkata seraya tersenyum tulus, " terima kasih banyak Liza..."


Tok..tok...tok..


"Maaf tuan, maid yang bertugas menjaga Miss. Anderson meminta izin untuk menyampaikan pesan pada anda" ucap sebuah suara dari pintu luar.


Garth Gaskins yang kini tampak terbaring lemah di ranjang king size nya seketika itupun mencoba untuk bangun, tampak perban melingkar di sebagian tubuhnya yang kini bertelanjang dada.


"Biarkan dia masuk!" perintahnya.


Kemudian dengan langkah hati - hati maid bernama Liza itu masuk dan membungkuk pada Garth di depannya.


"Katakan, apa Jeanny sudah siuman?


Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyanya, raut cemas terlihat jelas di wajahnya yang masih tetap tampan walaupun kini ia sedikit merasakan sakit nyeri di bagian belakang tubuhnya.


"Nona baik - baik saja, tuan.


Beliau yang memaksa saya untuk menemui tuan, karena nona tampak terlihat khawatir dengan keadaan tuan sekarang dan beliau juga yang memaksakan diri ingin melihat keadaan tuan saat ini" ucap maid Liza mencoba menjelaskan.


"Oh.., benarkah??


Apakah dia begitu mengkhawatirkan aku?" Garth bertanya penasaran, ia cukup terkejut mendengarnya.


"Benar tuan, nona sangat mengkhawatirkan keadaan anda..., dan beliau ingin segera menemui anda secara langsung saat ini" sahut maid Liza.


Senyum mengembang di wajah tampan Garth, walaupun samar namun itu terlihat di sudut bibirnya sekarang.


"Kalau begitu biarkan dia datang dan menemuiku" jawab Garth tegas.


"Baik, tuan saya secepatnya akan kembali bersama dengan nona Jeanny..." sahut maid Liza seraya membungkukkan badannya lagi sebagai tanda hormat kepada majikan.


"Kau boleh pergi sekarang..." perintah Garth lirih.


Kemudian setelah maid itu pergi, Garth berbaring kembali ke tempat tidur.


Dalam hati ia berpikir, dengan sikap Jeanny yang begitu mengkhawatirkan dia.


Apakah karena Jeanny merasa bersalah oleh karena itu ia begitu sangat mencemaskannya sekarang? atau ia hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya dari niat jahat pria besar bernama Billy Dogg itu?


Entahlah, namun yang jelas saat ini Garth merasa begitu bahagia karena sikap Jeanny tidak lagi dingin seperti dulu, sejak ia melakukan kesalahan fatal yang membuat Jeanny begitu membencinya.


Sampai saat inipun Garth masih belum bisa memahami kenapa ia bisa melakukan tindakan nekad seperti kemarin.


Menyelamatkan Jeanny dan tak peduli keselamatan dirinya sendiri, seolah ia impulsif melakukannya saat itu, saat ia melihat Jeanny dalam bahaya dan mengancam jiwa wanita itu.


Apakah ia masih waras? ais..., ia mengutuk dirinya sendiri jika saat itu Jeanny tidak dapat ia selamatkan.


Ia tahu kalau dialah yang membuat Frank dan Jeanny dalam masalah besar namun perasaannya pada Jeanny tidaklah berbohong, ia tulus menolong dan menyelamatkan wanita itu, Jeanny Anderson yang selama ini begitu mengusik hatinya.


Begitu banyak wanita yang pernah hadir dalam hidup Garth Gaskins namun justru hatinya terlanjur terpikat pada sosok Jeanny yang kini telah bersuami.


Apakah ia egois?


Tentu saja egois, karena obsesinya pada Jeanny dan obsesinya untuk menghancurkan rivalnya, Frank Jefferson sangat besar.


Garth hanya ingin memiliki Jeanny seutuhnya, ia tak peduli caranya benar atau salah karena bagi Garth Gaskins keinginannya adalah mutlak, tanpa bisa diganggu gugat.


Ia hanya ingin memiliki dan mencintai Jeanny dengan caranya sendiri.