
Pagi ini sesuai dengan apa yang aku rencanakan, aku telah memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga Jefferson.
Setelah Alex dan Kimmy berangkat ke sekolah, aku langsung mengepak barang - barang milikku, aku akan pergi dari rumah ini dan tak akan pernah kembali sampai kapanpun.
Itulah keputusanku atau lebih tepatnya keinginan dari Frank Jefferson.
Sejak siang itu, setelah kepulanganku dari rumah sakit rasanya kedua mataku tak bisa berhenti untuk menangis.
Aku hancur dan telah benar - benar hancur, tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiranku untuk menjadi seperti sekarang ini, dibenci dan sama sekali tak bernilai di mata Frank Jefferson.
Aku hamil dan Frank lah ayah dari anak yang masih dalam kandunganku ini, itulah yang membuatku seperti mimpi.
Sama sekali aku tak menyangka akan menjadi seperti ini, kehamilanku yang tak pernah aku tahu sebelumnya telah membuat kebencian Frank semakin bertambah padaku namun keputusan akhir telah aku lakukan pada saat aku tahu tentang kehamilan ini.
Keputusan untuk hidup tanpa harus tahu siapa ayah dari bayi ini kelak jika anakku lahir nanti.
Frank Jefferson tak akan pernah dan tak boleh tahu tentang anak ini, keberadaan kami hanya akan menjadi aib memalukan bagi Frank seumur hidupnya dan itu yang membuat aku melakukan keputusan ini.
Keputusan yang akan menjadi jalan akhir sekaligus awal dari kehidupanku nanti, mengandung dari benih Frank Jefferson.
..
..
..
Aku harus pergi sebelum Alex dan Kimmy pulang dari sekolah mereka.
Kuangkat beberapa koper berisi pakaianku ke ruang depan dengan langkah tertatih dan mata yang masih terlihat sembab, kubuka pintu depan dengan nafas tertahan namun sesuatu mengejutkanku setelah aku membuka pintu, kehadiran seseorang yang tanpa aku duga, Natasya Perrone.
"Jeanny...?
Apa yang aku lakukan?!" tanyanya terkejut.
Dengan cepat segera ku seka air mata yang masih kelihatan di pipiku yang mungkin kini tampak memerah.
"Nat..?
Sejak kapan kau datang?" tanyaku mencoba mengalihkan.
Ia tak menjawab, pandangannya penuh selidik menatapku dan sekelilingku dalam ruangan.
"Kau mau kemana, apa kau akan pergi?" tanyanya kembali ingin tahu saat pandangannya jatuh ke arah koper - koperku.
Aku berdiri dengan kaku saat Natasya menanyakan pertanyaan yang kutakutkan itu.
"Aku harus pergi Nat, itu yang kulakukan sekarang" jawabku kemudian dengan suara seperti di cekik.
"Tidak!!' Natasya berseru mengejutkan.
"Kau tak boleh pergi sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanyanya kemudian.
Di luar kendaliku air mata mulai merebak di sudut mataku.
"Jangan paksa aku untuk mengatakannya Nat. aku mohon..." ucapku lirih seraya mengalihkan tatapan penuh ingin tahu dari mata Natasya.
Aku duduk di sofa ruang depan dengan tangan dan kaki gemetar, sia - sia saja usahaku untuk menenangkan diri.
Natasya menghampiriku dan berkata.
"Katakan padaku apa itu semua berhubungan dengan kehamilanmu?"
Saat itu pula akupun terkejut mendengarnya, kutatap Natasya dengan tatapan tak percaya pada apa yang baru saja ia ucapkan.
"A...pa?
Bagaimana kau tahu Nat?" tanyaku gugup dengan suara bergetar.
"Dokter Smith yang memberitahuku, itulah sebabnya aku datang kemari untuk menanyakannya secara langsung padamu.
Tadi pagi aku berniat menjengukmu di rumah sakit karena kupikir kau masih berada di sana, Kimmy yang memberitahuku tempo hari saat aku mencoba menghubungimu di telepon dari New Jersey.
Sudah terlalu banyak peristiwa yang terjadi sejak satu bulan lebih lamanya aku meninggalkan New York dan itu terjadi padamu Jeanny...
Sungguh aku tak menyangka Garth akan bertindak sebejad itu padamu" tutur Natasya dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Jujur katakan padaku Jeanny, apa Garth ayah dari janinmu?" tanya Natasya kemudian.
"Ah...? Aku tak mengerti bagaimana kau bisa mengetahui semuanya?" balikku bertanya.
Natasya hanya tersenyum pahit, ia duduk di sampingku dan berkata.
"Sudah cukup banyak yang kuketahui dari si brengsek Garth Gaskins.
Aku tahu ia sudah tertarik padamu sejak awal pertemuan itu, itulah sebabnya aku memutuskan hubungan dengannya secara sepihak namun aku tak pernah menyangka kalau Garth akan bertindak sejauh itu padamu" tutur Natasya dengan suara rendah.
"Aku rasa ide ku waktu itu untuk mempertemukan kalian adalah kesalahan terbesar yang ku buat" tambahnya lagi dengan nada penuh penyesalan.
"Tidak, aku mohon Nat jangan salahkan dirimu sendiri dengan kejadian buruk yang menimpaku.
Rencana Garth waktu itu untuk mencelakaiku tidak berjalan seperti keinginannya, Frank menolongku saat sebelum Garth melakukannya padaku" sahutku menjelaskan.
"Jangan menutupi kebusukkan Garth sialan itu, Jeanny!
Kau hamil karena dia bukan?
Ia yang membuatmu seperti sekarang ini kan?" Natasya bertanya tak percaya namun dengan cepat akupun menggeleng.
"Bukan..., bukan dia" bantahku spontan.
"Apa maksudmu?
Jadi siapa yang melakukannya padamu Jeanny?" Natasya bertanya penasaran
Kedua mataku kembali berkabut saat Natasya memojokkanku dengan pertanyaan itu.
"Tidak, aku tak bisa mengatakannya padamu Nat, aku tak bisa melakukannya" sahutku tegas dengan menggeleng cepat.
"Tatap aku Jeanny!" Natasya berseru, jemari lentiknya menyentuh wajahku agar menghadapnya.
"Apakah Frank tahu tentang hal ini, kehamilanmu Jeanny?
Apakah Frank Jefferson lah yang telah menghamilimu, dia lah ayah dari bayimu?" tanya Natasya memaksa.
"Tidak!!" seruku spontan.
"Jangan! aku mohon Nat jangan beritahu dia, Frank tak boleh tahu!" kini aku tak bisa lagi menahan air mata yang mulai keluar di pelupuk mataku, aku panik dan takut saat ini.
"Jadi benar dugaanku bukan? Frank lah yang menghamilimu.
Bagaimanapun juga dia harus tahu Jeanny.
Frank harus tahu dia lah ayah dari anak dalam kandunganmu itu.
Pria brengs*k itu harus diberi pelajaran atas kesombongannya sendiri!" seru Natasya serius dengan beranjak bangun dari sofa.
Di saat itu pula akupun berusaha menghalangi niat Natasya dengan bersimpuh di kakinya.
"Jangan Nat ! aku mohon padamu!!" mohonku dengan suara serak.
"Jangan beritahu Frank kalau dia lah ayah dari anakku ini.
Aku tak mau ia tahu, sumpah demi aku Nat. jangan katakan padanya!
Ia akan hancur, semua itu terjadi di luar kesadarannya Nat, ia tanpa sadar melakukannya padaku itulah sebabnya aku tak ingin dia tahu, aku tak mau menghancurkan mimpinya!" kalimat itu meluncur begitu saja di bibirku yang kini terasa bergetar, isakan tangis kembali terdengar sebagai luapan emosi yang bergejolak di dadaku hingga kusadari Natasya bersimpuh dan memeluk erat tubuhku, dengan penuh sayang ia mengelus rambutku seperti yang pernah kami lakukan dulu.
" Tenanglah Jeanny..., aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Tidak semua kebohongan akan bertahan, cepat atau lambat Frank akan tahu tentang kebenaran ini" bisiknya di telingaku.
"Jangan!
Sumpah demi persahabatan kita Nat , sampai kapanpun Frank tak boleh mengetahuinya, hanya kau dan aku yang tahu tentang kebenaran ini.
Berjanjilah padaku Nat! Aku mohon!" aku memohon penuh harap.
Natasya menatapku dengan bola matanya yang biru teduh, ekspresi wajahnya menyiratkan kebingungan yang tampak.
"Apakah kau mencintai Frank Jefferson, Jeanny?
Kau rela menghancurkan mimpi dan masa depanmu sendiri hanya demi dirinya.
Kebahagiaanmu sendiri kau pertaruhkan hanya untuk pria tak berperasaan itu" ucap Nat penuh harap jawaban dariku.
"Ya, aku mencintainya Nat. aku rela melakukan apa saja untuk kebahagiannya karena bagiku kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga...
Untuk itu aku mohon Nat. jangan halangi aku untuk menutupi kebenaran ini.
Sungguh, aku mencintainya.
Aku sendiri tak mengerti kenapa aku jatuh cinta padanya.
Kau tahu Nat. bagaimana perasaan hatiku jika berada di dekatnya?
Hatiku terasa sakit dan ingin menjerit.
Aku tak bisa membohongi perasaan hatiku Nat. untuk tak bisa mencintainya, aku tak mampu menyangkalnya Nat. aku tak bisa!" sahutku dengan berderai air mata.
"Aku memahaminya Jeanny, aku tahu bagaimana perasaanmu pada Frank..." Natasya menyahut singkat kemudian menghela nafas panjang dan kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
"Demi persahabatan kita aku akan menutup rapat kebenaran ini seperti yang kau minta dariku tapi aku tak mau berjanji demi anak dalam kandunganmu itu.
Aku tak bisa menjamin semua ini akan tetap bertahan dan tertutup rapat karena aku yakin cepat atau lambat kebenaran akan terungkap sepahit apapun kenyataan itu."
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...