
Hari Jumat di pertengahan bulan Oktober, selepas pulang dari kantor, malamnya sekitar jam 9 Embun berjalan menuju minimarket di dekat rumahnya untuk membeli kebutuhannya.
Sampai disana dia segera membeli apa yang dia butuhkan.
Tiba-tiba hujan deras turun tanpa pemberitahuan. Padahal baru saja langit terlihat baik baik saja.
Untung saja dia membawa payung hitamnya.
Dilangkahkan kaki itu menuju rumah, hingga di tengah jalan kurang beberapa meter menuju rumahnya. Dia melihat siluet seseorang yang pernah ia kenal, tapi dia tidak ingat siapa.
Orang itu terlihat tengah memperbaiki mesin mobil dalam keaadaan hujan deras.
Dengan keberanian dan keraguan yang imbang, Embun berjalan menuju orang itu. Sampai beberapa langkah lagi. Embun lalu tau siapa dibalik siluet itu. Antara ragu mau membantu atau meninggalkan. Tapi dia merasa jahat jika harus meninggalkan. Orang itu ternyata Elang. Bosnya dikantor.
Setelah bergelut dengan pikiran dan setan serta malaikat di dalam tubuhnya, Embun memberanikan diri untuk mendekat. Di payungi tubuh yang basah kuyup itu. Semula Elang hanya diam, tapi terkaget saat tubuhnya tidak lagi terguyur hujan. Elang mengangkat kepala dan melihat payung yang menghalangi air hujan, perlahan tubuh Elang berbalik hendak melihat siapa orang di bawah payung hitam itu. Ternyata sosok yang sama sekali tidak dia duga.
"Mobil bapak kenapa ?" Tanya Embun setelah tubuh itu berbalik memunggunginya.
"Kamu tidak lihat ? Atau air hujan menutupi pandanganmu ? " Ucap Elang sinis.
"Cih, tau gitu kubiarkan saja dia. Wtf " gumam embun yang ternyata masih bisa di dengar oleh Avram.
"Saya juga ngga berharap kamu tolong. Pergi sana saya tidak butuh bantuan mu. Dasar mengganggu" Perkataan Elang memang sangat kejam tapi Embun tidak terlalu memperdulikan. Beberapa kali bersinggungan dengan nya, beberapakali juga ia harus menerima amukan dan perkataan kejam perlahan membuat Embun terbiasa.
"Mari berteduh di rumah saya" Kata embun dengan sedikit menarik kemeja basah yang di pakai Elang. Elang hanya mengangkat alis nya.
"Saya tidak bisa diam saja melihat orang yang kesusahan, apalagi anda terlihat menggigil. Ayolah pak" Ucap Embun sedikit merayu.
Baju yang dia gunakan pun perlahan mulai basah, apalagi celana training yang ia pakai. Sudah basah sampai lutut.
"Enggak, Saya lebih memilih berteduh di mobil sampai besuk dari pada harus ikut denganmu" Jawab Elang dengan tatapan tajamnya.
"Bertahan di dalam mobil dalam kondisi mesin mati. Dengan kaca mobil tertutup tanpa udara masuk ? itu bukan pilihan yang baik. Bapak mau besuk pagi ada berita 'seorang CEO muda mati mendadak di dalam mobil dengan kondisi mengenaskan' ? "Ucap Embun jengkel.
"Ayolah pak, bapak bisa berteduh sebentar dan menghubungi anak buah bapak" Kata embun dengan sedikit menarik kemeja Elang.
"Cih"
Akhirnya Elang mengikuti langkah kaki Embun, dia tidak butuh payung, karena memang sudah kepalang basah semuanya.
Sampai dirumah minimalis berlantai satu, dengan halaman yang cukup besar. Rumah dengan cat warna putih dan banyak tanaman menampah kesan sejuk. Elang duduk di teras rumah itu, sembari menunggu Embun yang masuk ke rumahnya.
"Nih teh hangat sama handuknya pak" Ucap embun tiba tiba.
Elang mengeringkan rambut sembari meminum teh yang di berikan Embun, sebenarnya tubuhnya sudah tidak tahan lagi, dia bukan tipe orang yang kuat dengan air hujan. Terkena air hujan sedikit saja rasa berat di kepalanya perlahan menyerang.
Jika bukan karena ponsel sialan yang tertinggal di kantor dia tidak akan kesusahan seperti ini. Dia juga memikirkan Kaland yang hentah sudah tidur atau belum.
"Bapak tidak mau menghubungi orang-orang bapak ? "Ucap Embun yang ternyata sudah duduk di kursi sebelah.
"Ponsel saya tertinggal di kantor, kalau ponsel saya ada, saya tidak akan kesusahan dan terdampar di antah berantah seperti ini. Ah kau ini"
Elang kembali menyesap teh hangat agar suhu tubuhnya kembali normal. Tapi nyatanya tetap saja. Badan nya perlahan menggigil kepalanya terasa pening dan berat. Sebenarnya dia sudah tidak tahan lagi. Tapi dia masih berusaha untuk bertahan.
Embun yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari bosnya itu pun segera mendekat. Disentuh kening dan ternyata sangat panas. Perlahan dia menurunkan gelas yang ada di genggaman Elang. Mata Elang tertutup sempurna. Tiba-tiba Elang tidak sadarkan diri.
Embun yang panik langsung masuk kedala rumahnya dan menuju kamar Asa.
"Sa.. Asa keluar dong. Bantuin mbak cepet" Ucap Embun di depan kamar Asa. Suara gedoran pintu membuat Asa jengah.
"Apasih mba, aku lagi ngerjain tugas haishhh"
"Ayo keluar bantuin mbak" Kata embun sembari menarik tangan Asa.
Sampai di teras rumah, Asa terlihat begitu kaget melihat laki-laki yang tengah menutup mata bersender pada punggung kursi.
"Mba, mas mas ini udah mati ya ?" Ucap Asa
"Mati gundulmu, ngawur. Dia pingsan, bantuin mbak bawa kedalem ya" Ujar embun
"Mba, aku panggil ibuk dulu deh"
"Siapa ini Mbun ? "Tanya ibu Ina.
"Bos embun di kantor buk, udah deh bantuin bawa kedalem, ngga lucu kan dia mati dirumah kita" jawab Embun
"Kamu kalok ngomong asal banget, ngga ada rem nya"
Ibu, Embun dan Asa segera membopong tubuh Elang kedalam kamar Embun. Karena di rumah itu tidak ada sofa empuk ataupun kamar tamu terpaksa harus dibawa ke kamar embun.
"Buk, ini gimana ? Bajunya basah. Badannya Pak Elang juga panas" kata Embun menatap ibu nya sendu.
"Kamu gantiin kemejanya aja, celananya gausah. Bentar ibu cari baju bapakmu yang agak gedean" Kata ibu Ina melangkah meninggalkan kamar.
"Beuhhh, tiap hari mbak dapet vitamin A dong. Ngga perlu repot repot mengkonsumsi wortel, mata udah bening tiap hari hahaha" Tawa asa mendapatkan lirikan tajam dari Embun. Mode galak nya terlihat muncul. Yang di tatap hanya cengar-cengir sembari melangkah meninggalkan kamar.
Ibunya datang dengan membawakan sebuah kaos polos warna merah. Hentahlah mungkin itu kaos dari partai.
"Setelah kamu ganti baju bos kamu, kamu tidur di kamar Asa. Kalau dia masih demam kompres aja Mbun. Ibuk mau istirahat. Awas jangan macem macem" Pesan ibu Ina..
"Ibukkkkkkkkkkk"
Perlahan-lahan embun membuka kancing kemeja yang Elang pakai. Hingga semua kancing terlepas Embun memberanikan diri melepas kemeja itu. Dilihat perut sixpack dan lengan kekarnya, Embun yang di sajikan pandangan seperti itu hanya bisa menelan ludah secara spontan.
"Gila, mantan istrinya ngga nyesel tuh ninggalin pak Elang, duit banyak, tampang ganteng, ganteng banget malah, badan beuh bagus begini. Wah tuh mantan istri kalau yang begini aja ditinggalin terus seleranya kek gimana" gumam Embun.
Setelah selesai mengganti kemeja basah dengan kaos merah itu, Embun lantas mengambil baskom dan waslap ke dapur. Di kompresnya kening Elang, celana yang di gunakan Elang dibiarkan saja. Masak iya harus dia yang menggantikan. Tengsi .
Pukul 1 dini hari, badan Elang menggigil hebat, Embun yang sedari tidur bertumbu lutut pun terbangun karena Elang mengigau
"Tolong, jangan pergi. Kau tega meninggalkan aku disini sendiri ? " Ucap Elang di mengigau
"Bapak, pak Elang ? Bapak bangun. Jangan buat saya panik dong" Kata Embun sembari menepuk nepuk pipi Elang.
"Jangan pergi, tolong" Tangan Elang perlahan menarik tangan Embun dan di pegang erat-erat.
Elang semakin menggigil, Embun yang tidak tau harus ngapain pun bingung. Tidak mungkin dia membangunkan ibunya ataupun Asa. Dan ini pun sudah lewat tengah malam.
"Bapak, bapak bangun dulu ya. Minum obat, pak ... Pak Elang"
Embun yang sedari tadi menepuk nepuk pipi Elang kini beralih mengguncang pelan bahunya. Perlahan Elang membuka mata, hal yang pertama Embun lihat adalah mata merah yang terus berair. Keringat didahi pun keluar seperti tak mau berhenti.
"Ke.. kenapa saya bisa disini ?" Tanya nya
"Bukan saat nya banyak tanya. Sekarang bapak minum obat demam dulu ya"
Lantas Embun segera memberikan obat dan segelas air putih untuk Elang.
"Bapak mau senderan apa mau rebahan ? " Tanya Embun
"Gini aja dulu, buat rebahan tambah pusing" Jawab nya dengan suara yang sangat lirih. Ah dimana Elang yang biasa bersuara dengan suara gorilanya.
"Pak Elang mau ngga celananya di ganti sarung aja
Soalnya masih sedikit basah" Ucap Embun sedikit ragu
Lantas Elang segera melirik baju yang dia pakai. Ingin protes tapi nyatanya tenaga nya tak cukup kuat, menumpat saja seperti tak bertenaga.
Embun memberikan sarung hitam polos kepada Avram. Dia hanya melirik sekilas, mengangkat sebelah alisnya lalu menerima sarung itu.
"Saya akan keluar sebentar mengganti air kompresan" Ucap Embun.
Lantas beberapa menit kemudian Embun masuk ke dalam kamarnya lagi. Terlihat Elang tengah bersandar pada bahu ranjang. Terlihat lucu sekali saat Elang memakai sarung.
"Ini kompresan buat bapak, tapi kelihatannya bapak udah enakan. Kalau gitu saya mau tidur di kamar adik saya. Permisi"
Elang tidak menanggapi apapun. Hanya menengok sekilas pada baskom tempat air hangat dan waslap.
Ada perasaan berdesir hentah seperti apa. Ingin mengucapkan terimakasih tapi mulut nya enggan untuk bersuara.
...Bersambung...