
23 Agustus sekarang ini adalah hari ulang tahun Frank Jefferson.
Tepat pada hari itu, genap 1 bulan aku berada di rumah keluarga Jefferson, bersama - sama dengan mereka.
Walaupun selama dalam 1 bulan itu, sikap Frank masih belum berubah sama sekali setidaknya aku tetap senang berada di sisi mereka, berbagi bersama setiap saat.
Kami bertiga, aku, Alex dan si kecil Kimmy hari ini bekerja keras mati - matian membuat kue ulang tahun dan beberapa makanan besar lainnya.
Untuk menyambut hari bahagia itu, hari dimana Frank Thommas Jefferson genap berusia 30 tahun.
Di umur kepala tiga itu pun Max mengakhiri hidupnya di dunia ini.
Namun aku berusaha melupakan itu dalam benakku, tentang Max segala sesuatu tentang dia aku tak mau mengingatnya lagi.
Max adalah masa laluku, bagian dariku di masa - masa dulu dan bukan sekarang.
"Aku harap malam ini Frank pulang" ucap Kimmy penuh harap.
"Pasti sayang..., pasti dia akan pulang.
Dia tak akan lupa dengan ulang tahunnya sendiri kecuali kalau dia benar - benar sibuk hari ini" sahutku mencoba membesarkan hati si kecil Kimmy.
Kami bertiga duduk menunggu di meja makan, kulihat sesekali Alex tampan menatap masakan istimewa tepat di depannya malam ini, ya memang cukup menggugah selera.
Salad merclun dilumuri minyak kenari, steak dan menu istimewa daging domba muda dengan rosemary, resep yang kupelajari dari Scully madison dulu di San Fransisco.
Si kecil Kimmy yang tak henti - hentinya menatap jam dinding di atasnya, tepat menunjukkan pukul 10 malam.
Ku usap - usap rambut mereka berdua,
"Jika kalian sudah lapar, makanlah selagi masih hangat.
Aku berani jamin Frank tak akan marah sayang..." kataku perhatian saat mereka berdua mulai resah.
Di saat yang sama itu pula, Frank muncul di depan kami.
Menatap kami satu persatu dengan wajah gelisah.
Jasnya kini tampak lusuh dengan rambut basah oleh keringat ia menjinjing tas kantor hitam dengan warna mengkilat.
Kami tak menyadari kehadirannya sama sekali.
"Apa - apaan ini?!" tanyanya geram.
Seketika itupun Alex dan Kimmy berhambur ke pelukannya dan berteriak nyaring
"SELAMAT ULANG TAHUN!!!" dan aku hanya bisa berdiri menatap pemandangan mengharukan itu.
Frank menatapku tajam, bisa kutebak seribu tanya ada dalam pikirannya.
Ia membungkuk dan berkata cukup keras,
"Dengar aku tak suka ini! ini waktu kalian tidur bukan untuk main - main! melakukan sesuatu tak tidak berguna! Beresi tempat tidur kalian dan cepat pergi tidur!!" perintahnya marah.
Dapat kudengar suara isakan tangis Kimmy yang tertahan dan gerutuan Alex yang kesal sambil berjalan menuju kamar mereka masing - masing.
"Kau menyakiti mereka Frank! kau membuat Kimmy menangis!" seruku marah
"Apa pedulimu?!" tukasnya ketus seraya berlalu menuju kamar miliknya yang terletak di lantai atas.
Kuikuti dia dari belakang dan ia tetap memaki - maki keras.
"Pasti kau yang membuat kekacauan ini dan menghasut mereka untuk melakukan hal yang tak berguna!" serunya.
"Bukan kekacauan Frank tapi kejutan!" tukasku cepat.
"Dan aku tak pernah menghasut mereka seperti yang kau kira, apa yang mereka lakukan adalah tulus Frank, wujud rasa sayang mereka padamu dan aku hanya membantu mereka mewujudkan semuanya itu!" aku berseru mencoba menjelaskan.
Aku sampai di pintu kamarnya, tak ada reaksi pada Frank dengan acuh ia melempar tas ke ranjang dengan kasar dan mulai melepas jas kemudian kemeja yang ia kenakan, kini ia hanya ia hanya memakai celana panjang.
Ia melemparkan tatapan sengit padaku di depannya.
"Aku tak suka caramu mengambil perhatian dari kedua adikku dan perlu ku ingatkan lagi miss Anderson jika kau masih ingin tetap tinggal disini, patuhilah aturanku! dan jangan melangkahi aturan yang ku buat!" tegasnya tajam.
Entah kenapa baru kali ini aku bersikap marah seperti ini padanya, akupun sendiri tak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian itu.
Kutatap ia dalam - dalam dan berkata.
"Aku tak pernah sedikitpun melangkahi aturanmu di rumah ini Frank, aku hanya mengingatkan kalau apa yang kau lakukan tadi telah menghancurkan mimpi mereka, mimpi yang telah mereka buat selama ini untukmu" tuturku lirih.
Frank menyerigai tajam dan mendekat ke arahku, "Miss Anderson.., rupanya kau tipe perempuan yang suka main api denganku ya?"
Setelah mengucapkan itu ia menarik lenganku dan tanpa kusadari akupun jatuh tepat di atas ranjang miliknya.
Tangannya yang kekar mencengkeram kuat rahangku akupun berteriak kesakitan berusaha melawannya.
Dapat kurasakan nafasnya yang berat dan ganas menyapu wajahku dengan kasar.
"Frank,, Kumohon lepaskan aku...!"
aku meronta - ronta memohon tapi justru aku semakin melawan, semakin kuat cengkraman tangannya di rahangku.
"Inilah akibat jika perempuan sepertimu mencoba menguji kesabaranku, miss!"
Aku terus mencoba berontak sekuat tenaga namun salah tanganku terkunci tubuhku sendiri dan lainnya dipegang kuat oleh Frank.
Sakit sekali! hingga aku berusaha menahan tangis diantara rasa sakit yang tak tertahankan.
"Kau pikir air mata buayamu dapat meluluhkan aku, hah?!" serunya tanpa perasaan.
Diantara rasa sakit itu ku tatap Frank dengan tatapan memohon, air mata yang tanpa kusadari menetes di pelupuk mataku seakan ikut membutakan penglihatanku tetapi aku masih dapat melihat ekspresi wajahnya menakutkan yang sebelumnya tak pernah kulihat pada diri Frank.
Setelah beberapa lama kutahan rasa sakit yang begitu menyakitkan itu hingga akhirnya kurasakan cengkeraman kuat di rahangku semakin lama semakin mengendur.
Ia melepaskannya dengan kasar sehingga tubuhku terpelanting jatuh ke tepi ranjang dengan posisi membungkuk.
"Ingat Miss Anderson! Jika kau tidak ingin yang lebih dari ini maka patuhi aturanku dan jangan coba - coba menguji kesabaranku lagi atau kau akan menyesal!!" serunya tajam tanpa sedikitpun perasaan.
Isak tangis yang tak bisa di bendung lagi mulai terdengar sebagai jeritan rasa sakit dan keinginan untuk berontak yang tak dapat di lampiaskan.
"Cepat keluar dari kamarku sebelum aku berubah pikiran!" serunya sekali lagi.
Dengan masih menahan rasa sakit di luar dan di dalam tubuhku, akupun berlari secepat mungkin tanpa memperdulikan suara lemparan benda keras di dalam kamar Frank.
Ku tutup pintu kamarku rapat - rapat dan kuhempaskan tubuhku dalam - dalam di ranjang dengan suara tangis yang kini meledak.
Dengan langkah pelan Frank Jefferson menghampiri kamar Alex dan Kimmy yang bersebrangan.
Kini ia duduk di tepi ranjang mungil bermotif bunga matahari kesukaan Kimmy.
Gadis kecil itu tampak masih tertidur lelap dengan posisi miring menghadap Frank.
Begitu manis dan seakan tanpa dosa sehingga mata Frank seperti tak mau lepas melihat pemandangan " cinta " itu.
Sesekali ia membenarkan selimut Kimmy hingga menutupi ujung leher dan menyentuh lembut rambut pirang warisan ibunya itu.
Ia tak mau Kimmy terbangun karena kehadirannya lagipula saat ini masih terlalu dini bagi gadis kecil seperti Kimmy untuk bangun.
Semalam suntuk ia tak dapat tidur, pikirannya melayang dan hatinya kacau mengingat kata - kata Jeanny semalam tentang dirinya karena perbuatan yang ia lakukan pada Alex dan Kimmy.
Sejujurnya ia menyesal atas kata - kata kasar yang ia ucapkan pada kedua adiknya dan terutama pada Jeanny Anderson.
Malam itu ia begitu lelah, stres dan kacau sehingga ia tak menyadari apa akibat dari perlakuan kasarnya pada mereka.
Kemarahan serta kebenciannya pada Jeanny Anderson telah menutup mata telinganya untuk menghargai.
Apalagi jika ia mengingat perlakuan kasar dirinya pada Jeanny malam itu.
Hatinya ingin menjerit saat perempuan itu meronta - ronta dan memohon untuk di lepaskan serta bagaimana ia menahan gejolak nafsu saat melihat perempuan cantik yang di bencinya itu berada begitu dekat dengan tubuhnya.
Tanpa ia sadari, ia telah menodai hari bahagia yang seharusnya menjadi miliknya.
"Maafkan aku Kimmy..." lirihnya menyesal.
######
Pagi itu aku bangun jauh dari biasanya dan mulai menyiapkan sarapan hari ini.
Lagipula aku tak mau berlama - lama di tempat tidur, meratapi nasib dan membangun rasa benci di hatiku untuk seorang Frank.
Apa yang ia lakukan padaku semalam adalah pelampiasan kekesalan yang tanpa disadarinya adalah suatu kesalahan.
Suatu hari nanti ia akan tahu dan menyadarinya.
Ya,, suatu hari nanti.
Lamunanku dikejutkan oleh suara dari luar ruangan.
Suara nyanyian, ucapan selamat dan tawa riang anak kecil.
"Alex dan Kimmy?!" batinku
Tanpa pikir panjang lagi aku melangkah cepat memastikan apa yang sebenarnya terjadi disana, di ruang keluarga dan akupun cukup terkejut dengan pemandangan yang kulihat kini di depan mata.
Si kecil Kimmy yang masih memakai piyama merah jambu dan si gendut Alex yang kini tampak jauh lebih gendut dari biasanya karena mungkin T-shirt dan celana pendek santai yang di pakainya tampak kedodoran.
Frank tampak berada di tengah - tengah mereka, membungkuk dan tertawa kecil saat menerima ciuman dari kedua adiknya.
Kue ulang tahun yang semalam belum sempat sedikitpun tersentuh, diatasnya terhias indah lilin dengan angka 30 nampak mulai mengepulkan asap karena abis ditiup.
Pemandangan yang indah yang seharusnya menjadi momen mereka semalam, namun sekarang justru lebih indah dari yang ku bayangkan.
Hingga tanpa kusadari senyum simpul menghias di sudut bibirku, seakan aku ikut merasakan kebahagiaan yang ada dalam diri mereka sekarang.
"Jeanny!" panggil Kimmy kemudian, Frank memandang sekilas ke arahku.
Gadis kecil itu berlari ringan menghampiriku, senyumnya yang riang tak lepas dari wajahnya.
"Aku ingin kau memotong kue yang kita buat kemarin, Jeanny!" pintanya polos.
Aku tersenyum semanis mungkin, mencoba menahan air mata bahagia.
Kubiarkan Kimmy menuntunku ke meja kaca dengan kue coklat ulang tahun di atasnya.
Aku tahu Frank mencoba menghindar agar kami tidak saling kontak mata, situasi yang mungkin masih terlalu dini untuk mencair setelah apa yang terjadi pada kami semalam.
Aku tertawa kecil saat melihat Kimmy mencolek kue yang sudah di iris Frank ke wajah Alex.
Hingga saat itu tanpa sadar kalau mata Frank tengah mengawasiku, akupun menjadi salah tingkah tak tahu harus berbuat apa selain mengalihkan perhatianku pada Kimmy dan Alex yang masih tampak bercanda saling mencolek krim kue tanpa henti.
"Maafkan aku atas kejadian semalam" bisik Frank tiba - tiba di telingaku.
Seketika itupun aku beralih menatapnya, cukup terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan padaku.
Tanpa berkata apa - apa lagi Frank pun kembali
mengalihkan perhatiannya pada kedua adiknya.
Aku hanya bisa terpaku sejenak seperti orang linglung yang tak tahu arah, secercah senyum tipis mengembang di bibirku.
Walaupun Frank begitu dingin mengucapkan kalimat maaf itu padaku tapi aku sudah cukup puas mendengarnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...