One Day In Your Life

One Day In Your Life
AKU RELA MELEPASMU



Sejak kedatangan Garth siang itu dan mengungkapkan kebenaran yang selama hampir 7 tahun tertutup, membuatku tak bisa berhenti berpikir. Kenangan buruk saat aku hamil dulu kini terlintas lagi dalam pikiranku.


Terlalu dalam aku berpikir hingga aku melupakan kehadiran Joseph yang tanpa kusadari memperhatikanku dengan raut wajah cemas dan penuh tanya.


"Jeanny? Apa kau baik - baik saja?" Tanya cemas.


"Ah, ya??" Aku tercekat selama beberapa saat dan mengerjapkan kedua mata ini dengan reflek.


"Kulihat kau sejak tadi melamun, apa ada masalah Jeanny?" Tanyanya cemas.


"Semua baik - baik saja, Joseph. Kau tak perlu khawatir. Ah, jadi kapan kita akan berangkat pulang ke Paris?" Sahutku mencoba mengalihkan perhatian.


"Aku menunggumu siap, Jeanny." Joseph menyahut seraya tersenyum lembut, menatap wajah Joseph yang selalu penuh dengan cinta itu, entah kenapa selalu membuatku tenang dan semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku, Joseph karena aku sempat membuatmu cemas. Kau adalah pria baik yang selalu lebih memperhatikanku daripada perasaanmu sendiri. Aku berjanji mulai sekarang aku tak akan membuatmu cemas lagi." Tuturku lirih seraya menyentuh lembut pipinya dengan telapak tanganku.


Kini pria tampan berkharisma itu mengecup lembut tanganku dan kemudian menggenggamnya dengan posesif.


"Bagiku kau adalah segalanya, Jeanny. Apapun itu yang membuatmu bahagia aku akan siap melakukannya untukmu." Sahutnya lembut dengan tatapan penuh cinta.


Aku tersenyum mendengarnya.


"Besok bisakah kita kembali ke Paris, Joseph?" Ucapku tiba - tiba.


"Apa kau yakin? Itu tidak terburu - buru, Jeanny?" Joseph bertanya tidak yakin.


"Aku yakin, Joseph. Aku tak mau lebih lama lagi disini. A-ku hanya ingin cepat - cepat kembali ke Paris bersamamu." Jawabku.


Hening.


Kulihat Joseph terdiam dan menatapku penuh arti. Aku tak tahu apa maksud tatapannya padaku sekarang, namun aku bisa sedikit menebak, ada sedikit keraguan di matanya saat ini.


"Bagaimana dengan Frank? Apakah Ian akan menerimanya jika ia jauh dari ayahnya nanti?" Joseph bertanya kemudian.


"Ian akan baik - baik saja, Joseph. Ada kau bersama kami, aku yakin Ian akan mengerti." Aku menjawab yakin.


"Baiklah, jika kau sudah yakin kita akan kembali besok seperti yang kau inginkan, honey. Namun sebelum itu aku mohon padamu, kau yakinkan dirimu dulu kalau ini memang sudah menjadi keputusanmu, sayang." Joseph berucap seraya tersenyum lembut menenangkan dan aku hanya mengangguk menjawabnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Mansion Jefferson's.


Di kamar besar mewah miliknya tampak Frank duduk di balkon kamarnya dengan pandangan kosong. Selama beberapa hari ini sejak kepulangannya dari rumah sakit ia hanya duduk terdiam di kamarnya.


Lukanya sudah hampir sembuh sepenuhnya namun bagi Frank sekarang bukanlah karena luka di tubuhnya namun luka di hatinya yang jauh lebih terasa sakit dari luka di tubuhnya saat ini.


Sejak ia harus merelakan Jeanny untuk pergi lagi dan memilih Joseph Hayden sebagai pelabuhan terakhir wanita yang begitu dicintainya itu selama ini.


Tidak rela itu pasti, namun mau bagaimana lagi Frank sudah berjuang selama ini untuk mendapatkan cinta mantan istrinya lagi tapi Jeanny telah mantap menetapkan hatinya pada Joseph Hayden, pria kaya berkharisma yang juga merupakan rekan bisnisnya di Wilson Corp.


"Frank...?" Panggil sebuah suara lembut dari belakang.


Frank memalingkan muka dengan enggan karena ia tahu siapa pemilik suara itu.


"Ayo makan, kepala pelayan bilang kau belum makan dari semalam Frank. Bagaimana kau akan cepat sembuh jika kau tidak menjaga kesehatanmu sendiri, Frank?"


"Apa pedulimu, Laura dan untuk apa kau datang kemari? Aku tak memintamu untuk datang!" Sahut Frank ketus.


Tampak Laura menatap lemah Frank, yang baginya masih menjadi tunangannya namun itu berbeda dengan Frank Jefferson sendiri.


"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Frank? Jika kau seperti ini terus itu sama saja menyiksa dirimu sendiri." Ujar Laura seraya bersimpuh di depan pria yang begitu ia cintai itu.


"Sudah aku bilang, kau tak perlu repot - repot mengurusku, Laura. Aku masih bisa melakukan segalanya sendiri jadi kau tak perlu khawatir." Kali ini Frank menjawab dingin dengan wajah datar.


"Aku tahu, Frank selama ini kau sedikitpun tak pernah menganggapku ada apalagi mencintaiku. Tak apa, Frank, aku bisa menerimanya. Selama ini mungkin aku terlalu terobsesi padamu hingga aku bersikap egois tak memikirkan perasaanmu sendiri. Maafkan aku, Frank. Sekarang aku rela melepasmu, kau bebas Frank Jefferson. Namun aku minta izinkan aku untuk tetap menjadi temanmu ya, jangan membenciku." Tutur Laura dengan tatapan sendu, kedua matanya kini tampak berkaca - kaca menatap Frank sekarang.


Mendengar ucapan Laura, tentu saja membuat Frank cukup terkejut. Kenapa sikap Laura berbeda sekarang? Itu yang menjadi pertanyaannya saat ini, namun ia tak mau berpikir lebih jauh lagi karena sekarang hati dan perasaannya sedang hancur karena patah hati harus kehilangan Jeanny, sang pujaan hati.


"Terserah kau, sekarang aku hanya ingin sendiri Laura. Tolong kau tinggalkan aku sendiri." Pinta Frank sedikit memohon.


"Baiklah Frank jika itu yang kau mau, kau jagalah dirimu Frank. Aku pamit sekarang." Sahut Laura lirih seraya bangkit dan berjalan meninggalkan Frank kini.


Namun baru beberapa langkah Laura berjalan, Frank memanggilnya dengan tiba - tiba membuat Laura tersentak dan berhenti sesaat.


"Ya, Frank?" Tanya Laura.


"Sampaikan pada ayahmu, aku ingin bicara empat mata dengannya."


DEG!


Laura tercekat selama beberapa saat, ketakutan kini melingkupinya ketika Frank menyebut nama ayahnya, Nickollas Harris.


"Baiklah, Frank akan kusampaikan." Laura menyahut lirih.


"Kau tidak bertanya padaku, untuk apa aku ingin menemui ayahmu?" Frank bertanya memancing.


Laura menelan salivanya sendiri karena merasa gugup.


"Untuk apa Frank?" Sahut Laura gugup.


"Melihat sikapmu sepertinya kau sudah tahu alasannya, Laura Harris." Jawab Frank dingin.


Laura hanya diam membisu dengan wajah tegang yang tak bisa ditutupi.


"Nickollas Harris memanglah ayahmu, namun aku tetap akan bertindak tegas kepada siapa saja yang berbuat jahat apalagi pada orang yang kucintai, Laura." Ucap Frank dengan ekspresi wajah serius kini.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...