One Day In Your Life

One Day In Your Life
KEMBALI KE NEW YORK



Setelah hampir satu minggu persiapan kepindahanku untuk sementara di New York, selama itupun Joseph selalu mendampingiku dengan setia untuk mengurus segala sesuatunya.


Hingga hal yang paling sekecil apapun, Joseph mengurusnya. Ia juga menyiapkan tempat tinggalku di sebuah pentahouse mewah miliknya di New York namun aku menolaknya dengan alasan aku ingin hidup mandiri, iapun mengerti dan menghormati keputusan karena itu kini aku lebih memilih hidup sederhana di sebuah flat yang nyaman di tengah kota New York dan tentu saja bersama dengan putra semata wayangku Ian.


Joseph yang tak ingin meninggalkanku dengan alasan cemas pun untuk sementara lebih memilih tinggal di New York di pentahouse miliknya. Sedangkan urusan pekerjaan ia serahkan kepada asisten kepercayaannya dan jika urusan yang penting Joseph menghandlenya dari jauh.


Seperti kini, Joseph berkunjung kembali ke flatku dan bercengkrama dengan Ian. Melihat kedekatan mereka berdua yang semakin intens membuatku tersenyum senang, karena memang Joseph adalah sosok yang hangat dan menyenangkan.


"Apa kau tidak lelah bermain dengan Ian sejak tadi, Joseph?" Tanyaku perhatian.


"Tidak, kenapa harus lelah? Ian adalah anak yang mandiri, aku hanya menemaninya bermain saja, Jeanny. Jadi kau tenang saja ya" sahutnya dengan senyum hangatnya padaku.


"Oya, bagaimana dengan Frank. Apa dia sudah memberikan kabar padamu? Dia tahu kau sudah berada di New York?" tanya Joseph kemudian.


"Entahlah, seperti yang kau tahu aku putus komunikasi sejak terakhir kita bertemu di rumahku di Paris waktu itu" sahutku lirih.


Melihat raut sedihku, saat itu Joseph berjalan mendekat dan kemudian duduk di sebelahku.


"Kau tak perlu khawatir, Jeanny. Semua akan baik - baik saja. Akan kucarikan pengacara yang terbaik agar hak perwalian Ian jatuh sepenuhnya padamu" ucapnya menenangkan dan aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan sayu.


"Terima kasih, Joseph. Kau banyak membantuku selama ini, sampai - sampai kau harus meninggalkan pekerjaanmu di Paris hanya untuk menemaniku disini" kataku tak enak hati.


"Kau jangan berpikiran terlalu jauh, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik agar membuatmu dan juga Ian bahagia, Jeanny. Akan kupastikan itu" ucap Joseph tulus seraya menggenggam lembut jemari tanganku.


"Joseph..., tentang hubungan kita..." aku berkata lirih sedikit ragu - ragu.


"Hmmm? Kau jangan terburu - buru, Jeanny. Aku akan menunggu sampai kau benar - benar siap menerimaku untuk menjadi pendampingmu. Aku tak mau hanya karena kau merasa tak enak hati, itu membuatmu merasa terbebani" tutur Joseph dengan penuh bijaksana, dapat kulihat ketulusan dalam tatapannya yang dalam padaku sekarang.


"Apa kau benar - benar mau menungguku, Joseph? A-ku hanya takut jika membuatmu kecewa..." aku berucap lirih dengan tatapan sendu.


"Kau tak perlu cemas, apapun keputusanmu itulah yang terbaik untukmu, Jeanny. Sekarang yang terpenting izinkan aku selalu bersamamu dan menemanimu ya, hanya itu yang aku harapkan" Joseph menyahut tulus seraya mengelus lembut pipiku saat ini dan aku hanya bisa tersenyum membalasnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Sudah aku bilang aku tak mau membatalkan pertunangan kita, Frank!" Seru Laura malam itu saat mengunjungi mansion milik Frank Jefferson.


Maka malam itu juga, Laura yang tak terima langsung menemui Frank di mansion mewah milik sang tunangan yang sudah hampir 5 tahun ditempati itu.


Frank yang kini berada di ruang kerjanya tampak tak bergeming sedikitpun dengan kedatangan sang tunangan yang tiba - tiba itu.


"Aku yang akan bicara sendiri pada ayahmu nanti" sahut Frank acuh tanpa ekspresi.


"Aku tak mau!" Laura berseru keras kepala.


"Lalu, apa maumu? Kau bisa hidup bebas, Laura. Kau tahu aku tak bisa mencintai wanita lain selain mantan istriku, sampai kapanpun. Jadi jangan berharap lebih!" Ucap Frank tegas.


"Aku sangat mencintaimu, Frank. Bahkan aku tak bisa hidup tanpamu, tidak sedikitkah kau ingin membuka hatimu untukku, Frank? aku yakin kau akan bisa melupakan Jeanny" Ujar Carol seraya mendekati Frank yang kini berdiri memunggunginya.


"Sudah aku bilang aku tak bisa! Cintaku tidak semudah itu bisa berpaling dari Jeanny!" Sahut Frank lantang.


"Baiklah Frank aku tak akan memaksamu lagi untuk mencintaiku, tapi aku mohon, berikan aku kesempatan agar aku bisa selalu bersamamu ya. Kau tahu bukan, ayahku itu seperti apa? Dia akan merasa marah padamu jika ia tahu kau akan membatalkan pertunangan kita, dan semuanya akan berdampak buruk pada perusahaan, Frank" Laura berusaha membujuk dengan penuh keyakinan.


"Lalu apa yang kau inginkan?" Frank bertanya ketus.


"Batalkan konferensi pers itu, karena jika tidak ayahku akan tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya. Aku tak mau itu terjadi karena kau dan perusahaan akan terancam, Frank" tutur Laura yakin.


"Heh, kau mengancamku" desis Frank marah.


"Tidak! Aku hanya tak mau kau dalam bahaya, Frank. Berikan aku waktu sampai aku bisa meyakinkan ayahku tentang hubungan kita ini, kau harus percaya padaku, Frank, aku mohon..." Laura memohon penuh harap.


Frank hanya diam dan berpikir sejenak. Mungkin apa yang dikatakan Laura benar, karena ia tahu siapa itu Nickollas Harris.


Dia adalah sosok yang kejam dan tegas, dan yang terpenting dialah pemegang saham terbesar di Wilson Grup's jadi Frank tak boleh gegabah dengan rencananya. Perlu strategi agar hubungan baiknya dengan Nickollas Harris tidak menjadi bencana karena ia menolak bertunangan dengan putri tercinta dari milyuner diktator itu.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu, Laura tapi bukan berarti kau bisa sewena - wena dengan kehidupan pribadiku, termasuk usahaku untuk mendapatkan hati Jeanny lagi!" Frank menyahut tegas.


Meskipun pilihan itu buruk dan menyakitkan bagi Laura Harris, ia tak bisa berbuat apa - apa lagi sekarang. Baginya asalkan bisa bersama dengan Frank itu sudah lebih dari cukup sekarang.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...