
Aku harus lari sejauh mungkin! Tapi sialnya saat aku menemukan pintu keluar, pintu itu terkunci rapat dengan rantai besi kokoh yang melingkar kuat di pintu besar yang terbuat dari besi itu. Susah payah aku mencoba namun aku belum bisa berhasil melepasnya. Hingga dalam keadaan panik itupun aku berpikir untuk bersembunyi di antara tumpukan peti - peti yang tersusun tinggi.
Saat menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi, aku mulai menekan tombol nomer yang aku ingat di dalam pikiranku dengan ponsel yang kutemukan tadi.
Dengan tangan gemetar aku menunggu panggilan itu dijawab dan-
"Hallo?" Sahut suara itu diseberang sana.
"Hallo, Joseph!! A-ku Jeanny! Kumohon Joseph tolonglah aku! Ada seseorang yang berusaha ingin membunuhku!!"
"Jeanny??! Kau ada dimana sekarang? Katakan padaku?!"
"Aku tak tahu Joseph! Sekarang yang kutahu aku ada di sebuah gudang tua dengan banyak peti besar disini!" Mataku berkeliling mencari sebuah petunjuk yang bisa kujadikan informasi pada Joseph sekarang.
"LUCKDOLL!! Ya peti besar bertuliskan Luckdoll!" Sahutku cepat dengan suara bergetar.
"Bisa kirimkan lokasimu padaku, Jeanny?!"
"Ah, sebentar aku akan menyalakan GPSnya!"
"Kau tak akan bisa lari dariku, jal*ng!!" Sebuah suara terdengar jelas.
"Oh, ya Tuhan. Itu suara Vince si Devil!?"
"Joseph tolonglah aku!! Pria itu sudah bangun! Aku takut dia akan menemukanku! Huhuhu!"
"Bertahanlah, Jeanny! Aku akan segera kesana!" Ucap Joseph mengakhiri telepon.
"Sembunyi dimana kau ******?!! Kau pikir bisa mengelabui aku lagi?!!"
Kutatap mulut ini dengan salah satu tanganku dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Ya Tuhan lindungilah hambamu ini dari niat orang jahat." Doaku dalam hati diantara rasa takut yang amat sangat.
BRAKK!!!
DUUG!!
Kudengar suara benda dilempar dan ditendang dengan keras hingga membuatku semakin ketakutan. Aku semakin menutup rapat mulutku menahan nafas agar tak bersuara.
Kupegang pisau lipat yang ada di tangan kananku dengan erat dan kusembunyikan ponsel Devil diantara sela - sela tumpukan peti agar tak terlihat.
Hening.
Kenapa tak ada suara langkah kaki lagi? Apakah Devil sudah pergi menjauh? Semoga saja. Kemudian kuberanikan diriku untuk mengintip diantara tumpukan peti tempat aku bersembunyi dengan nafas tertahan. Namun belum sempat aku menjulurkan kepalaku tiba - tiba saja Devil sudah muncul di depanku seraya menyerigai tajam dengan tatapan membunuhnya.
"Kau suka main petak umpet rupanya, Jeanny?!" Ucapnya dengan suara berat yang menakutkan.
"Oh, tidak!" Tanpa pikir panjang akupun berlari menghindar darinya, namun naas jalan yang ada didepanku buntu dan kini aku tak bisa berlari lagi menghindar dari Vince si Devil.
Tahu kini posisiku terperangkap, kini Devil tertawa melihatku yang ketakutan dengan wajah panik.
"Kau seksi sekali, Jeanny sayang. Kau tahu, aku suka kau yang ketakutan seperti ini! Itu terlihat menggoda dan semakin membakar hasratku untuk menyiksamu!" Ucap Devil dengan seringainya yang menakutkan.
"Jangan mendekat!!" Seruku dengan pisau lipat yang kupegang di tangan kananku.
"Heh, kau pikir aku akan mati dengan benda kecil itu, Jeanny?! Bermimpilah!!" Devil semakin mendekat ke arahku dengan tatapan bengis.
Dengan instingku akupun berusaha menusuk tubuhnya dengan pisau lipat yang ada ditanganku namun seperti tahu gerakanku, Devil dengan cepat menangkap dan melemparkan begitu saja. Dan entah bagaimana dengan kepalan tinjunya ia memukul kepalaku hingga aku terhuyung kebelakang dan ambruk seketika. Tak ada yang kuingat lagi setelah itu selain kegelapan.
..
..
"Arght sakit sekali!" Keluhku merasa pusing yang amat sangat di kepalaku, dapat kurasakan cairan kering yang menempel di lubang hidungku. Darah! Apakah aku berdarah?!
Dan entah bagaimana tubuhku ini tak bisa digerakkan kembali. Setelah aku sadar sepenuhnya aku baru menyadari kalau kini kedua tanganku digantung dan diikat diatas dengan sebuah besi yang kokoh.
"Joseph tolonglah aku! Kumohon siapapun tolonglah aku!!"
Saat aku merasakan ketakutan yang amat sangat dan merasa syok karena memikirkan keadaanku yang sangat menyedihkan ini, saat itu juga Devil muncul didepanku.
Aku menatap wajahnya yang bengis dengan tatapan penuh kebencian.
"Kau biadab!! Kau tak layak disebut pria sejati karena kau hanya berani pada wanita lemah!!" Teriakku marah dengan tatapan berapi - api.
"Oya, jika aku bukan pria sejati bagaimana mungkin aku bisa bercinta denganmu bukan?!"
Sahutnya dengan tersenyum licik.
"Cuihhh!!!!"
"Jal*ng sialan!!"
Aku meludahinya karena geram dan sepertinya itu membuat Devil marah hingga kemudian mencekik leherku dengan tangannya yang besar dan kuat.
Rasa sakit dan sesak kurasakan saat ini hingga membuat kedua mataku memejam kuat dan berair. Sekarang aku hanya bisa pasrah kini. Jika memang aku harus mati seperti ini maka aku akan mati dengan tidak layak.
BUUGG!!
Saat kesadaranku hampir hilang disaat yang sama itupula aku mendengar suara pukulan keras yang datang bertubi - tubi.
"Bajing*n sialan, berani - beraninya kau menyentuh Jeanny!!" Maki seseorang dengan suara yang sangat familier.
Aku mencoba membuka mataku perlahan dan ternyata itu adalah Frank! Kini kulihat ia berkelahi baku hantam dengan Vince si Devil.
Dan dia tak datang sendiri, Joseph berlari kearahku dan wajah panik karena melihat keadaanku.
"Ya, Tuhan Jeanny!! Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?!" Tanyanya cemas, aku hanya bisa menggeleng lemah.
Dengan pistol yang Joseph bawa, ia menembak rantai besi yang mengikat tanganku dan setelah rantai besi itu terlepas tubuhku ambruk namun dengan sigap Joseph menangkapnya.
"Maafkan aku karena datang terlambat, Jeanny! Tempat ini terlalu jauh dari pusat kota karena itu kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai kesini." Tutur Joseph lirih.
"Frank...? Joseph, tolonglah Frank. Pria itu bukan orang biasa..." Ucapku lemah ketika melihat Frank masih sibuk berkelahi dengan Devil, kulihat Frank sudah tampak kelelahan menghadapi pembunuh bayaran itu.
"Aku tahu, Jeanny. Tapi aku tak bisa menembaknya karena itu akan beresiko mengenai Frank nanti!" Sahut Joseph saat ia mencoba membidik Devil dengan pistolnya.
Hingga saat Frank terpojok oleh Devil ketika pria bertampang militer itu mengukung leher Frank dengan tangannya kekar, kedua mataku membulat sempurna karena kulihat Frank begitu kesakitan.
"Tembak!!!" Tiba - tiba Frank berteriak pada Joseph untuk segera menembaknya.
Joseph yang awalnya ragu akhirnya pun menekan pelatuk pistol berjenis magnum itu, namun entah bagaimana Devil justru menggunakan tubuh Frank untuk menjadikannya tameng hingga kemudian -
DOORR!!
"Frank??!!!!!" Aku berteriak histeris saat tembakan itu justru mengenai tubuh Frank di bagian punggungnya.
Dalam hitungan detik tubuh tinggi kokoh itu ambruk seketika. Tanpa aku duga, Joseph kembali menembakkan pistolnya pada Devil yang hendak berlari menyelamatkan diri berusaha menghindar dari tembakan Joseph yang bertubi - tubi.
Dalam kemarahannya itu, tembakan Joseph akhirnya dapat mengenai salah satu bagian tubuh Devil. Namun pria itu masih bisa berlari menyelamatkan diri. Joseph yang tak tinggal diam pun berlari mengejarnya.
DOR! DOR!
Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya karena saat itu aku berlari menghampiri tubuh Frank yang kini tak sadarkan diri bersimbah darah.
"Frank!!? Frank?!!" Jeritku pilu melihat keadaannya yang kini begitu menyedihkan.
Aku menangis terisak seraya memeluk tubuhnya yang tak bergerak. Hingga hanya tangisan dari mulutku sendiri yang terdengar di dalam gedung kosong itu.
...ππππππ...
...Ritual like dan komen jangan lupa teman - temanπ₯°...