One Day In Your Life

One Day In Your Life
Obsesi



"Astaga!


Sudah berapa lama aku berada di sini?!" Pertanyaan itu spontan Frank ucapkan saat ia bangun dari tidurnya.


Ketika membuka matanya untuk pertama kalinya, iapun menyadari kalau kini ia berada di tempat yang asing, tempat yang seharusnya bukan untuk pelariannya saat ini.


"Ini masih pagi Frank, kau tak perlu terburu seperti itu" Carol menyahut tenang sambil mulai mengenakan kemeja putih polos yang tergeletak di samping ranjang.


Melihat ketelanjang*n Carol dan dirinya sendiri membuatnya semakin yakin dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya semalam.


Ingatannya tentang apa yang terjadi semalam memang samar namun ia masih dapat mengingat apa yang membuatnya sampai di tempat ini, apartemen Carol Gilmore.


"Siall!!" Frank mengumpat kesal.


"Aku harap kau tak akan memanfaatkan apa yang sudah terjadi pada kita semalam Carol!" tutur Frank seraya bangkit dari ranjang kemudian dengan cepat ia mengumpulkan pakaiannya yang tergeletak begitu saja di lantai.


Seperti tak ingin menunda waktu, ia mulai mengenakan celana denim dan jaket kulit tebal hitam yang dipakainya semalam, dan tampaknya Carol tak senang dengan sikap Frank yang seolah tak memperdulikannya itu.


"Apa kau akan pergi secepat itu?


Setelah apa yang aku lakukan untukmu, Frank?" tanyanya kesal dengan bangkit dari ranjang yang masih tampak berserakan.


"Sikapmu seolah tak menghargaiku Frank Jefferson, aku mohon tinggallah beberapa lama lagi di sini.


Bercintalah sekali lagi bersamaku..." lanjut Carol memohon, ia menghampiri Frank yang tengah sibuk mengancingkan celana panjang denimnya.


Mendengar permohonan Carol yang tak masuk akal, seketika itupun ia berbalik menatap Carol di depannya yang hanya memakai kemeja putih polos tanpa di kancing itu.


"Apa kau ini gila?!


Meminta sesuatu yang tak mungkin aku lakukan untukmu.


Jangan menjual harga dirimu sendiri Carol atau kau akan menyesal nantinya" sahut Frank tegas.


"Apa yang terjadi semalam pada kita berdua adalah kesalahan, sesuatu yang tak seharusnya aku lakukan padamu jadi aku minta padamu untuk tak menuntutku macam - macam apalagi untuk tinggal seatap bersamamu, itu sama sekali tak masuk diakal" lanjut Frank kembali menegaskan.


"Lalu, kau akan melupakan begitu saja seolah hal itu tak pernah terjadi apa - apa pada kita?


Jika kau bersikeras pergi, aku tak akan mengizinkanmu pergi dari tempat ini Frank, sebelum aku tahu siapa wanita bernama Jeanny yang kau sebut dalam mimpimu semalam!?" tanya Carol ingin segera jawaban dari Frank.


Bagi Frank pertanyaan itu seakan menghantam dadanya begitu kuat hingga ia seperti tak percaya pada apa yang baru saja Carol ungkapan padanya.


"A-pa... kau bilang?" Frank bertanya gugup.


"Jeanny, ya! dia seorang wanita kan?


apa dialah yang membuatmu seperti sekarang ini?


Jeanny kah wanita yang memenuhi kepala dan pikiranmu selama ini?"


"Jawab pertanyaanku Frank, apakah itu benar?!" Carol berseru lepas kendali.


"Aku minta jangan kau ucapkan nama itu di depanku lagi, Carol!!" tukas Frank tajam hingga membuat Carol terkejut.


"Jangan coba - coba bertanya tentangnya, apapun itu!!" Frank berseru kembali.


Kali ini Frank begitu terpukul, ia tak habis pikir sampai sedalam itukah Jeanny Anderson dalam pikirannya?


Benarkah apa yang Carol katakan padanya tadi?


Mungkinkah itu hanya omong kosong yang sengaja di buat Carol?


Jauh dalam dirinya, ia mencoba terus menyangkal bahwa apa yang baru saja Carol katakan adalah benar, Frank Jefferson berjuang keras untuk menyangkal semua itu.


Melihat reaksi Frank, Carol pun menyadari ia tak akan mungkin menuntut Frank lagi untuk menceritakan siapa wanita bernama Jeanny itu.


Ia tak berani untuk melakukannya lagi, ia tak mau Frank menghindar ataupun membencinya karena sikapnya yang begitu menuntut seperti yang dilakukannya tadi.


Dengan langkah pelan, ia mendekati sosok Frank yang kini duduk di tepi ranjang membelakanginya dengan ekspresi wajah yang tak ingin Carol tahu.


"Maafkan atas sikapku tadi Frank..., aku melakukannya karena aku tak mampu menahan emosiku sendiri.


Aku tak mau kau pergi dan melupakanku, Frank.


Aku mencintaimu, kau tahu itu" ungkap Carol tulus.


Saat itu juga Frank menatap wanita yang berada di sampingnya tajam.


"Kau tak pernah mencintaiku, Carol Gilmore kau hanya ingin memilikiku.


Pikirkanlah baik - baik sebelum kau membuat pengakuan itu padaku" jawab Frank dengan nada berwibawa.


Tentu saja jawaban itu begitu mengejutkan Carol, sebelum Carol menyangkal ucapannya, Frank lebih dulu melakukannya.


"Jangan coba menyangkalnya karena memang itulah perasaan yang kau rasakan selama ini padaku.


Kau bukanlah wanita yang kucari, kita tidak akan cocok jika terus membina hubungan."


"Masih banyak pria yang lebih mengharapkanmu, kau akan menemukan apa yang kau cari selama ini jika kau buang jauh obsesimu yang selalu berlebihan.


Satu yang pasti, aku bukanlah pria yang pantas kau miliki."


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


1 minggu menjelang Natal, 18 Desember


"Mimpi itu datang lagi, mimpi yang sama.


Sampai kapan aku akan terus begini?!" seru Frank dalam hati, raut wajahnya kini tampak tegang.


Ia tampak begitu frustasi akibat mimpi yang selama beberapa hari ini terus menghantui setiap tidurnya.


Ia kembali membasuh wajahnya dengan air di wastafel dan kepalanya tertunduk berpikir.


Penampilannya malam ini tampak kacau.


Mimpi itu kembali datang dalam tidurnya, membuatnya selalu terbangun dengan perasaan yang bercampur aduk.


Mungkinkah itu semua adalah sebuah dampak dari perasaan bersalah yang ada dalam dirinya selama ini tapi atas dasar apa?


Apa yang membuat mimpi itu berulang kali datang dalam tidurnya?


Apakah mimpi itu mengartikan sesuatu, sesuatu yang belum terselesaikan?


"Tidak! aku tidak boleh terus seperti ini!"


Frank berseru di dalam kehampaan yang kini memenuhi dirinya.




Kali ini Frank menghentikan mobilnya di sebuah Bar kecil di Eighty third Street, memesan martini dengan campuran vodka.



Bar itu tampak sepi dan jauh dari keramaian kota, ia memang sengaja memilihnya karena saat ini ia hanya ingin ketenangan dan tak ada yang mengusiknya.



Frank duduk dengan posisi tubuh dan wajah tegang.


Pandangannya melirik sekilas pria kurus, paruh baya dengan rambut yang di penuhi uban, yang duduk di sampingnya kemudian Frank meneguk begitu saja minuman yang di pesannya tadi.



Ia tak ingin pulang saat ini, yang ia inginkan kali ini adalah pergi dan menenangkan diri.


Sejak mimpi itu datang lagi dalam tidurnya kemarin malam, ia tak dapat tidur tenang.



Pekerjaannya kacau, konsentrasinya buyar dan pikirannya selalu tegang.


Ia yakin mimpi itu bukanlah mimpi biasa, semua yang digambarkan dalam mimpi itu pasti mengartikan sesuatu, sesuatu yang mungkin terjadi di dunia nyata.



"Natal akan segera tiba, kenapa sepertinya kau merasa tak bahagia anak muda?" pria paruh baya yang duduk samping Frank tiba - tiba bersuara.



Frank enggan menanggapinya, ia merasa lelah dan tak ingin peduli.



Melihat reaksi Frank, pria paruh baya itu tersenyum datar.



"Kau mengingatkan aku dulu saat aku masih seusiamu anak muda.


Aku tak tahu apa saja yang telah kau alami hingga membuatmu merasa frustasi dan berakhir di tempat ini, saat yang lain sibuk menyiapkan Natal bersama orang terkasih dan keluarga mereka" ucap pria itu sekali lagi dengan sikap datar, tatapannya tak lepas di gelas miliknya yang berisi whisky.



Pria itu meminumnya dan kemudian tersenyum kecut lalu ia melanjutkan ucapannya kembali.



"Sangat ironis, kau dan aku berada di tempat yang sama saat ini.


Tapi setidaknya, aku berharap kau tak akan berakhir seperti aku yang tua dan kesepian seperti ini, karena waktumu masih banyak untuk meraih kebahagiaan yang ada di depan matamu."



Mendengar ucapan pria itu, membuat Frank mau tak mau menanggapinya.


Kini ia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan penuh tanya.



"Apa maksudmu?" tanya Frank.



"Waktu..., ya kau sendiri tahu waktu adalah hal yang paling berharga untuk kita.


Namun ironisnya, sebagian orang tak menggunakan waktu mereka dengan baik selagi mereka masih memiliki kesempatan" sahut pria kurus itu, tatapan pria itu kini tampak kosong, dan kemudian ia mendesah pelan.



"Aku adalah salah satu dari orang yang menyia - nyia kan waktu dan sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan.


Setelah semuanya pergi dan meninggalkan kita, semua baru terasa kosong.



Dan sekarang kau bisa melihat aku berakhir dengan sangat menyedihkan di sini, tanpa keluarga dan tanpa orang yang kucintai" tuturnya dengan suara lirih dan tampak tertekan.



"Seandainya aku bisa mengulang waktu, tentu saja aku tak akan menyia - nyiakannya lagi.


Akan kuperbaiki hidupku, meminta maaf pada orang yang kucintai dan hidup bahagia bersama tanpa ada rasa penyesalan..." ucap pria itu kembali.



Frank diam dan tanpa reaksi, ucapan pria asing di depannya sekarang begitu terasa menyentuh.


Kini ia merasa kasihan pada pria paruh baya yang kini tampak menyedihkan itu.



Kini pria asing itu mengalihkan tatapannya pada Frank yang menatapnya dan duduk diam, kemudian ia tersenyum samar.



"Jika aku jadi kau, akan kugunakan hidupku dengan lebih baik, memberikan cinta yang selayaknya pada orang yang paling kucintai dan membuang segala hal bodoh yang tidak penting dalam hidupku karena penyesalan yang terburuk dalam hidup adalah saat kita mencoba memperbaikinya namun kesempatan itu sudah tak ada lagi dalam hidup kita."



...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...