
"Apa hari ini kau sibuk, Jeanny?" sapa seseorang mengejutkan, saat aku sibuk merapikan beberapa desain gambar yang baru saja aku buat di laptopku.
"Joseph?!
Sejak kapan kau datang?" tanyaku terkejut.
"Apa aku mengejutkanmu tadi?
Maaf..., aku tadi kebetulan ada pekerjaan di daerah sini dan karena itu aku sekalian untuk mampir kesini menemuimu" sahut Joseph dengan wajah lembutnya.
"Ah, tidak.
Kebetulan aku sudah selesai dengan pekerjaanku hari ini" jawabku singkat.
"Apa kau sudah makan siang?" Joseph bertanya seraya berjalan mendekatiku.
"Belum, aku baru saja ingin menjemput Ian ke sekolah" jawabku kemudian beranjak bangkit dari tempat duduk dan mengambil tas kecil milikku.
"Kalau begitu kebetulan sekali, aku akan mengantarkanmu ke sekolah Ian dan kita bertiga bisa sekalian makan siang bersama, bagaimana?" tawarnya dengan senyuman manis yang memikatnya.
"Boleh.." jawabku singkat dengan tersenyum tipis.
Seperti biasa Joseph Hayden selalu berpenampilan menarik dan berwibawa dalam pembawaannya.
Kali ini ia memakai kemeja biru lengan panjang yang digulung hingga ke bagian siku, kacamata hitam yang dipakainya membuat tampilannya semakin gagah dan menawan.
Wanita manapun tentu akan terpikat jika melihatnya.
Namun bagiku Joseph Hayden adalah teman tidak lebih, kami berhubungan semakin dekat selama satu tahun ini.
Ya, aku mengenalnya sudah sejak 2 tahun yang lalu saat Joseph secara tidak sengaja datang ke butikku dan menanyakan beberapa hal tentang fashion wanita yang cocok untuk hadiah pernikahan seorang adik perempuannya saat itu.
Perkenalan yang unik dan manis tapi menimbulkan kesan tertentu pada kami saat itu, hingga kami berdua pun bisa menjadi dekat seperti sekarang.
Joseph adalah pribadi yang baik dan rendah hati, aku tahu ia bukanlah orang biasa namun di depanku ia selalu menampilkan kesan low profile pada setiap orang, hal itulah yang membuatku terkesan padanya.
"Apa tidak apa kau menyela waktu sibukmu itu untuk menjemput Ian, Joseph?" tanyaku tak enak hati.
"Tentu saja tak ada masalah, Jeanny..., justru aku senang bisa menghabiskan waktu berhargaku bersama dengan kalian berdua" sahutnya santai, pandangannya tak lepas menatap jalanan dan tetap fokus menyetir.
"Aku justru minta maaf karena aku datang dengan tiba - tiba tadi ke butikmu dan belum sempat mengabarimu terlebih dahulu kalau aku akan datang" ujarnya serius.
"Kau tak perlu sungkan, kapan saja kau boleh datang jika kau ada waktu untuk berkunjung ke butik, Joseph..." jawabku dengan tersenyum tipis.
"Benarkah?? ah, aku anggap itu adalah lampu hijau untukku, Jeanny..." sahut Joseph dengan senyum sumringahnya.
Kami berduapun sama - sama tertawa saat itu juga. Ya, aku akui aku nyaman dan bisa menjadi diriku sendiri jika bersama dengan Joseph.
Hal itulah yang membuat hubungan kami menjadi dekat akhir - akhir ini.
Setelah kurang lebih 20 menit dalam perjalanan, akhirnya kamipun sampai di sekolah Ian.
Mengetahui kedatanganku, kulihat Ian yang sejak tadi menunggu di dalam halaman sekolah dengan beberapa orang temannya yang sedang asyik bermain langsung mengambil tas miliknya dan berjalan cepat menghampiriku yang menyambutnya dengan senyuman lebar.
"Mom datang bersama dengan uncle Joseph?" tanyanya menatap sekilas Joseph yang berdiri di sisi lain samping mobil.
"Hay, Ian..!" sapa Joseph melambaikan tangannya dengan wajahnya yang ramah dan sumringah.
"Tadi Mom bertemu uncle Joseph di butik jadi sekalian ikut bersama menjemputmu" jawabku menunduk memberi kecupan hangat di pipinya yang bersemu merah karena mungkin cuaca cukup panas hari ini.
"Bagaimana kalau kita makan es krim, sepertinya akan asyik jika kita makan bersama - sama!" Joseph mencoba membujuk Ian dengan senyuman lebarnya.
"Benarkah? kebetulan sekali aku sangat makan es krim hari ini uncle..." sahut Ian senang dan akupun tersenyum senang melihat Ian yang memasuki mobil bersama kami dengan wajahnya yang gembira.
..
..
..
"Disini es krimnya terkenal enak dan tempatnya juga asyik, semoga kau suka Ian" tutur Joseph menghentikan mobilnya tak jauh dari cafe kecil yang ditunjuknya.
"Wah, aku tak sabar ingin memakan es krim!" Ian berseru riang tak sabar turun dari mobil.
Aku dan Joseph hanya saling memandang dengan tersenyum tipis.
"Maaf ya merepotkanmu..." ucapku lirih pada Joseph tak enak hati.
"Tidak masalah, Jeanny selama Ian suka aku juga akan berusaha yang terbaik untuk kalian berdua" sahutnya tenang.
Aku hanya mendesah kecil, karena memang paham betul dengan Joseph yang memang selalu baik pada kami berdua, hal itulah yang kadang membuatku tak enak hati jika merepotkannya.
Setelah memilih menu es krim yang disukai Ian, kami bertiga pun duduk bersama di depan cafe di tempat yang sudah disediakan.
"Setelah ini, kita makan siang ya karena Mom sudah sedikit lapar" ucapku asal mencoba memberikan alasan dan Ian hanya mengangguk bersemangat, lidahnya sibuk menjilat es krim coklat yang tampilannya memang cukup menggiurkan di cuaca panas seperti ini.
"Aku masih ada pekerjaan di dekat butik tempatmu Jeanny, jadi kalau kau tidak keberatan aku akan sering berkunjung dan mampir di butikmu atau sekedar mengajak kalian makan siang bersama seperti ini nanti?" tanya Joseph saat itu.
"Selama itu tak menganggu pekerjaanmu itu tak masalah, Joseph" sahutku santai dan Joseph tersenyum senang mendengar jawaban dariku.
"Bagaimana kabar adikmu, Lucy, Joseph?
Apa kau sudah mendapatkan keponakan darinya?" tanyaku dengan sedikit menggodanya.
"Sepertinya dalam beberapa bulan ini aku akan resmi di panggil uncle selain Ian..." sahutnya jenaka.
"Astaga benarkah?!
Selamat kalau begitu, aku sungguh tak sabar ingin melihat kau dipanggil uncle oleh keponakanmu sendiri nanti" ucapku senang.
"Aku merasa sudah bertambah tua jika aku mempunyai keponakan yang banyak nanti, hahaha!" kelakar Joseph.
"Tapi uncle Joseph masih terlihat tampan bagiku" Ian berseloroh tiba - tiba dan itu membuatku cukup terkejut mendengar responnya.
"Wah, benarkah??
Aku harap itu benar karena aku sendiri tidak menganggap aku ini tampan!" sahut Joseph.
"Tapi aku senang jika Ian yang memujiku seperti itu kuharap aku selangkah lebih maju untuk bisa mendapatkan wanita pujaan hatiku" tambahnya percaya diri dan aku hanya bisa terdiam tersipu malu saat mendengarnya.
Entah kenapa ucapan itu bagai sinyal yang sengaja Joseph tujukan padaku dan hal itu membuatku salah tingkah di depannya sekarang.
"Apa uncle sudah memiliki wanita yang disukai?" tanya Ian polos tanpa berhenti melanjutkan aktifitasnya menjilat es krim yang hampir habis itu.
"Tentu saja sudah namun uncle masih berusaha keras untuk mendapatkan hatinya" jawab Joseph seraya menatap wajahku dengan penuh arti, mendengar ucapan Joseph tentu saja membuat telinga dan wajahku seketika menjadi panas dingin saat itu juga.
Astaga apa itu sebuah kode keras bagiku.
Sungguh aku tak bisa berpikir apa - apa selain hanya diam dan tersenyum gugup.
...ππππππ...
... Wah, Garth dapat saingan baru nih..ππ€...
...Apakah hati Jeanny akan luluh oleh Joseph??...
...Yuukk, ditunggu komen dan jempol dari kalianπ€©π€©ππ...