
Aku dapat bernafas lega setelah Frank kubaringkan di ranjangnya yang berukuran cukup besar.
Dapat kulihat cairan darah yang mengering di sudut bibirnya yang sedikit pecah.
Aku prihatin melihat keadaannya sekarang.
Ia tampak begitu kacau dan lelah.
"Kau akan baik - baik saja Frank, akan kuambilkan obat untukmu" ucapku lirih.
"Kau akan pergi begitu saja Jeanny?" suara itu terdengar dan mengejutkanku.
"Frank?" aku begitu terkejut saat kudengar ia memanggil namaku, ini untuk pertama kalinya ia memanggilku seperti itu.
Aku membungkuk mendekati sosok yang kini duduk di tepi ranjang, salah satu tangannya memegangi dadanya yang terbuka.
"Kau istirahat saja..., keadaanmu belum pulih sepenuhnya Frank" kataku lirih.
Ia tak menjawabnya, Frank hanya diam tanpa mengatakan apapun namun hal yang paling mengejutkan darinya adalah dia menatapku penuh arti, nafasnya naik turun dengan tak stabil.
Cara Frank menatapku pun jauh berbeda seperti biasanya, tatapannya begitu menyeluruh memperhatikanku hingga leherku terasa tercekik saat tatapannya berhenti di dadaku yang tanpa kusadari terbuka cukup lebar dibalik gaun tidur yang sama seperti yang aku kenakan di malam itu, di malam Frank menyentuhku untuk pertama kalinya kemarin.
Akupun menelan salivaku sendiri dan segera menutup dadaku dengan telapak tangan secara reflek kemudian berdiri mencoba menghindari tatapan matanya yang kini bagiku tampak nafsu itu.
"Maaf aku rasa sebaiknya aku pergi" ucapku tertahan.
"Tidak!!" Frank tiba - tiba saja menarikku ke ranjang dengan kasar, kini posisiku berada di bawah tubuhnya.
"Kau tak boleh pergi miss seksi..." lanjutnya seraya tersenyum nakal.
Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan cengkraman tangannya di kedua pergelangan tanganku dan menjerit memohon.
"Astaga Frank! Kau mabuk!!" seruku panik saat dengan kasar dan brutalnya dia mencium bibirku, dapat kurasakan bau alkohol tajam yang kini kurasakan di dalam bibirku.
Ia marah dan kesal, aku tahu itu dari sinar matanya dan kini ia tumpahkan segala perasaan emosinya padaku.
"Ya, Tuhan Frank sadarlah!!
Aku mohon!!" jeritku sekali lagi saat ia mulai menarik gaun tidurku dengan kasar, kucoba untuk menahannya dengan kedua tanganku sekuat tenaga, kedua kakipun tak henti - hentinya melakukan perlawanan.
Hingga entah kekuatan darimana, aku berhasil mendorong tubuh Frank dari atas tubuhku, kesempatan itu tak aku sia - sia kan maka segera mungkin aku bangkit dan mencoba menghindar dari perlakuan kasar Frank.
"Tidak semudah itu kau bisa lari dariku Jeanny Anderson!" ucap Frank ketika ia berhasil menangkapku kembali ketika aku hampir sampai mencapai pintu.
"Jangan Frank, aku mohon..!! jeritku memohon hingga tak terasa air mata menetes di pelupuk mataku.
Frank mencoba menarikku ke ranjang kembali namun aku tetap berontak melawannya, kesal karena kemauannya tak dituruti Frank menamparku keras - keras hingga aku jatuh tersungkur ke lantai sambil meringis menahan sakit.
"Brengs*k kau wanita jal*ng tak perlu berpura - pura di depanku!
Turuti kemauanku jika kau tak ingin yang lebih dari ini!" serunya begitu dekat di wajahku, dapat kulihat sinar matanya yang bagai nyala api yang seakan ingin menelanku hidup - hidup.
"Aku mohon Frank, sadarlah....kau mabuk!
Kau tak tahu apa yang kau lakukan padaku ini adalah salah..., ingatlah Frank...!" aku terus memohon penuh harap, air mata tak henti - hentinya menetes di pipiku.
Tanpa aku duga ia mencengkeram rahangku kuat - kuat bagai capitan elang mematikan.
Kemudian menarikku untuk lebih dekat lagi di wajahnya yang kini berubah menjadi merah karena marah dan tentu saja karena pengaruh kuat dari alkohol.
"Jangan coba - coba cari muka di depanku karena itu tak akan ada gunanya!
Aku membencimu Jeanny Anderson melebihi siapapun di muka bumi ini jadi jangan harap kau bisa menundukkanku seperti pria - pria lain yang dapat kau taklukan dengan hanya mengandalkan kecantikan dan kemolekan tubuhmu! karena aku..., Frank Jefferson akan mendapatkannya darimu dengan sangat mudah dan tentu saja dengan cara yang tak mungkin kau lupakan seumur hidupmu nanti!" ucapnya lantang sebelum mendekatkan bibirnya ke bibirku yang terasa kaku namun aku cepat - cepat menoleh dengan memalingkan wajahku, menghindar dari ciumannya.
Kudorong dada Frank kuat - kuat agar ia jauh dariku kemudian dengan masih menahan rasa syok aku merangkak sambil menahan tangisku yang ingin meledak.
Entah kenapa rasanya tubuhku tak bisa berdiri, aku merasa lemah dan kehilangan kekuatan untuk lari.
Dapat kulihat dengan jelas sosok Frank yang kini begitu mengerikan dengan langkahnya yang bagai serigala buas, luka lebam di tubuhnya seakan menambah liar dan menakutkan penampilannya sekarang saat dengan satu gerakan cepat ia melepas kemeja yang tak berkancing itu begitu saja ke lantai.
Nafasnya berat dan buas hingga aku ingin memejamkan mata tak kuat melihat semua ini dengan kedua mataku yang kini terasa penuh dengan air mata.
Sulit kupercaya Frank akan bersikap seperti ini padaku, kata - kata yang baru saja ia ucapkan seakan masih terngiang jelas di telingaku yang kini terasa panas.
"Jangan Frank..., aku mohon padamu untuk sekali ini saja.
Jangan lakukan ini padaku, kau akan menyesal jika melakukannya!
Aku mohon...," kata - kata itu terdengar seperti ratapan belas kasihan, susah payah aku mengucapkannya di lidahku yang kini terasa kelu.
Bukan sikap penyesalan ataupun permintaan maaf yang ku dapat dari Frank tapi justru sebaliknya, ia semakin menggebu - ngebu menuruti emosinya.
Ia tersenyum jahat padaku.
Mata tajamnya menatapku dalam - dalam ke wajahku, bukan tatapan Frank yang kukenal selama ini, Frank yang ada di depanku kini jauh lebih mengerikan dari sebelumnya, ia seperti orang lain.
Aku menggeleng kuat menepis perasaan takut yang dengan cepat melingkupiku, kutatap dia dengan tatapan memohon tapi ia tetap tak peduli, dengan kasarnya ia menghempaskan tubuhku ke ranjang yang berada tak jauh di belakangku hingga aku menjerit kaget.
"Malam ini hanya ada kau dan aku, tidak ada orang lain yang menganggu.
Kau dengar itu, Jeanny Anderson?
Kau milikku malam ini, jadi layani aku seperti pria - pria yang pernah tidur denganmu!" ia mendengus kasar dan mulai menghampiriku yang terbaring ketakutan.
"Jangan Frank, jangan sentuh aku!
Ingatlah Alex dan Kimmy, mereka menyayangimu.
Kau lah harapan mereka..., tumpuan mereka.
Jangan turuti keinginan hawa nafsumu sendiri..." kucoba untuk mengingatkan dan menyadarkannya.
"Persetan dengan mereka!" sahutnya kasar
"Diam dan tutup mulutmu perempuan jal*ng!!"
Sekali lagi ia menamparku, tamparannya begitu keras dan menyakitkan hingga aku menjerit kesakitan.
Kutatap Frank dengan penuh berlinang air mata saat ia hendak menciumku kembali.
"Kau akan melakukan kesalahan besar jika melakukannya Frank, kau akan menyesal jika melakukannya padaku" tuturku dengan nada penuh keputusan - asaan.
Seakan tak peduli dengan ucapanku, tanpa kuduga ia merobek - robek gaun tidurku yang hampir setengah terbuka.
Aku tak punya lagi kekuatan untuk melawannya, ia kini dilingkupi nafsu setan yang menyala - nyala, ia mabuk dengan kebenciannya sendiri.
Frank melampiaskan semua kekesalannya padaku.
"Haruskah Frank..., haruskah...?" ucapku lirih seperti kehilangan tenaga.
Isakan tangisku seakan hilang diantara desah*n nafas Frank yang memburu.
Tubuhku kaku, mataku buram untuk melihat dan bibir ini terasa berat untuk menjerit.
Bahkan aku sendiri tak dapat merasakan nafasku sendiri saat ini.
Tak ada kata - kata yang dapat kuucapkan lagi, aku lelah dan putus asa.
Ia membenciku, Frank membenciku, ia begitu membenciku...
Kalimat itu terus melekat erat di kepala dan pikiranku.
Nafasku tersentak saat kurasakan ciuman itu di kulit perutku hingga terus turun ke bawah, aliran darah seakan mengalir deras hingga ke ubun - ubunku.
Mataku terpejam kuat menahan semua derita ini.
"Oh..., Frank kenapa?" jeritku dalam hati.
Saat ini aku tak tahu apa yang harus kulakukan selain berbaring diam dengan tubuh kaku yang seakan sulit di gerakkan, hati dan perasaanku hancur berkeping - keping setelah semuanya terjadi padaku kini.
Hingga apa yang kumiliki selama ini kupertahankan sampai detik ini hancur dan hilang, Frank melakukannya padaku.
Ia berhasil melakukannya padaku, ia telah menyakitiku.
Dapat kudengar dengan jelas nafasnya yang berat dan putus - putus saat berusaha mencapai apa yang ia inginkan.
Peluh mulai keluar di tubuhnya yang kini tampak seakan mengkilat di bawah cahaya lampu yang remang - remang.
Aku menjerit tertahan saat pertahananku runtuh, hancur karena sesuatu yang dipaksakan.
Isakan tangis yang mewakili hancurnya perasaan hatiku kembali terdengar dari mulutku sendiri.
"Frank...Frank...," ku sebut nama itu dengan nada keputus - asaan.
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan segenap jiwaku...
Akan rela kuserahkan semua yang kumiliki, jiwa, hati dan tubuhku hanya untukmu...
Tapi tidak dengan cara seperti ini, tidak seperti ini...
Kau menghancurkan mimpiku Frank, impian yang kubangun untuk bersamamu..."
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...