
Mansion Jefferson.
Frank Jefferson dikejutkan oleh kedatangan Ian dan Jeanny di Mansionnya malam itu.
Bagaimana tidak? Yang ia tahu mantan istrinya itu dan anak semata wayangnya hari ini telah berangkat pulang kembali ke Paris bersama dengan Joseph Hayden. Tapi justru sekarang ia melihat kedua orang yang amat berarti dalam hidupnya itu ada di depan matanya sekarang.
"Jeanny...? Ian...?" Panggil Frank lirih tak percaya.
Frank yang sudah beberapa hari hanya berdiam di kamar miliknya dan duduk termenung dengan tatapan kosong itupun kini berdiri dengan wajah penuh suka cita melihat kedatangan Jeanny dan Ian.
Tanpa berkata apapun Ian langsung berlari berhambur kepelukan ayahnya yang berdiri di balkon menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Daddy!!!" Panggil Ian penuh semangat.
Maka detik itu juga ayah dan anak itupun berpelukan penuh kerinduan seakan telah lama tak bertemu dan memendam kerinduan yang begitu besar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aku menatap Ian dan Frank yang tengah berpelukan erat dengan perasaan haru. Entah kenapa pemandangan kali ini membuatku tersentuh. Beberapa hari tak bertemu sejak pertemuan kita yang terakhir di rumah sakit waktu itu, aku melihat Frank kini agak kurus dari yang terakhir aku lihat waktu itu. Wajahnya pun terlihat pucat dan Kimmy mengatakan setiap hari yang Frank lakukan hanya berdiam diri di dalam kamar sejak kepulangannya dari rumah sakit.
Entah kenapa Frank jadi seperti itu? Apakah karena keputusanku untuk kembali pulang ke Paris dan memilih Joseph Hayden telah sangat menyakiti dan menghancurkan perasaannya?
"Jeanny?" Panggil Frank lirih seraya menatap ke arahku dengan tatapan sendu saat Ian masih dalam pelukannya.
"Kim bilang kau hanya berdiam diri dikamar setiap hari dan jarang makan, kenapa Frank? Apa caramu seperti itu untuk menyiksa diri?" Tanyaku dengan ekspresi wajah penuh selidik.
Aku mendekat ke arahnya. Kini kami bertiga tengah berdiri di balkon kamar Frank dan ini untuk pertama kalinya aku berada di kamar miliknya.
Kutatap Frank dalam - dalam saat itu, mengingat ucapan Garth padaku tentang konspirasinya dulu bersama dengan Carol untuk memisahkan hubunganku dengan Frank membuat hatiku nyeri. Dan kebenaran bahwa selama ini memang Frank Jefferson tak pernah mengkhianatiku telah membuka mataku, jika apa yang Frank katakan padaku memang benar, selama ini ia tak pernah berbohong padaku.
"Aku kehilangan tujuan untuk hidup saat kau dan Ian memutuskan akan pulang ke Paris lagi." Ucap Frank lirih.
"Aku dan Mom akan tetap disini Dad! Kita tak jadi pulang ke Paris!" Ian menyahut dengan penuh semangat.
"Ya, aku akan tetap di New York bersama dengan Ian." Sahutku yakin.
"Ya, Tuhan! Aku sungguh bahagia mendengarnya! Terima kasih, Jeanny..., terima kasih." Frank berucap dengan tatapan berbinar.
"Berterima kasih lah pada, Joseph, Frank. Dia yang menyuruhku agar aku bertahan disini bersamamu." Ucapku.
"Joseph...? Bagaimana bisa dia...?" Frank bertanya tak percaya.
"Ya, Joseph dia yang memintaku untuk tetap disini. Ia sudah pulang kembali ke Paris hari ini." Jawabku lirih.
Frank diam sesaat, sepertinya ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan.
"A-apakah itu berarti kita masih ada kesempatan untuk bisa bersama lagi seperti dulu, Jeanny? Kita bertiga, bersama dengan Ian putra kita?" Frank bertanya, kali ini tatapan mata dan ekspresi wajahnya berubah berseri.
"Ya." Jawabku singkat dan lantang.
Maka saat itu juga, tanpa aku duga Frank memeluk tubuhku erat bersama dengan Ian. Aku cukup terkejut dengan reaksinya, namun dari balik punggung aku tersenyum tipis karena sekarang aku yakin dengan hatiku kalau memang aku masih mencintai Frank Jefferson, seperti yang Joseph katakan padaku.
"Ya Tuhan! Apakah aku bermimpi? Katakan Jeanny, apakah aku bermimpi sekarang?!" Frank berseru girang dalam pelukannya.
"Dad, mulai saat ini Mom bilang kita boleh bertemu setiap harinya, bersama - sama." Ian menyahut dengan senyuman lebarnya dan Frank hanya mengangguk penuh semangat. Dapat kulihat kini kedua matanya berkabut, setelah ia melepaskan pelukannya padaku dan Ian.
"Ya, Frank. Apa yang Ian katakan benar. Kami akan tetap disini bersama denganmu." Sahutku menambahkan, kali ini dengan tatapan penuh keyakinan.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena kau masih mencintaiku. Aku sungguh bahagia hari ini, masih seperti mimpi rasanya kau dan Ian bersamaku saat ini." Tutur Frank lirih seraya mengelus wajahku lembut dengan satu tangannya.
Aku membalas dengan menyentuh tangannya lembut dan penuh perasaan.
"Dari dulu sampai sekarang aku masih mencintaimu. Namun karena rasa kecewaku saat itu yang telah menutup rasa cintaku padamu. Tapi itu lain dengan sekarang, karena aku sudah tahu, kau memang tak pernah mengkhianati cinta kita selama ini. Itulah yang membuatku yakin untuk kembali bersamamu, Frank Jefferson."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...