
Ini sudah hari kedua Frank Jefferson berada di Paris namun ia belum menemukan tanda - tanda keberadaan Jeanny, mantan istrinya.
Hampir seluruh tempat yang ramai di Paris ia kunjungi selama ia menghabiskan waktunya seorang diri di kota Fashion itu.
Namun untuk mencari seseorang di sebuah kota yang besar tidaklah mudah.
Frank Jefferson tetap tak putus asa, sudah hampir 6 tahun ia tak mengenal lelah untuk mencari keberadaan mantan istrinya itu namun ia tak pernah menyerah.
Petunjuk yang diberikan orang suruhan Frank selama ini yang bertugas untuk memata - matai Garth mengatakan kalau besar kemungkinan Garth menyembunyikan sesuatu di kota Paris.
Dan Frank meyakini itu, semoga saja kali ini tebakannya tidaklah salah karena entah mengapa sejak Frank menginjakkan kaki ke Paris hatinya merasakan adanya sensasi yang berbeda.
Hampir seluruh kota besar dan negara di dunia sudah pernah Frank kunjungi, namun hanya Paris lah yang membuatnya terasa familier.
Apakah karena ia merasakan deja-vu?
"Bagaimana kau sudah menemukan petunjuk lainnya?" tanya Frank pada seseorang di sambungan teleponnya.
"Saat ini saya masih belum mendapatkan pergerakan yang penting dari Garth Gaskins, tuan CEO.
Ia masih berada di Paris sampai saat ini, namun belum ada tanda - tanda lainnya yang mengacu pada keberadaan Miss. anderson.
Namun saya menemukan jika Garth telah menyuruh orang untuk menyelediki sebuah butik di pusat kota baru - baru ini." seseorang menjelaskan di sambungan telepon Frank.
"Butik?
Dimana itu? kau kirimkan lokasinya sekarang padaku! Aku akan mencoba menyelidikinya sendiri kesana" perintah Frank.
"Baik, Tuan, segera saya kirimkan sekarang" sahut suara di sebrang sana sebelum Frank memutuskan sambungan telepon itu.
..
..
Setelah mendapatkan letak lokasi butik yang dicurigai Frank, tanpa menunda waktu lagi Frank pun segera bergegas menuju lokasi yang dituju saat itu juga.
Sekitar 30 menit perjalanan dari hotel tempat Frank menginap, dengan menggunakan mobil yang disewanya kini Frank pun sampai di tempat yang dituju.
Sebuah butik kecil namun menarik mata.
Ia menatap sekilas butik yang ada di depan matanya sekarang kemudian melangkahkan kakinya dengan mantap mencoba masuk ke dalam butik itu.
Ia disambut hangat oleh kedua wanita muda saat Frank pertama kali masuk kedalam butik itu.
Ia menatap sekilas, kemudian dengan kedua matanya yang penuh selidik, ia melihat seseorang yang tampak sedang memperbaiki beberapa interior yang ada di dalam butik itu.
"Selamat datang, tuan...
Ada yang bisa kami bantu disini?" sapa seorang wanita berambut merah yang disanggul rapi seraya tersenyum ramah pada Frank.
"Apa butik ini baru saja renovasi?" tanya Frank tanpa basa basi.
"Betul tuan, ada sedikit kecelakaan beberapa hari yang lalu dan kami sekarang sedikit merenovasi ulang butik ini demi kenyamanan pelanggan" jawab sang wanita tak lepas dengan senyuman ramahnya.
"Kecelakaan? bagaimana bisa?
Aku rasa ada yang aneh..." pikir Frank dalam hati.
"Bagaimana tuan, apa yang anda cari?
Mungkin saya bisa membantu?" tawar sang wanita ramah.
"Ah, maaf tidak.
Saya hanya ingin menanyakan siapa pemilik butik ini, apakah saya bisa menemuinya sekarang?" tanya Frank lugas.
Mendengar pertanyaan Frank, seketika wanita muda itu memicingkan kedua matanya, wajahnya kini tampak serius dan ekspresi wajahnya sekarang tampak berbeda dalam sekejap.
"Ma-af tuan, tapi sekarang pemilik butik ini tidak bisa ditemui karena beliau sedang berhalangan hadir" jawab wanita bersanggul merah itu agak gugup.
"Oh, benarkah?
Sayang sekali padahal saya ingin mengenalnya lebih jauh lagi.
Kira - kira kapan saya bisa bertemu dengan beliau? karena ada hal penting yang ingin saya tanyakan padanya, mungkin anda bisa memberikan saya sedikit petunjuk miss?" tutur Frank percaya diri.
Namun sebelum wanita muda bersanggul merah itu menjawab, seorang wanita muda lainnya dengan memakai seragam yang sama tampak mendekati mereka berdua dengan terburu - buru.
"Maaf, tuan karena hal itu bersifat pribadi kami tidak bisa sembarangan memberikan informasi apapun yang bersifat pribadi kepada orang asing" sahut sang wanita yang baru saja datang itu pada Frank.
Sekilas Frank dapat menangkap saat kedua pegawai wanita itu saling bertatapan, seakan memberi kode satu sama lain.
"Sebelumnya kami mohon maaf, tapi pemilik butik ini berpesan kepada kami seperti itu, tuan jadi kami harap anda bisa mengerti" sambung sang wanita dengan senyuman ramahnya kembali.
"Kalau seperti itu baiklah, saya bisa memahaminya, kalau begitu sampaikan kepada beliau nanti jika ada seseorang yang mencarinya, saya akan kembali lagi beberapa hari kedepan" ucap Frank dengan nadanya yang berwibawa.
Kedua karyawan wanita itu hanya menunduk setengah badan sebelum Frank meninggalkan mereka berdua.
Setelah keluar dari butik itu selang beberapa saat, pikiran Frank tak berhenti pada butik yang baru saja ia kunjungi itu.
Ada banyak kejanggalan dan keanehan.
Sepertinya memang terjadi sesuatu di butik itu sebelumnya, dan sang pemilik butik pun begitu rapat berusaha menutupi indentitas pribadinya.
Jika Garth menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang butik ini brarti besar kemungkinan ada satu hal besar yang penting dirahasiakan oleh rivalnya itu.
Dan Frank yakin ini adalah sebuah petunjuk yang besar setelah sekian tahun Frank bisa dapatkan selama ini dalam menyelidiki Garth Gaskins.
Karena memang rivalnya itu cukup cerdik selama ini, menyimpan rapat keberadaan Jeanny padanya selama ini dan kali ini Frank Jefferson yakin Garth telah ceroboh dan melakukan kesalahan dan hal itu menjadi titik terang untuk Frank Jefferson.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Mom..., apa mom sudah baikan sekarang?"
"Uuhmmmm, Ian...sayang..." panggilku lirih dengan kedua mataku yang masih tertutup.
"Jangan memaksakan diri, Jeanny.
Kau istirahat saja, Ian aman bersama denganku.
Kau fokuslah untuk kesehatanmu sendiri ya..." tutur sebuah suara mencoba menenangkanku.
"Joseph..., apa aku baik - baik saja?
Aku tidak mau membuat Ian khawatir dan merepotkanmu" ucapku lirih mencoba untuk membuka mata dan kini aku bisa menyadari sepenuhnya kalau kini aku sudah terbaring di ranjang pasien dengan selang infus yang terpasang di urat nadiku.
"Kau baik - baik saja, Jeanny.
Dokter mengatakan kalau kau hanya kelelahan dan dehidrasi, demammu sudah turun sekarang tapi kau harus tetap istirahat selama kondisimu sudah benar - benar pulih" sahut Joseph.
"Terima kasih, Joseph.., aku berhutang lagi padamu..." aku berkata lirih, hanya itu bisa kulakukan sekarang.
"Sama - sama, Jeanny...
Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan dan aku tulus melakukannya" Joseph menjawab dengan memasang senyuman manisnya padaku.
"Jeanny...?!"
Sebuah suara mengejutkan kami bertiga di ruangan itu.
"Garth??"
Kulihat Garth datang dengan membawa sebuah buket mawar merah di tangannya, wajahnya tampak gusar dan cemas.
Garth melangkah mendekatiku, tatapannya tak lepas menatapku dengan tatapan sendu.
"Aku akan keluar bersama dengan Ian, kalian berdua mengobrol lah dengan tenang..., kami akan kembali nanti" ucap Joseph beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo, Ian..., kau ikutlah bersama dengan uncle.
Biarkan mom istirahat disini bersama dengan uncle Garth" perintah Josep lembut dan Ian hanya mengangguk mengerti dan menurutinya.
"Mr. Hayden terima kasih kau sudah membawa Jeanny tepat pada waktunya dan menjaga Jeanny dengan baik..." ucap Garth tulus saat Joseph berjalan melewatinya.
"Bukan masalah Mr. Gaskins.
Saya rasa, anda juga akan melakukan hal yang sama jika anda menjadi saya" Joseph menyahut tenang, senyum tipis terbit di wajahnya.
Setelah Joseph dan Ian pergi hanya tinggal kami berdua di ruangan pasien mewah yang aku tempati kini.
Entah kenapa aku hanya diam tanpa bisa berkata apapun saat Garth berada di depanku sekarang.
Seolah bayangan kejadian kemarin malam masih terlintas begitu jelas di depan mataku.
"Bagaimana keadaanmu, Jeanny?
Aku begitu mencemaskanmu saat Ian menghubungiku dan mengabarkan kau berada di rumah sakit" tanya Garth cemas.
"Aku sudah baikan, Garth, kau tak perlu cemas.
Joseph membawaku ke rumah sakit tepat pada waktunya" jawabku dengan tersenyum tipis.
"Syukurlah...
Aku membawa bunga kuharap kau menyukainya" tuturnya dengan senyuman khas yang sudah lama kukenal itu.
"Terima kasih, Garth... kau memang pria yang romantis" pujiku jujur.
"Aku harap itu sebuah pujian untukku, Jeanny..." sahutnya tersenyum lebar.
"Tentu saja itu sebuah pujian, Garth.
Sungguh beruntung wanita yang bisa mendapatkan cinta tulus darimu" ujarku.
Garth diam sejenak, ia mendesah pelan dan menatapku sayu.
"Maafkan aku, Jeanny...
Seharusnya aku tak melakukan hal bodoh itu lagi padamu" tuturnya menyesal.
Seketika aku menggeleng pelan.
"Tidak Garth, aku yang harusnya meminta maaf padamu karena telah membuatmu menunggu selama ini" ucapku menyesal.
"Aku harap hubungan kita tetap selalu seperti ini dan tak berubah, asal kau bahagia akupun ikut bahagia, Jeanny" Garth menyahut lirih.
"Tapi itu tidak akan adil untukmu, Garth...
Aku tak mau kau menyakiti dirimu sendiri karena aku tak bisa membalas perasaanmu, maafkan aku Garth..." kini aku menatap Garth lemah dengan kedua mataku yang berkaca - kaca.
"Jangan katakan hal itu, honey...
Aku melakukan semua ini tulus untukmu dan Ian, jangan jadikan itu sebuah beban karena aku tak mau memaksakan hatimu padaku" Garth menjawab, jemarinya lembut menyentuh jemariku sekarang.
"Kau bebas memilih dengan siapa kau bersanding, Jeanny...
Aku tak punya hak untuk memaksakan hatimu untuk mencintaiku, karena aku sekarang tahu cinta memang tidaklah bisa dipaksakan.
Terima kasih karena dengan mengenalmu aku tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya.
Aku harap kau bisa hidup bahagia suatu saat dengan pria yang kau pilih nanti."
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...