One Day In Your Life

One Day In Your Life
lima



Pagi itu di hari Sabtu, pertengahan bulan Oktober, Elang membuka mata. Melihat sekeliling yang nampak asing bagi indera penglihatannya.


Mencoba menerka apa yang telah terjadi kemarin. Hingga ingatannya perlahan kembali.


Dia teringat karyawan nya yang bernama Embun, bantuan dari dia, mengompres keningnya tadi malam. Perlahan Elang bergerak dari kasur tanpa dipan itu, melirik jam kecil di atas nakas, menujukan pukul 6 pagi.


Elang melirik sarung yang ia pakai. Sarung hitam yang melingkar di pinggangnya. Lirikan matanya beralih ke sebuah kursi samping kasur. Ada celana hitam bahan kepunyaannya. Segera ia pakai.


Lantas indera pendengarannya seperti mendengar suara bising di luar kamar. Ingin keluar tapi ia nampak ragu. Berdiam diri disini pun ta ada gunanya.


Tokk.. tokkk.


Tiba tiba pintu di ketuk dari luar. Hentah siapa yang mengetuknyaa.


Krekkkkk


Pintu itu terbuka, Elang yang semula biasa saja pun nampak kaget. Pasalnya Embun yang muncul dari balik pintu itu.


"Bapak mau sarapan disini atau di luar ? "Tanya Embun tanpa rasa canggung.


"Bisa pinjam ponselmu sebentar ? "Tanya Elang tanpa membalas ucapan Embun.


"Haaa ? Oh ponsel, sebentar saya ambilkan.


Embun lalu keluar dari kamarnya melewat dapur yang disana ada ibu dan adiknya.


"Atasanmu mau makan di kamar Mbun ?


"Ha ? Eh bentar buk, Embun mau ambil ponsel"


Embun segera memberikan ponsel itu kepada Elang.


"Nih hp saya pak. Nanti setelah ini, bapak bisa sarapan di luar. Atau saya antar kesini pak" tanya Embun.


"Hmmm"


Embun sebenarnya heran, hanya itu yang di ucapkan Elang. Dia tidak tau hmm yang di maksud itu berartikan makan di meja makan atau makan dikamar.


Elang lalu mendial nomor rumahnya. Karena nomor itu yang ia hafal.


"Hallo, selamat pagi, dengan siapa ya ? "Jawab orang di seberang.


"Bi Anna, ini saya Elang.


"Eh bapak, bapak kemana ? Den Kaland tadi nyariin bapak." Ucap bi Anna.


"Saya lagi di hotel, tadi malam mobil saya mogok. Tolong jaga Kaland dulu ya" Ucap Elang berbohong.


"Iya pak saya selalu menjaganya"


Obrolan singkat itu terputus. Dilihatnya ponsel Embun, terdapat bunga camelia sebagai tampilan layarnya. Lantas segera di matikan.


Elang keluar dari kamar menuju ke sebuah meja makan. Karena memang meja makan ada disebelah kamar Embun. Rumah dengan desain satu lantai. Tidak luas, tapi, disini sangat sejuk. Atau karena memang sedang musim hujan ? Tapi dia rasa meskipun musim hujan udara dirumahnya tidak sesegar udara disini.


"Tuan, mari sini. Kita sarapan" Suara ibu Ina membuyarkan lamunan Elang.


Hanya sesimpul senyum yang ia tunjukan tanpa berniat menjawab. Lantas Elang segera menuju meja makan. Tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung lauk yang tidak banyak. Terlihat ada sayuran dan 4 ceplok telur tersaji diatasnya. Dilihatnya embun yang sedari tadi menikmati sarapannya.


Elang terlihat menimang, makan atau tidak.


"Apakah tuan tidak biasa makan seperti ini ? "Tanya ibu Ina.


"Ehhh" jawab Avram


"Buk, biasanya orang kaya makan roti sama selai" Ujar Asa menimpali Elang yang akan menjawab pertanyaan ib Ina.


"Kalau begitu saya belikan roti diwarung dulu ya" Ucap ibu Ina sembari bangkit dari duduk.


"Eh tidak usah bu, saya bisa makan yang ada. Terimakasih, mari makan"


Embun lalu berdiri dari tempat duduknya dan meraih centong nasi yang ada di depannya.


"Ini namanya nasi, ini namanya bayam, ini namanya kacang panjang, ini namanya tauge, ini namanya sambel kacang dan ini yang ada kuningnya ini namanya telur ceplok" Kata Embun sembari meletakan semua yang dia ucapkan tadi keatas piring Elang.


Piring Elang yang sedari tadi kosong kini penuh dengan berbagai lauk.


"Oh iya lupa, ini namanya peyek udang" Kata Embun sembari meletakan peyek diatas nasi yang belum Elang sentuh


"Mari pak makam" Ucapnya lagi.


Elang hanya bisa melongo melihat setumpuk nasi yang ada di hadapnya. Dengan segera ia meraih garpu dan sendok lantas menyantapnya


Suapan pertama terasa aneh, kedua bisa dimakan, ketiga wah ini enak, lalu seterusnya hingga seluruh yang ada dipiring tadi tandas.


Embun sudah tidak ada disana, dia sedang berada di kamar mandi untuk mandi.


"Sudah seharusnya semua manusia saling tolong menolong tuan" Jawab ibu Ina.


"Ibu bisa panggil saya Elang" Ucap elang sembari tersenyum menampilkan deretan gigi rapinya.


"Saya merasa lancang jika harus memanggil anda seperti itu"


"Nama saya Elang bu, dan ibu bukan karyawan saya, saya merasa tersinggung jika dipanggil dengan sapaan seperti itu" Ucap Elang dengan senyum menawannya lagi.


"Iya nak Elang" Jawab ibu Ina yang kini terlihat mengemasi piring bekas sarapan.


"Nak Elang bisa mandi dulu, kemeja kemarin sudah di cuci sama Embun tadi malam. Mungkin sudah kering"


Lantas setelah melihat Embun keluar dari kamar mandi, Elang segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Embun yang melihat langkah kaki Elang segera beranjak mengambil kemeja yang sudah agak kering itu.


Embun menunggu di kursi dapur, sambil meminum teh hangat dengan irisan lemon. Sesekali menyesap aroma segarnya. Sekitar 15 menit muncullah tubuh tinggi tegap dengan rambut basah yang menambah berpuluh puluh persen ketampanannya.


Embun hanya bisa geleng geleng menghilangkan imajinasi nakalnya.


"Ini kemeja bapak" Kata embun sembari memberikan kemeja yang sudah dia lipat.


"Di depan gang rumah saya, ada orang yang bisa benerin mobil, Kalau bapak mau, saya bisa panggilin"


"Ya"


Entahlah, kadang Embun heran dengan kelakuan bosnya itu. Kadang sangat irit berbicara, kadang seperti sepur yang ngga bisa berhenti.


10 menit berlalu, orang yang di tunggu pun tiba. Montir dengan pakaian werpack yang hitam karena terkena oli itu menanyakan dimana mobil Elang berada.


Cukup lama memperbaiki mobil Elang, akhirnya sekitar 40 menit mobil itu nyala juga. Elang yang di beritahu kalau mobilnya sudah nyala pun segera berpamitan dan mengucap terimakasih kepada ibu Ina. Embun pun di suruh untuk mengantarkan Elang menuju perempatan tempat mobilnya berada.


Setelah sampai di tempat mobilnya mogok kemarin, lantas Elang segera memberikan beberapa lembar uang kepada montir itu. Tanpa mengucapkan terimakasih kepada Embun, Elang langsung masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Embun dan montir yang sedari tadi membereskan peralatannya.


"Dasar monster gorila, sudah untung gue bantu. Ah bedebah" gerutu Embun sambil berjalan menuju kerumahnya.


___


Tak hentinya mata Elang memandang ke sosok anak kecil yang tengah duduk di sudut ruang tengah rumahnya sambil bermain robot robotan. Anak kecil berkulit putih itu memandang Elang sekilas kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke semua mainan yang ada di depan matanya. Elang


memperhatikannya dengan sudut mata, sambil terus berjalan menuju anak kecil yang tengah asik dengan dunianya itu.


"Maafin papa ya, papa ngga pulang tadi malam" Ucap nya sembari tangan kekar itu terus mengelus punggung Kaland.


Kaland sama sekali tak memperdulikan, Elang tau dia salah. Sebab sesibuk sibuknya dia, dia selalu menyempatkan diri untuk memberikan kabar kepada Kaland. Tapi tadi malam, dia sama sekali tak memberi kabar dan tidak pulang.


Ada raut sedih di wajah putranya itu. Di dalam matanya tersirat kesepian yang mendalam. Ya Elang tau, Kaland tidak punya teman. Dia lebih suka menyendiri saat berada di sekolah. Lebih suka berdiam diri di pojok kelas sambil menggambar. Dia bukan anak yang mudah bergaul dengan orang sekitar.


Hingga suara derap langkah kaki terdengar dari pintu depan. Sepasang suami istri yang sudah paruh baya tapi tetap terlihat cantik dan tampan itu menghampiri Elang dan Kaland yang ada diruang tengah.


"Omaaaaaaaaaaaa" Kaland yang tau jika omanya datang pun segera lari menghampur kepelukan nenek cantiknya itu.


"Cucu oma yang paling ganteng" kata ibu lily.


Kaland sudah berada di gendongan omanya. Seperti perangko yang tidak mau lepas.


"Kaland ngga kangen sama opa ?" Tanya lelaki paruh baya itu. Dia adalah papa nya Elang. Bapak Lubis.


"Enggak, mau sama oma aja" Ucap kaland yang kepalanya bersembunyi di ceruk leher omanya.


"Yuk main sama oma" ucap ibu lily


Kedua lelaki beda generasi itu kini duduk di sebuah sofa yang ada diruang keluarga. Mereka berdua sama sekali jarang bertegur sapa. Ada hal yang sebenarnya Elang benci dari papanya itu, tapi tidak bisa dia utarakan.


Detik jarum jam yang terus berjalan lah yang menemani mereka. Tanpa ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Sesekali hanya melemparkan pandangan lalu sama sama tertunduk kembali.


"Tadi malam Anna bilang kalau kamu tidak pulang" suara yang baru saja keluar itu membuat punggung Elang mendadak menjadi tegak.


"Ya" dan ketahuilah hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Kemana saja ? " Tanya papanya lagi.


"Bukan urusan anda"


Setelah mengucapkan kalimat itu, lantas Elang segera beranjak dari sana. Mengabaikan papanya yang masih tetap disana..


...Bersambung...