
"Astaga, ya Tuhan!" sentakku kaget.
Ku angkat tinggi - tinggi kepalaku di atas bantal dan kubuka lebar - lebar kedua mataku yang masih enggan.
"Kimmy dan Alex?!" ingatku kembali.
Maka detik itu pula aku beranjak bangun dari ranjang, merapikan tempat tidur dengan cepat dan kulirik jam yang kini menunjukkan angka 7 kurang 5 menit.
Entah mengapa aku kesiangan pagi ini tak seperti biasanya aku bangun sesiang ini.
Bagaimana dengan Alex dan Kimmy?
Aku belum menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua dan juga Frank.
"Frank...?"
Ku ucapkan tanpa sadar nama itu.
Bisa kubayangkan bagaimana ia akan mencaci - makiku nanti.
Aku memang salah dan aku masih belum bisa percaya kalau kejadian kemarin malam di rumah Garth adalah nyata dan memang benar - benar terjadi.
Lamunanku buyar saat kudengar suara riang dan bersemangat di halaman depan yang letaknya di sebrang kamar yang ku tempati.
Suara Kimmy dan Alex.
Kudekati jendela kamar dan kubuka pelan tirai berwarna biru lembut itu, tampak sesosok pria bercelana pendek khaki coklat dan mengenakan kaos tanpa lengan berdiri beberapa meter tepat di depan net basket.
Sosok tubuh mengagumkan itu berdiri tegap memunggungiku, dengan satu gerakan bak pemain basket profesional bola basket di tangannya masuk tepat ke sasaran dan hal itu tidak berlangsung sekali namun berkali - kali.
Kemudian pandanganku beralih pada sosok gadis kecil yang berseru girang dengan melompat tinggi melihat keberhasilan yang berlangsung terus menerus itu.
Alex berdiri tak jauh di samping Kimmy dan bermaksud mengambil alih bola basket di tangan Frank dengan cekatan Alex dapat menangkapnya.
Melihat mereka pagi ini, pikiranku pun jauh terlintas pada berbagai kejadian sebelum aku berdiri tepat di sini.
Ku pejamkan mata & berpikir, apakah peranku ini benar - benar di akui dalam keluarga Jefferson?
Sebagai siapakah aku di mata mereka?
Pengasuh yang tanpa pamrih atau seorang wanita asing yang datang dengan tiba - tiba dalam keluarga Jefferson?
Sampai kapan aku dapat bertahan berada di sekeliling mereka, terutama bagi seorang Frank Jefferson yang sama sekali tak pernah mengakui keberadaanku di sini, tinggal seatap bersama dengan wanita yang sangat ia benci.
Aku tersentak kaget saat sepasang mata menatapku tajam di sebrang taman yang membentang hijau di sekeliling dinding tembok di luar jendela kamar yang ku tempati, tempat aku berdiri memperhatikan keriangan mereka.
"Frank...?"
Aku berkedip beberapa saat mencoba menguasai keadaan.
Frank, kenapa ia menatapku dengan cara seperti itu?
Apakah ia telah merencanakan sesuatu untukku pagi ini?
Ataukah ia akan memarahiku habis - habisan karena aku bangun kesiangan hari minggu ini?
Malam ini, kenapa aku begitu gelisah?
Apakah karena Frank sepanjang hari ini selalu berdekatan dengan kedua adiknya, sehingga aku tak bisa bergerak leluasa karena selama itupun Frank tak henti - hentinya menatapku dengan pandangan berarti.
Aku sendiri tak menyangka, weekend kali ini ia habiskan waktunya bersama dengan Alex dan Kimmy.
Padahal seingatku Frank akan selalu sibuk dengan pekerjaannya selama ini dan ini untuk kedua kalinya Frank menghabiskan waktu berada di dekat kedua adiknya, sejak liburan di pantai Brooklyn waktu itu.
Apakah Frank benar - benar telah berubah? ataukah inilah sosok seorang Frank yang sesungguhnya?
Sudah larut malam dan aku juga belum mengantuk.
"Kimmy dan Alex pasti sudah tidur" pikirku dalam hati.
Aku bangkit dari tempat tidur dan duduk termenung dengan pikiran melayang entah kemana.
Kurapikan rambut yang tergerai tak merata di sepanjang bahuku kemudian ku berdiri dengan enggan.
Kuputuskan untuk ke dapur untuk mengambil minum, malam ini aku perlu sesuatu yang dapat menjernihkan dan mencairkan suasana hatiku yang belakangan ini tak tenang.
Ku buka pintu kamar selirih mungkin dan berjalan bertelanjang kaki dengan langkah pelan, aku tak mau menimbulkan suara yang berisik yang dapat mengusik tidur Kimmy dan Alex, dan mungkin juga Frank.
Frank, apakah ia sudah tidur ataukah masih terjaga sama seperti aku?
Di saat yang sama itu pula, sesuatu membuatku terhenti dari langkahku
Sesuatu tepat di depanku.
Tampak sosok tubuh dengan masih mengenakan celana pendek santai dan kaos hitam yang semakin membuat penampilannya terlihat samar diantara keremangan cahaya lampu malam di sudut meja ruangan.
Sosok Frank yang tinggi tampak terlihat membungkuk di sofa ruang tengah, kualihkan pandanganku ke televisi yang masih menyala di depan sofa yang di tiduri Frank.
Ku dekati sosok tubuh yang kini masih terbaring itu dengan langkah sepelan mungkin.
Ku pastikan ia tidur dan tidak terjaga.
Entah mengapa saat melihat Frank dalam keadaan seperti saat ini, hatiku merasa tak karuan.
Jantungku berdetak kencang dan tubuhku terasa gemetar saat menatapnya.
Ia tampak begitu tampan dan begitu memikat.
Posisi tidurnya yang telentang dengan kedua lengannya yang berotot bagai seorang atlet itu saling bersidekap erat dengan gaya maskulin.
Kedua kakinya yang panjang saling bertumpu di lengan sofa warna aprikot itu, seakan tak mampu menompang tinggi badan Frank kini menjadi terkesan membungkuk menyesuaikan lebar sofa yang berukuran minim.
Sadar dengan lamunan yang begitu sentimentil itu, akupun segera mengambil remote tv di meja tepat didepanku kemudian menekan tombol Off untuk mematikannya.
Ini sudah terlalu malam untuk menonton tv bahkan hampir dini hari.
Setelah kumatikan tv itu, entah kenapa perasaan hatiku menjadi tak enak saat dengan tiba - tiba ruangan menjadi terkesan sunyi.
Kupandangi Frank sekali lagi, berharap ia tak terbangun karena kesunyian itu dan aku bernafas lega saat melihat Frank masih tak bergerak sedikit pun dengan posisinya, ia masih terbaring tetap dengan posisinya yang sama.
"Syukurlah..." desahku lega.
Lama setelah aku berpikir hingga tak terasa 3 gelas air mineral sudah kuhabiskan tanpa kusadari.
Kuteguk sekali lagi dengan gugup air dingin yang bagai obat mujarab itu dengan mata terpejam.
"Ya, Tuhan..., sampai kapan aku akan gelisah seperti ini?
Kenapa aku menjadi gugup seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
tanyaku kesal pada diriku sendiri.
Rasanya aku akan menjadi gila karenanya.
Dengan langkah cepat namun pelan segera ku ambil selimut di dalam kamar Frank di lantai dua.
Rasanya aku tak tega melihatnya tidur tanpa mengenakan apa - apa, benarkah hanya karena perasaan tak tega?
Kubentangkan selimut di sepanjang kakinya dengan nafas tertahan kemudian setelah merasa cukup nyaman kupastikan Frank tak terganggu karena ulahku dan berbalik pergi.
Namun detik itu pula aku tersentak kaget saat lengan kananku terasa ditarik kebelakang.
"Frank?!" aku berseru tak percaya saat kulihat ia menarik lenganku dan akupun jatuh terhempas ke sofa, diatas tubuhnya.
"A..ku - " belum sempat aku melanjutkan penjelasanku Frank tiba - tiba menciumku, ciumannya dalam dan begitu hangat.
"Frank..?" desahku kaget tak percaya dengan perlakuan ini.
Ia begitu lama menciumku, dalam dan semakin dalam.
Aku sendiri tak menyadarinya kalau akupun menyambut ciumannya dengan terbuka.
Frank membalikkan posisiku di hadapannya hingga dapat kurasakan lengan sofa yang menempel di belakang leherku.
Kurasakan belaian tangannya yang begitu lembut dan perlahan di seluruh tubuhku, hingga akupun tersentak saat jari jemari Frank menyelusup di bagian dalam gaun tidurku yang agak terbuka di bagian dada.
"Frank...kumohon jangan.., please..." pintaku dengan nafas tertahan saat ciumannya beralih di sepanjang leher dan bahuku yang terbuka.
Tubuhku terasa berat untuk di gerakkan begitu Frank dengan satu gerakan cepat dan sigap menindihku dengan tubuhnya yang tegap hingga akupun menjadi sulit bernafas karenanya.
Salah satu tangannya menahan tangan kananku dengan erat namun aku dapat merasakan cengkraman kasar itu menjadi genggaman lembut yang membuatku merasa nyaman.
Bahkan aku dapat merasakan nafas Frank yang menyapu lembut di kulit dadaku bukan nafsu itu yang aku rasakan saat ini.
Kugenggam erat rambut hitamnya saat ciuman itu berhenti di kulit dadaku yang tanpa kusadari kini setengah terbuka.
Rasanya jantungku seakan berhenti karena begitu cepatnya berdetak hingga aku merasa tubuhku melayang tinggi ke suatu tempat yang begitu terasa asing.
Kenapa aku tak menolaknya?
Belaian tangannya di tubuhku membuatku semakin mabuk.
Insting bawah sadarku tiba - tiba saja mengatakan kalau aku menginginkannya lebih dari ini, lebih dari yang Frank lakukan padaku.
"Frank..."
Kusebut nama itu di bibirku tanpa aku sadari hingga sebuah penolakan kurasakan di seluruh indra dan tubuhku.
Kubuka kedua mataku lebar - lebar untuk mengetahui apa yang tengah terjadi dan dengan jelas ku lihat ekspresi Frank kini berubah serius, ia menatapku tajam dan penuh arti seakan ada kata - kata yang ingin ia sampaikan padaku.
Namun kemudian ruangan sunyi itu di pecahkan oleh suara tawa Frank yang dengan tiba - tiba meledak memenuhi ruangan.
Aku yang saat itu tengah mencoba menyesuaikan diri pada apa yang tengah terjadi seakan menjadi semakin tak mengerti.
Tawa itu terdengar bagiku seperti aliran listrik yang tiba - tiba menyentakkanku untuk bangun dan menyadari apa yang telah terjadi.
Aku tak tahu apa maksud sikap Frank padaku saat ini namun yang pasti, ia telah mempermainkan perasaanku dan harga diriku sebagai seorang wanita.
Dadaku naik turun tak beraturan menahan emosi yang kucoba kutahan.
Kedua telingaku panas seperti kobaran api saat tawa itu seakan mengejekku dan mempermalukanku.
"Ternyata benar dugaanku kau memang wanita murahan, miss Anderson.
Tampaknya ucapan terima kasihmu tempo hari hanyalah omong kosong belaka.
Sudah berapa banyak pria yang menidurimu miss.., Garth masuk dalam hitunganmu bukan?" ucapnya dengan nada melecehkan, kalimat itu terdengar bagiku adalah sebuah penghinaan, penghinaan yang begitu besar.
Entah kenapa aku tak bisa berkata apa - apa untuk menyangkalnya ataupun membela diri karena lidahku seakan terasa kelu untuk berbicara.
"Rasanya aku tak perlu lagi menjelaskannya secara detail padaku, miss Anderson.
Bagaimana dengan senang hati kau menyambut sentuhan yang aku berikan padamu, atau bisa dikatakan dengan sangat klise sebuah 'ciuman' .
"Frank...?" Hanya nama itu yang bisa aku ucapkan di bibirku yang terasa kaku, hingga tanpa kusadari air mata menetes di pipiku.
"Ingat kata - kataku ini Jeanny Anderson, aku akan membenci diriku sendiri jika suatu saat nanti aku benar - benar tergoda denganmu!
Itu akan menjadi kesalahan terbesarku sepanjang hidupku dan aku tak main - main dengan ucapanku sendiri kali ini.." tutur Frank kejam dan tak berperasaan.
Aku tak percaya, sungguh tak bisa kupercaya ia mengatakan penghinaan itu padaku.
Ketidak percayaan, kekecewaan dan kesedihan seakan menindih dan melipat - lipatku menjadi manusia bodoh dan tak ada artinya sekarang, di mata seorang Frank.
Tak bisa membendung berbagai perasaan yang kurasakan saat ini membuatku hanya bisa berlari, menjauh dari seorang Frank Jefferson yang kini tertawa penuh kemenangan diatas penderitaanku.
Praanngggg!!!!!
Pukulan keras tepat mengena, hantaman keras berhasil memecahkan kaca wastafel hingga permukaan lapisan kaca itu retak sedikit demi sedikit membentuk suatu ukiran abstrak.
Kelima buku jari jemari kokoh itu mulai berdarah, hingga darah segar itu menetes sedikit demi sedikit dipermukaan wastafel yang penuh dengan air.
"Apa yang telah kulakukan....?
Apa yang telah kulakukan pada Jeanny Anderson?!"
Wajah yang selalu tampak dingin dan tanpa ekspresi itu kini tampak berubah menjadi mengerikan.
Ia menatap dirinya lekat - lekat di lapisan kaca yang retak, walaupun tak terlalu nampak namun seakan tatapan mata Frank dapat menembus sampai ke dasar.
Wajahnya kaku, rambutnya acak - acakkan seakan menambah liar penampilannya sekarang.
Ingin rasanya ia menjerit dan mencaci maki dirinya sendiri saat ini.
Apa yang dilakukannya tadi pada Jeanny Anderson telah mencoreng harga diri dan nama yang selama ini ia junjung tinggi, Jefferson.
Ia masih belum mengerti apa yang ia lakukan tadi adalah di luar kesadarannya atau memang ia benar - benar sadar melakukan semuanya itu.
Ia telah tergoda dengan penampilan Jeanny Anderson, kejadian itu telah membuktikan dan hal itulah yang membuatnya syok.
Iapun kembali teringat dengan ucapan Garth Gaskins tempo hari.
Kalau ia menginginkan Jeanny Anderson sama seperti Garth menginginkan wanita itu dan kini ia mulai meragukan dirinya sendiri, bahwa mungkin yang Garth katakan adalah benar.
"Tidaakk!!"
Ia berseru dalam hati, sekali lagi pukulan keras membuat retakan pada lapisan kaca itu benar - benar pecah pada tempatnya.
Tak peduli dengan darah yang terus menerus mengalir di jemari tangannya, ia terus berkali - kali melakukannya.
Kalau saja wanita itu tak memanggil namanya waktu itu, mungkin saat itupun ia akan melakukannya dan tentu saja Jeanny Anderson tak akan menolaknya
Wanita itu menyambut ciumannya, Jeanny membalasnya dengan senang hati.
Sungguh diluar dugaan, ia mengira wanita itu akan mendorong atau menamparnya namun ternyata salah.
Yang terjadi sungguh tanpa diduga.
Dugaannya selama ini memang benar, Jeanny Anderson adalah wanita murahan, ia wanita gampangan seperti yang ia duga sebelumnya.
Entah berapa banyak pria yang telah menidurinya, termasuk Max sahabatnya sendiri.
Frank tersenyum dingin.
"Aku adalah satu dari korban topeng kepolosan dari seorang Frank Jefferson" pikirnya dalam hati.
Namun sesuatu jauh di lubuk hatinya menyangkal semua itu ketika ia mengingat kembali bagaimana wanita itu menyebut namanya dengan sepenuh hati, seakan Frank adalah kekasihnya dan mereka melakukannya atas dasar cinta dan panggilan itulah yang menyadarkannya dari kenyataan.
Kalau Jeanny Anderson adalah musuhnya, wanita yang sungguh dibencinya dan ia tak akan tergoda dengan kecantikan wanita itu yang mematikan, untuk kedua kalinya.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...