
Frank frustasi saat mengetahui kabar bahwa Jeanny di culik. Ia panik dan langsung bergegas menyusul Kim menuju ke flat milik mantan istrinya itu.
Setelah ia sampai di sana, ia langsung bergegas menghampiri adiknya dan sang putra, Ian.
"Dad, apakah mommy dalam bahaya?!" Ian bertanya dengan wajah cemas.
"Dad berjanji akan secepatnya menemukan mommymu Ian, kau tenang saja ya. Sekarang kau pulanglah bersama dengan bibi Kim ke mansion kembali, Dad akan mencari mommymu dan akan membawanya kembali pulang." Ucap Frank memberi perintah pada sang putra dan Ian hanya mengangguk mengerti.
"Bagus! Kau memang jagoan daddy Ian. Dad bangga padamu." Tutur Frank memberikan pujian pada sang putra.
"Kim, bisa kau sebutkan ciri - ciri mobil yang membawa Jeanny tadi?" Tanya Frank penuh selidik.
"Ah, mobil penculik itu sedan toyota klasik berwarna hitam, Frank. Hanya itu yang kuingat."
"Apa kau tak melihat wajah orang yang membawa Jeanny pergi?"
Kim hanya menggeleng lemah dengan tatapan menyesal.
"Sayangnya aku tak sempat melihatnya, Frank. Maafkan aku." Lirihnya menyesal.
"Aku melihatnya Dad! Dia berambut pirang gelap dan berkacamata hitam." Ian menyahut yakin.
"Maaf tuan, saya juga sempat melihatnya kalau pria itu mungkin berusia empat puluhan, berpostur tinggi besar, tuan." Sahut Scott saat itu juga.
"Kita bisa lapor polisi, Frank! Secepatnya kita harus mencari Jeanny!" Seru Kim cemas.
"Ya, tentu saja tapi sekarang aku tak bisa gegabah karena aku tak tahu motif penculik itu menculik Jeanny, aku tak mau mengambil resiko jika nyawa Jeanny menjadi taruhannya."
ππππππ
Aku kelabakan saat seseorang menyiram wajahku dengan air hingga membuatku mengerjapkan mata karena merasa kaget.
Ingin aku teriak tapi kenapa suaraku tak bisa keluar? Dan saat aku sudah sadar sepenuhnya, aku baru tahu kalau kini aku berada di sebuah tempat asing yang tak aku kenal dengan posisi tubuh terikat dan mulut yang disumpal kuat oleh lakban, pantas saja suaraku tidak bisa keluar.
Kulihat seorang pria berambut pirang berpostur tinggi tegap berperawakan militer menyerigai dan menatap tajam padaku kini.
"Astaga, ya Tuhan siapa dia dan kenapa dia menculikku?!" Seruku dalam hati, mulai merasa ketakutan.
"Kau sudah bangun putri tidur?" Ejek pria itu dengan senyuman devilnya.
"Emmphhh... emmphhm!!!" Aku mencoba bersuara sekuat tenaga namun yang keluar hanya geraman tak jelas di mulutku yang tersumpal lakban.
"Maaf sekali, sayang... aku tak bisa mendengar suaramu." Ejeknya lagi.
Kini pria asing itu jongkok di depanku dan menyentuh wajahku dengan seringainya yang menakutkan.
"Kau pasti bertanya siapa aku dan kau ada dimana sekarang?" Cibirnya padaku.
"Namaku Vince, Jeanny Anderson. Tapi aku memiliki nama lain yaitu Devil. Kau tahu kenapa? Tentu saja karena banyak yang menyebutku seperti Devil. Dan sekarang kau berada jauh di tempat yang jauh dari orang - orang yang bisa menemukanmu disini." Ucapnya dengan senyuman jahatnya hingga membuatku bergidik ketakutan.
Ingatan saat penculikanku 6 tahun silam kembali hadir dalam memoriku. Kenangan terburukku saat aku hamil dulu yang ingin susah payah kukubur dalam - dalam kini bangkit kembali dalam serpihan memori dalam otakku kini.
Kenapa ini terjadi padaku lagi, ya Tuhan? Kenapa? Begitu banyakkah orang yang membenciku hingga aku harus mengalami nasib buruk seperti ini lagi??
Tanpa sadar kini air mata mulai merebak di kedua mataku karena rasa trauma itu kembali hadir dalam diriku kini.
"Astaga, kenapa kau menangis honey? Aku belum melakukan apapun padamu..." Ejeknya seraya mencoba menyentuh wajahku kembali namun dengan cepat aku menepisnya dengan kepalaku menghindar dari sentuhan tangannya yang kurang ajar.
"Tenang saja, honey. Aku belum ingin melakukan apapun padamu karena hari ini moodku sedang bagus jadi kuberikan kau waktu untuk menikmati kesendirianmu di tempat ini, sayang." Ucapnya seraya bangkit dan kini pergi meninggalkanku begitu saja di tempat asing ini kemudian menutup rapat pintu ruangan tempat aku disekap.
Aku mencoba berontak, berusaha melepaskan diri dari ikatan kuat yang ada di tangan dan kakiku namun semua sia - sia. Kupandangi sekeliling ruangan tempat aku disekap kini, mencari sesuatu untuk bisa meloloskan diri namun yang kutemukan hanya ruangan kosong, dingin dan pengap dengan ventilasi kaca kecil seukuran setengah meter yang berada cukup tinggi di tembok.
Kini aku hanya bisa meratapi nasib malang yang menimpaku dengan pikiran yang tak menentu memenuhi otak dan kepalaku.
Ingin rasanya aku menjerit dan meminta tolong namun aku tak bisa karena kondisiku kini yang menyedihkan.
"Frank, Garth, Joseph atau siapapun tolonglah aku, kumohon...!" Jeritku pilu.
ππππππ
"Saya sudah melakukan apa yang anda minta. Wanita itu sekarang bersamaku, sekarang saya hanya menunggu perintah dari anda untuk rencana selanjutnya." Pria bernama Devil itu tampak berbicara dengan seseorang di sambungan teleponnya kini.
"Bagus, pastikan tak ada saksi mata! Kau lakukan apa saja pada wanita itu, aku tak peduli. Yang jelas singkirkan saja dia jauh - jauh dari New York, buat dia jera dan menyesal untuk hidup." Sahut seseorang di sebrang sana dengan suara tegas dan beratnya.
"Baik, tak masalah. Tapi kali ini saya minta bayaran besar yang sesuai, saya harap anda tidak ingkar janji."
"Kau tak perlu khawatir untuk masalah itu, jika kau melakukan tugasmu dengan baik kali ini aku tak segan memberikan bayaran yang pantas untukmu."
"Okay, deal! Saya pastikan anda tak kecewa Mr. Harris." Ucap Devil dengan seringainya yang licik kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Sungguh bisnis yang menguntungkan. Kira - kira apa yang akan kulakukan pada wanita itu? Sebuah kematian yang pelan - pelan atau penyiksaan yang menyakitkan?"
Tawapun keluar dari mulutnya, tawa bengis dan jahat dari seorang pembunuh bayaran profesional yang merupakan bekas orang militer yang terbuang, dialah Vince Briggs seorang pria blasteran Jerman Inggris yang sudah melakoni profesinya itu selama belasan tahun, tak ada yang pernah gagal dalam misinya selama ini.
Semua kliennya selalu merasa puas dalam misinya dan Vince atau biasa disebut Devil itupun mendapatkan bayaran setimpal dari semua misinya. Namun berbeda dengan sekarang, kali ini ia mendapatkan mangsa empuk yang menawan dan gilanya klien bisnisnya kali ini meminta dia melakukan apapun pada mangsanya sekehendak hatinya. Tentu saja Devil tak akan menyia - nyiakan kesempatan bagus ini bukan?
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯...
...Jangan lupa tinggalkan like π...
...Komenπ...
...Hadiah π₯³ dan...
...Faforite bagi yang belum β€οΈ ya ...
...Terima kasihπ€...