
"Frank?!! Frank?!" Kupanggil nama itu dengan perasaan panik dan kacau. Melihatnya bersimbah darah membuatku takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Selama beberapa saat aku menangis terisak tiada henti seraya memeluk tubuh yang tak bergerak itu. Hingga kedatangan Joseph pun yang kini sudah ada di depanku tak kusadari.
"Joseph?? Frank...!" Ucapku gemetar.
"Kita harus cepat - cepat membawanya ke rumah sakit, Jeanny sebelum dia banyak kehilangan darah." Perintah Joseph seraya mencoba mengangkat tubuh Frank dan akupun membantunya.
"Devil.., bagaimana dengan pria itu Joseph?" Tanyaku dengan kedua mata merebak.
"Kau tenang saja, dia sudah kubereskan sebelum ia sempat membunuhku tadi." Joseph menyahut.
"Syukurlah, kau tidak terluka kan Joseph?" Tanyaku cemas dan Joseph hanya menggeleng dengan tersenyum tipis.
Kemudian dengan cepat kami berduapun membawa tubuh Frank yang tak berdaya di dalam mobil kursi belakang bersama denganku sedangkan Joseph yang ada dikursi kemudi. Dengan cepat ia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan aku tak berhenti menangis karena masih merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi. Semua terasa cepat terjadi begitu saja di depan mataku, hingga aku merasa kalau ini seperti mimpi.
Dan kini melihat Frank tertembak dan bersimbah darah membuatku semakin takut. Semoga nyawanya masih bisa diselamatkan. Hanya itu harapanku sekarang.
..
..
"Kau tenang saja, Jeanny. Dokter sedang menangani Frank. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar Frank baik - baik saja." Tutur Joseph berusaha menghiburku saat kami sudah sampai di rumah sakit.
Entah kenapa aku juga tak bisa berhenti menangis dan aku menolak saat seorang perawat wanita hendak memeriksaku karena melihat kondisiku yang menyedihkan. Beruntung tadi di dalam mobil sebelum sampai di rumah sakit, Joseph meminjamkan jas miliknya untuk menutupi tubuhku dengan pakaian yang terkoyak.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Frank, Joseph? Apa yang akan kukatakan pada Ian nanti jika ia menanyakan ayahnya nanti? Huhuhu!" Isakku dalam pelukan Joseph. .
"Kita berdoa saja, Jeanny semoga dokter bisa mengambil peluru dalam tubuh Frank? Aku harap kau mau memaafkan aku, karena akulah Frank menjadi celaka seperti ini." Ucap Joseph lirih.
"Tidak, mana mungkin aku menyalahkanmu Joseph. Pria brengsek itulah yang membuat ini semua terjadi! Bukan kau!" Pekikku emosi.
"Aku berjanji padamu, tidak akan kumaafkan siapapun yang berusaha menyakitimu!" Ucap Joseph sungguh - sungguh seraya menatapku yang tak berhenti menangis karena masih merasa syok pada apa yang baru saja terjadi.
"Aku bersyukur pada Tuhan kau baik - baik saja, Jeanny. Kalau saja aku tak pergi meninggalkanmu malam itu, mungkin kau tak akan mengalami kejadian buruk seperti ini. Sekarang aku merasa gagal untuk menjagamu, sayang. Maafkan aku..." Joseph berkata dengan menatapku lemah.
Aku menggeleng menepis semua ucapannya. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu, Joseph. Semua ini terjadi di luar kemampuanmu, kau tak bisa menyalahkan dirimu sendiri dengan apa yang telah menimpaku. Kalau saja kau dan Frank tak datang tepat waktunya, entahlah apa yang terjadi padaku, mungkin aku sudah tak ada lagi didunia ini sekarang." Jawabku dengan mata yang berkaca - kaca.
Setelah itu kami berduapun berpelukan, dengan penuh rasa syukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untukku hidup. Kini aku hanya bisa berdoa agar operasi Frank berjalan lancar dan dia dapat melewati masa kritisnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mansion Harris's
Tampak wanita berpostur bak model dengan rambut coklat panjang ikalnya itu berjalan cepat menghampiri ruang kerja Nickollas Harris dengan tergesa.
"Dad, apa kau yang menyuruh seseorang untuk menculik, Jeanny?!" Teriaknya pada Nickollas Harris yang tengah duduk tenang di meja kerjanya yang nyaman.
Saat itu juga pria paruh baya bertubuh tinggi besar itupun terkejut dengan tuduhan putrinya yang tiba - tiba.
"Kau ini bicara apa?! Jaga bicaramu Laura!!" Sahutnya marah.
"Kalau bukan kau, siapa lagi yang bisa melakukannya Dad?! Astaga ya Tuhan, Dad. Apa kau tahu? Karena perbuatanmu itu Frank sekarang ada dirumah sakit, dan sekarang keadaannya kritis! Aku baru saja mendapatkan kabar ini semua dari Kimmy, adik dari Frank!" Seru Laura dengan wajah dan mata memerah menahan emosi serta tangis.
Mendengarnya tentu saja membuat Nickollas mendelik seketika.
"Apa kau bilang? Frank kritis? Bagaimana bisa itu terjadi?!" Seru Nickollas tak percaya.
"Aku tahu kau begitu mencintaiku dan menyayangiku, Dad. Tapi jika caramu selalu seperti ini, aku tak bisa menerimanya Dad! Dan jika sampai sesuatu terjadi pada Frank, aku tak akan bisa memaafkanmu, Daddy!" Teriak Laura dengan tangis yang kini pecah kemudian dia berjalan cepat pergi meninggalkan Nickollas Harris, sang ayah yang kini hanya bisa diam terpaku menatap kepergian putri kesayangannya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...