One Day In Your Life

One Day In Your Life
FRANK DAN JOSEPH



"Ayo Ian sayang, apakah kau sudah siap?" tanyaku pada Ian di pintu luar bersiap - siap mengantar Ian ke sekolah pagi itu seperti biasanya.


"Ya, mom" sahut Ian singkat, kulihat ia berjalan sambil menenteng tas sekolahnya dengan senyum tampannya yang menggemaskan.


Kemudian kamipun berjalan keluar menuju mobil yang sudah siap di depan rumah.


"Mom?" panggil Ian


"Hmmm? ada apa sayang?" tanyaku lembut.


"Mom belum menceritakan siapa uncle yang semalam datang ke rumah, apa dia benar adalah daddy ku?" tanya Ian polos.


Wajahku menjadi gugup saat itu juga, namun aku susah payah tetap bersikap tenang di depan Ian sekarang. Aku tahu, cepat atau lambat kenyataan ini pasti akan terjadi.


"Benar nak, dia adalah daddy mu tapi mom dan dad sudah lama berpisah jauh sebelum kau lahir. Karena itu kau tak pernah bertemu dengannya selama ini, maafkan mom ya Ian sayang..., mom harap kau dapat mengerti" jawabku hati - hati dan berusaha sebaik mungkin menjelaskannya pada anak seusia Ian karena aku tak mau dia salah paham.


"Aku mengerti mom, apa mom membenci dad? sehingga mom tak mau bersama dengannya lagi?" tanya Ian kembali.


Astaga, jantungku terasa berhenti saat itu juga mendengarkan pertanyaan Ian yang bagiku sangat sensitif. Bagaimana anak seusia dia sudah berpikir sampai sejauh itu? apakah selama ini anakku tumbuh menjadi lebih dewasa dari usianya yang sekarang tanpa aku tahu selama ini?


Kuhembuskan nafas panjang dan menjawab pertanyaan Ian yang tampak menunggu dengan setia jawaban dariku.


"Ada satu hal yang membuat mom dan dad berpisah sayang, dan itu bukan alasan mom membenci daddy mu. Jika kau sudah tumbuh dewasa kelak kau akan mengerti, jadi mom minta maaf padamu ya nak..., kalau selama ini mom tak pernah menceritakan tentang daddy mu." aku mencoba menjelaskan seraya menyentuh lembut rambutnya dengan satu tanganku sedangkan satu tanganku yang lain tetap berada di stir mobil.


"Apa mom akan marah jika aku ingin berjumpa dengan dad nanti?" Ian bertanya polos, wajahnya tampak sayu dan hal itu membuatku hatiku tersentuh.


"Astaga, tidak sayang. Kau boleh bertemu dengan daddy jika kau mau, tapi mom minta kau tak pernah meninggalkan mom ya, karena hanya kau yang mom punya, tidak ada yang lain dan mom tak bisa hidup tanpa kau sayang..." sahutku dengan mata berkaca - kaca.


"Aku sayang mom, karena itu Ian tak mungkin akan meninggalkan mom" jawab Ian sungguh - sungguh dan aku tersenyum bahagia mendengarnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah aku mengantar Ian ke sekolah aku langsung menuju ke butikku untuk melakukan pekerjaan yang sempat kutinggalkan disana.


Karena kupikir aku tak bisa selamanya menghindar dari Frank Jefferson, toh dia sudah tahu butik ini dan bahkan rumahku. Aku yakin ia juga akan tahu dimanapun aku bersembunyi sekarang, karena itu aku berpikir kini aku tak harus selamanya bersembunyi darinya seperti seorang pengecut bukan?


Saat aku sibuk dengan pekerjaanku saat itu juga, kulihat ada panggilan dari Joseph yang sejak tadi tak kudengar.


"Ya, hallo Joseph?


Maafkan aku karena aku sejak tadi tak tahu ada panggilan darimu."


"Kau sedang sibuk, Jeanny? sayang sekali aku tadinya berniat ingin mengajakmu dan Ian makan siang bersama nanti."


"Hmm, ini sudah hampir selesai Joseph. Jika untuk nanti siang sepertinya aku bisa."


"Benarkah? Syukurlah...


Kalau begitu sampai ketemu nanti, aku akan menjemputmu di butik sekalian menjemput Ian nanti." Tutur Joseph sebelum menutup panggilan teleponnya.


Aku mendesah pelan, pikiranku kini melayang.


Joseph adalah pria yang baik dan sejauh ini aku nyaman bersama dengannya. Sejak pernyataan cintanya padaku di malam setelah pesta itu, sejak saat itupun aku telah membuka sedikit pintu hatiku untuknya.


Karena memanglah benar apa yang diucapkan Joseph kalau aku harus mulai membuka diri jika ingin melupakan cinta di masa lalu. Namun aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri sekarang, kedatangan Frank dan semua pengakuannya padaku membuat perasaanku menjadi rumit kembali dan tentu saja aku tak bisa terus seperti ini.


..


..


"Hari ini aku ingin mengajak kalian ke restoran yang menakjubkan!" Ucap Joseph semangat sesaat setelah kami berdua menjemput Ian.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, karena restoran itu letaknya ada di pusat kota. Akhirnya kamipun sampai di tempat yang dituju.


Restoran L'oiseau Blanc Paris






"Joseph, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanyaku canggung saat mulai memasuki restoran mewah bergaya formal itu.


"Untuk kalian berdua tentu saja tidak, aku hanya ingin sekali - sekali mengajak kalian di tempat yang istimewa dan aku yakin Ian akan suka, karena view disini sangat bagus!


Bukankan begitu Ian?? Kau suka tidak?" Joseph bertanya memastikan pada si kecil Ian.


"Tentu saja, uncle Joseph aku suka!" sahut Ian semangat dan aku hanya menggeleng senyum.


"Kau bisa memilih tempat duduk dimana yang kau suka, Ian. Ada dua pilihan disini, outdoor ataupun indoor" Joseph menjelaskan dengan penuh semangat.


Karena Ian ingin melihat pemandangan menara Eiffel lebih leluasa maka kamipun memilih tempat duduk di luar ruangan.


Namun saat kami memasuki restoran, kedua mataku menangkap seseorang yang sangat kukenal.


Frank Jefferson! Namun kali ini ia tidaklah sendiri, ia bersama dengan seorang wanita yang sama pernah kulihat di pesta waktu itu, wanita bergaun hijau. Ya, aku yakin itu dia dan mereka berdua tampak akrab berbincang dengan beberapa pria berjas duduk di dalam restoran itu.


Sebelum Frank menyadari kehadiranku di tempat ini, aku pun berpura - pura tak melihat dan berjalan di sisi yang aman agar tak terlihat oleh kedua matanya yang tajam itu.


Menyadari keanehanku, Joseph pun menatapku penuh tanya.


"Ada apa, Jeanny? apakah ada masalah?" tanyanya perhatian.


"Ah, tidak ada. Hanya saja aku agak canggung berada di sini karena bagiku ini sangat terlalu mewah" jawabku asal dan Joseph hanya terkekeh mendengar alasanku.


"Aku pikir kau melihat sesuatu yang mungkin kau kenal, syukurlah ternyata aku salah" ucapnya menebak.


"Disini indah, mom!" Ian berseru girang saat melihat pemandangan menara Eiffel dari tempat ini.


Setelah menu yang kami pesan baru saja datang, saat itupun aku dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tak kuharapkan hadir di tempat ini sekarang.


Frank Jefferson?!


Kini ia berdiri di depan meja yang kami duduki dan wanita yang kulihat di pesta itu mengikutinya dari belakang.


"Selamat siang, Mr. Hayden. Ini untuk ketiga kalinya kita bertemu di Paris" sapanya dengan senyum formalnya.


"Mr. Jefferson dan Miss. Harris, ini sangat menakjubkan kita bertemu kembali. Aku rasa kita memang ditakdirkan berjodoh!" Joseph membalas menyapa mereka berdua dengan senyum lebarnya yang ramah.


Aku tak bereaksi apapun saat itu, karena situasi ini membuatku tidak nyaman. Apalagi saat aku menyadari tatapan wanita berambut panjang coklat itu yang penuh selidik saat menatapku, sungguh membuatku jengah.


"Suatu kejutan bisa melihat anda di sini, Mr. Hayden dan saya harap kita bisa sering berjumpa setelah pertemuan istimewa ini." Ucap Frank basa basi namun bagiku ucapan itu penuh dengan arti.


"Kalian berdua bergabunglah dengan kami, akan sangat menyenangkan jika kita bisa mengobrol bersama." Joseph menyahut sopan.


"Tidak, terima kasih Mr. Hayden. Kebetulan kami sangat terburu - buru karena klien kami sedang menunggu di luar dan lagipula saya tidak mau menganggu kebersamaan anda disini." Ujar Frank mengakhiri sebelum berpamitan dan menatap sekilas padaku dengan tajam yang sejak tadi diam seribu bahasa.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...