
Malam itu juga setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dari pihak kepolisian tentang insiden itu, Joseph mengantarkanku ke rumah.
Ia tahu dengan keadaanku yang masih syok karena insiden di butik, aku tahu itu dari wajah khawatir dan cemasnya padaku.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam tak berbicara sepatah katapun di dalam mobil.
Joseph berusaha sebaik mungkin menghiburku, dengan menenangkanku agar aku tak perlu khawatir.
Ia berjanji akan mengusut tuntas kasus ini jika polisi tak bisa menanganinya dengan baik, karena ia yakin ada konspirasi di dalamnya dan akupun berpikir demikian.
Sesampainya di depan rumah yang sejak hampir 6 tahun ini aku tinggali, Joseph mengantarkanku hingga sampai ke pintu depan rumah.
"Kau yakin kau akan baik - baik saja, Jeanny?" tanyanya cemas seraya menyentuh lembut bahuku.
"Aku baik - baik saja, Joseph...
Aku sangat berterima kasih padamu untuk malam ini, jika saja kau tidak datang tadi di butik entah apa yang akan terjadi padaku..." jawabku sunguh - sunguh
"Aku akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu padamu, Jeanny dan aku bersyukur kau baik - baik saja sekarang...
Untuk masalah butik, jika kau berkenan aku akan membantumu mencarikan tempat yang baru yang lebih baik" ucap Joseph tulus.
"Tidak, Joseph, terima kasih.
Aku tidak ingin berhutang budi padamu, kau sudah sangat banyak membantuku sampai sekarang" jawabku tegas, kuharap Joseph tidak tersinggung dan mau menerima keputusanku.
"Baiklah kalau begitu, apapun yang terbaik untukmu, Jeanny...
Tapi aku minta, kau tak perlu sungkan jika kapanpun kau membutuhkan bantuanku ya" ucap Joseph dengan senyum tipisnya yang menawan dan aku hanya mengangguk sebagai ucapan terima kasih atas niat baiknya padaku.
"Sekarang kau istirahatlah..., aku rasa Ian sudah menunggu Mommy'nya di dalam" ujarnya seraya tersenyum lembut.
"Kalau begitu selamat malam, Jeanny..., jaga baik - baik dirimu dan Ian ya..." ucap Joseph seraya berlalu pergi kemudian masuk ke dalam mobilnya.
ππππππ
Aku terbangun karena ketukan dari pintu luar dan bunyi ponsel yang tak berhenti bergetar entah sejak kapan.
Kulirik jam diponselku dan waktu menunjukan pukul 5 lebih dan panggilan dari Garth.
"Aku sudah ada di depan rumahmu, Jeanny! bisakah kau buka pintunya, honey?" tuturnya di telepon.
"Ya, Tuhan kau- bagaimana bisa? baiklah, tunggu sebentar, Garth!" jawabku langsung mematikan panggilan itu.
Aku yang saat itu mengenakan kimono dari bahan satin dengan penampilan seadanya, berjalan ke pintu depan.
Kubuka pintu luar, dengan nafas sedikit tertahan, karena aku tak percaya Garth datang dan kini ada di depan pintu rumahku.
Sudah hampir 7 bulan kami tidak bertemu secara langsung sejak, Garth sibuk dengan bisnisnya di London kala itu.
"Hallo, Jeanny sayang..." sapa Garth dengan senyuman memikatnya yang menggoda saat aku membuka pintu rumah pagi itu.
"Garth?!" aku tak percaya kau datang sepagi ini?" aku berseru masih tak percaya dengan kehadirannya sekarang.
"Bukankah aku sudah bilang, kalau aku datang, honey..., aku sangat mencemaskanmu... apa kau tahu itu?" sahutnya dengan ekspresi wajah sedih.
"Ayo masuk, Garth! kau pasti lelah semalaman dalam perjalanan" ucapku perhatian.
Garth melepas jas hitam yang dikenakannya dan kini ia hanya memakai kemeja putih dengan tampilan yang seperti biasa, selalu memikat dan wangi.
Seolah ia baru saja mandi, karena penampilannya selalu segar setiap waktu. Penampilannya memang terlihat lebih muda dari usianya, itulah kelebihan yang dimiliki Garth Gaskins hingga ia selalu di sebut sebagai pria flamboyan karena gaya hidupnya.
"Kau pagi sekali sampai ke Paris, Garth aku sungguh tak menyangka kau datang kesini di sela waktu sibukmu itu..." ucapku.
Kini Garth tampak duduk di sofa ruang depan dan menyandarkan tubuhnya serileks mungkin di sofa itu.
"Setelah aku tahu kau mendapatkan masalah disini, tentu saja aku tak mungkin tidur tenang, Jeanny. Aku mengkhawatirkanmu dan Ian.., apa kalian baik - baik saja?" tanyanya cemas.
"Kami baik- baik saja, Garth.
"Aku sudah menyuruh orangku untuk menyelidiki penyebab kekacauan di butik milikmu, itu tak bisa dibiarkan terjadi, Jeanny.
Mereka yang menyakitimu harus mendapatkan balasannya!" Garth berkata dengan raut wajah marah.
"Pihak polisi sudah menyelidikinya, Garth kau tak perlu khawatir" sahutku menenangkan.
"Aku tak percaya pada polisi, Jeanny kau tahu itu..., aku lebih percaya dengan kemampuanku sendiri" ucap Garth percaya diri dan memang sejauh aku mengenalnya, Garth tak pernah melibatkan polisi jika mendapatkan masalah.
Karena Garth memiliki kekuasaan untuk itu semua, aku tahu itu.
"Dimana Ian, apa ia masih tidur?" tanya Garth dengan kedua mata yang sibuk melihat sekeliling ruangan.
"Ian masih tidur, Garth semalam ia terus terjaga karena cemas mengkhawatirkan aku..." jawabku lirih.
Mendengarnya, seketika itupun Garth menatapku sendu, ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekatiku.
"Aku berjanji, Jeanny kau dan Ian akan baik - baik saja, selama masih ada aku, aku tak akan membiarkan ada orang lain yang menyakitimu ataupun mengganggumu, okay?
Karena kalian berdua adalah tanggung jawab dan segalanya bagiku" ujarnya meyakinkan dengan ekspresi wajah serius.
"Garth..., aku sangat berterima kasih karena selama beberapa tahun ini kau menjagaku dan Ian dengan begitu baik, tapi aku tak bisa selamanya bergantung padamu...
Kau pun harus melanjutkan hidupmu, Garth.
Aku tak mau karena aku, masa depanmu terganggu..." tuturku sungguh - sungguh.
"Apa kau masih khawatir dengan masa depanku, Jeanny? ayolah, honey...
Aku baik - baik saja, kau lihat sekarang walaupun kita jauh selama ini aku bisa hidup dengan baik!" Garth berucap penuh percaya diri di depanku dengan memamerkan senyuman lebarnya yang memikat.
"Astaga, Garth...." lirihku tertawa kecil dengan tingkah konyolnya.
"Baiklah Garth, kau istirahatlah dulu disini, aku akan membuatkan sarapan untukmu dan Ian.
Kau beristirahatlah dulu, buatlah dirimu senyaman mungkin ya" perintahku perhatian.
"Okay, honey..." sahut Garth enteng.
Maka pagi itupun, aku mulai sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami bertiga.
..
..
"Sejak kapan uncle Garth datang, Mom?" tanya Ian yang baru saja bangun dari tidurnya dan menghampiriku saat aku menyiapkan sarapan yang sudah siap di meja makan.
"Baru saja, sayang.
Uncle Garth datang karena mengkhawatirkan kita, dan dia sedang kelelahan sekarang.
Bisakah kau bangunkan dia, sayang? agar kita bisa sarapan bersama - sama nanti" ucapku dengan suara lembut.
"Ok, mom... tapi nanti setelah aku mandi ya" sahutnya santai kemudian melenggang berjalan menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian, kamipun berkumpul bersama - sama di meja makan, seperti sebuah keluarga karena memang momen ini sangat langka.
Ian yang sudah cukup baik mengenal Garth seperti pamannya sendiri, tampak berbincang dengan semangat dengan gaya polosnya yang ceria sedangkan Garth pun dapat mengimbangi Ian yang berkarakter cenderung cuek dan aktif dan aku hanya bisa tersenyum melihat kedekatan mereka berdua sekarang.
Hingga sebuah suara ketukan pintu membuatku terkejut.
"Kalian lanjutkan makan saja, aku akan membukakan pintu" ucapku pada Garth dan Ian.
"Siapa yang datang pagi - pagi ini tak seperti biasanya?" batinku penasaran dan kini akupun dibuat terkejut dua kali pagi ini, karena ternyata yang datang adalah Joseph Hayden.
...ππππππ...
...Wiihh akhirnya datang juga nih rival baru, Garthππ€π ...
...Ikuti trs ya kisah merekaπ€...
...Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah jika kalian suka novel ini yaπ₯°β€οΈβ€οΈ...