One Day In Your Life

One Day In Your Life
TOLONG, BAWA AKU PERGI



Setelah ia pergi meninggalkan mansion Garth Gaskins, dengan tatapan hampa dan seakan tanpa tenaga Frank Jefferson duduk mematung di dalam mobilnya.


Tatapannya kosong namun pikirannya melayang mengingat kejadian dan ucapan istrinya tadi di depan rivalnya Garth Gaskins, masih seperti mimpi rasanya jika mengingat bagaimana Jeanny mengucapkan kalimat yang sampai saat ini masih terngiang begitu jelas di telinga Frank Jefferson.


Jeanny yang dulu membenci Garth Gaskins, kini justru sekarang berpihak pada pria flamboyan itu dan dengan mulutnya sendiri Jeanny mengatakan kalau hubungan mereka sudah berakhir.


Pernikahan mereka sudah berakhir dan apakah Frank harus benar - benar merasa kehilangan istri yang begitu dicintainya kali ini?


Apakah ia akan melepas begitu saja Jeanny Anderson yang kini tengah mengandung anak dan darah dagingnya sendiri?


"Tak ada lagi yang harus kulakukan, aku sudah kalah kali ini..., Jeanny'ku kini membenciku..."


Frank begitu hanyut oleh pikirannya sendiri.


Kali ini ia benar - benar merasa bodoh, tolol dan gagal mempertahankan pernikahannya sendiri yang memang sudah pada di titik kehancuran.


Istri dan anaknya yang masih dalam kandungan itu hampir dicelakai oleh Billy Dogg dan ia tak bisa menolongnya saat itu namun justru rivalnya, Garth Gaskins yang datang sebagai dewa penolong istri dan anaknya.


Sungguh kenyataan yang menyedihkan, semua menjadi berbanding terbalik dengan keadaan.


Ddrrrrtttt.....ddrrrttt.....


Ponsel Frank bergetar sedari tadi namun seakan Frank tak memperdulikannya kini, pikirannya terlalu hanyut karena ia merasa sangat putus asa dengan keadaaan.


Hingga entah yang beberapa kali ponsel itu terus bergetar membuat Frank mau tidak mau mengalihkan perhatiannya pada ponsel miliknya yang terus bergetar dan menerima panggilan itu dengan tanpa suara.


"Hallo, Frank...


Kenapa kau lama sekali tak mengangkat teleponku?!


Bagaimana apakah kau sudah menemukan Jeanny?!" tanya sebuah suara dari sebrang sana.


"Aku sudah kalah Nat..., aku benar - benar akan kehilangan semuanya..." Frank menyahut lirih, tatapan matanya kedepan dan kosong.


"A-pa?!!, apa maksud ucapanmu Frank?!!


Jeanny sudah ditemukan bukan? bagaimana keadaan dia sekarang?!" Natasya bertanya cemas seakan ingin segera jawaban dari Frank.


"Jeanny baik - baik saja..., kau tak perlu khawatir.


Biarkan aku sendiri Nat, aku akan menjelaskan padamu nanti" ucap Frank lirih kemudian ia menutup panggilan telepon itu sebelum Natasya menjawabnya.


✨✨✨✨✨✨


"Apa masih sakit...?" tanyaku khawatir saat mengobati luka di sudut bibir Garth yang sedikit pecah.


Garth meringis menahan sakit ketika luka itu kuoleskan obat antiseptik.


"Sudah, Jeanny..., kau istirahat saja.


Pelayanku bisa melakukannya, kau tak perlu khawatir" ucapnya lirih seraya menyentuh sebelah pipinya menahan nyeri luka bengkak di wajahnya.


Pelayan setia Luke saat itu pun tampak membantu memperbaiki perban yang ada di punggung Garth yang agak terbuka karena terkena benturan.


"Tidak Garth, kau terluka karena aku.


Aku tak bisa hanya diam dan melihatmu kesakitan sendiri seperti ini!" sahutku keras kepala.


Seketika itu Garth pun menatapku, pandangan kami bertemu beberapa saat dengan jarak yang dekat.


"Aku tak apa - apa, Jeanny..., ini hanyalah luka kecil. Sekarang aku yang seharusnya mengkhawatirkan keadaanmu..." tuturnya dengan tatapan penuh arti.


Aku diam selama beberapa saat mencoba memahami ucapannya karena aku tahu apa yang Garth maksudkan.


"Apa yang kau ucapkan tadi pada Frank benar - benar keluar dari hatimu, Jeanny...?" tanya Garth kemudian.


"Ah...? aku tak mengerti apa yang kau maksud Garth?" jawabku pura - pura bodoh.


"Hubunganmu dan Frank telah berakhir, apakah itu benar?" tanya Garth kembali.


Mendengarnya saat itu juga aku terdiam, aku menundukkan kepala menghindar dari tatapan Garth yang bagiku tampak mengintimidasi.


"Tinggalkan kami berdua, Luke! aku baik - baik saja sekarang..." Garth memberikan perintah pada pelayan setianya, sepertinya Garth sengaja melakukannya agar aku lebih leluasa dan memberikan ruang privasi untukku berbicara.


"Sekarang hanya ada kau dan aku, Jeanny...


Kau bisa mengutarakan seluruh perasaanmu padaku sekarang, karena sebagai teman aku tak mau kau merasa stres ataupun frustasi apalagi dengan keadaanmu yang sedang hamil sekarang, karena itu tak baik untuk kesehatanmu dan kandunganmu juga" ucap Garth simpatik.


"Aku dan Frank memang sudah berakhir, Garth.


Pernikahan kami sudah tak bisa diselamatkan, dia sudah berbohong dan bermain di belakangku.


Aku sudah terlalu kecewa padanya..." sahutku lirih, kedua mataku kini tampak berkabut mencoba menahan tangis.


Jika menyinggung segala hal tentang Frank, dadaku menjadi serasa sesak dan sakit.


Frank sudah terlalu membuatku luka dalam di hati ini.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya? dia masih suamimu, Jeanny dan kau pun tengah mengandung anaknya kini.


Kuharap kalian bisa membicarakan ini baik - baik dulu sebelum kau mengambil keputusan, karena jujur aku memang masih mencintaimu tetapi aku tak mau kehadiranku membuat hubungan kalian semakin buruk..." ucap Garth serius, akupun menatap wajahnya kini dengan tatapan sendu seakan apa semua yang Garth katakan memanglah benar.


Namun perasaan dan hatiku sudah tertutup untuk menerima seorang Frank Jefferson lagi saat ini, walaupun dalam hati kecilku masih tersisa cinta untuk Frank Jefferson.


"Bawa aku pergi jauh dari sini, Garth.


Aku mohon..., aku tak mau melihat dan bertemu Frank lagi.., hu..hu..hu" tangisku tiba - tiba keluar, susah payah aku berusaha menahannya namun kini aku merasa semua sudah di luar kemampuanku.


"Tidak Jeanny, aku tak bisa melakukannya.


Jika aku melakukannya itu sama saja aku merebutmu dari Frank Jefferson, kau adalah istrinya dan itu jelas akan salah dimata hukum, aku tak mau mengulang kesalahan yang dulu aku pernah aku lakukan padamu, Jeanny" sahut Garth dengan wajah serius.


"Tidak, Garth kali ini aku yang meminta padamu!


Aku mohon, tolong bawa aku pergi dari New York! karena aku sudah tak memiliki siapapun didunia ini kecuali anakku yang masih dalam kandunganku ini! aku tak mau bertemu dengan Frank lagi karena itu sungguh sangat menyiksaku!! hu..hu...hu" aku terus memohon dengan suara serak, sudah payah aku mengucapkannya namun aku yakin keputusanku kali ini memanglah yang paling tepat.


Garth menarik tubuhku ke dadanya, agar aku bisa menangis dan mengeluarkan seluruh emosiku di pelukannya, detik itu juga tangiskupun pecah, aku menangis pilu di dada Garth hingga nafasku sesenggukkan.


"Menangis lah Jeanny, keluarkan seluruh emosimu padaku..., karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk membantumu..." tuturnya perhatian seraya menepuk pundakku dengan lembut.


"Aku akan membawamu pergi jika kau yang memintanya, namun sebelum itu aku memintamu untuk memikirkannya lagi baik - baik keputusanmu ini, Jeanny...


Karena aku tak mau kau akan menyesal dikemudian hari" ucap Garth lirih.


...✨✨✨✨✨✨...


...Author gak akan bosen ngingetin kalian buat Like, komen dan suport selalu karya ini ya teman - teman❤️❤️.., karena jempol dan komen dari kalian sangatlah berharga dan akan membuat author makin semangat buat up trs novel ini hingga sampai tamat🥰🤗...