
...Hay....,salam sayang dan hangat selalu untuk para readers ku π€β€οΈ,, trima kasih ya karena telah membaca novel perdanaku sampai tahap iniβΊοΈππ½...
...Mohon suport, dukungan dan masukannya selalu ya dari kalian..., biar aku semakin semangat untuk berkarya lebih baik lagiππ½π€π€βΊοΈ....
...Jangan lupa like dan koment nanti kalau kalian suka dengan novelku yaa...!!β€οΈβ€οΈβ€οΈππ½ππ½ππ½...
...Trima kasihh....π₯°π₯°π₯°...
...See you and Happy reading...
...πππππ€π€π€π€...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Siang itu aku berencana untuk mampir ke market place untuk membeli beberapa kebutuhan pokok harian yang sudah habis.
Kuhentikan mobil di sebuah market place yang cukup ramai di New York city karena kupikir kali ini aku akan belanja habis - habisan untuk keluarga Jefferson dan diriku sendiri.
Saat ini aku masih bisa bersyukur kalau pekerjaan sambilanku sebagai desain interior selama beberapa bulan yang lalu cukup dapat menambah isi tabunganku, dan untuk selama beberapa bulan kedepan aku tak perlu kuatir akan kekurangan uang.
Sesekali waktu aku pernah merindukan pekerjaan dan kehidupanku di San Fransisco, sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau aku akan tinggal di New York city untuk beberapa lama.
Entah akan beberapa lama aku akan bertahan disini, menjadi bagian dari keluarga Jefferson.
Mungkinkan aku akan tinggal disini untuk selamanya?
"Hay...,sweetty kau melupakan aku?" tegur seseorang mengejutkanku saat aku tengah sibuk memilih beberapa makanan siap saji dan memasukkannya di dalam keranjang belanjaan.
Aku pun berpaling mencari sumber suara itu.
"Nat?!" seruku tak percaya.
Natasya perrone hanya menyunggingkan senyuman termanisnya, setelah 1 bulan lebih lamanya kami tak bertemu sejak pemakaman Max waktu itu kini kulihat penampilannya begitu berbeda, jauh lebih cantik dari yang terakhir aku lihat waktu itu.
"Kau belum pulang, Jeanny?" tanyanya heran dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
"Kau berhutang penjelasan padaku" ucapnya terdengar mengancam.
"Kau pun sama Nat, satu penjelasan dengan penampilan barumu saat ini" sahutku santai.
"Tsk..., kau membuatku merasa terancam Jeanny" ia menyahut ringan.
Setelah mendapatkan apa yang aku butuhkan,
kami pun segera beranjak pergi dan makan siang bersama di sebuah cafe yang letaknya hanya beberapa blok dari Market Place tadi.
"Penampilanmu selama waktu singkat ini banyak berubah Nat" tuturku memulai setelah memesan menu.
"42 hari tepatnya" Nat menambahkan dengan gayanya yang cool dan kami pun sama - sama tertawa setelah itu.
"Bagaimana hubunganmu dengan keluarga Jefferson dan kenapa kau masih berada di New York?
Jangan katakan kalau kau sudah menemukan pengganti Max dan memutuskan untuk tinggal selamanya disini" tanyanya tanpa jeda.
"Aku memutuskan untuk menjadi pengganti Mrs Jefferson, menjaga Alex dan Kimmy" jawabku lancar dan kulihat Nat hanya melongo mendengar jawaban dariku.
Setelah itu kuceritakan pada Natasya tentang bagaimana aku bisa berakhir di keluarga Jefferson selama beberapa minggu ini dan yang kulihat ekspresi Nat hanya melongo seakan tak habis pikir dan tak percaya.
"Aku tak tahu apa yang harus aku katakan padamu Jeanny, kuakui kau wanita terhebat dan luar biasa yang pernah kutemui" tutur Nat memuji.
"Dan aku bangga kau adalah sahabat baikku" tambahnya.
" Sungguh aku tak ingin sebuah pujian Nat, aku melakukannya dengan tulus karena aku mencintai dan menyayangi mereka" sahutku.
"lalu bagaimana dengan Frank, apa kau juga mencintai dan menyayanginya?" Nat bertanya memastikan.
Aku hanya bisa mendesah pelan, "kau terlalu banyak berpikir Nat, sama sekali aku tak memikirkan hal itu" ucapku yakin.
"Sudahlah, aku hanya tak habis pikir kalau Frank masih saja tetap menyalahkanmu sebagai penyebab kematian Max sedangkan penyelidikkan saja sudah membuktikan bahwa kau tak bersalah dan kematian Max adalah murni karena bunuh diri overdosis" Nat berbicara seraya menyesap minuman Jus yang baru dipesannya.
"Percayalah Jeanny, suatu hari Frank akan menyesal dengan sikapnya padamu selama ini, lihat saja suatu saat jika waktu itu tiba ia akan benar - benar kehilanganmu" ucapnya Nat yakin dan aku hanya bisa diam tanpa jawaban saat mendengarnya.
Tak ingin pembicaraan tentang Frank berlanjut, akupun mencoba mengalihkannya dengan topik lain.
"Kau belum menceritakan tentang dirimu Nat, dengan penampilan barumu itu lihatlah kau menjadi luar biasa...! bila kau tak menegurku tadi mungkin aku sulit untuk mengenalimu" tuturku seraya menunjuk semua perubahan di seluruh tubuh Nat yang kini tampak lebih cantik dan bisa dikatakan berkelas.
"Tentu saja karena aku bertemu dengan dewa keberuntunganku Jeanny, lihatlah siapa lagi kalau bukan sosok itu yang aku inginkan dari dulu" ,ucapnya bangga.
Aku melipat kedua tanganku di atas meja seakan menjadi pendengar yang baik.
"Apakah aku mengenalnya?" gurauku
"Kau pasti akan terkejut jika aku mengatakannya sekarang, suatu hari aku akan mengenalkannya padamu" sahutnya penuh teka teki.
"Aku akan sangat menantikannya" aku menjawab dengan senyuman lebar.
"Dia tampan Nat?" tanyaku spontan ingin tahu seraya tersenyum meledek.
"Jauh lebih tampan dari dewa keberuntunganku yang terdahulu"
"Hugh Andrea??" sambungku dan Nat hanya tersenyum penuh arti.
######
"Ada apa sayang? kau kelihatan murung hari ini?" tanyaku cemas saat kulihat Alex termenung seorang diri di dalam kamarnya.
Dengan enggan ia berpaling menatapku, kudekati dia dan kucoba duduk disampingnya.
"Debbie menolakku" ucapnya tiba - tiba.
"Ya..?" aku sedikit terkejut saat mendengarnya.
Setelah aku dan Frank menemui kepala sekolah Alex beberapa hari yang lalu, masalah Alex dapat diatasi dengan tanpa merugikan Alex.
Ia tak jadi keluarkan oleh pihak sekolah justru Alex mendapatkan bintang penghargaan oleh Mrs Hansen dan pihak sekolah karena ia telah berhasil memberikan petunjuk kepada pihak sekolah tentang siswa yang dapat merugikan nama baik sekolah mereka.
Mark Helmhold dan beberapa pengikutnya yang telah lama menganggu dan merusak masa depan anak - anak di Brook Burks School.
"Debbie menolakmu bukan berarti dia membencimu Alex" sahutku kemudian.
"Tapi itu tak cukup Jeanny! aku ingin dia menyukaiku!" serunya kesal.
"Cinta butuh pengorbanan Alex dan rasa suka tidak bisa dikatakan dengan sesederhana itu" tuturku lembut.
Seketika itu Alex menatapku sayu, kini ia tampak begitu putus asa.
Untuk memberikannya semangat lagi akupun berkata.
"Untuk menyatakan cinta itu butuh waktu seperti juga bagi mereka yang ingin membalas cinta.
Sama hal nya dengan Debbie, dia mempunyai alasan untuk menolakmu dan jika kau ingin memperjuangkan cintamu berusaha lah selama rasa suka dan cinta itu masih tetap tumbuh dalam hatimu, sayang..." tuturku mencoba bersikap bijaksana.
"Lalu katakan Jeanny aku harus bagaimana?", tanyanya lirih dengan tatapan memohon.
Aku tersenyum penuh pengertian dan mendekap tubuhnya ke pelukanku.
"Turutilah kata hatimu, semua keputusan ada dan tergantung pada dirimu sendiri.
Selama kau melakukannya dengan sepenuh hati, tulus dan menggunakan akal sehatmu cinta akan datang dengan sendirinya seperti cinta itu tumbuh dalam hatimu", ucapku mengakhiri.
Setelah mendengar dan memahaminya Alex tersenyum manis padaku, sepertinya ia cukup puas dan mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan padanya.
"Sekarang kau tidurlah..., atau kau akan terlambat besok di sekolah", ucapku kemudian.
Alex mengangguk menurut.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu miss Anderson, apakah kau tahu apa itu definisi dari arti CINTA yang sesungguhnya?", ucap seseorang di belakangku yang baru saja keluar dari kamar Alex.
Akupun berbalik dengan spontan dan mencari sumber suara itu.
Tampak Frank duduk santai dengan gayanya yang terkesan dingin.
Ia menangkap ekspresi terkejut yang ada di wajahku, detik itu pula ia berdiri dan berjalan mendekatiku dengan senyuman mengejek.
Tatapannya penuh arti seakan ia siap untuk memangsaku.
"Bukankah kau sendiri yang baru saja mengatakan pada anak berusia 12 tahun tentang apa arti itu CINTA?" sahutnya dengan nada mengejek.
Dalam diam, aku berpikir dalam hati, menyerap apa arti pernyataan Frank tadi padaku.
Saat itu pula aku tahu kalau Frank tadi sempat mendengar pembicaraanku tadi bersama Alex dan sekarang ia bermaksud menguji kebenaran ucapanku tadi.
"Aku hanya mencoba memberikan pengertian tentang CINTA pada anak seusia Alex yang masih dalam masa pubertas.
Bukankah anak seusia Alex masih membutuhkan bimbingan untuk membantu mereka mengerti sekaligus memahami saat - saat mereka mulai mengenal dunia Orang Dewasa yang akan mereka alami?" sahutku memberi jawaban.
Frank mendekat ke arahku, sangat dekat.
"Akan aku jelaskan padamu miss Anderson apa maksud 'Dunia Orang dewasa' mu itu" ucapnya begitu dekat di wajahku.
Aku sempat bergeming, mundur beberapa langkah mencoba menjaga jarak sebagai gerakan reflek untuk melindungi diri.
Namun saat itu Frank lebih sigap di bandingkan aku, dengan satu gerakan cepat ia menarik lenganku ke tubuhnya.
Rasanya jantungku hampir jatuh, dengan susah payah aku berusaha tetap tenang di depannya.
Dengan gerakan menggoda Frank menyibak sebagian rambutku ke belakang dan mulai berbisik pelan di leherku.
Dapat kurasakan nafasnya yang panas menyentuh kulit leherku, akupun bergetar.
"Tak perlu takut miss Anderson, bukankah kau ingin lebih mengerti apa arti 'Dunia Orang dewasa' yang baru saja kau katakan padaku?
Sebuah pelukan, sentu..han dan cium...an" bisiknya parau.
Menyadari apa yang mengancam di depanku, akupun mendorong tubuh Frank hingga akupun ikut kehilangan keseimbangan.
"Kau keterlaluan Frank!! Apa maksud ucapanmu itu padaku?!" aku berseru marah.
Bukan ekspresi menyesal tercermin di wajahnya tapi justru ia tertawa sengit dan menyerigai tajam padaku.
"Pelecehan miss Anderson" sahutnya tenang.
"Apa yang aku lakukan tadi adalah sebuah pelecehan" tambahnya tajam tanpa perasaan.
Perasaanku tiba - tiba menciut saat mendengarnya, Frank mendengus kasar dan berseru kembali.
"Kuingatkan kau lagi miss Anderson yang sok pintar, jika kudapati kau sekali lagi ikut campur dengan urusan keluargaku ataupun berusaha melangkahi aturanku untuk kedua kalinya, aku tak akan segan - segan memperlakukanmu dengan ungkapan 'pelecehan' yang lebih dari yang aku lakukan tadi!!!"