
"Apa - apaan ini?!
Apa yang kalian lakukan di dalam rumahku?!"
Suara itu terdengar begitu jelas.
Susah payah aku membuka mata dalam kepanikan yang sempat membutakan mata dan penglihatanku.
Dengan jelas kulihat Frank Jefferson tampak berdiri di sebrang ruangan dengan memakai setelan jas kerja yang sama kemarin.
Wajahnya garang, gerakan rahang dan mulutnya kaku, ia berdiri tegang dengan tatapan bagai bola api.
Tatapanku beralih pada Garth saat pelukannya mengendur di tubuhku.
Ia menatap Frank dengan tatapan terkejut dan tak percaya.
Sepertinya ia sama - sama tegangnya dengan Frank yang bagiku kini tampak jauh mengerikan dari Garth tadi.
"Frank...?" desis Garth kaku.
"Kau memang brengs*k Garth!
kekacauan apa yang kau lakukan di rumahku?!"
seru Frank mengulang kata - katanya tadi namun kali ini jauh lebih keras dan begitu sarat emosi dapat kulihat dari gerakan tubuhnya yang tegang.
Tak mau mengulur waktu lagi, segera saat itu pula ku dorong tubuh Garth hingga pria itu terhuyung ke belakang dan secepat kilat aku berlari melewati Frank menuju kamarku tepat di bawah lantai atas.
Tak bisa membendung perasaan yang sejak tadi bergejolak hebat di dadaku melawan situasi mengerikan yang baru saja aku alami, kuhempas diriku ke pintu kamar dan terduduk kaku seperti orang tolol yang kehilangan beberapa detik akal sehatnya.
Mataku terpejam melawan air mata yang tak henti - hentinya keluar.
Di saat itu masih dapat ku dengar jelas seruan marah Frank dan penyangkalan Garth dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Semua sesuai dengan perjanjian kita Frank,
kau dan aku.
Kau tak perlu bersikap seperti itu padaku, seolah aku baru saja tertangkap basah merampok semua barang di rumahmu" sahut Garth membela diri, suaranya terdengar santai.
"Apa - apaan ini?! aku tak percaya!" jeritku dalam hati.
"Kau memang benar - benar bajing*an Garth!! kau anggap aku orang tolol yang dapat kau permainkan setiap saat hah?!!
Cepat keluar dari rumahku, sebelum aku menendang pantatmu dan kau akan pulang tanpa perlu menggunakan kedua kakimu lagi, brengs*kk!!!!"
Bersamaan dengan itu kudengar suara benda di tendang kasar oleh seseorang, entah siapa aku tak tahu?
Yang pasti setelah itu aku mendengar Garth mengatakan kata - kata ancaman pada Frank.
"Baik, aku pergi Frank.
Tapi ingat, kejadian ini bukan berarti kau menang melawanku, kawan.
Akan ada peristiwa buruk yang akan menghancurkan semua impianmu Frank Jefferson dan kau akan mengemis menyesal berlutut di depanku. Ingat itu!!"
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Beberapa hari setelah kejadian yang sebenarnya tak ingin ku ingat lagi itu, sikap Frank bertambah dingin padaku.
Sepertinya bukan rasa simpatik yang aku dapat darinya namun kebenciannya padaku malah justru semakin bertambah.
Semua itu dapat ku baca dari sikap dan cara ia menatapku.
Saat sarapan pagi ataupun makan malam ketika ia berada di rumah, Frank sama sekali tak menyentuh sedikitpun makanan yang sengaja aku siapkan untuknya.
Bagaimana selama 3 hari ini, Frank tak pernah sedikitpun berbicara, apalagi menyapaku.
Dulu sebelum hari dimana kejadian itu terjadi, walaupun Frank sama sekali tak pernah bersikap ramah padaku selama ini namun setidaknya ia sudi bertatapan muka ataupun berbicara sepatah dua patah kata padaku walaupun ucapannya selalu dingin dan menusuk hati.
Jauh dalam hatiku, aku merindukan Frank Jefferson yang dulu, merindukan tatapan matanya yang dingin dan tajam saat menatapku.
Entah mengapa?
"Wanita itu pembawa sial!!" Frank mengumpat keras - keras diantara kepenatan suara - suara di dalam sebuah Bar di pinggiran kota New York.
Malam itu ia sengaja melepaskan kemarahannya dengan mendatangi Bar yang kadang ia kunjungi dengan beberapa rekan bisnisnya selama ini, namun kali ini ia datang seorang diri.
Beberapa gelas bir Jack Daniels sudah ia habiskan selama beberapa jam ini, ia masih dalam keadaan setengah mabuk, duduk seorang diri di kursi yang sejak tadi ia duduki tanpa sedikitpun beranjak dari tempat itu.
Penampilannya kini tampak sedikit kacau, setelan jas tak lagi ia kenakan.
Kini ia hanya memakai kemeja hitam yang bagian lengannya tampak di gulung sampai ke siku dengan rompi warna abu gelap.
Beberapa kancing bagian atasnya lepas memperlihatkan kulit dadanya yang menonjol dan kuat.
Rambut hitamnya yang kini lumayan panjang tergerai tak beraturan menutupi dahinya.
Wajahnya menyiratkan ekspresi kesal dan marah.
Ia kacau selama beberapa hari ini.
Marah pada keadaan yang memojokkannya hingga ke situasi sekarang ini.
Marah pada orang - orang yang selalu ikut campur dengan kehidupannya dan paling ia tak mengerti ia marah pada dirinya sendiri.
Sama sekali ia tak mengerti kenapa ia harus membela habis - habisan Jeanny Anderson, wanita yang amat ia benci selama ini.
kenapa ia tak membiarkan Garth Gaskins mengambil dan membawa wanita itu dalam kehidupannya?
Kenapa ia justru tak terima perlakuan Garth pada Jeanny waktu itu?
Bagaimana ia menahan gejolak emosi saat menangkap basah Garth Gaskins menciumi wanita itu dengan brutal di bibir manis yang pernah dirasakannya waktu itu, di samping mobil Jaguar miliknya tempo hari.
Rasanya waktu itu, ia ingin mencekik leher Garth kuat - kuat dan menendangnya habis - habisan sampai pria brengsek itu muntah darah atau bahkan pingsan.
Namun ia masih dapat bersyukur ia tak melakukan apa yang menjadi niat dan keinginannya waktu itu.
Yang menjadi pertanyaan di benaknya sekarang,
Kenapa ia mempunyai perasaan seperti itu?
Bukankah ia membenci Jeanny Anderson melebihi siapapun.
Namun yang terjadi benar - benar di luar pikirannya sendiri.
Ia marah dan syok saat memergoki Garth menyentuh Jeanny Anderson dengan kasar.
"Brengs\*kk!!!!!" makinya kesal setelah meneguk segelas bir dan menaruhnya dengan kasar.
"Tampaknya kau sedang kesal Frank?" suara itu tiba - tiba terdengar mengusik Frank.
Menyadari kalau seseorang berbicara padanya, dengan enggan Frank memalingkan muka, mencari si pemilik suara menggoda itu.
Tatapan Frank berubah menyempit saat melihat wanita yang kini berada di sampingnya.
Seakan tak percaya dengan kehadiran wanita bertubuh seksi yang tiba - tiba muncul di hadapannya.
Frank menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik, seperti yang umumnya pria lakukan bilamana melihat seorang wanita dengan penampilan yang mampu membuat semua pria melirik dan tertegun memperhatikan.
Saat pandangan Frank tertuju di wajah wanita berambut coklat panjang berombak itu, sebuah senyuman manis nan menggoda menghiasi wajah wanita ber - make up tebal itu.
"Carol..?" nama itu Frank sebutkan dengan sedikit terkejut.
"Ternyata dunia memang benar - benar sempit ya?
Kau dan aku di pertemukan di tempat yang berbeda untuk ke dua kalinya" tutur wanita yang bernama Carol itu.
Penampilannya kini mampu membuat seluruh pengunjung pria di bar beralih memperhatikannya.
Tank top dengan warna hitam mengkilat yang dikenakan Carol tampak membalut ketat tubuh dan dadanya berukuran cukup besar, dipadu dengan rok ketat dengan warna senada berukuran sangat mini memperlihatkan bentuk tubuhnya yang terkesan begitu \*\*\*\*.
Sebuah sabuk besar melingkar ketat melilit pinggangnya.
"Aku boleh duduk disini, tempat ini kosong bukan?" tanya Carol sebelum menarik kursi di depannya, kini ia duduk cukup dekat di samping Frank yang hanya menanggapi pertanyaan Carol dengan anggukan kepala.
"Maaf Carol, aku tak bisa menemanimu ngobrol malam ini" ucap Frank datar dengan nada enggan.
Pandangannya tak lepas menatap botol bir di depannya.
"Tenang saja Frank, aku yang akan menemanimu malam ini" jawab Carol pelan dengan aksen yang terkesan di buat - buat.
"Aku tahu keadaanmu sedang kacau saat ini.
Tenang saja Frank, kau tak perlu sungkan mengobrol denganku.
Ceritakanlah padaku apa yang menjadi bebanmu, dengan senang hati aku akan menjadi pendengar paling setiamu malam ini, khusus untuk malam ini..." tawar Carol seraya menundukkan kepalanya tepat di wajah Frank, begitu dekat.
Frank dapat merasakan ucapan yang berupa ajakan itu padanya dan dengan jelas pula ia dapat merasakan suara Carol yang begitu sarat gairah bersamaan dengan desah\*n nafasnya yang menyapu lembut pipi Frank.
"Tak perlu repot - repot Carol, terima kasih atas perhatianmu" Frank menjawab datar tanpa ekspresi.
Tahu jawaban itu hanya sebuah basa - basi, Carol tak mau menyerah begitu saja.
"Aku tahu kau butuh teman, Frank untuk bersenang - senang...." bisik Carol pelan.
Bibir merahnya begitu dekat di telinga Frank, membuat Frank sedikit menjauh dari sentuhan erotis itu.
"Sejak dulu aku telah menyukaimu Frank Jefferson..., kau tahu itu" ucapnya lagi tanpa malu - malu.
Mendengar pengakuan jujur itu, seketika itupun Frank berpaling menatap wanita yang duduk begitu dekat di sampingnya dan tersenyum kecut menanggapinya.
Tanpa malu - malu Carol membalas tatapan Frank yang baginya adalah sebuah tantangan.
"Yeahh, saat ini aku akan membuat sebuah pengakuan.
Aku memang menyukaimu dan itu sudah lama terjadi, bagiku kau adalah pria satu - satunya di seluruh Fakultas yang mampu menarik perhatianku Frank...
Hanya kau yang mampu membuatku gila saat itu dan aku jujur mengatakannya padamu hari ini."
"Kau datang di saat yang kurang tepat Carol, dan aku sama sekali tak tertarik dengan semua pengakuanmu itu padaku sekarang."
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊ...