One Day In Your Life

One Day In Your Life
Impulsif



Siang itu tak seperti biasanya Garth Gaskins mengajak Frank Jefferson makan siang.


Sebagai seorang yang cukup mengenal Garth, Frank menaruh sedikit rasa curiga dengan sikap Garth yang demikian berbeda.


Di sebuah cafe yang letaknya hanya beberapa blok dari Perusahaan Frank bekerja mereka bertemu.


"Aku perlu tahu Garth masalah bisnis atau hal lain yang ingin kau sampaikan padaku?" Frank bertanya tanpa basa - basi.


Mendengarnya Garth tertawa lebar,


"Rileks sobat!!, aku tahu kau orang yang tak suka bertele - tele oleh sebab itu aku tak akan membuang sia - sia waktu berhargamu itu" sahutnya santai.


Kedua mata Frank menyempit, ia kurang suka dengan pernyataan Garth barusan.


Setelah menegak minumannya, Garth mencondongkan tubuhnya di depan sosok pria yang selalu bertampang serius dan sedingin es itu.


"Aku sedang jatuh cinta Frank" ucapnya lirih dan begitu yakin.


Seketika Frank pun mendongak kemudian tertawa pahit dengan kesal ia menggelengkan kepalanya.


"Kau sinting!!" umpat Frank terang - terangan.


Garth kembali ke posisinya semula dan menjawab santai.


"Yeah,, kita sama - sama pria sobat dan aku pun yakin kau pernah mengalami hal yang sama bukan?" tuturnya Garth kembali.


"Aku tidak seperti yang kau kira Garth" sahut Frank sinis.


"Perlu kau tahu, aku bukanlah orang yang mudah hanyut oleh perasaan konyol yang disebut ' cinta ' brengsek itu" lanjut Frank kembali.


Mendengar pernyataan pedas Frank kepala Garth miring menatapnya.


"Termasuk Jeanny Anderson yang kau perkenalkan padaku sebagai tunanganmu itu?


Ayolah Frank, jadilah pria sejati! Kita semua sama, kita manusia.


Jadi dengan kata lain bodohlah seseorang yang membohongi perasaannya sendiri termasuk bagi pria normal seperti kita yang tak tertarik pada wanita cantik" Garth berkata dengan penuh percaya diri.


Mata tajam Frank mulai menatap pria flamboyan berwajah baby face itu di depannya.


"Ada batasan - batasan tertentu yang harus kau ketahui Garth Gaskins. Jangan sekali - kali menyinggung soal asmara di depanku dan juga perlu kau tahu aku bukanlah tipe pria yang senang diajak mengobrol tentang wanita seperti dalam otakmu itu" sahut Frank sinis.


Frank kini duduk tegang,


"Jika kau masih ingin membicarakan soal curahan hatimu itu padaku dengan sangat menyesal aku bukanlah orang yang pantas untuk betah berlama - lama mendengarnya"


lanjut Frank kembali.


Garth menyerigai lebar, ia tahu Frank adalah pria dingin dan tertutup dan kali ini ia akan membuat Frank tak bisa membantah ucapannya.


"Lalu apakah kau sudah mulai lupa dengan kesenangan kita yang baru saja terjadi di depan matamu tempo hari di Las Vegas?" sahut Garth membalas seraya tersenyum mengejek.


"Ok!!" Frank berkata keras.


"Langsung saja pada intinya, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!" Frank mulai kehilangan kesabaran.


Garth tersenyum puas, ia mendekatkan wajahnya dengan serius dan berkata dengan cukup mantap.


"Tinggalkan Jeanny Anderson dan biarkan dia menjadi milikku!"


Mendengar pengakuan Garth yang terang - terangan itu Frank tertawa gugup, kedua tangannya menyentuh pelipis dan rambut miliknya.


"Ternyata kau pria yang tak pernah ada puas - puasnya, Garth Gaskins.


Hanya orang sinting yang mau mengorbankan harga dirinya sendiri hanya demi untuk seorang wanita" tuturnya pahit.


Mendengar komentar Frank, Garth hanya tersenyum kecut.


"Tapi tidak untuk seorang Jeanny Anderson" sahutnya yakin.


"Aku tak peduli dia tunanganmu atau bukan, yang pasti sekarang aku begitu menginginkannya dan aku pikir, kau tidak mungkin ingin kesempatanmu hilang dalam proyek kita kali ini bukan Frank?


Jika tidak, tentu saja impianmu untuk menjadi wakil presdir di Wilson Grup's Corporation hanya akan menjadi mimpimu saja" ancam Garth.


"Kau tahu aku bukan orang yang takut dengan ancaman, Garth...


dan satu hal, aku tak suka kau melibatkan keprofesionalan kerja kita dengan urusan yang menyangkut masalah lain terutama berhubungan dengan wanita untuk mengancamku" Frank menyahut serius.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Terlalu matang? aku rasa tidak?" gumamku sendiri saat selesai memanggang roti bologna.


Ku lepas celemek merah dan kulipat kembali.


"Semoga saja Alex dan Kimmy menyukainya" ucapku dalam hati.


Saat aku sibuk memindahkan roti bologna yang baru selesai ku buat itu di piring datar berlapis keramik, samar - samar ku dengar ketukan pintu berulang kali.


"Siapa?, tak biasanya seseorang datang sepagi ini." batinku.


Namun tanpa menunda waktu lagi segera dengan langkah cepat kuberjalan mendekati pintu depan.


Senyuman paling manis mengembang di wajah sesegar embun pagi itu.


"Garth Gaskins?!"


"Apa aku menyita waktu kerjamu miss Anderson?" sapanya dengan suara paling lembut yang pernah ku dengar.


Diantara rasa terkejut itu aku mencoba tetap tersenyum dan bersikap setenang mungkin di depannya sekarang.


"Tentu saja tidak Mr Gaskins, saya baru saja selesai memanggang roti" sahutku.


"Oh, kebetulan sekali kalau begitu" ucapnya senang.


"Silakan masuk, saya tak bisa membiarkan anda berlama - lama berdiri di situ" tuturku sopan.


Garth mengangkat kening dan tersenyum mengiyakan.


"Kau sendirian disini Miss Anderson?" tanya Garth setelah kupersilakan duduk.


"Sepagi ini Alex dan Kimmy masih berada di sekolah dan Frank belum pulang sejak pagi kemarin" jawabku tenang.


"Apa anda datang kemari untuk urusan bisnis dengan Frank?" tanyaku ingin tahu.


Ia menggeleng pelan dengan gerakan menggoda.


"Anda salah besar miss Anderson, ah! maksudku Jeanny..., bukan begitu?" sahutnya.


Aku hanya mengangguk seraya tersenyum sopan.


"Jadi untuk urusan apa kalau boleh saya tahu?" tanyaku kembali.


"Kau Jeanny" sahutnya mantap.


Aku terperanjat dengan jawaban yang mengejutkan itu.


"Anda tidak sedang bercanda bukan Mr Gaskins?" tanyaku memastikan.


Tanpa aku duga saat itu Garth berdiri dari tempat duduknya dan pindah kesamping tempat dudukku.


"Apa aku kelihatan sedang bercanda Jeanny?" balasnya dengan suara menggoda.


Terkejut dengan respon tersebut, perasaanku menjadi tidak nyaman.


"Maaf..,anda mau minum apa Mr Gaskins?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian seraya bangkit dari tempat duduk.


"Coffee, kalau kau tak keberatan" jawabnya pelan.


Tanpa berkata apa - apa lagi akupun segera menuju dapur dengan langkah canggung.


Begitu gugupnya aku sampai - sampai serbuk kopi yang tengah kuambil dengan sendok hampir tumpah.


"Perlu bantuan?" tawar seseorang di belakangku.


Tiba - tiba jantungku nyaris copot dan lututku serasa lemas menahan gejolak hebat yang tiba - tiba melanda seluruh syaraf tubuhku saat mendengar suara merdu, lembut dan begitu merayu itu.


"Mr Gaskins?!" seruku spontan saat berbalik dengan wajah tegang.


Garth tersenyum simpul dan kulihat garis - garis di kening wajahnya saat melihat reaksiku tadi.


"Apa aku mengejutkanmu?" tanyanya sedikit khawatir, wajahnya kini tampak begitu perhatian.


"Ahh? ti...dak!" jawabku pendek.


"Hanya saja anda tak perlu repot - repot menyusul saya sampai ke dapur" tambahku sopan dan kuharap alasan itu terdengar logis di depannya.


Garth menghela nafas dalam - dalam dengan tampang sedikit kecewanya.


"Aku mohon padamu Jeanny, jangan panggil aku 'Mr Gaskins' ataupun dengan 'anda' saat memanggil atau menyebutku.


"Ta...pi anda - " belum sempat aku melanjutkan bantahanku Garth menempelkan jari telunjuknya di bibirku dengan isyarat agar aku diam dan tak membantah.


"Aku tak suka memohon pada wanita tapi kali ini tidak untukmu Jeanny.


Aku hanya ingin hubungan kita bukan hanya sebatas hubungan rekan ataupun kenalan biasa tapi aku ingin lebih dari itu..." tuturnya lirih dengan nada suara yang mungkin meluluhkan setiap wanita yang mendengarnya.


Aku menggeleng cepat.


"Saya benar - benar tak mengerti" sahutku bingung.


Kedua mata Garth terpejam dan ia mencoba merilekskan tubuhnya di hadapanku.


"Aku sendiri tak mengerti, kenapa aku begitu terpikat padamu, Jeanny Anderson.


Kau tahu? sejak perkenalan kita di malam itu pikiran dan otakku tak henti - hentinya memikirkanmu, aku sendiri hampir gila dibuatnya." ucapnya kemudian Garth melangkah di sampingku yang masih dalam keadaan bingung, panik dan terkejut.


Sungguh aku tak percaya Garth Gaskins begitu mudah mengucapkan kalimat rayuan itu padaku.


Bagiku ia kini seperti pria yang tak tahu malu karena seperti tak menganggap Natasya Perrone kekasihnya.


Ia menatapku karena aku tak bereaksi dengan rayuan yang bagiku sangat terdengar konyol itu.


Sedetik kemudian ia tertawa lebar.


"Kalian pikir aku dapat di bohongi dengan semudah itu atau memang Frank terlalu bodoh menyia - nyiakan wanita secantik dirimu di rumah ini yang pernah menyandang status sebagai kekasih dari Max Judas Bremmes."


Seketika itupun aku terkejut bukan main saat mendengarnya, dengan hati yang penuh gelisah kutatap pria di depanku dengan tatapan tak percaya.


"Darimana kau tahu?


A...pa Nat atau Frank yang memberitahukannya?" tanyaku gugup.


"Tak ada yang lepas dari mataku Jeanny, apalagi untuk wanita istimewa sepertimu.


Tak perlu bertanya pada siapapun aku sudah mengetahuinya sejak perkenalan kita yang pertama malam itu" sahutnya dengan bangga.


"Bukan begitu kan Jeanny?" Garth menambahkan dengan senyuman kepuasan, ekspresi wajahnya menyiratkan kalau ia tahu segalanya dan aku tak bisa lagi menyangkal segala ucapannya mengenai diriku.


Dalam kepanikan aku hanya bisa diam, tak tahu harus bagaimana.


Menangkap kegelisahan yang memang tak bisa di tutup - tutupi, Garth menepuk lembut punggung tanganku dan tersenyum menenangkan.


Namun bagiku senyum itu membuatku semakin terpojok dan tak nyaman.


Tiba - tiba saja firasatku merasakan sesuatu yang buruk, semua pernyataannya mengenaiku membuatku bergidik ngeri berhadapan dengannya sekarang.


Garth Gaskins mempunyai maksud lain dengan kedatangannya yang tanpa alasan.


Entah mengapa dalam waktu singkat, aku menjadi tak nyaman bersama dengan Garth, perasaan yang sangat bertentangan dengan awal perkenalan kami di Richmond's Restoran.


"Kumohon Jeanny jangan setegang itu.


Kau tak perlu takut mengakui semua kebenaran itu, aku dapat mengerti dan sangat memahaminya, kau tenang saja" tutur Garth yang bagiku terkesan sangat ekstrim dan di buat - buat.


Mencoba mencairkan suasana, akupun mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Maaf..., aku belum sempat membuat minuman untukmu" tuturku seraya berbalik membelakangi Garth.


Namun detik itu pula, aku terkejut saat Garth dengan tiba - tiba menggenggam tanganku yang mungkin kini berubah menjadi dingin.


"Sudahlah Jeanny, ikutlah bersamaku, tinggalkan semua ini!


Bukankah sampai saat ini Frank Jefferson tak pernah menghargaimu?" ucapnya pelan dekat sekali di telingaku.


Gerakan tangannya seakan terkesan memaksa dan sedikit bernafsu saat aku mencoba melepaskannya dan aku menjadi tak bisa menahan emosiku dengan tindakan - tindakan Garth yang membuatku semakin terancam.


Dengan gerakan cepat dan sekuat tenaga, sekonyong - konyong aku mundur dan menjauh dari Garth dan berkata dengan suara cukup jelas.


"Maaf Mr Gaskins tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda, sebaiknya anda perlu berpikir matang sebelum berani mengatakan kata - kata itu kepada saya!"


Aku sengaja memasang ekspresi wajah berani dan mengatakan ucapan itu dengan tegas di depan Garth yang kini bagiku berubah menjadi sebuah ancaman.


Namun salah, ternyata Garth benar - benar keras kepala dengan wajah tenang ia hanya tersenyum kecut menanggapi ucapanku dan yang membuatku semakin takut kedua matanya kini menatapku dengan pandangan penuh nafsu.


"Kau takut mengakui kenyataan Jeanny?


Bukankah itu kenyataan yang sebenarnya?


Untuk apa kau berada di sini dengan berbuat seperti dewi penolong untuk keluarga Jefferson jika Frank sendiri tak pernah menghargaimu sebagai seorang wanita sejati?!" seru Garth di depanku.


Sepertinya ia sengaja melakukannya agar nyaliku menjadi menciut menghadapinya namun kenyataannya memang benar.


Aku menjadi panik dan gemetar, dadaku naik turun dengan nafas yang tak teratur menahan emosi yang meluap di dadaku kini.


"Cukup Garth, aku mohon hentikan!!" seruku histeris membuang muka dari hadapan Garth.


"Apa hakmu menghakimi Frank dan menyalahkan semua yang aku lakukan untuk keluarga Jefferson?!" makiku mencoba membela diri, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyangkal semua ucapan Garth.


"Hak..?


Tentu saja aku berhak?!" sahutnya keras - keras.


"Apa aku akan tinggal diam dengan semua yang Frank lakukan terhadapmu, Jeanny?


Lihatlah dirimu sendiri, kau masih muda dan cantik, apa kau akan menyia - nyiakan masa depan dan hidupmu sendiri untuk orang lain yang tak pernah sedikitpun menghargaimu?!"


"Cukup!! aku bilang cukup!!" selaku keras - keras.


"Peduli apa kau dengan semua yang berhubungan dengan hidupku?!


Aku yang menjalani dan menentukan hidupku sendiri, Mr Gaskins.


Jadi kusarankan, anda tak perlu repot - repot mengomentari ataupun ikut handil dengan jalan hidup yang aku pilih.


Ini masalahku, aku yang menentukan semuanya bukan orang lain.


Apakah itu sudah cukup jelas Mr Gaskins?"


Kutatap pria berjas konservatif di depanku dengan memasang seluruh keberanian yang kumiliki.


Mulanya Garth diam sesaat, kedua matanya menyempit namun sedetik kemudian sebuah senyuman penuh arti muncul di ujung bibirnya.


Dengan masih menahan kedongkolan, aku hanya bisa menatapnya tanpa sedikitpun bicara.


Menunggu saat yang paling tepat agar ia bisa keluar dari rumah ini.


"Kau benar - benar wanita yang luar biasa, Jenny Anderson.


Ternyata tidak hanya kelebihan fisik yang kau miliki namun hati dan kepribadianmu berbeda dari wanita - wanita lain yang pernah ku kenal.


Kau tahu? kau begitu polos dan seksi...,


dan itu membuatku semakin menyukaimu Jeanny Anderson" tuturnya dengan penuh percaya diri.


Kemudian dengan penuh keyakinan Garth melangkah mendekatiku, dengan gerakan spontan sebagai usaha untuk membela diri akupun mundur, menjauh dari Garth yang bagiku kini nampak mengerikan.


"Apa yang kau lakukan Garth?" tanyaku panik dengan suara gemetar.


Bukan sikap sopan ataupun pernyataan maaf yang Garth lakukan, namun semakin lama gerakan langkah kaki Garth bagaikan hewan buas yang siap dengan mangsa di depannya.


Aku terpojok dengan keadaan, dinding pembatas antara ruang tamu dengan dapur membuatku tak bisa bergerak kemana - mana.


Tanpa pikir panjang lagi aku mencoba lari menuju ruang depan yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempatku terpojok namun niat itu tak berjalan mulus seperti yang aku kira.


Dengan gerakan tangannya yang sigap, Garth berhasil menarik lenganku ke pelukannya kemudian menggiringku ke dinding dengan mudahnya.


"Lepaskan aku Garth!! Apa yang kau lakukan ini padaku salah!!!" seruku meronta, dengan segenap kekuatan yang kumiliki aku mencoba lepas dari pelukannya yang memaksa.


Sehingga rasanya dada ini sulit sekali bernafas apalagi di gerakkan.


"Kau tak akan bisa lari dariku Jeanny, apa yang kau lakukan hanya akan membuatku semakin bernafs* menyentuhmu sayang...," bisiknya di telingaku, gerakan bibirnya begitu erotis saat mencium daun telingaku.


Garth berhasil memojokkanku dengan kedua tangannya yang melingkar erat di sepanjang dada dan punggungku.


Tak banyak yang bisa kulakukan selain mencoba memukul dan mendorong dada bidangnya kuat - kuat.


Namun sia - sia saja, yang ada hanya kelelahan tanpa sedikitpun tenaga.


Mengetahui hal itu, Garth menguasai sepenuhnya.


Setelah berhasil menghimpitku dengan berat tubuhnya yang tak jauh berbeda dengan Frank, ia menciumku dengan paksa dan begitu panas.


"Kau diciptakan bukan untuk Frank, Max atau siapapun Jeanny Anderson, tapi untukku Garth Gaskins" ucapnya sebelum mendaratkan bibirnya dengan kasar di bibirku.


"Hen....ti...kan!!!" aku berseru sekuat tenaga saat wajah Garth berhasil ku dorong menjauh dariku.


...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...