
"Sayang..., sampai kapan kita akan seperti ini?
Kita baru saja menikah, tidak kah ada sedikit perasaanmu yang masih tersisa untukku?" tanya Frank lirih seraya memeluk tubuhku dari belakang malam itu.
Ini sudah malam ke tiga sejak pertengkaran kami waktu itu dan yang ketiga kalinya kami tidur bersama namun saling diam dan seperti orang lain.
Sungguh membuatku sesak.
Tapi hatiku masih sakit, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Aku tak menyangkal kalau aku masih sangat mencintainya, perasaan ini masih sama seperti dulu dan belum berubah namun rasa kecewaku lebih besar dari perasaan cintaku sekarang.
Jauh dalam diriku aku merasa takut, takut jika suatu saat nanti perasaan cinta ini akan berubah.
Mungkinkah aku bisa memaafkannya?
"Sayang..., aku mohon bicaralah!
Aku merindukanmu, honey..., sangat..." tuturnya lirih, kini ia mengecup tengkuk leherku namun aku masih tak bereaksi.
Aku masih tidur terbaring membelakanginya, diam dan tak bereaksi pada apa yang Frank lakukan padaku.
Tangannya kini mengelus lembut perutku dengan penuh sayang dan pelukannya semakin erat di tubuhku.
"Jika kita seperti ini terus, akan tak baik untuk perkembangan anak kita, honey.
Tidakkah kau berpikir, kalau semua ini akan buruk untuk kesehatan dan kandunganmu?" tuturnya mencoba mengingatkan.
"Bagaimana dengan anakmu dengan Carol?
Apakah itu akan baik untuk perkembangannya jika ia lahir tanpa ayah nanti? sindirku.
"Ya, Tuhan.
Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya padamu.
Aku mencintaimu sayang dan sampai kapanpun aku tak akan memilih wanita itu!
Jadi jangan paksa aku untuk berdebat lagi untuk masalah ini, honey...aku mohon" sahutnya.
Kini ia mengubah posisinya dan terduduk di sampingku yang masih terbaring tak peduli.
"Aku tak mau kau jadi pengecut, Frank.
Karena kau adalah pria yang bertanggung jawab, aku tahu itu" ucapku dengan suara tertahan.
"Lantas, kau mau aku bagaimana?!
Apa yang harus aku lakukan, Jeanny?
Aku yakin kalau anak itu bukanlah anakku, jadi untuk apa aku harus bertanggung jawab?!" sahut Frank keras kepala.
Kupejamkan kedua mata ini erat, dadaku sakit menahan perasaan yang aku rasakan saat ini.
"Hanya kau yang tahu apa yang harus kau lakukan, Frank...
Jadi jangan bertanya padaku" sahutku lirih.
Menyadari hal itu, seketika itupun Frank berpaling padaku hingga tatapan kami saling bertemu.
"Dengarkan aku sayang, aku mohon jangan terpengaruh dengan siapapun yang mencoba merusak pernikahan kita sekarang, cinta kita sedang diuji saat ini jadi apapun yang terjadi aku akan tetap selalu mencintaimu..., tak ada yang lain.
Hanya kau wanita yang kucintai dan kuharap perasaanmu padaku juga masih tetap sama, honey." ucapnya dengan tatapan memohon.
"Kau memintaku untuk melupakan begitu saja semua yang terjadi beberapa hari ini, Frank?
Begitu maksudmu?
Maaf Frank, aku belum bisa menerimanya.
Kau tahu apa arti kata kecewa?
Sesuatu yang sudah terlanjur sakit tidak akan mudah untuk di obati, Frank...
Tidak semudah itu..." sahutku dengan menatapnya sendu.
"Kau tak lagi mencintaiku, Jeanny?
Apakah itu yang ingin kau katakan padaku?" tanyanya dengan suara berat.
"Jika aku tak mencintaimu, aku tak akan mempertahankan pernikahan kita sampai detik ini, Frank Jefferson...
Tapi semua yang terjadi diluar kuasaku, aku hanyalah wanita biasa yang masih punya perasaan bukan wanita sempurna berhati malaikat."
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Benar, kau siapa dan ada perlu apa?" sahut Carol cukup terkejut dengan kedatangan pria asing yang tak dikenalnya malam itu.
"Mr. Gaskins ingin menemuimu dan membicarakan hal yang penting denganmu sekarang" jawab pria berjas hitam itu.
"Tunggu!
Siapa yang kau maksud tadi, Mr. Gaskins?
Ma-af aku tak mengenalnya, jadi silakan kau pergi dan jangan menggangguku, okay!" tolak Carol waspada.
"Kau bisa bicara sendiri langsung di sambungan ini sekarang, Miss" ujar pria berjas hitam itu seraya memberikan sebuah ponsel yang dipegangnya itu pada Carol yang masih tampak bingung.
"What?!" seru Carol tak percaya, mau tak mau ia pun menerima ponsel yang diberikan pria berjas hitam itu padanya dengan tatapan keraguan.
"Ya, hallo.
Siapa kau?" Carol bertanya penasaran di sambungan telepon itu.
"Hallo, Miss. Gilmore.
Maaf sekali, dengan kedatangan dari orangku yang mungkin mengejutkanmu dan dengan perkenalan ini" jawab sebuah suara di sebrang sana.
"A-pa kau yang bernama Mr. Gaskins?
Siapa kau dan apa maumu?" tanya Carol kembali.
"Perkenalkan, Miss
Aku adalah Garth Gaskins, yang ingin menawarkan kerja sama denganmu."
"Maaf, aku tidak tertarik dengan omong kosong" jawab Carol singkat.
"Sayang sekali Miss, jika kau menolaknya tentunya kesempatanmu untuk bersama dengan Frank Jefferson mungkin akan hilang begitu saja."
Seketika ekspresi wajah Carol saat itu langsung berubah.
"A-pa kau bilang, Frank Jefferson?
Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, aku tidak suka basa - basi Mr Gaskins."
"Jika kau tertarik, silakan siapkan dirimu besok, kita bertemu di rumahku, orangku akan mengantarkanmu ke tujuan besok."
"Apa kau dapat dipercaya?
Aku bukanlah orang bodoh Mr. Gaskins."
"Tenang saja Miss. Gilmore, orangku akan memberikan sebuah jaminan setelah ini.
Anggap saja ini adalah kesepakatan kita di awal.
Kalau begitu aku akhiri sampai disini dan sampai jumpa lagi esok hari." Garth mengakhiri panggilan itu di sebrang sana.
Sungguh pria yang aneh.
Carol cukup terkejut dengan semua ini, namun bukan Carol namanya jika ia tak pandai untuk menyesuaikan keadaan dengan cepat, apalagi jika seseorang tiba - tiba menyuguhkan segepok uang di depannya sekarang dengan cuma - cuma dan ia tahu uang itu tidak dalam jumlah yang sedikit.
Pria berjas hitam suruhan Garth Gaskins itu kemudian pergi setelah memberikan sebuah tas kecil berisikan puluhan dolar uang kertas pada Carol Gilmore yang hanya bisa menatap takjub lembaran uang kertas yang kini di tangannya.
"Ini gila!!" seru Carol tak percaya dan ia pun kini tertawa senang.
Kesempatan tak akan ia sia - sia kan begitu saja.
Ia yakin, pria bernama Garth Gaskins itu menawarkan sesuatu yang sangat menarik.
Frank Jefferson...
Ternyata nama itu tak hanya membuatnya jadi gila karena cinta namun juga telah membuat seorang Carol Gilmore gila karena uang.
Kini wajah cantik namun picik itu menyunggingkan senyuman bangga.
Selama ini ia tak salah target, karena sekarang ia tahu pria yang dikejarnya selama ini telah banyak menghasilkan keuntungan, termasuk cinta dan pemikiran gila yang selama ini ia pertaruhkan hanya untuk mendapatkan cinta dari seorang Frank Jefferson yang berhati dingin.
Namun ia yakin, dengan adanya anak yang ada di dalam kandungannya sekarang itu akan dapat menjadi senjata paling ampuh untuk mendapatkan Frank Jefferson.
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯...
...Trima kasih sdh mendukung author sampai part ini ya gaes, author sayang kalian semua...
...β€οΈπ€...
...Jangan lupa tinggalkan like dan koment dari kalian juga ya, para readers tercintakuhh....
...β€οΈππβ€οΈ...