
Hampir 1 bulan lamanya setelah kejadian di malam itu, malam dimana kuputuskan untuk menyimpan rapat - rapat kejadian di malam itu
Hari demi hari kulalui dengan tanpa gairah, sikap Frank pun masih tetap sama padaku, tak ada perubahan yang berarti.
Justru ia kini semakin enggan dengan keberadaanku di rumah ini, bukan dengan cara yang seperti ia lakukan selama ini.
Namun dengan cara yang jauh berbeda, cara yang lebih halus tentunya.
Hampir selama 3 minggu ini Frank habiskan waktunya dengan kedua adik tirinya, ia lebih memfokuskan kegiatannya dengan Alex dan Kimmy.
Jauh lebih memperhatikan mereka, dimulai dari mengantar sampai menjemput Alex dan Kimmy di sekolah hingga menghabiskan weekend bersama.
Seperti itulah berdasarkan pengamatanku, seharusnya aku senang dengan perubahan itu namun entah mengapa jauh di dalam lubuk hatiku terasa berat untuk menerimanya?
Kenapa?
Sampai saat ini aku masih tak mengerti dengan diriku sendiri, kenapa hatiku justru menjadi sakit melihat kedekatan mereka kembali?
Bukankah itu harapanku dulu?
Untuk itulah aku berada di sini, mewakili Mrs Jefferson untuk menjaga Alex dan Kimmy ataupun Frank Jefferson.
Ataukah ini cara Frank Jefferson untuk menyingkirkanku dengan cara yang halus?
Mengusirku secara pelan - pelan dari rumahnya.
Namun apapun maksud Frank melakukan perubahan itu, perasaan sayangku pada Alex dan Kimmy masih masih tetap sama, begitu pula dengan Alex dan Kimmy, mereka masih menganggap keberadaanku di tengah - tengah mereka.
Alex dan Kimmy masih mencintaiku sama seperti sebelumnya, karena itulah aku masih bertahan sampai detik ini, berada di dekat mereka dan membantu setiap masalah yang mereka berdua hadapi.
Sesungguhnya aku begitu puas dengan semua yang Frank lakukan untuk Alex dan Kimmy, ia benar - benar telah berubah.
Kini ia lebih mengurangi kesibukannya di luar, jauh berbeda seperti awal pertama kali aku datang di rumah ini awal musim panas lalu.
Frank mencintai dan menyayangi kedua adik tirinya dan dia adalah seorang kakak yang bertanggung jawab, itulah sosok Frank Jefferson yang sesungguhnya.
Aku percaya itu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Pikiran yang terlalu berat mungkin membuat pengaruh buruk pada kondisi tubuhku akhir - akhir ini.
Beberapa hari ini tubuhku terasa lemah dan kurang bertenaga.
Kepalaku pusing untuk waktu yang cukup lama bahkan sampai kehilangan selera untuk makan.
Semuanya itu membuatku menderita, seakan aku merasa tak bergairah untuk melakukan segala sesuatunya.
Hingga hari ini terasa mencapai puncaknya, perutku terasa di aduk - aduk hingga ingin muntah.
Pandanganku pun terasa hampir kabur saat menahan rasa sakit dan pusing di kepalaku yang sering terjadi.
Pagi itu aku, ketika aku tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga, merasakan hal yang sama bahkan lebih dari hari - hari sebelumnya.
Susah payah aku berusaha mencapai pegangan diantara dinding tembok ruangan saat tubuhku terasa lemah untuk berdiri.
"Jika merasa tak sehat sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri.
Aku sudah terlalu repot dengan kehadiranmu di sini jadi sebaiknya jangan membuatku repot lagi dengan masalahmu di tempat ini karena seburuk apapun itu kau tak akan mendapatkan perlakuan istimewa dariku" tutur Frank tiba - tiba mengejutkan.
"Ah..?"
Susah payah aku berusaha memperjelas penglihatanku yang terlihat samar saat kulihat Frank kini tampak berdiri tak jauh di depanku dengan tatapan dingin, tatapan yang selalu sama.
Aku sendiri tak menyadarinya sejak kapan ia berada di tempat itu dan mengamatiku.
"Aku tak apa - apa, Frank.
Kau tenang saja" sahutku pelan dengan suara lirih seperti bisikan.
..
..
..
Secepatnya aku harus menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
Namun entah kenapa bau daging untuk bistik yang tengah aku siapkan di atas nyala api membuatku ingin muntah.
Bersamaan itu pula aku merasakan pusing yang semakin menjadi - jadi di kepalaku.
Semua seakan terasa berputar - putar di depan mataku.
"Ya, Tuhan kenapa?"
Hanya itulah yang aku ingat sebelum semuanya terlihat tak jelas dan begitu gelap.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Frank apakah kau menciumnya?" tanya Alex saat setelah keluar dari mobil.
Hari ini untuk kesekian kalinya Frank menjemput mereka di tengah - tengah kesibukannya.
Beberapa hari ini Frank selalu menggunakan waktu makan siangnya untuk menjemput Alex dan Kimmy, ia sengaja melakukannya semata - mata untuk menebus semua kesalahannya karena telah menelantarkan dan tak memperdulikan kedua adik tirinya selama ini.
Ia ingin berubah dan tentu saja semua itu tidak hanya ia lakukan untuk dirinya sendiri namun juga karena wanita itu, Jeanny Anderson.
Ia ingin membuktikan pada wanita itu kalau ia mampu melakukan semua tugas - tugas nya selama ini selain melakukan kegiatan sehari - hari di rumahnya.
Ia mampu mengambil perhatian kedua adiknya dari seorang Jeanny Anderson, wanita asing dari mantan kekasih sahabatnya sendiri yang tiba - tiba muncul dalam kehidupannya, kehidupan kelurga Jefferson.
"Ya, aku menciumnya!" sahut Frank siaga.
"Bau gosong dari dalam rumah kita!" Alex menyahut kembali.
"Jeanny ada di dalam Frank!" seru Kimmy mengingatkan.
"Wanita itu lagi.." pikir Frank kesal.
Kenapa Jeanny Anderson tak pernah berhenti membuat masalah di rumahnya?
Wanita itu selalu saja membuat masalah, selama ini apa saja yang wanita itu lakukan selalu saja mendatangkan masalah dan bencana, hal itulah yang membuat Frank semakin membencinya.
Tanpa pikir panjang lagi, secepat kilat dengan menggunakan langkah kakinya yang panjang, Frank menuju pintu luar rumah kemudian berlari kedalam, Alex dan Kimmy menyusulnya dari belakang, tak kalah paniknya.
"Jeanny...?!!" panggil Kimmy panik.
Gadis kecil berambut pirang itu menjerit saat melihat apa yang tampak di depan matanya sekarang.
Frank sama sekali tak menduga kalau sumber bau ini ada di dapurnya, hampir separuh ruangan itu tertutup asap yang tak henti - hentinya mengepul dari satu sumber.
Daging yang sedang dibakar kini tampak gosong hampir tak berwujud.
Alex dan Kimmy tak henti - hentinya terbatuk - batuk merasa sesak.
Setelah mematikan api itu, Frank berusaha memperjelas penglihatannya yang tertutupi asap dan kini setelah pandangannya mulai jelas, Frank melihat sesosok tubuh yang terbaring tak sadarkan diri tepat di bawah meja makan yang hanya berjarak 1,5 meter dari sumber asap yang mengepul itu, siapa lagi kalau bukan Jeanny Anderson.
"Frank..., Jeanny!" seru Alex panik disaat yang sama itupula anak berusia 13 tahun itu membungkuk tepat dimana wanita cantik yang kini nampak pucat pasi itu pingsan.
Mengikuti dorongan hati nurani, Frank pun dengan sigap menghampiri sosok tubuh yang kini begitu tak berdaya itu dan mulai memeriksanya.
"Ia hanya pingsan.." ucapnya kemudian.
"Jeanny kenapa Frank, ia tak apa - apa kan?" Kimmy bertanya cemas.
"Secepatnya kita harus menolongnya, Frank!" Alex mengajukan pertolongan.
"Aku tahu..." Frank menyahut lirih.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit, aku ragu dia hanya pingsan..."
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯...