One Day In Your Life

One Day In Your Life
Apakah kau membencinya?



"Tidurlah sayang, kau perlu istirahat.


Tak perlu berpikiran buruk tentang apa yang baru saja terjadi.


Aku yakin malam ini kau akan mimpi indah, Kimmy ku yang manis" tuturku menenangkan Kimmy yang masih merasa syok pada apa yang baru saja terjadi.


Malam ini, setelah Frank mengucapkan ancaman dan kemarahannya padaku dan kedua adiknya, Alex dan Kimmy.


Ia langsung beranjak pergi dengan masih mengenakan setelan jas kerjanya malam itu.


Meninggalkan kami bertiga yang masih berdiri terpaku.


"Kumohon Jeanny, kau tak akan pergi meninggalkan kami kan?" tanya gadis kecil itu polos, kini wajah polosnya itu berubah menjadi cemas.


"Tentu saja sayang, aku tak pernah berniat meninggalkanmu dan Alex.


Bukankah itu sudah kukatakan pada kalian semua tadi?


Lagipula siapa yang rela meninggalkan kedua anak manis yang begitu aku sayangi ini?" tambahku seraya mencolek hidung mungil gadis manis di depanku.


Kontan saja wajah cemas itu kini tersenyum simpul.


"Kau berjanji kan Jeanny? Frank tak akan membuatmu meninggalkan kami kan?" tanyanya kembali.


Aku mendesah pelan dan kemudian tersenyum menyejukkan.


"Sudah berapa kali kukatakan, aku mencintai kalian semua jadi aku akan tetap berada di samping kalian selama kalian masih membutuhkan aku di rumah ini.


Aku berani bersumpah" jawabku seraya menempelkan kedua jariku di bibir mungil Kimmy sebagai tanda perjanjian.


"Dulu Frank tak pernah bersikap seperti itu


Sebelum Mom meninggalkan kami, Frank selalu sayang dan perhatian padaku dan Alex" tiba - tiba saja kalimat itu meluncur pelan di bibir manis Kimmy.


"Frank tak akan mengulangi perbuatannya lagi, percayalah sayang..., semua akan kembali normal seperti dulu lagi" ucapku penuh harap.


"Ayo sekarang peluk lah aku!" kataku seraya tersenyum dan merentangkan kedua tanganku di depan Kimmy, menunggu pelukan darinya.


Detik itu pula Kimmy membalas pelukanku dengan kedua tangannya yang kecil.


"Aku mencintaimu, Jeanny..." ucapnya pelan.


"Akupun mencintaimu sayang..." sahutku membalas.


Kupeluk Kimmy erat - erat dengan penuh sayang, mataku terpejam kuat - kuat menahan air mata yang ingin keluar.


"Maafkan aku Kimmy..., aku yang menyebabkan semua ini" ucapku dalam hati berharap semua ini akan kembali indah.


"Tidurlah sayang dan lupakan semua yang terjadi malam ini.


Besok kau akan bangun dan menjadi Kimmy yang kembali ceria" ucapku pelan setelah kuselimuti tubuh Kimmy dengan selimut tebal hingga menutupi sebatas leher.


"Aku berharap Mom dan Dad datang dalam mimpiku" ucapnya pelan sambil memejamkan kedua matanya, kalimat itu bagiku terdengar seperti doa.




Setelah keluar dari kamar Kimmy, aku mencoba masuk ke kamar Alex yang berada tepat di samping kamar Kimmy.



Saat itu kulihat sosok Alex yang tampak duduk diam di ranjangnya, tanpa bergerak sedikitpun.


Pandangan kosong, entah apa yang dia pikirkan dan aku berpikir, apakah sejak tadi ia seperti itu?



Suasana ruangan terasa sunyi diantara keremangan cahaya.


Masih tampak jelas kulihat wajah serius Alex diantara cahaya lampu di meja samping ranjangnya.



"Kenapa kau belum tidur, Alex?" tanyaku cemas.


"Bukankah ini sudah malam, kau belum mengantuk?" tanyaku kembali.



Ku belai rambut Alex yang kini tampak berwarna mahoni, kena cahaya lampu.



"Apa yang kau pikirkan sayang?


Kau memikirkan tentang Frank?" tebakku kemudian.



Kini aku duduk tepat di samping Alex yang masih tampak diam.


"Dia menamparku" sahutnya tiba - tiba.


"Aku tahu..." lirihku memejamkan mata ikut merasa iba.



"Aku ikut menyesal pada apa yang Frank lakukan padamu malam ini Alex, tapi aku mohon jangan jadikan itu sebuah alasan untuk membencinya.


Frank mencintaimu Alex, seperti ia menyayangi Kimmy, aku tahu itu" aku berkata membenarkan seraya menyentuh lembut pipi Alex yang masih tampak merah.



"Maafkan Frank, Alex...


Ia tak bermaksud menyakitimu" mohonku penuh harap.



"Tapi dia sudah menyakitiku, Jeanny.


Kau lihat sendiri bukan? dia menamparku tanpa alasan.


Ini untuk pertama kalinya ia menamparku, Mom dan Dad tak pernah melakukannya padaku sebelumnya" ungkapnya kesal.



Ku genggam erat tangannya untuk meyakinkan.


"Percayalah, semua ini diluar kesadaran Frank.


Ia tak bermaksud menyakitimu dengan tamparan itu, apa yang terjadi akhir - akhir ini mungkin telah membuatnya kesal dan lepas kendali.



Banyak masalah yang mungkin kini Frank hadapi, Alex... dan aku harap kau mau mengerti dengan keadaannya sekarang" setelah mengucapkan hal itu, akupun tersenyum setulus mungkin.



"Frank akan menyesal telah menyakitimu, aku yakin itu" tambahku yakin.



"Apakah kau tak pernah sedikitpun membencinya, Jeanny?


Setelah apa yang Frank lakukan dan dikatakannya padamu selama ini" tanya Alex mengejutkanku.



Kini ia menatapku seakan ingin segera jawaban dariku.


Mendengarnya tenggorokanku terasa tercekat , seakan tak menyangka Alex akan menudingku dengan pertanyaan yang selama ini aku takutkan dan kucoba untuk menghindarinya.



Perlakuan dan sikap Frank padaku selama ini tak dapat di tutupi oleh mata anak seusia Alex, ia dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi pada kami berdua selama ini, dan aku takut untuk mengakuinya.



"Kenapa kau tanyakan hal itu padaku? Tak pernah sedikitpun ada di pikiranku untuk membenci Frank Jefferson, Alex.



Semua yang aku lakukan pada kalian adalah tulus, aku tak pernah mengharapkan apa - apa dari Frank ataupun kau dan Kimmy.



Satu yang pasti Alex, aku menyayangi kalian bertiga melebihi diriku sendiri akan kulakukan apa saja agar kalian bahagia walaupun tanpa kedua orang tua kalian....



Percayalah sayang, Frank mencintai dan menyayangimu sama seperti kau mencintai Debbie'mu, bahkan mungkin lebih.


Bukankah begitu Alex?" tanyaku mengakhiri.



Dapat ku lihat senyuman tipis mulai tampak di bibir mungil Alex, bibir yang sama seperti milik Kimmy, adiknya.



"Bagaimana kau bisa tahu Jeanny?


Bukankah aku tak pernah menceritakannya padamu tentang Debbie?" baliknya bertanya seakan tak percaya.



"Kau baru saja mengatakan pada kami semua, di depan Frank tadi, ingat?" sahutku membalas senyuman.



"Kalian berdua berkencan bukan, kau dan Debbie?" tanyaku kembali seraya tersenyum simpul.



"Aku hanya mengantarkannya pulang setelah selesai kerja kelompok di rumah Peter, namun di jalan tiba - tiba saja beberapa anak, kakak kelas kami di sekolah menghalangi kami dan menganggu Debbie.



Karena kesal kupukul dan ku dorong mereka dengan spontan.


Salah satu dari mereka jatuh di jalan dan hampir tertabrak mobil milik Frank yang tiba - tiba lewat" jelas Alex gamblang.



Aku menutup mulut seakan tak percaya, ku lihat Alex mendesah panjang,melepas ketegangan dan kemudian melanjutkan ceritanya lagi.



"Kalau saja saat itu Frank tak cepat mengerem mobilnya, mungkin aku tak ada disini sekarang.


Kau dapat menebaknya kan Jeanny, apa yang akan terjadi selanjutnya?



Frank marah besar padaku saat itu, itu kecelakaan dan aku tak sengaja melakukannya.


Aku hanya mencoba membela diri saat anak itu mengancam kami dengan pisau.



Sudah berulang kali aku menjelaskannya pada Frank tapi ia tetap saja tak percaya."



"Ia menyangka kau lah sumber kekacauan itu, sama seperti yang kau lakukan saat kasus Mark di sekolah waktu itu?" tebak ku memotong.



"Astaga Alex! kenapa hal itu selalu terjadi padamu? kau tidak apa - apa kan?" tanyaku langsung panik, mencoba mencari - cari luka atau apapun di tubuh Alex yang lumayan montok.



Membayangkan sebuah pisau yang menempel di tubuh Alex saja sudah membuatku bergidik ngeri.


Alex benar - benar mengalami kejadian yang buruk.



"Tidak, aku tak apa - apa kok" sahut Alex yakin.



"Lalu bagaimana dengan Debbie setelah kejadian itu?" tanyaku kembali.



"Aku dan Frank mengantarkannya pulang dengan selamat.


Dia merasa bersalah dengan kejadian itu dan berjanji akan menebusnya dengan mengundangku ke acara ulang tahunnya minggu depan, sebagai tamu istimewa" ucap Alex semangat.



"Oh, Alex..." aku menatapnya bangga sekaligus terharu.


"Ternyata kejadian buruk yang menimpamu ada hikmahnya, selain dapat membuktikan dirimu mampu dan berani dalam menghadapi kejadian yang tak terduga seperti itu namun juga itu dapat membuktikan perasaan cintamu pada gadis yang kau sayangi.



Selamat ya sayang..., kau sudah tumbuh menjadi dewasa.


Kini kau tahu apa arti sayang dan cinta itu, kau baru saja lulus ujian" ucapku pelan seraya menempelkan telapak tanganku di pipi montok Alex yang kini menatapku dengan tersenyum senang.



"Kau boleh merasa bangga pada dirimu sendiri sekarang tapi ingat semua yang terjadi pada hidup ini adalah sebuah ujian.



Semakin dewasa seseorang semakin berat ujian itu dan jadikan itu sebagai pengalaman sekaligus guru yang paling berhargamu untuk menempuh jalan hidup yang lebih baik.



Dan yang terpenting, kau tak boleh lupa Alex, jadilah dirimu sendiri bukan meniru orang lain karena orang akan lebih menghargai orang yang lebih dulu menghargai dirinya sendiri, kau harus ingat itu Alex?"



"Nah, sekarang tidurlah...


Aku tak mau membangunkan Kimmy dengan perbincangan kita lagipula ini sudah terlalu malam dan berjanjilah padaku.



Kau tak lagi mengulangi kata - kata pedas seperti yang kau ucapkan pada Frank tadi, bagaimanapun juga dia adalah kakakmu, pengganti Mom dan Dad.



Jadi hormatilah dan hargai dia sebagaimana kau menghargai dirimu sendiri, ok?!" ucapku mengakhiri ucapanku.



Saat aku hendak menutup pintu kamar tidur Alex.


Setelah aku yakin Alex berbaring tidur dan memejamkan matanya, ku dengar Alex memanggilku dengan suara pelan.



"Ada apa sayang?" tanyaku lirih.



"Terima kasih untuk semuanya" ucapnya tulus dengan tatapan cinta dan aku hanya mengangguk tersenyum setulus mungkin di depannya.



...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...